09 OKTOBER 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Hari pernikahan itu datang dengan cuaca yang dipesan Pak Willy jauh-jauh hari kepada semesta—cerah, berangin pelan, dan, menurut laporan resmi panitia, "sesuai kontrak".
Jam lima pagi aku sudah di kamar pengantin, dan di sanalah aku menyaksikan pemandangan yang tidak akan pernah masuk ke album resmi: Ratih duduk di depan cermin dengan gaunnya yang sederhana dan membuatnya merasa dihormati, dengan wajah yang baru setengah dirias, memegang sebuah foto kecil yang ia selipkan di saku dalam gaunnya. "Ibu mertuaku yang dulu," katanya menjawab tatapanku, pelan. "Foto dari suamiku. Dia bilang, tidak perlu dibawa, tapi aku mau membawanya. Orang yang membuka jalan tidak boleh ketinggalan di hari paling bahagia di jalannya." Ia menatap pantulan dirinya sendiri lama, lalu berkata, dengan suara Ratih yang paling jujur: "Aku tidak cemburu padanya, Lovi. Aku berterima kasih padanya. Dialah yang mengajari orang itu cara mencintai dengan benar. Aku cuma panen dari sawah yang dia tanam."
Aku tidak bisa menjawab—tenggorokanku tidak mengizinkan—jadi aku merapikan kerudungnya saja, dan kami berdua menatap cermin itu berdua, dua sahabat yang sudah berjalan jauh sekali dari dua gadis yang dulu berbagi kos dan berbagi mi instan, dan Ratih berkata tanpa menoleh: "Terima kasih sudah tidak pernah pergi, ya. Dua puluh tahun. Kau tidak pernah pergi." Dan karena aku sudah belajar dari bukit layang-layang bahwa hal-hal besar harus keluar lewat mulut, aku menjawab: "Dan kau tidak pernah pergi juga. Itu sebabnya kita sampai di hari ini."
Akadnya diadakan pagi di pendopo, dengan khidmat yang membuat bahkan Ratih tidak bisa berkata-kata. Aku berdiri di belakangnya sebagai pendamping, memegang buket cadangan, menyaksikan ayah Ratih—sopir angkot paling keras di kota itu, dengan jas yang akhirnya ia kuasai setelah tiga kali gladi—menjabat tangan Pak Bos dengan tangan yang gemetar hanya sedikit, dan mengucapkan kalimat akadnya dengan suara yang keras dan jelas, suara orang yang terbiasa berbicara di atas suara mesin, dan di ujung kalimat itu suaranya pecah hanya di satu kata: nama anaknya.
Dan Pak Bos menjawab dengan lantang dan tegas, dan di barisan tamu, Mbak Inggrid menangis dengan anggun, ibu-ibu keuangan menangis dengan tidak anggun, dan aku menangkap Javar—yang duduk di kursi tamu bersama Wisnu yang datang jauh-jauh—menyeka sudut matanya sambil pura-pura membetulkan kacamatanya, padahal ia tidak berkacamata.
Resepsinya di halaman pendopo itu, di bawah tenda yang dinegosiasikan Pak Willy sampai ke tingkat yang menurutnya "masih bisa lebih murah kalau vendornya tidak jual mahal", dengan seratus lima puluh tamu yang semuanya benar-benar mengenal dua pengantin—dan dengan meja keluarga yang di salah satu kursinya duduk seorang pria paruh baya berkemeja batik baru, duduk paling tegak di antara semua orang, dengan sepiring bakso yang disediakan khusus untuknya oleh katering atas perintah tertulis: pemilik warung bakso, saksi lamaran, tamu kehormatan meja keluarga, sesuai perjanjian seumur hidup.
Aku menyapanya di sela acara, dan ia berkata dengan mata yang berkaca-kaca sambil tertawa: "Bertahun-tahun saya lihat orang pacaran di warung saya. Baru kali ini saya diundang ke pelaminannya. Ini bakso saya yang paling berhasil, walaupun saya tidak masak."
Dan kemudian tibalah pidato Javar—karena Ratih, melalui kekuasaan absolut pengantin, sudah menetapkan bahwa "orang yang sudah menyiapkan dokumen untuk setiap skenario harus membacakan skenarionya di depan umum". Javar berdiri dengan selembar kertas yang tidak ia buka, dan berbicara tentang dua orang yang bertemu di gedung yang salah pada waktu yang salah menurut hitungan dunia—seorang bos yang sudah menutup tokonya dan seorang karyawan yang tidak tahu cara berhenti berharap—dan tentang bagaimana cinta yang datang kedua bukanlah pengganti, melainkan kelanjutan, "karena hati manusia bukan toko dengan satu etalase, melainkan perpustakaan dengan banyak rak, dan rak yang lama tidak perlu dibongkar untuk membuat rak yang baru berdiri".
Ia menutupnya dengan mengangkat gelas ke arah meja keluarga—ke arah kursi pemilik warung bakso—dan berkata: "Dan untuk para pemilik warung di seluruh negeri: teruslah buka. Kalian tidak pernah tahu sedang menyediakan meja untuk kisah yang mana."
Playlist tujuh belas lagu itu berjalan sempurna—Pak Bos mengawasi jalannya dari sudut mata seperti konduktor yang menyewa orkestra—dan di lagu kelima, sebuah lagu lama yang pelan, ia mengajak Ratih berdansa di tengah halaman, dan Ratih yang "tidak bisa berdansa, titik" ternyata bisa, karena ada orang-orang yang membuatmu bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah kau sangka, dan ayah Ratih berdiri di pinggir dengan tangan di saku jasnya mengangguk-angguk kecil mengikuti irama, dan ibunya membagikan kue kepada semua orang yang lewat dalam radius dua meter.
Dan kemudian—bagian yang sudah diperingatkan Ratih kepadaku dengan kalimat "kalau kau tidak menangis di pernikahanku, aku tersinggung seumur hidup"—tibalah saat orang tua Ratih memberikan restu mereka di depan tamu, dan ayah Ratih, dengan mikrofon yang dipegang seperti memegang kemudi, berkata kepada hadirin: "Saya sopir angkot. Saya tidak bisa pidato. Saya cuma mau bilang satu hal kepada menantu saya: anak saya itu berisik, keras kepala, dan tidak bisa diam. Tapi dia tidak pernah menyakiti orang. Kalau kamu nanti bertengkar sama dia—dan kalian pasti akan bertengkar, namanya juga rumah tangga—ingat saja: perempuan yang berisik itu perempuan yang isinya banyak. Yang harus kamu takutkan itu perempuan yang diam. Saya tahu, karena saya sopir, dan penumpang yang diam itu biasanya yang turun tanpa bayar."
Hadirin tertawa sampai tenda bergoyang, dan Ratih berteriak "AYAH!" dengan wajah merah, dan Pak Bos tertawa paling keras dari semua orang, dan aku—sesuai kontrak dengan Ratih—menangis. Bukan karena sedih. Karena terlalu penuh. Dan di sebelahku, Javar menyodorkan saputangan dan berbisik, "Latihan duduk di kursi tamu: lulus atau gagal?"
"Lulus," bisikku, menyeka mata. "Dengan nilai tertinggi."
"Bagus. Karena tahun depan, di tanggal dua puluh enam Juni, aku akan membutuhkan pendampingku lulus juga."
Dan sore itu, saat pengantin melempar buket ke arah kerumunan tamu perempuan yang sudah disusun strategis oleh Ratih—dengan, aku bersumpah, pengarahan posisi yang ia lakukan sebelumnya—buket itu jatuh tepat ke tanganku. Tepat. Seperti diarahkan GPS. Dan Ratih berbalik dengan senyum yang paling tidak bersalah dalam sejarah senyum, dan berkata dari atas panggung: "Tidak ada yang diatur! Murni takdir!"
Semua orang yang mengenalnya tahu itu bohong. Tapi aku memegang buket itu, dan menatap Javar di seberang halaman yang mengangkat dua alisnya dengan senyum yang tahu segalanya, dan untuk sekali ini aku memutuskan untuk tidak membongkar kebohongan kecil itu—karena ada kebohongan-kebohongan yang fungsinya bukan menipu, melainkan mendoakan dengan cara yang berbentuk bunga.