04 DESEMBER 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Angka dua belas itu akhirnya tercapai—pos belajar kedua belas, yang diresmikan di sebuah desa di kaki gunung, dengan kabut yang turun sampai ke halaman dan anak-anak yang datang dengan jaket-jaket tebal dan mata yang tidak kalah hangatnya.
Peresmian kali ini terasa berbeda dari peresmian-peresmian sebelumnya, dan bukan karena tempatnya. Karena angkanya. Dua belas pos—target yang dulu kutulis di proposal dua puluh tiga halaman itu dengan tangan yang berkeringat, target yang dipertanyakan oleh satu suara komite yang menolak ("terlalu ambisius", katanya dalam keberatannya yang terhormat itu), target yang dikejar oleh dua ratus relawan, satu yayasan kecil, satu direktur program yang memperbaiki pensil patah seperti memperbaiki dunia, dan satu penghubung resmi yang bolak-balik kereta sampai hafal nama-nama stasiun.
Wisnu berpidato dengan pengeras suaranya yang legendaris, dan kali ini suaranya bergetar di tengah: "Empat tahun yang lalu saya memulai dengan satu gubuk dan satu mimpi. Orang-orang bilang saya gila. Hari ini ada dua belas titik terang di peta, dan orang-orang yang sama bertanya bagaimana caranya. Jawabannya: saya tidak tahu caranya. Saya cuma tidak berhenti. Dan di tengah jalan, datang orang-orang yang ikut tidak berhenti." Ia menunjuk Javar, lalu menunjukku, lalu menunjuk barisan relawan, lalu—dengan gerakan yang paling disukainya—menunjuk anak-anak yang berbaris di depannya. "Merekalah caranya. Selalu mereka."
Dan kemudian Wisnu melakukan hal yang sudah ia siapkan diam-diam selama sebulan—ia menarik kain penutup dari sebuah papan besar yang sejak pagi berdiri di samping panggung, dan di sana terpampang peta wilayah itu dengan dua belas titik kecil berpijar, satu untuk setiap pos, dipasangi lampu-lampu kecil yang menyala bergantian saat ia menyebutkan nama-nama desanya satu per satu. Anak-anak berteriak setiap kali satu lampu menyala. Para relawan menyebut nama pos masing-masing seperti menyebut nama anggota keluarga. Dan saat lampu kedua belas menyala—lampu untuk desa berkabut itu—papan itu berdiri di tengah kabut dengan dua belas titik cahaya yang menembus putih, dan aku mengerti kenapa Wisnu bersikeras membawanya menempuh jalan rusak: karena ada hal-hal yang harus dilihat dengan mata, bukan diucapkan dengan kata. Dua belas titik terang, benar-benar terang, benar-benar menyala, di tengah kabut gunung yang turun seperti tirai.
Aku berdiri di samping papan itu lebih lama dari yang kurencanakan, dan Javar datang dan berdiri di sebelahku tanpa mengatakan apa-apa, dan kami menatap dua belas titik itu berdua sampai kabut menyelimuti bahu kami—dua orang yang dulu hanya tahu cara berpisah, sekarang berdiri di depan peta yang titik-titiknya mereka nyalakan bersama.
Dan Javar, yang berdiri di sebelahku, berbisik pelan: "Dua belas. Target dari proposal pacarku. Aku akan menulis ini di laporan tahunan dengan catatan kaki resmi: 'target tercapai sesuai jadwal, dengan bantuan satu orang yang menulis angkanya lebih dulu sebelum percaya angkanya mungkin.'"
Sesudah peresmian, di antara kabut yang semakin turun, yayasan mengadakan acara yang sudah menjadi tradisi baru sejak dua pos terakhir: bukan pesta, melainkan lingkaran cerita—semua yang hadir duduk melingkar dan satu per satu bercerita tentang satu hal yang berubah dalam hidup mereka karena pos-pos itu. Seorang ibu bercerita bahwa anaknya sekarang membacakannya label obat ("saya tidak salah minum lagi sejak itu"). Seorang relawan muda bercerita bahwa ia menunda merantau karena "ternyata ada yang bisa dikerjakan di kampung sendiri". Dan Sari—Sari-ku, Sari kita semua, yang datang bersama rombongan pos pertama sebagai "tamu kehormatan senior", sebuah gelar yang ia pakai dengan keseriusan penuh—berdiri di tengah lingkaran itu dan berkata dengan suara yang tidak lagi bergetar:
"Dulu aku tidak bisa menulis nama sendiri. Sekarang aku bisa menulis surat. Bulan lalu aku menulis surat untuk Kak Lovia, dan Kak Lovia membalasnya, dan surat balasannya aku simpan di bawah bantal. Kalau aku besar nanti, aku mau jadi orang yang menulis surat untuk anak-anak yang belum bisa baca. Itu saja. Terima kasih."
Tidak ada satu pun orang di lingkaran itu yang berhasil tidak tersentuh, dan aku—yang memang sudah kehabisan pertahanan sejak kata "di bawah bantal"—menyeka wajahku dengan punggung tangan sementara Javar menyodorkan saputangan dengan senyum yang mengatakan "aku sudah menyiapkannya sejak pagi, aku kenal lingkaran cerita".
Dan benar saja, di tasnya ada surat balasan dariku untuk Sari—karena kami memang berkirim surat, sungguhan, dengan amplop dan perangko, karena di zaman pesan instan ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh huruf yang ditunggu berhari-hari. Surat-suratku untuknya ditulis dengan bahasa yang sederhana, dan surat-suratnya untukku—yang hurufnya makin lama makin rapi—adalah laporan kemajuan yang paling membanggakan yang pernah kuterima dalam hidupku, melebihi laporan kampanye mana pun.
Perjalanan pulang dari kaki gunung itu dilakukan dalam keheningan yang nyaman, dengan kabut di jendela dan dua belas titik di peta yang sudah berpijar semuanya. Dan di pertengahan jalan, Javar berkata tanpa melepas pandangannya dari jalan:
"Dua belas pos. Proposal selesai. Target tercapai. Dan sekarang pertanyaannya: habis ini apa?" Ia tersenyum kecil. "Wisnu sudah punya jawabannya, tentu saja—dia sudah membicarakan pos tiga belas sejak pos sebelas. Tapi aku bertanya kepadamu dulu, sesuai aturan, sebelum aku menjawabnya kepada Wisnu: bagaimana menurutmu?"
"Menurutku," jawabku, menatap kabut yang bergerak di jendela, "angka dua belas itu bukan garis finis. Itu lap pertama selesai. Dan kalau pos tiga belas akan dibangun, proposalnya tetap harus kutulis—karena aku sudah terlanjur menjadi penulis resmi angka-angka mustahil di kemitraan ini, dan aku tidak bisa berhenti di angka yang genap. Tiga belas itu angka yang bagus. Angka yang menantang takhayul."
Javar tertawa—tawa yang memantul di kaca mobil yang berembun. "Tercatat. Penghubung resmi menyetujui ekspansi. Besok aku kabari Wisnu bahwa dewan sudah memberi lampu hijau, dengan satu syarat: dia yang menjelaskan kepada anak-anak kenapa angkanya berhenti di dua belas sebentar. Mereka sudah bertanya-tanya."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Dua belas titik terang di peta, dan satu surat di bawah bantal seorang anak bernama Sari. Target-target memang seharusnya seperti ini: yang angkanya bisa dihitung dengan spreadsheet, tapi yang artinya hanya bisa dihitung dengan surat-surat yang disimpan orang di bawah bantal mereka. Dua belas sudah tercapai. Tiga belas sudah menunggu. Dan aku, penulis resmi angka-angka mustahil, sudah membuka halaman kosong untuk proposal yang baru."
Dan malam itu, sebelum tidur, aku membuka kembali surat terakhir dari Sari dan membacanya sekali lagi—bukan karena belum hafal, tapi karena ada surat-surat yang memang layak dibaca dua kali, seperti ada hari-hari yang layak dijalani dua kali.