02 JULI 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Berita pertunangan itu menyebar dengan kecepatan yang melampaui kecepatan gosip pantry—dan pantry kami adalah lembaga yang kecepatan penyebarannya sudah diakui secara tidak resmi sebagai yang tercepat di sektor swasta.
Minggu malamnya kami habiskan untuk menelepon orang-orang satu per satu—karena ada orang-orang yang berhak mendengar dari mulut kami langsung, bukan dari berita yang berlari sendiri. Bunda sudah tahu, tentu saja (ia ada di aula itu, dengan tangis yang paling keras dari semua orang). Telepon pertama setelahnya adalah untuk Ratih—sesuai kontrak yang sudah ditetapkannya sejak setahun lalu—yang menjawab sebelum nada dering pertama selesai dan berteriak, "AKTA KELAHIRAN KONTRAKKU SAH! Aku orang pertama setelah Bunda! Catat tanggal dan jamnya untuk bukti di masa depan!" Telepon berikutnya untuk orang tua Javar (yang juga sudah ada di aula, tapi ibu Javar ingin ditelepon lagi "untuk mendengar kabarnya sekali lagi, karena kabar baik tidak ada batasnya berapa kali boleh didengar"). Lalu Wisnu, yang mengumumkannya ke seluruh yayasan lewat grup resmi dengan gaya pengumuman bencana: "PERHATIAN SELURUH JAJARAN. DIREKTUR PROGRAM KITA RESMI BERTUNANGAN. YANG BERTANDANGAN ADALAH PENULIS CERITA KITA. TIDAK ADA YANG BOLEH BAPER. TITIK."
Baru malam itu juga, di teras rumah Bunda dengan sisa-sisa perayaan, Javar menceritakan bagaimana aula itu bisa terjadi—dan cerita di balik ceritanya ternyata sama besarnya. Fotokopian halaman-halaman notebook itu dikumpulkannya selama tiga bulan, difotokopi diam-diam setiap kali notebook kami bertukar tangan (aku tidak pernah sadar, karena ia selalu melakukannya saat aku tertidur di perjalanan pulang). Penataan kursi-kursinya dikerjakan Sabtu subuh oleh tim yang ia bentuk seperti operasi militer: Wisnu yang memimpin pemasangan ("aku direktur eksekutif, menata kursi itu di bawah payungku"), Ratih yang menjadi konsultan tata letak lewat video call dari kamarnya, dan—bagian yang membuatku menutup mulut—dua belas anak dari pos pertama, termasuk Sari sebagai "mandor lapangan", yang datang dengan bus yayasan Jumat malam dan menyusun kertas-kertas itu kursi demi kursi dengan tingkat keseriusan upacara bendera. "Sari memeriksa setiap kursi dua kali," kata Javar. "Ada tiga kertas yang miring, dan ia mengembalikan seluruh tim untuk memperbaikinya. Aku tidak pernah sedikit itu disalahkan oleh anak sembilan tahun, dan aku tidak berani membantah."
Dan cincinnya—ukiran dua titik yang tersambung satu garis di dalamnya—ternyata dirancangnya bersama seorang perajin di kota keduanya, dengan sketsa yang digambar tangannya sendiri: "Dua titik itu dua kota kita. Garisnya bukan jalan. Garisnya tali. Aku memesan yang tidak bisa lepas, karena kita sudah selesai dengan hal-hal yang lepas."
Dan Senin paginya, di kantor, aku disambut oleh pemandangan yang sudah kuduga dan tetap membuatku tertawa: di ruang meeting kecil, sudah tertata pizza—firasat yang berbentuk pizza, persis seperti yang dijanjikan catatan di mugku—dengan spanduk kecil bertuliskan "SELAMAT, BU LOVIA. DICATAT DALAM RISALAH TIM."
Pak Willy berdiri paling depan dengan sesuatu di tangannya: sebuah bingkai kecil. "Dari logistik," ucapnya, menyerahkannya dengan formalitas sidang yang sudah menjadi gayanya. "Bukan hadiah mahal. Cuma bingkai." Di dalamnya: fotokopian satu halaman dari kampanye dua arah tahun lalu—halaman daftar cerita pelanggan terbaik—dengan satu baris tambahan yang ditulisnya dengan tangan di bawahnya: "Cerita terbaik ternyata bukan di daftar ini. Cerita terbaik sedang dijalani oleh penulisnya. Selamat."
Aku memeluknya—langsung, tanpa protokol, di depan seluruh tim—dan Pak Willy berdiri kaku seperti patung dengan tangan yang tidak tahu harus ditaruh di mana, dan seluruh ruangan bertepuk tangan, dan ia menggerutu "sudah, sudah, ini kantor, bukan studio sinetron" dengan wajah yang merah sampai ke telinga.
Dan Mbak Inggrid, di ruangannya, menyampaikan selamatnya dengan cara yang paling Mbak Inggrid: "Pertama, selamat. Kedua—" ia menyodorkan sebuah map, "—jangan pikirkan pekerjaan minggu ini. Itu perintah, bukan saran. Orang yang baru bertunangan dan tetap bekerja penuh di minggu pertamanya adalah orang yang tidak tahu cara menikmati hidupnya, dan aku tidak membesarkan kepala tim kreatifku untuk menjadi orang seperti itu." Lalu ia tersenyum—senyumnya yang jarang—dan menambahkan, "Aku mengenal Javar sejak acara peluncuran dulu. Aku sudah menilainya sejak lama. Dia orang yang tepat, dan kau tahu kenapa aku yakin? Karena dia satu-satunya orang yang membuatmu pulang kerja tepat waktu. Tidak ada orang lain yang pernah berhasil melakukan itu. Itu bukti empiris yang tidak bisa dibantah."
Tapi kunjungan paling penting minggu itu bukan ke kantor mana pun. Sabtu sore, kami pergi berdua ke warung soto—ke meja pojok kami—untuk menyampaikan kabarnya secara langsung kepada satu orang yang sudah meramalkannya sejak lama.
Pemilik warung itu melihat cincin di jariku sebelum kami duduk. Matanya yang sudah empat puluh tahun membaca pasangan-pasangan itu menangkapnya dari jarak tiga meter, dan ia tidak mengatakan apa-apa—hanya berbalik ke dapur, dan keluar membawa dua mangkuk soto dengan taburan bawang goreng yang lebih banyak dari biasanya, dan meletakkannya di meja pojok dengan ketukan kecil yang khusus.
"Untuk yang bertunangan, taburannya dobel," ucapnya. "Itu aturan warung ini. Dari dulu." Lalu ia menatap kami berdua bergantian dengan senyumnya yang tahu segalanya, dan berkata: "Aku sudah bilang, kan. Yang pamit dari meja pojok ini selalu kembali. Dan yang kembali ke meja pojok ini selalu berakhir begini. Empat puluh tahun aku menunggu warung ini salah sekali saja. Tidak pernah. Warung ini tidak pernah salah, karena orang-orang yang duduk di sini tidak pernah berbohong tentang apa yang mereka rasakan. Kalian berdua tidak pernah berbohong di meja ini. Jadi wajar kalian sampai."
Dan sebelum kembali ke dapurnya, ia menambahkan satu kalimat yang membuat Javar hampir menjatuhkan sendoknya dan membuatku menangis ke dalam mangkuk sotoku: "Kalau nanti punya anak, bawa ke sini. Meja pojok ini belum pernah punya pelanggan generasi ketiga. Aku menunggu itu sebelum pensiun."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Seminggu setelah pertunangan, dan berita itu sudah berjalan ke mana-mana dengan kakinya sendiri—ke pantry, ke yayasan, ke warung kopi bapak sopir, ke meja pojok. Dan di mana-mana ia disambut dengan cara yang sama: seperti orang menyambut musim yang sudah lama dinanti. Pemilik warung bilang, yang duduk di meja pojok tidak pernah berbohong tentang apa yang mereka rasakan. Mungkin itu rahasia semua meja kecil yang jujur di dunia ini: kau tidak bisa duduk di sana dan menjadi orang lain. Dan kami berdua, sejak awal, tidak pernah menjadi orang lain di meja itu. Kami hanya menjadi dua orang yang akhirnya berani mengatakan yang sebenarnya—dengan kata-kata, resmi, dari atas podium."
Meja itu memang tidak pernah salah.