06 AGUSTUS 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Ada satu pertanyaan yang sudah kami simpan rapi sejak hari pertunangan—pertanyaan yang semua orang tanyakan dengan basa-basi dan yang kami jawab dengan senyum yang sama: "Nanti setelah menikah, tinggal di mana?"
Dua kota, begitu jawaban kami selama ini. Dan jawaban itu benar—tapi pertanyaannya tetap menunggu jawaban yang lebih panjang, karena pernikahan bukanlah kunjungan dua mingguan. Pernikahan adalah meja makan yang sama setiap malam, dan meja makan itu harus berdiri di salah satu kota.
Kami membicarakannya di tempat yang sudah menjadi dewan pertimbangan resmi hubungan kami: bukit layang-layang, di atas tikar arsip, dengan daftar pro-kontra yang—seperti keputusan besar pertama kami dulu—ditulis dengan dua tangan.
Opsi pertama: aku yang pindah ke kotanya. Kolom pronya jelas—yayasannya di sana, pos-posnya di sana, dan aku sudah mencintai kota itu sampai ke kabutnya. Kolom kontranya juga jelas: karierku baru saja naik ke ruangan yang baru, timku baru saja menemukan jalannya, dan kemitraan CSR yang kubangun tinggal di kantor itu, bukan di jasaku.
Opsi kedua: ia yang kembali. Kolom pronya: pekerjaanku, Bunda, warung soto kami. Kolom kontranya berdiri tegak seperti tembok: dua belas pos belajar, dua ratus relawan, dan satu direktur program yang menjadi jantung yayasan itu.
Kami menatap dua kolom itu lama, dan untuk pertama kalinya sejak daftar pro-kontra kami dimulai, tidak ada pemenang yang jelas.
Dan kemudian, seperti biasa dalam hidup kami, jawabannya datang bukan dari dalam daftar—melainkan dari luar, dari arah yang tidak kami duga, dari seseorang yang sudah lama memperhatikan dua orang ini berlari-lari di antara dua titik.
Wisnu datang ke kota kami minggu berikutnya—bukan lewat telepon, datang, dengan map—dan duduk di warung soto kami dengan wajah orang yang membawa rencana besar. "Aku sudah memikirkan ini sejak hari kalian bertunangan," katanya, membuka mapnya di samping mangkuk sotonya. "Dan aku datang bukan untuk memberi saran. Aku datang untuk memberi penawaran resmi. Sebagai ketua yayasan."
Penawarannya tertulis rapi dalam tiga halaman—tentu saja, yayasan itu tidak pernah berbicara tanpa dokumen. Titik Terang akan memperluas jangkauannya ke wilayah timur: kabupaten-kabupaten di sekitar kota kami, daerah-daerah yang selama ini di luar peta yayasan. Tiga pos baru dalam dua tahun pertama. Dan untuk memimpin ekspansi itu, yayasan membutuhkan—bukan meminta, membutuhkan—seorang direktur program yang berbasis di kota kami, dengan kantor kedua yang akan dibuka di sini, dengan perjalanan berkala ke pos-pos lama yang sekarang sudah dipegang oleh tangan-tangan yang sudah terlatih: Rio dan Rian sudah menjadi koordinator wilayah mereka, Dita sudah memimpin pelatihan relawan baru, dan tim di kota kedua itu sudah berdiri di atas kakinya sendiri.
"Aku tidak menawarkan ini karena kalian bertunangan," kata Wisnu, menatap kami berdua bergantian. "Aku menawarkan ini karena ekspansi ke timur sudah ada di rencana lima tahun yayasan sejak sebelum kalian bertunangan—buktinya ada di dokumen tahun lalu, bisa kalian baca. Kalian bertunangan cuma membuat waktunya menjadi lebih masuk akal untuk dimajukan. Yayasan tidak menyesuaikan diri dengan cinta kalian. Cinta kalian kebetulan berjalan searah dengan peta yang sudah kami gambar. Itu bedanya, dan aku menuliskannya dengan jelas supaya tidak ada yang salah paham."
Aku membaca tiga halaman itu di warung soto kami, dengan kuah yang mengepul di antara kami, dan aku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan terhadap sebuah dokumen: dokumen itu tidak memintaku memilih. Dokumen itu menghapus keharusan untuk memilih. Dua kota itu tidak sedang ditutup salah satunya—dua kota itu sedang disambung dengan jalan yang lebih pendek.
Javar membaca dokumen yang sama, dan aku melihat tangannya berhenti di halaman kedua—di bagian tentang kantor kedua—dan ia menatapku dengan tatapan yang sudah kukenal: tatapan orang yang sedang memeriksa perasaan orang di seberangnya sebelum memeriksa perasaannya sendiri.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya. "Bukan sebagai penghubung CSR. Sebagai Lovia."
"Sebagai Lovia," jawabku pelan, "aku melihat peta yang tidak meminta siapa pun tersingkir dari posisinya. Yayasannya tumbuh, karierku utuh, Bunda tidak kehilangan anaknya dari radiusnya, dan warung ini—" aku mengetuk meja pojok itu, "—tidak kehilangan dua pelanggannya. Dan sebagai penghubung CSR, aku akan menulis surat rekomendasi yang sangat tidak objektif dan sangat bisa dipertanggungjawabkan: ekspansi ke timur adalah keputusan yang benar secara data, dan keputusan yang hangat secara manusia."
Wisnu mengangkat mangkuknya seperti mengangkat gelas. "Maka tercatat dalam risalah warung soto—yang risalahnya, seperti biasa, tidak tertulis tapi selalu sah: Titik Terang membuka kantor kedua di kota ini mulai tahun depan. Direkturnya—" ia menatap Javar, "—boleh menerima atau menolak. Tapi kalau menolak, dia harus menjelaskan kepada dua belas anak dari pos pertama yang sudah menyiapkan pesta. Termasuk mandornya. Kau tahu bagaimana mandor itu kalau kecewa."
Javar tertawa—tawa yang lepas, tawa orang yang melihat dua dunianya yang dulu terpisah empat jam perlahan-lahan bergerak mendekat sampai bisa disentuh dengan satu tangan—dan menjawab dengan kata-kata yang sudah menjadi kata-kata kami: "Aku terima. Tapi keputusan finalnya—" ia menatapku, "—kita putuskan bersama, malam ini, di atas tikar. Itu aturannya. Aturan satu-satunya."
Reaksi orang-orang di sekitar kami terhadap peta baru itu datang seperti biasa: bertingkat dan penuh warna. Bunda, ditelepon malam itu juga, diam sebentar sebelum berkata dengan suara yang dibuat datar, "Bagus. Kalau dia pindah ke sini, rendangnya tidak perlu lagi naik ojek dua jam. Itu saja komentarku. Dan Bunda tidak sedang tersenyum. Jangan dibayangkan." Ayah Javar, lewat telepon yang sama, memberikan restunya dengan cara yang paling ayah: "Keputusan yang benar secara peta dan benar secara hati jarang datang bersamaan. Kalau dua-duanya datang, jangan ditolak. Itu satu-satunya nasihat bisnis yang akan kuberikan tahun ini." Dan Ratih—Ratih yang sedang hamil tua, yang mendengar kabarnya sambil mengangkat kakinya ke sofa—berteriak gembira dan langsung menyusun rencana: "Anakku akan punya kakek-nenek angkat tambahan dalam radius satu kota. Dan kau tahu apa artinya? Artinya jadwal mengasuh bisa dibagi empat pihak. Ini bukan keluarga lagi, Lovi. Ini koperasi."
Dan malam itu, di bukit layang-layang, dengan angin Agustus dan langit yang mulai gelap, kami menandatangani keputusan itu berdua di halaman yang sama di notebook yang sama—dua tanda tangan di bawah satu kalimat: "Dua kota tetap dua kota. Tapi mulai tahun depan, jaraknya bukan lagi empat jam. Jaraknya cuma satu meja makan."
Dan di bawah dua tanda tangan itu, Wisnu menambahkan dengan spidolnya saat dibacakan kepadanya lewat telepon, didiktekan dengan khidmat: "Disaksikan oleh ketua yayasan, yang mengingatkan bahwa risalah ini tidak bisa dibatalkan kecuali dengan mufakat dan semangkuk soto."