19 AGUSTUS 2023
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Empat bulan setelah pernikahan itu, pada sebuah Sabtu pagi di bulan Agustus, aku berdiri lagi di lantai gubuk pos belajar pertama—lantai yang sama tempat aku dulu bercerita dengan tangan berkeringat—tapi kali ini di tanganku ada sebuah buku. Bukan buklet. Buku. Seratus delapan puluh dua halaman, sampul berwarna biru dalam dengan gambar dua titik yang tersambung satu garis, dan di tengahnya, dengan huruf yang sederhana: INEFFABLE. Dan di bawahnya: "Cerita-cerita tentang hal-hal yang terlalu besar untuk diucapkan — Lovia Saradika."
Peluncurannya tidak diadakan di toko buku atau di gedung pertemuan. Peluncurannya diadakan di sini, di pos pertama, di hadapan anak-anak yang cerita-cerita itu memang ditulis untuk mereka—dengan karpet yang digelar di halaman, dengan dua keluarga kami yang datang lengkap, dengan Wisnu yang menjadi pembawa acara (volumenya kali ini tidak diturunkan, atas permintaan khusus anak-anak: "Kami suka yang keras!"), dengan Ratih dan Pak Bos dan Nadia yang sudah bisa duduk dan bertepuk tangan dengan antusiasme yang tidak proporsional dengan ukurannya, dengan Bunda yang duduk di kursi kehormatan dengan buklet pertamaku di pangkuannya ("yang ini tidak boleh kena debu, makanya aku bawa, supaya dia menyaksikan adiknya lahir"), dan dengan Sari yang berdiri di sampingku dengan tugas yang tidak bisa diganggu gugat: ia yang membacakan halaman pembukanya.
Karena halaman pembuka buku itu memang miliknya—kalimat yang ia ucapkan dulu, yang kutulis dengan tanda bintang di notebook-ku, yang sekarang tercetak di halaman pertama sebelum semua cerita dimulai: "Supaya orang yang membacanya memeluk bukunya. — Sari, pembaca pertama."
Ia membacakannya dengan suara yang besar dan jelas, dengan tangan yang memegang buku itu seperti memegang mikrofon, dan halaman itu bergema di antara anak-anak yang duduk bersila dan orang-orang dewasa yang berdiri di belakang mereka—dan aku menatap barisan wajah-wajah itu dan merasakan, sekali lagi, perasaan yang tidak bisa diucapkan itu. Perasaan yang judulnya sudah tercetak di sampul buku yang sedang dibacakan.
Dan di barisan tamu itu ada juga rombongan dari kantorku—Mbak Inggrid dengan eksemplar yang sudah penuh pembatas halaman sebelum acara dimulai ("aku membacanya semalam, dan aku menolak menjawab pertanyaan apakah aku menangis, karena jawabannya akan merusak reputasi dua puluh tahun"), tim kreatifku dengan mug-mug karikatur yang sengaja mereka bawa untuk difoto bersama bukunya, dan Pak Willy yang datang dengan kamera tuanya dan memotret segalanya dengan gaya wartawan perang. Ayah Javar, yang berdiri paling belakang sepanjang acara, mendekatiku sesudahnya dan berkata dengan suaranya yang jarang: "Anakku pergi delapan tahun untuk merawat saya, dan saya selalu takut harga yang dibayarnya terlalu mahal. Hari ini saya melihat apa yang dibelinya dengan harga itu: dua kota, dua ratus anak yang bisa membaca, dan seorang istri yang menulis buku. Harganya tidak mahal. Harganya pas. Terima kasih sudah menagihnya kembali kepadanya—dengan cara yang benar."
Selesai pembacaan, Sari menyerahkan buku itu kembali kepadaku dengan dua tangan dan berkata dengan suara bisiknya yang terdengar tiga dusun: "Kak, bukunya sudah jadi. Sekarang aku mau pesan yang kedua. Tokohnya aku lagi, tapi yang lebih besar. Aku sudah kelas lima, jadi ceritanya juga harus naik kelas."
Dan semua orang tertawa, dan aku berjanji kepadanya—dengan kata-kata, resmi, di depan saksi sebanyak ini—bahwa buku kedua itu akan ditulis, dan bahwa tokohnya memang akan naik kelas bersamanya.
Hari itu berakhir dengan makan bersama di halaman pos—nasi bungkus yang disiapkan relawan, teh dari termos Bunda, dan soto yang dibawa langsung oleh pemilik warung kami dalam dua termos besar ("bukan soto aslinya, itu tidak mungkin dibawa-bawa, ini versi perjalanan, tapi resepnya sama dan doanya sama"). Pemilik warung itu duduk di kursi kehormatan di sebelah Bunda, dan keduanya—dua perempuan dari dua dunia yang berbeda—berbicara seperti dua sahabat lama tentang anak-anak mereka yang sudah besar dan warung-warung yang membesarkan mereka.
Dan malamnya, di rumah kami—rumah kecil yang kami sewa di kota yang sama, dengan rak buku yang dua, dengan foto-foto di dinding yang semakin banyak, dengan peraturan pertandingan yang sudah dibingkai dan digantung di ruang tengah—aku duduk di meja kerjaku dengan notebook keempat yang sudah setengah terisi, dan Javar duduk di seberang dengan laporan yayasan yang tidak pernah selesai, dan kami bekerja berdampingan dalam keheningan yang sudah menjadi keheningan favoritku di dunia: keheningan dua orang yang masing-masing sibuk, tapi sibuknya di rumah yang sama.
Di tengah menulis, aku berhenti dan memandanginya—suamiku, yang dua belas tahun lalu berdiri di podium aula tua, yang delapan tahun lalu pergi tanpa pamit, yang dua tahun lalu kembali dengan map dan mata yang berani, yang sekarang duduk di seberang mejaku dengan kopi yang sudah dingin dan konsentrasi yang tidak pernah dingin—dan aku membuka halaman baru notebook keempat itu dan menulis, pelan-pelan, dengan pena yang tidak pernah macet:
"Epilog, untuk pembaca halaman-halaman ini di masa depan.
Buku itu sudah terbit. Judulnya Ineffable—kata untuk sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan, yang diberikan seseorang kepadaku lewat telepon di malam yang biasa, yang ternyata adalah judul untuk seluruh hidup kami.
Karena kalau kau bertanya kepadaku bagaimana rasanya menempuh delapan tahun kehilangan dan dua tahun merantai dan satu hari di pendopo dengan bros dua generasi—aku tidak bisa menjawabnya. Tidak ada kalimat yang muat. Yang bisa kulakukan hanya menunjuk: ke warung soto dengan meja pojok dan taburan dobel, ke kereta empat jam yang sudah turun pangkat jadi jalan kenangan, ke dua belas pos belajar yang tiga belas sekarang, ke seorang anak berpita merah yang membacakan halaman pembuka dengan suara tiga dusun, ke seorang bayi bernama Nadia yang namanya membawa namaku, ke dua notebook yang sudah menjadi empat, ke dua kota yang sudah menjadi satu meja makan.
Semua itu ineffable. Semua itu terlalu besar untuk diucapkan. Dan justru karena itulah aku menuliskannya—karena menulis adalah satu-satunya cara yang kumiliki untuk memeluk hal-hal yang tidak bisa kukatakan, dan membagikan pelukan itu kepada orang-orang yang sedang mencari talinya, di kota-kota yang belum kukenal, di halaman-halaman yang belum dibuka.
Tali itu tidak pernah putus. Tidak akan pernah. Dan cerita ini—cerita kami—tetap berlanjut, hari demi hari, di rumah yang sama, di meja yang sama, di dua kursi yang menghadap jendela yang sama.
Dengan kata-kata. Selalu dengan kata-kata. Dan untuk semua yang sedang membaca dari jauh, dari kota mana pun: temukan meja pojokmu, pegang talimu, dan jangan pernah berhenti menulis. Kami berdua menunggu kabar baikmu, di halaman-halaman berikutnya."
TAMAT