Seorang perempuan merapatkan jaket panjangnya. Kedua tangannya bersedekap agar tubuhnya tetap hangat, terlindung dari terpaan angin dingin yang berhembus. Sesekali ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Menatap jalan kemudian sepatu coklat yang beberapa bulan ini selalu menemaninya bekerja, kemudian kembali ke jalan lagi.
Sampai pada akhirnya, tatapan matanya terkunci pada sesuatu yang berada jauh di depannya, di seberang jalan besar sana. Dengan cepat perempuan itu berbalik dan berlari pergi sejauh yang ia bisa. Dadanya bergemuruh, serasa ingin meledak. Ia menyisir rambutnya kebelakang, tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Sudah dua tahun, tapi hatinya tetap tidak tahu malu dan berdetak dengan kencangnya.
From the moment I saw you, I knew I love you…
too much.
Gang sempit di sisi kanan jalan menelannya tanpa suara. Perempuan itu berbelok masuk begitu saja, melewati pagar-pagar seng, pot-pot yang tumbuh sekenanya, dan seekor kucing yang buru-buru menyingkir dari jalurnya. Ia baru berhenti ketika paru-parunya menolak diajak kompromi. Punggungnya menempel di tembok. Dingin batako menembus jaket panjangnya, tapi ia tidak peduli. Kedua tangannya bertumpu di lutut, dadanya naik turun, menghirup udara sebanyak yang bisa ia curi.
Bodoh.
Kata itu datang lebih cepat daripada napasnya sendiri. Ia bahkan belum sempat memastikan apakah yang tadi berdiri di seberang jalan itu benar-benar orang yang ia kira. Bisa saja bukan. Bisa saja hanya seseorang dengan bahu yang kebetulan mirip, dengan cara berdiri yang kebetulan sama. Satu tangan di saku, kepala sedikit miring ke kiri seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak penting. Bisa saja. Tapi kakinya sudah memutuskan lebih dulu, dan sekarang ia berada di gang yang bahkan bukan jalan pulangnya.
Ia tertawa kecil. Bukan karena lucu.
Perlahan ia menegakkan badan dan mengintip kembali ke mulut gang. Dari sini, jalan besar itu hanya sepotong. Lampu-lampu kendaraan lewat seperti garis kuning yang ditarik cepat-cepat, lalu hilang. Ada halte, ada gerobak, ada dua orang berdiri menunggu lampu penyeberangan. Tidak ada bahu itu. Tidak ada tangan di saku itu.
Bagus, batinnya. Bagus sekali. Berlari sekencang itu untuk sesuatu yang bahkan mungkin tidak ada.
Gerimis mulai turun. Bukan hujan yang gagah, hanya butir-butir kecil yang menempel di rambut dan tidak sopan. Perempuan itu mendongak sebentar, lalu menarik kerah jaketnya lebih rapat. Sepatu coklatnya sudah kotor di bagian ujung, terkena cipratan air dari trotoar yang tidak rata. Sepatu itu ia beli beberapa bulan lalu, di toko yang lampunya terlalu terang, karena harganya masuk akal dan solnya tidak berbunyi ketika menapak lantai. Ia butuh sepatu yang tidak berbunyi. Di tempatnya bekerja, suara sepatu adalah pengumuman bahwa seseorang sedang datang, dan ia lebih suka datang tanpa diumumkan.
Ada hal-hal yang ia pelajari dalam dua tahun terakhir, dan salah satunya adalah cara pergi tanpa terdengar.
Ia hafal jam berapa jalan ini paling ramai. Ia hafal sisi trotoar mana yang tertutup pohon. Ia hafal bahwa kalau ia keluar lebih lambat sedikit saja, ia tidak akan berpapasan dengan siapa pun yang tidak ingin ia papasi. Semua itu ia susun pelan-pelan, tanpa pernah mengakuinya sebagai rencana, karena mengakuinya berarti mengakui bahwa ada yang perlu dihindari. Dan ia tidak mau mengakui apa pun.
Toh selama dua tahun ini semuanya berjalan rapi. Ia bekerja, ia pulang, ia tidur, ia bangun, ia bekerja lagi. Tidak ada yang bocor. Tidak ada yang perlu dijelaskan kepada siapa-siapa.
Sampai malam ini. Sampai satu bahu di seberang jalan meruntuhkan susunan yang ia bangun berbulan-bulan hanya dalam hitungan detik.
Gerimis berubah lebih rapat. Perempuan itu melihat sekeliling dan menemukan sebuah warung kecil di ujung gang, dengan terpal biru yang menjorok ke depan dan lampu kuning yang menyala malas. Ia berjalan ke sana, menunduk masuk, lalu duduk di bangku kayu paling pojok. Ada bau kopi, bau minyak goreng, dan bau kayu yang sudah lama basah.
"Kehujanan, Mbak?" Seorang ibu di balik meja menoleh sambil tetap mengaduk sesuatu di panci kecil.
"Iya, Bu. Numpang neduh, ya?"
"Ya silakan. Mau minum apa? Ada teh, ada kopi, ada jahe."
"Teh panas aja, Bu. Yang manisnya biasa."
Ibu itu mengangguk, lalu sibuk dengan gelas dan sendok. Perempuan itu melepas jaketnya, menggantungnya di sandaran bangku, dan baru sadar bahwa tangannya masih gemetar. Ia mengepalkannya di atas paha, menyembunyikannya di bawah meja seolah ada yang akan memeriksa.
Gelas teh datang, panas sampai ke dasar. Ia melingkarkan kedua telapak tangannya di sana dan membiarkan panasnya menjalar. Untuk pertama kalinya sejak tadi, bahunya turun.
"Kayak habis dikejar orang," komentar ibu warung sambil terkekeh, tanpa niat menyinggung. "Larinya kenceng banget tadi. Saya lihat dari sini."
Perempuan itu ikut tertawa, tertahan. "Nggak ada yang ngejar, Bu."
"Lah, terus kenapa lari?"
Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Pertanyaannya terlalu sederhana untuk dijawab dengan jujur.
"Nggak tahu, Bu," katanya akhirnya. "Kaki saya duluan."
Ibu itu tertawa lebih keras, menganggapnya lelucon. Ia mengambil sepiring kecil gorengan yang masih hangat dan meletakkannya di meja tanpa diminta.
"Dimakan, Mbak. Nggak usah dibayar, itu sisa. Daripada dingin."
"Waduh, jadi nggak enak."
"Nggak apa-apa. Orang kalau habis lari itu biasanya lapar, cuma nggak sadar."
Perempuan itu menatap piring kecil itu beberapa detik, lalu mengambil satu. Ternyata ibu itu benar. Ia memang lapar, dan ia memang tidak sadar. Entah sudah berapa lama ia tidak menyadari hal-hal sederhana tentang dirinya sendiri.
Ibu warung kembali ke pancinya, membiarkannya makan dalam diam. Perempuan itu bersyukur. Ada orang-orang yang tidak menuntut apa-apa dari jawabanmu, dan malam ini ia sedang sangat membutuhkan salah satunya.
Dari tempatnya duduk, mulut gang masih terlihat. Jalan besar di ujung sana tetap sibuk seperti tadi. Ia menatapnya lama, terlalu lama, sampai teh di tangannya berhenti mengepul.
Sebenarnya apa yang ia harapkan? Kalau bahu itu memang milik orang yang ia kira, apa yang akan terjadi? Mereka akan saling melambai dari dua sisi jalan yang berbeda? Menyeberang, lalu bertanya apa kabar seperti dua orang yang tidak pernah kehilangan apa pun? Ia bahkan tidak yakin masih punya suara untuk itu.
Dan kalau ternyata bukan? Kalau tadi hanya orang asing dengan mantel yang mirip?
Perempuan itu memejamkan mata sebentar. Entah kenapa, kemungkinan kedua terasa lebih menyakitkan, dan itu justru yang membuatnya malu. Dua tahun, dan ia masih bisa dijatuhkan oleh siluet yang barangkali salah orang.
"Mbak, gerimisnya udah tipis, tuh," ibu warung memberi tahu.
Ia mengerjap, lalu menoleh ke luar. Benar. Terpal biru itu sudah tidak lagi berbunyi.
"Berapa, Bu?"
"Empat ribu aja."
Ia meletakkan uangnya di meja, memakai kembali jaketnya, dan mengucapkan terima kasih dua kali karena satu terasa kurang. Ketika keluar, udara terasa lebih bersih. Aspal berkilat memantulkan lampu jalan. Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu berjalan pulang lewat jalur yang lebih panjang, menyusuri deretan ruko yang sudah tutup, menjauh dari penyeberangan itu.
Bukan menghindar, ia meyakinkan dirinya sendiri. Cuma tidak lewat sana.
Tapi di persimpangan berikutnya, kakinya berhenti sendiri.
Dari sudut itu, penyeberangan tadi masih bisa dilihat. Jaraknya mungkin seratus langkah, cukup jauh untuk aman, cukup dekat untuk tersiksa. Tiang lampu penyeberangan berdiri di sana seperti tidak terjadi apa-apa. Orang-orang menunggu, menyeberang, pergi. Berganti-ganti. Tak satu pun dari mereka membawa bahu yang ia cari.
Ia berdiri di situ lebih lama daripada yang pantas. Sekali, dua kali lampu berganti hijau. Sebuah bus berhenti, menurunkan penumpang, lalu melaju lagi dengan suara mesin yang berat. Seorang tukang parkir bersiul-siul memanggil motor keluar. Dunia berjalan seperti biasa, tidak peduli bahwa ada satu orang di ujung jalan yang sedang berdebat dengan dirinya sendiri.
Menyeberang saja, kata satu suara di kepalanya. Cuma untuk memastikan. Cuma untuk tahu bahwa tadi itu bukan dia, biar selesai.
Lalu apa? balas suara yang lain, yang lebih tua dan lebih lelah. Kalau ternyata memang dia, lalu apa? Kamu mau bilang apa? Halo? Sudah lama, ya? Apa kabar dua tahunmu, punyaku berantakan?
Perempuan itu menggigit bagian dalam pipinya. Tangannya masuk ke saku jaket dan menemukan struk lama, karet gelang, dan kunci kontrakan yang dinginnya menusuk. Ia menggenggam kunci itu erat-erat, sampai giginya menekan telapak tangan, sampai rasa sakit yang kecil itu cukup untuk menariknya kembali.
Lampu berganti hijau untuk ketiga kalinya. Orang-orang menyeberang. Ia tidak ikut.
Ada rasa lega yang aneh ketika lampu kembali merah, seperti seseorang baru saja menutup pintu untuknya sehingga ia tidak perlu menutupnya sendiri. Ia memutar badan, menghadap arah pulang, dan mulai melangkah tanpa menoleh lagi. Satu langkah, dua langkah, sepuluh. Setelah langkah kesepuluh ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan.
Memang selalu begitu. Bagian yang paling berat bukan berjalan pergi, tapi berdiri di tempat sambil memutuskan untuk pergi.
Kontrakannya berada di ujung sebuah gang lain yang lebih terang, di antara rumah-rumah yang televisinya masih menyala. Ia membuka pintu, menyalakan lampu, dan berdiri sebentar di ruang depan yang sempit tanpa melakukan apa-apa. Sunyi. Setelah semua bunyi klakson dan gerimis tadi, sunyi terasa keras di telinganya.
Ia duduk di lantai, melepas sepatu coklatnya satu per satu. Ujung solnya sudah mulai menipis di sisi kanan, tempat ia biasa bertumpu ketika berdiri terlalu lama. Ia meletakkan sepatu itu berjajar rapi di dekat pintu, seperti biasa, seperti yang selalu ia lakukan. Besok pagi sepatu itu akan dipakai lagi, ke gedung yang sama, ke lantai yang sama, ke meja yang sama.
Di depan cermin kecil di dinding, ia melihat wajahnya sendiri. Rambutnya berantakan karena berlari dan gerimis. Ujung hidungnya memerah. Matanya terlihat seperti mata orang yang baru saja berdebat panjang dan kalah.
"Dua tahun," gumamnya pada bayangannya sendiri. "Dua tahun, dan lo masih begini."
Bayangan di cermin itu tidak membantah.
Ia mencuci muka, mengganti baju, lalu merebahkan diri di kasur tanpa menyalakan kipas. Ponselnya ia letakkan di dada, layarnya gelap, tidak ada yang perlu dibalas. Di luar, sisa air dari genteng menetes satu-satu ke bak di belakang, teratur seperti detik jam.
Besok akan biasa saja, pikirnya. Besok ia akan berangkat, duduk di depan komputernya, mengetik apa yang harus diketik, mengantar apa yang harus diantar, tersenyum kepada orang-orang yang tidak perlu tahu apa pun tentang malam ini. Besok tidak akan ada bahu di seberang jalan. Besok tidak akan ada yang perlu dihindari.
Dan kalau pun ada, ia sudah punya jalan lain, jam lain, sepatu yang tidak berbunyi.
Ia memejamkan mata. Napasnya sudah tenang. Semuanya sudah kembali ke tempatnya masing-masing, rapi, aman, terkendali.
Semuanya, kecuali satu.
Di bawah telapak tangannya, di balik tulang rusuk yang seharusnya sudah belajar, jantungnya masih saja berdetak terlalu cepat.