“Meski kita terkadang bisa melupakan orang-orang yang pernah berada di sekitar. Tetapi tidak akan pernah bisa melupakan orang yang pernah membuat kita terluka. Seperti sebuah paku yang menancap di kayu, meski dicabut, tetap akan meninggalkan bekas.”
*****
Syahika ternyata berlari ke ujung jalan gang tersebut. Dia bergegas masuk ke dalam sebuah mini market bernama Seven market. Di mana di sana market ala-ala Korea, bahkan banyak juga makanan siap saji seperti di Korea.
Dia mendekati kulkas minuman kemudian mengambil satu teh s**u boba. Tanpa pikir panjang dia menancapkan sedotan lalu langsung saja menyeruputnya di tempat.
“Haahhh.” Ia mengembuskan napasnya panjang karena lelah berjalan. Tubuhnya terasa panas namun malah mengeluarkan keringat dingin.
“Haus, Sya?” tanya seorang pemuda penjaga market yang tengah membereskan makanan ke rak-rak di dekatnya.
“Eehh busyet, ngagetin aja sih.” Syahika kaget beneran lalu mengangguk kemudian meneguk lagi minumannya.
Pemuda itu bernama Didit, teman Kakak tirinya. Ia tersenyum melihat penampilan Syahika yang tampaknya baru bangun tidur, masih memakai piyama pink kepala kucing, sandal juga sandal untuk di dalam rumah yaitu sandal berkepala kucing yang berbulu, bukan untuk keluar.
“Kamu kenapa? Di kejar setan?” canda Didit melihat napas Syahika yang masih tidak beraturan. Ia tahu jika Syahika paling takut hantu, bahkan sering diledeknya karena mana ada perawat takut hantu? Bukankah sering juga melihat mayat di Rumah Sakit?
Syahika mengangguk cepat tanpa menjawab.
“Serius?” tanya Didit lagi.
“Iya,” jawab Syahika bengong, masih tidak percaya jika penyewa lantai atas adalah pria yang dulu sempat dikejar-kejarnya. Sewaktu dia masih labil-labilnya dan masih dibilang bocil SMP.
“Lihat di mana?” tanya Didit lagi tahu mana mungkin Syahika berbohong.
“Di lantai atas.”
“Bukannya lantai atas udah ada penyewa baru?” tanya Didit lagi masih mencerna jawaban Syahika. Setahu dia, hari ini datang penyewa baru itu.
“Justru itu, dia penghuninya,” jawab Syahika semakin ngawur.
Didit sampai mengernyit heran. Baru kosong sebulan, sudah ada hantunya? “Penghuninya? Maksudnya, dia juga lihat penampakan di siang begini? Kau juga beneran lihat hantunya?”
“Hantu?” Syahika baru saja sadar apa yang dimaksud Didit. Ia malah menghela napas dalam lalu bergumam, “mending liat hantu beneran dari pada liat si dia.”
“Apa? Aku nggak dengar,” tanya Didit mendekatkan telinganya.
“Udahlah, ceritanya panjang.” Syahika bingung harus bilang apa sama Didit. Apa dia harus berkata kalau ia bertemu dengan pria yang disukainya dulu, sempat nembak juga di gerbang kampus dan ditolak. Lalu patah hati sampai bertahun-tahun.
Didit sudah memaklumi jika kelakuan Syahika memang suka aneh. Ia hanya tersenyum tipis. Meski tidak tahu apa Syahika bertemu hantu ataukah orang?
Syahika merogoh saku celana piyamanya, berniat membayar minuman di tangannya itu. Tetapi baru sadar juga kalau dia datang ke sana tanpa bawa Hp, dompet atau uang. Ia nyengir pada Didit. “Aku lupa bawa duit. Pinjam Hp dong, aku mau nyuruh Farrel datang bawa duit.”
“Nggak usah, nanti aja kalau kau ke sini lagi baru bayar,” tolak Didit mengerti. “Atau aku yang traktir.”
“Ngutang? Di traktir? Nggak mau ahh. Aku juga mau sekalian makan di sini, beli ramen,” ujar Syahika sembari masih menyodorkan telapak tangannya. Dia sudah terbiasa bersikap kurang ajar pada pemuda itu, sama seperti kepada Kakaknya dan Didit memang suka seperti itu mengingat dia sudah mengenal Syahika dari pertama kali pindah ke rumah Ibunya saat berusia 9 tahun.
Didit mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.
Syahika langsung saja mencari nomor adiknya lalu mendialnya. Tak berapa lama sambungan terhubung.
“Halo Kak Didit, ada apa?” tanya Farrel.
“Fal, bawain dompet Kakak dong ke Seven market,” jawab Syahika berjalan ke arah bangku-bangku di dekat jendela.
“Loh, ngapain Kakak ada di sana? Kirain aku, Kakak lagi bertamu di lantai atas sama tetangga baru?” tanya adiknya heran. Tidak biasanya Kakaknya pergi ke market pakai piyama, sandal rumah dan intinya sampai tidak membawa uang atau dompetnya.
“Udah ahh, jangan banyak tanya. Bilangin Ibu juga, Kakak mau makan ramen di sini,” jawab Syahika jadi sebal jika membahas tentang tetangga baru itu.
“Ya udah tungguin, tapi entar traktir ya. Uang jalan,” kata adiknya sembari cengengesan.
“Iya-ya, buruan.” Syahika lalu menutup teleponnya. Setelah itu dia berjalan mendekati Didit yang sudah berdiri lagi di kasir.
“Kamu sendirian? Ke mana yang lain?” tanya Syahika tidak melihat pegawai lain yang biasanya ada tiga orang di sana.
“Oh, mereka lagi istirahat makan di belakang. Jadi aku sendirian dulu yang jaga,” ujar Didit menerima ponselnya.
“Oh, aku mau ambil dulu ramen. Seduh di sini ya,” kata Syahika nyengir lagi.
“Kamu ini seperti pertama kali aja ke sini, ambil aja dulu mau apa.” Didit memang heran dengan kelakuan Syahika hari ini. Biasanya dia asal ambil saja dulu, lalu membayar di akhir. Tidak seperti yang lain, bayar dulu baru bisa makan di sana.
Syahika pun berjalan ke arah rak-rak mie-mie. Lalu mengambil ramen rasa ayam. Berjalan lagi ke sudut market di mana terdapat alat untuk merebus atau menyeduh mie.
Tidak berapa lama, mie setengah matang pun siap karena dia tidak suka jika ramen terlalu matang. Berjalan lagi ke arah bangku membawa ramen itu lalu duduk di mana ada setengah gelas teh s**u bobanya di atas meja panjang tersebut.
Dia menatap ke luar ke arah jalanan. “Mana sih tuh anak, lama sekali. Dompet aku kan di dalam tas dan dia juga tahu aku sering menyimpannya di mana,” gerutunya sembari hendak menyantap ramen panas-panas.
Namun, pandangan Syahika ke arah pria yang berjalan ke arah market itu. Kedua matanya langsung membulat dan secepat kilat ia bangkit dari bangku lalu berlari ke arah belakang rak-rak snack tanpa Didit sadari karena dia sedang fokus pada layar komputer.
Dengan jantung berantakan. Syahika saat ini berjongkok sembunyi di balik rak-rak snack itu saat melihat kedatangan Arvano. Dia sudah mirip orang yang punya hutang ke rentenir-rentenir.
Arvano masuk ke dalam market. Berniat membeli keperluannya sehari-hari untuk di kulkas. Ia berjalan mendekati dulu Didit. “Selamat sore, apa di sini ada air mineral nestle kardusan?” tanyanya hanya melihat air yang ada di rak, tidak ada yang di dus.
“Oh, ada di belakang. Mau ambil berapa dus?” tanya Didit ramah.
“Lima dus saja, tiga dus botol kecil dan dua dus botol besar yang satu setengah liter,” ujar Arvano juga ramah. “Apa bisa dianterin ke gang di dalam semua belanjaannya memakai roda market?”
“Oh, bisa-bisa. Pakai mobil juga bisa jika belanjaan banyak.” Didit sempat melirik ke arah bangku tempat Syahika tadi duduk. Tuh anak menghilang ke mana? Sementara ramen dan teh s**u bobanya masih ada di situ.
Ternyata Syahika masih bersembunyi sambil komat kamit. Berharap jika Arvano akan segera pergi dari sana tanpa bertemu dulu dengannya.
“Pakai roda saja, dekat kok. Di rumah nomor 1134,” jawab Arvano mengedarkan pandangan mencari lagi keperluannya yang lain.
“1134, lantai 2?” tanya Didit sudah bisa menerka jika pria itu penyewa baru rumah orang tua Syahika. Pantas saja dia baru pertama kali melihat pria itu berbelanja ke sana.
“Kok kamu tahu?” tanya Arvano sempat heran.
“Penyewa baru ya? Aku teman anak pemilik rumah itu. Mereka juga berkata hari ini penyewa baru akan datang. Tidak disangka ternyata yang menyewa masih muda,” canda Didit mulai mengakrabkan diri. Sebab sudah pasti mereka akan sering bertemu.
“Oh, kalau begitu salam kenal. Aku Arvano,” ujar Vano mengulurkan tangannya, disambut hangat oleh Didit.
Didit teringat lagi dengan Syahika yang masih hilang entah pergi ke mana. “Di sini juga ada-”
“Bang Didit!” panggil Farrel masuk ke sana membawa dompet Syahika. Barusan Didit mau berkata pada Arvano jika putri pemilik rumah itu juga ada di sana. Entah mereka sudah bertemu atau belum.
Arvano lalu mengambil keranjang jinjing, berjalan ke arah rak minuman lainnya yang dekat dengan meja kasir.
Farrel menghampiri Didit sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ke mana Kakaknya pergi, kenapa tidak ada di sana? “Bang, mana Kak Syahika?” tanyanya aneh.
“Tadi duduk di situ,” jawab Didit aneh juga dengan kedua mata mencari-cari.
Syahika yang masih berjongkok sampai memejamkan matanya erat. Lalu menggerutu dalam hati kesal. Kenapa kalian menyebut namaku sih?
Syahika? Hati Arvano menyebut nama itu lalu menoleh menatap Farrel. Teringat kalau tadi dia sempat melihat sekilas kedatangan remaja itu saat menaiki tangga. Jadi dia adiknya Syahika dan Didit berkata Syahika juga ada di sana, lalu ke mana dia? Ia pun ikut mencari diam-diam, ke mana gadis itu pergi? Berjalan mengelilingi rak-rak di sana.
Farrel mengernyit heran juga. “Jangan-jangan dia kabur nggak mau bayar,” terkanya asal.
Syahika yang mendengar kembali menggerutu dalam hati. Sialan kau Fal, awas kalau di rumah. Sudah habis kau kutumbuk pakai cobek.
Syahika mengintip sedikit ke arah kasir. Tidak melihat Arvano, dan tidak mendengar suaranya lagi. Apa dia sudah pergi dari sana? “Hmm, ke mana dia?” gumamnya pelan, hanya bisa melihat kaki adiknya saja yang masih mencari-carinya.
Ternyata Arvano yang duluan menemukannya. Dia berdiri di belakang Syahika yang masih berjongkok mengintip-ngintip ke arah lain. “Syahika?”
Syahika sontak terkesiap dengan bulu roma yang tiba-tiba meremang. Rasa itu melebihi ketakutannya terhadap hantu sampai memejamkan matanya erat. Ia harus bagaimana sekarang? Apa dia lari saja? Tapi itu terlihat seperti dia membenci Arvano? Apa dia harus pura-pura menyapanya dan pura-pura tidak ingat dengan kelakuannya dulu? Tapi itu tidak mungkin.
“Kak!?” panggilan Farrel membuatnya terkejut untuk ke sekian kalinya sampai kali ini tak sengaja belakang kepalanya membentur rak snack lalu menjatuhkan beberapa bungkus Chittos, Taro dan lainnya yang ada di rak tersebut ke atas kepalanya.
Bruukkhh bruukkhh.
Tangan Arvano refleks menahan snack-snack itu berjatuhan ke atas kepala Syahika.
“Kakak sedang apa di situ?” tanya Farrel aneh. Kenapa dari tadi Kakaknya tidak menjawab dan malah bersembunyi di sana?
Syahika nyengir terpaksa, menampakkan barisan gigi putihnya sembari berdiri. “Tadi Kakak sedang memilih taro untuk tambahan ramen,” jawabnya sekenanya sambil mengambil satu bungkus taro yang bisa digapainya. Ia benar-benar tidak bisa berpikir saat ini.
Arvano masih menatap dalam. Mengingat-ingat bagaimana dulu Syahika dalam balutan seragam SMP, dengan tubuhnya yang tinggi dan kurus. Sekarang gadis itu berisi dan juga wajahnya manis, apalagi rambutnya yang dicepol asal itu serta tanpa make-up pun, Syahika terlihat cantik alami. Menatap dari atas sampai bawah, memakai piyama dan sandal yang lucu membuat Syahika masih terlihat seperti gadis SMP, hanya saja sekarang tubuhnya semakin bagus meski terhalang piyama sedikit kebesaran.
Didit juga menghampiri mereka. “Aku kira kamu ke mana? Kamu tidak apa-apa, kan?”
Syahika menggelengkan kepalanya cepat. Ia lalu buru-buru membereskan bungkus-bungkus snack yang berantakan itu.
“Nggak apa-apa, biar aku aja yang beresin. Ramen kamu nanti mengembang nggak enak,” kata Didit menahan tangan Syahika yang sibuk mengambil snack di atas lantai.
“Nggak apa-apa?” tanya Syahika tidak enak sendiri? Dia sungguh bingung harus bagaimana di hadapan Arvano yang saat ini masih menatapnya.
Farrel asal saja berbicara. “Aku kira Kakak sedang main petak umpet sama Bang Didit, dan kalau nggak tahu sifat Kakak, bakalan ngira kalau Kakak sedang menghindari sang mantan, ahahaha,” gelaknya tanpa menyadari bagaimana pucat dan merahnya wajah Syahika saat ini.
Ya Tuhan, mulutmu Fal, ingin aku sobek-sobek atau aku jahit pakai jarum jahit di Rumah Sakit. Batin Syahika bergemuruh. Kepalanya sih tidak sakit ketiban snack-snack itu, malunya itu yang membuatnya ingin terbang saja ke bulan dan tidak kembali lagi ke bumi. Malah adiknya kini berbicara asal ceplos saja.
“Syahika? Kamu sudah lupa sama aku?” tanya Arvano memberanikan diri bertanya. Dia ingin tahu alasan kenapa gadis itu tadi berlari saat bertemu dengannya. Bahkan saat ini juga dia yakin kalau Syahika sedang bersembunyi darinya.
“Hay, Kak Arvano. Lama tidak berjumpa,” sapa Syahika formal dengan senyum yang dipaksakan membuat Farrel bergidik ngeri melihatnya. Kenapa dengan Kakaknya itu? Syahika lalu membantu Didit membereskan kembali snack meski Didit sudah melarangnya.
Farrel baru menyadari jika pria itu penyewa rumah mereka yang baru. “Kakak yang tinggal di atas? Penyewa baru itu?” tanyanya sigap berdiri di depan Arvano, hendak berkenalan dengannya.
“Ahh iya, kamu ...?” tanya Arvano ragu. Ia ingin bertanya lagi pada Syahika, tapi keburu dihalangi Farrel.
“Aku adiknya Kak Syahika, namaku Farrel Dendiawan,” jawabnya sembari menoleh ke belakang di mana Syahika masih membantu Didit membereskan snack yang berantakan. Lalu mengulurkan tangannya. “Jadi kalian saling kenal?”
Arvano menerima uluran tangan Farrel, sebagaimanapun juga pemuda itu adalah adik Syahika dan juga anak pemilik rumah yang disewanya saat ini. “Iya, kami saling kenal. Panggil saja aku Kak Vano.”
Farrel mengernyitkan keningnya heran. Kenal di mana? Apa pria tampan itu senior Kakaknya? “Kalian kenal di mana?” tanyanya penasaran.
“Kenal saat Kakak magang di Rumah Sakit dulu,” jawab Syahika cepat dan asal. Mana tahu dia kalau Arvano selama ini tinggal di Luar Negeri, yang dia tahu kalau Arvano dulu kuliah kedokteran, saat ini pasti sudah menjadi seorang dokter. Ia sudah selesai membantu Didit lalu bergegas kembali ke bangkunya dengan sebungkus taro.
“Kak ... loh?” Farrel ingin bertanya lagi tetapi kala menoleh ke belakang, melihat Syahika kini duduk di bangku.
Arvano semakin yakin jika gadis itu terang-terangan sedang menghindarinya. Apakah karena masih sakit hati atas penolakannya? Apakah dia harus menjelaskan kenapa saat itu dia menolak gadis yang masih SMP? Entah kenapa saat ini kala bertemu lagi dengan Syahika, ada perasaan yang berbeda dengan yang dulu. Apakah itu perasaan rasa bersalahnya?
Farrel menghampiri Syahika lalu menaruh dompet Kakaknya itu di atas meja. “Nih dompetnya, lain kali kalau mau ke sini jangan lupa bawa dompet atau uang, gimana kalau nggak ada orang di rumah. Kakak mau ngutang dulu-”
“Jangan ngomel terus. Mau jajan apa hari ini bebas,” jawab Syahika mencoba menutup mulut adiknya. Dia sudah sangat malu bertemu dengan Arvano. Apa pria itu tahu jika dia bersembunyi darinya?
“Beneran bebas?” tanya Farrel semangat.
“Tiga macam, nggak boleh lebih.” Syahika mulai menyantap ramennya yang sudah sedikit mengembang kemudian membuka bungkusan taro juga.
Tiga macam lumayan bagi Farrel. Ia pun segera memilih makanan yang ingin dimakannya hari ini, mengambil satu botol tea jus, ramen rasa sea food dan juga satu bungkus chittos pedas kesukaannya.
Sementara Arvano menjadi ragu untuk mendekati Syahika. Jadi dia memutuskan untuk melanjutkan berbelanjanya.
Ketika sedang makan. Syahika jadi teringat wanita yang tadi membuka pintu. Apa itu istri Arvano? Atau pacarnya? Dia yakin jika Arvano pasti sudah mempunyai pasangan, entah itu istri atau pacar. Lalu kenapa dia harus ambil pusing? Kenapa dia harus menghindari atau bersembunyi dari Arvano? Tetapi kala teringat penolakan itu, hatinya jadi menciut lagi dan kalau bisa, dia ingin menggali tanah saja dan bersembunyi di sana. Masa remaja yang membuatnya malu seumur hidup.
Arvano kini memilih buah-buahan. Meski sesekali dia melirik ke arah Syahika yang duduk menghadap jendela membelakanginya.
Di sisi lain. Didit di depan meja kasir tengah memperhatikan kelakuan Syahika lalu menatap Arvano yang sedang fokus berbelanja. Merangkai semua kejadian hari ini dengan semua sikap aneh gadis itu. Hantu? Pasti yang dimaksud penghuni lantai dua adalah pria bernama Arvano itu. Ternyata keduanya saling kenal dan kenapa Syahika seolah mati-matian menghindarinya. Setelah semua itu dirangkai di otaknya. Seketika dia mulai teringat lagi kejadian 8 tahun silam. Jangan katakan kalau pria itu adalah pria yang sama yang membuat Syahika sakit selama hampir dua minggu?
Farrel lalu memberikan tiga jajanannya. “Kak Syahika yang bayar ya, Bang.”
Didit hanya mengangguk lalu menghitung semua jajanan Farrel. Farrel pun segera pergi karena teman-temannya sudah menelepon mengajak bermain futsal malam.
Syahika bergegas mengakhiri makannya. Ramen pun tidak semuanya habis dan dia membuangnya ke tempat sampah yang sudah di sediakan di sana kemudian mendekati kasir. “Berapa semua?”
Didit menyebutkan jumlah yang harus dibayar Syahika. Gadis itu pun segera mengeluarkan uangnya dan tidak sengaja menjatuhkan foto berukuran kecil saat dia SMA yang diselipkan asal bersama dengan uang-uangnya karena dia mendapatkan foto itu kemarin dari teman sesama perawat di Rumah Sakit.
Setelah itu, Syahika pergi dari sana.
Tidak berapa lama. Arvano pun hendak membayar belanjaannya dua keranjang, dan lima dus air. Ia mengeluarkan dompet lalu tiba-tiba satu koin di dompetnya terjatuh ke lantai kala Didit sedang menghitung belanjaannya itu. Tak sengaja menemukan foto Syahika yang terjatuh tadi di dekat kakinya.
Meski ragu, Arvano memungut foto itu dan memperhatikannya sekilas. Ia akan mengembalikannya nanti, toh kini mereka hidup saling bertetanggaan. Jadi dia memasukkan foto tersebut bersama dengan koinnya ke dalam dompet.
Semua belanjaan Arvano teman Didit yang mengantarkannya karena Didit sedang sibuk melayani para pelanggan yang lain.
Syahika sampai di rumahnya dari tadi. Dilihatnya Pak Harya sudah pulang.
“Ayah sudah pulang?” tanyanya menghampiri Ibu dan Ayahnya itu.
“Ya, hari ini selain teman Ayah ada yang sakit. Perusahaan juga kedatangan anak boss sehingga di kantor semuanya sibuk dan Ayah juga tidak bisa pulang sehabis shift malam,” jawab Pak Harya tampak kelelahan dan kurang tidur pastinya.
Syahika merasa kasihan. Meski beliau hanya Ayah tiri, tetapi kasih sayang yang dia inginkan dari seorang Ayah telah dia dapatkan dari pria itu, tidak seperti dari Ayah kandungnya yang hanya mementingkan istri dan anak barunya sehingga mengira jika memenuhi materi dan kebutuhannya saja, itu sudah cukup baginya. Padahal jika dia bisa memilih, dia juga tidak ingin hidup di atas harta pemberian Ayah kandungnya, tetapi melihat lagi bagaimana kehidupan Ibu dan keluarganya itu yang sederhana, membuatnya harus menerima uang bulanan demi pendidikan dan juga kebutuhannya supaya tidak merepotkan atau menambah beban pada Ibunya.
“Ayah mandi dan makan, nanti baru tidur yang nyenyak,” kata Ibu Nenthi memijit sekilas pundak suaminya itu dengan sayang.
Syahika tersenyum melihat keharmonisan mereka.
“Makan bersama, Sya?” tanya Pak Harya menatap lagi Syahika.
“Aku barusan sudah makan ramen di Seven market. Jadi kalian saja duluan, ada laporan kerjaan yang harus aku kerjakan untuk besok.” Syahika segera pergi ke kamarnya, tidak mau mengganggu masa-masa manis Ibu dan suaminya itu.
Setibanya di kamar. Syahika melemparkan tubuhnya ke atas ranjang lalu tiduran tertelungkup. Membayangkan bagaimana ke depannya harus setiap hari bertemu dengan Arvano.
“Tunggu dulu, kenapa harus setiap hari bertemu? Bukankah kami nggak tinggal seatap? Jadi kenapa harus setiap hari bertemu?” gumamnya sembari tersenyum penuh keyakinan jika dia mustahil bisa bertemu terus dengan Arvano.
Di tangga. Arvano menatap sekilas pintu masuk rumah Syahika. Masih tidak menyangka jika dia bisa bertemu lagi dengan gadis yang dulu menyukai dan pernah menembaknya secara terang-terangan di depan gerbang kampusnya. Kini mereka hidup bertetanggaan. Meski hatinya sedikit menyesal, kenapa dulu dia tidak menerima surat dari gadis itu dan kini malah penasaran, apa isi dari surat itu yang pasti sudah dibuang Syahika tentunya.
“Ini mau dibantu naikin ke atas?” tanya teman Didit membuyarkan lamunan Arvano.
“Ya, maaf merepotkan.” Arvano kembali menaiki tangga menuju kamarnya di mana Nathalia sudah pamit pulang sedari tadi sebelum dia pergi ke market.
Malam harinya. Ketika hendak tidur. Syahika menatap langit-langit kamarnya yang tidak ada suara sama sekali di atas sana seperti sore hari yang berisik karena suara barang-barang yang dipindah-pindahkan, dia masih belum bisa percaya jika Arvano tinggal di atasnya. Dia tidak bisa menatap lama-lama wajah tampan itu, 8 tahun lamanya mereka tidak bertemu. Sekarang Arvano semakin tampan dan dewasa meski usianya sudah bertambah hampir kepala tiga. Tetapi usia seperti itu semakin membuatnya berwibawa juga.
Syahika mengira jika selama ini dia sudah bisa melupakan pria tampan bernama Arvano itu. Tetapi, kenapa malah bertemu kembali membuat jantungnya berdebar lagi. Apakah perasaannya yang dulu terusik kembali? Apakah benar dia tidak pernah bisa move-on dari Arvano? Benarkah dia masih suka padanya meski luka karena sakit hati penolakan Arvano juga masih belum bisa dilupakannya?
Syahika tidak tahu jika Arvano duduk di meja kerjanya sembari menatap lantai. Di bawah sana ada gadis manis SMP waktu itu, dan kini sudah berubah menjadi wanita yang sangat cantik.
Apa ini takdir? Atau hanya kebetulan belaka? Kenapa dari sekian banyaknya foto rumah kontrakan, dia tertarik dengan rumah itu? Entahlah, yang pasti saat ini dia sudah tinggal di sana dan menyewa rumah itu selama dua tahun ke depan.
*BERSAMBUNG*
Gimana nih? Lanjut nggak? Klo nggak seru komen ya, dan kalo seru komen jg biar tambah semangat lanjutinnya dan biar tau siapa aja yg nantiin cerita ini jhehe