Sebulan berlalu sejak kepergian Aldo. Keadaan Sinta masih membuat keluarganya khawatir. Ada hari ketika ia dapat duduk di ruang tengah dan menjawab pertanyaan sederhana. Ada pula malam ketika ia hampir tidak tidur, memanggil nama suaminya dan menunggu suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Seminggu sebelumnya, ia kembali dibawa untuk mendapat penanganan medis setelah mengalami keluhan pada kehamilannya. Pemeriksaan menunjukkan bahwa kehamilan itu tidak dapat dipertahankan. Tenaga kesehatan mendampinginya menjalani penanganan yang diperlukan. Keluarga tidak diberi janji bahwa kepatuhan Sinta atau doa seseorang dapat mengubah hasil pemeriksaan tersebut.
Mita berada di dekatnya ketika kabar itu dijelaskan. Sinta hanya menatap petugas, kemudian bertanya apakah ia boleh menelepon Aldo. Pertanyaan itu keluar begitu saja, disusul tangisan ketika ia mengingat bahwa suaminya tidak akan menjawab. Mita tidak tahu bagaimana menghiburnya tanpa mengatakan sesuatu yang tidak benar.
'Aku tidak sanggup kehilangan lagi,' bisik Sinta.
'Aku dengar, Sin.'
'Semua orang bilang masih ada anakku. Sekarang siapa yang masih ada?'
Mita menunduk. Ia termasuk orang yang pernah memakai kehamilan itu sebagai alasan agar Sinta bertahan. Ia menyayangi calon keponakannya, tetapi baru menyadari betapa berat kalimat tersebut ketika satu-satunya harapan yang disebut keluarga itu ikut hilang.
'Kami masih di sini,' jawabnya. 'Tapi aku tahu itu tidak sama. Kamu tidak harus merasa cukup hanya karena kami mengatakannya.'
Sesudah kondisi fisiknya ditangani, Sinta pulang dengan rencana pemeriksaan lanjutan. Mereka mengikuti arahan yang diberikan dan tidak membiarkannya sendirian ketika keadaannya tampak memburuk. Dimas mengurangi beberapa kunjungan ke tempat usaha, sedangkan Rusman membatalkan perjalanan yang belum mendesak. Anisa membantu menghubungi orang yang dapat mendampingi, sambil tetap menjaga kedua anaknya.
Namun, kehilangan itu terasa semakin sulit dipahami Sinta. Ia memegangi catatan pemeriksaan awal, menanyakan kapan bayi akan pulang, lalu marah ketika keluarga tidak dapat memberikan jawaban yang diinginkannya. Suatu pagi ia berkata bahwa Aldo sedang menunggu di luar. Ia berusaha membuka pintu rumah sebelum Rangga mendekat dan mengajaknya duduk.
'Aku mau ikut Mas Aldo. Kenapa kalian menyembunyikan dia?'
Rangga tidak melihat siapa pun di halaman. Ia merasakan ketakutan naik ke dadanya, tetapi tidak menyebut Sinta berbohong. Ia meminta Dimas menghubungi petugas yang selama ini menangani adiknya dan menjelaskan perubahan yang baru mereka lihat.
Mita tiba ketika Lina mulai menangis. Ibu mertuanya berkali-kali mengulang bahwa ia tidak mau anaknya menjadi gila. Ucapan itu membuat Sinta menutup telinga dan berteriak agar semua orang diam. Mita membawa Lina menjauh dari pintu, sementara Rangga tetap bersama Sinta dengan bantuan Rusman.
'Bu, kita belum tahu semua yang terjadi. Tolong jangan ucapkan itu di depan Sinta,' kata Mita.
'Ibu takut. Dia seperti tidak mengenal kenyataan lagi.'
'Karena itu kita minta pertolongan. Bukan memarahinya karena Ibu takut.'
Lina menutup mulut dengan saputangan. Ia ingin menyangkal bahwa ia sedang memarahi anaknya, tetapi suara Sinta dari dalam membuatnya berhenti. Rusman datang untuk mengatakan bahwa mereka akan membawa Sinta menjalani penilaian pada tempat yang disarankan petugas. Ia meminta Lina bersiap tanpa mengumpulkan pakaian terlalu banyak.
Perjalanan itu tidak berlangsung mudah. Sinta bertanya beberapa kali apakah mereka akan menemui Aldo. Rangga tidak menjawab iya. Ia mengatakan mereka akan bertemu tenaga kesehatan yang dapat membantu ketika tidur, pikiran dan kesehariannya terasa sangat berat. Jika Sinta kembali menangis, mereka menunggu, lalu melanjutkan penjelasan dengan kalimat yang singkat.
Di rumah sakit jiwa, tim perawatan berbicara dengan Sinta dan keluarganya. Ada bagian percakapan yang berlangsung tanpa kehadiran semua anggota keluarga. Mita menunggu di luar, menerima telepon dari Wanda mengenai pesanan yang harus diambil pelanggan. Ia memberi keputusan seperlunya, kemudian mematikan suara telepon setelah mengirim jadwal kapan ia dapat dihubungi lagi.
Setelah penilaian, dokter menjelaskan bahwa Sinta memerlukan perawatan dan pemantauan lebih dekat untuk sementara. Mereka akan menangani kondisinya dan meninjau perkembangan, tanpa menjanjikan berapa hari sampai ia kembali seperti dahulu. Keluarga diminta menyampaikan riwayat yang benar dan mengikuti aturan kunjungan.
Lina bertanya apakah penyakit itu terjadi karena Sinta pernah berbuat jahat kepada Mita. Pertanyaan tersebut membuat ruangan hening. Mita merasakan sakit yang berbeda ketika namanya kembali diletakkan di tengah keadaan yang tidak dibuatnya.
'Saya tidak meminta Sinta menderita,' katanya. 'Kesalahan lama bisa dipertanggungjawabkan, tetapi kehilangan suami dan kehamilan bukan hukuman yang boleh kita putuskan sendiri.'
Dokter menegaskan bahwa Sinta membutuhkan penanganan atas keadaan yang dialaminya, bukan tuduhan mengenai pantas atau tidaknya ia menerima musibah. Lina menangis lagi. Kali ini ia meminta maaf karena mengatakan sesuatu yang menambah beban, kemudian mendengarkan penjelasan berikutnya.
Rangga mengisi informasi yang diperlukan bersama Dimas. Ia menyebut dua kehilangan yang terjadi berdekatan dan perubahan perilaku yang dilihat keluarga. Ia tidak menyembunyikannya hanya agar mereka tampak mampu mengatasi persoalan rumah sendiri. Rusman menghubungi Anisa untuk mengabari bahwa mereka belum akan pulang bersama Sinta.
Mita juga menelepon rumahnya untuk memastikan Rival sudah dijemput sepulang sekolah oleh tetangga yang sebelumnya bersedia membantu. Anak itu mendengar sebagian kabar dari orang dewasa dan bertanya apakah tantenya melakukan kesalahan sehingga dibawa pergi. Mita menjawab bahwa Sinta sedang sakit dan membutuhkan perawatan. Ia tidak dihukum atau dibuang dari keluarga. Rival boleh mengirim gambar nanti jika ingin, tetapi tidak bertugas membuat Sinta sembuh. Setelah menjawab, Mita mengingatkan jam ia akan pulang agar anaknya tidak menunggu tanpa kepastian.
Menjelang petang, petugas mengantar Sinta ke ruang perawatan. Sinta menggenggam lengan Mita, meminta ia tidak langsung pergi. Mita menunggu sampai petugas membantunya duduk dan menjelaskan apa yang akan dilakukan. Ia tidak menjanjikan tinggal di ruangan itu tanpa batas, tetapi memastikan Sinta mengetahui siapa yang ada di dekatnya.
Saat akhirnya keluarga diminta menunggu di lorong, Rangga berdiri di hadapan pintu yang telah tertutup. Tidak ada adu mulut yang dapat dibenahinya dengan membela satu orang dan menyalahkan yang lain. Di balik pintu itu, adiknya membutuhkan bantuan yang selama ini tidak dapat diberikan keluarga hanya dengan kehendak mereka sendiri.