Wanda sedang memegang dua potong pakaian contoh ketika Mita tiba di butik. Bu Ratna, pemilik usaha kue yang memesan seragam untuk pegawainya, duduk di kursi dekat meja potong. Ia datang dengan seorang pekerja karena ada ukuran lengan yang perlu diperbaiki sebelum delapan set pakaian mulai dijahit.
'Maaf membuat Ibu menunggu,' kata Mita setelah menyimpan tas.
'Saya tahu ada keluarga yang sedang sakit. Kalau belum bisa dikerjakan, saya perlu tahu kapan harus mencari pilihan lain.'
Mita menghargai pertanyaan itu. Pelanggannya tidak berkewajiban menunda pembukaan cabang hanya karena ia mempunyai persoalan keluarga. Ia meminta melihat bagian yang dirasa kurang nyaman, kemudian mengukur ulang panjang lengan dan lebar bahu. Wanda mencatat perubahan di lembar pesanan, bukan mengandalkan ingatan.
'Saya masih sanggup menyelesaikan sesuai tanggal yang kita sepakati. Tetapi kain baru akan dipotong setelah contoh ini Ibu setujui,' ujar Mita.
Mereka membicarakan dua perubahan kecil. Setelah contoh diperbaiki sementara dan dicoba lagi, Bu Ratna menyatakan bentuknya sudah sesuai. Mita menuliskan ukuran akhir, meminta pelanggannya memeriksa, lalu menjelaskan kapan ia akan mengirim foto pekerjaan berikutnya. Pertemuan itu berakhir dengan keputusan yang dapat dikerjakan, bukan permintaan belas kasihan.
Begitu pelanggan pergi, Mita baru menyadari ia belum makan. Wanda mengambilkan bekal yang tadi diletakkan di rak. 'Saya tidak mengubah tanggal pesanan, Bu. Saya takut menjawab sesuatu yang belum Ibu putuskan.'
'Kamu benar. Kalau nanti saya terlambat memberi kabar, hubungi sekali lagi. Tetapi jangan menunggu sampai pelanggan sudah kecewa untuk mengatakan ada yang tertunda.'
Wanda mengangguk. Mereka memeriksa pekerjaan hari itu dan memisahkan pakaian yang dapat diselesaikan tanpa menunggu Mita. Ada dua pengambilan sore, satu perbaikan ritsleting dan potongan yang belum boleh diteruskan. Pembagian itu membuat Mita dapat melihat berapa lama ia benar-benar dibutuhkan di toko.
Teleponnya berbunyi saat ia membuka bekal. Rangga mengatakan Lina meminta Mita kembali ke rumah sakit karena ia ingin pulang beristirahat. Dimas juga harus memeriksa rumah makan. Rusman sedang mengurus keperluan di rumah, sehingga Rangga merasa Mita pilihan yang paling mudah dihubungi.
'Aku masih bekerja, Mas. Kita tadi sudah membicarakan jamnya.'
'Ini adikku sedang dirawat. Butik bisa tutup sebentar.'
Mita meletakkan sendok. Wanda berpura-pura sibuk di ujung meja agar percakapan itu tidak terdengar seperti tontonan. Dari kaca toko, Mita melihat pembeli lewat membawa tas belanja, orang-orang yang menjalani hari tanpa tahu apa yang baru saja diminta darinya.
'Aku baru memastikan pesanan pelanggan. Tutup bukan berarti pekerjaannya hilang. Nanti aku tetap harus menyelesaikannya, sementara waktuku habis di tempat lain.'
'Jadi kamu lebih memilih pelanggan?'
Mita menarik napas. 'Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang membuat seolah cuma ada dua pilihan. Ada kamu, Dimas dan Bapak. Kalau Ibu perlu pulang, siapa yang bisa menggantikan tanpa mengorbankan semua pekerjaan orang yang sama?'
Rangga diam. Mita tidak mengisinya dengan janji akan segera datang. Ia mengatakan akan menghubungi kembali setelah selesai makan, lalu menutup telepon. Tangannya masih gemetar ketika mengambil sendok. Menolak tidak membuatnya seketika merasa berani; ia justru membayangkan wajah Lina ketika mengetahui permintaannya tidak dipenuhi.
'Bu, saya bisa lanjut menjahit yang sudah jelas,' ujar Wanda. 'Tapi kalau Ibu pergi, bagian contoh ini memang belum bisa saya putuskan sendiri.'
'Saya tetap di sini sampai pekerjaan itu selesai.'
Wanda tidak menanyakan mengapa Mita berselisih dengan suaminya. Ia memeriksa benang dan memulai pekerjaan yang telah dibagi. Bunyi mesin memberi Mita sesuatu yang dapat diikuti ketika pikirannya masih tertinggal pada suara Rangga.
Seorang pelanggan datang mengambil rok yang ritsletingnya diperbaiki. Mita memintanya memeriksa lebih dahulu, lalu menemukan bagian dalam yang masih tersangkut pada lapisan kain. Ia membuka jahitan pendek, membetulkannya dan meminta pelanggan mencoba kembali. Pekerjaan itu menghabiskan seperempat jam, tetapi ia tidak menagih tambahan untuk memperbaiki hasil yang belum baik. Setelah pelanggan menyatakan nyaman dan membayar biaya yang semula disepakati, Mita menaruh nota di laci. Hal-hal seperti itulah yang hilang ketika pekerjaannya dianggap dapat ditinggalkan tanpa akibat. Pelanggan tidak melihat urusan rumahnya; mereka menerima hasil dari waktu dan perhatian yang tersedia di toko.
Beberapa saat kemudian, Dimas menelepon. Ia sudah mendengar rencana dari kakaknya, tetapi tidak langsung meminta Mita datang. Ia menjelaskan bahwa Sinta sedang beristirahat dan petugas tidak memerlukan semua anggota keluarga berada di lorong. Kebutuhan siang itu hanya memastikan ada orang yang dapat dihubungi serta membawa pakaian yang tertinggal.
'Rangga bisa tetap menjadi kontak. Aku mengantar Ibu pulang, lalu Bapak mengambilkan pakaian. Tidak perlu Mbak meninggalkan butik,' katanya.
Mita menutup mata sebentar. Ia marah karena jawaban itu sebenarnya dapat dicari sebelum waktunya dianggap tersedia. 'Tolong sampaikan kepada Mas Rangga. Aku tidak mau setiap penolakan harus dibenarkan orang lain dulu baru dianggap masuk akal.'
'Aku mengerti. Mbak juga boleh bilang begitu langsung kepadanya.'
Sore hari, Rangga datang menjemput Rival yang diantar sepulang sekolah oleh orang yang telah mereka sepakati sebelumnya. Ia berdiri di depan meja, melihat delapan lembar ukuran dan contoh yang terpasang pada patung. Untuk pertama kalinya ia memperhatikan pekerjaan yang selama ini hanya disebutnya menjaga toko.
'Dimas sudah mengantar Ibu. Bapak membawa pakaian ke rumah sakit,' ujarnya.
'Bagus. Itu yang perlu kita cari dari tadi.'
'Aku takut kamu mengira aku tidak peduli pada Sinta kalau membiarkan Ibu pulang.'
'Lalu kamu meminta aku menunjukkan kepedulianmu dengan meninggalkan pekerjaanku.'
Rangga menunduk. Ia mengatakan kalimatnya di telepon tidak adil. Mita menerima pengakuan itu tanpa mengatakan semuanya selesai. Ia ingin mereka membicarakan kebutuhan keluarga sebelum menyebut salah satu pihak kurang menyayangi orang lain.
Rival keluar membawa tas dan bertanya apakah ayahnya akan mengantarnya membeli buku tulis seperti janji kemarin. Rangga mengangguk. Mereka berpamitan, sementara Mita kembali memeriksa jahitan terakhir. Butik tetap buka sampai waktu yang diumumkan. Malam itu ia pulang dengan pekerjaan yang benar-benar selesai, bukan dengan tumpukan kewajiban yang disuruhnya selesaikan diam-diam setelah semua orang merasa telah ditolong.