Pada hari Minggu, dua pekan setelah Dimas membawa ringkasan usaha kepada Sinta, Lina membuka lemari ruang tengah untuk mencari selimut tamu. Perawatan anaknya masih berlangsung. Ada pembicaraan tentang kemungkinan pulang jika perkembangannya memungkinkan, tetapi Lina belum berani menganggap hari itu sudah pasti dekat.
Di belakang tumpukan kain, ia menemukan sebuah amplop besar. Kertasnya mulai menguning, ujungnya terlipat karena lama tertekan. Ia mengenali tulisan Rangga di bagian depan: catatan rumah. Tangannya berhenti sebelum menggeser amplop itu. Untuk beberapa saat, ia hampir menutup lemari dan mengambil selimut lain.
Lina akhirnya duduk dengan amplop di pangkuan. Di dalamnya ada foto bangunan yang sudah menjadi puing dan catatan bantuan beberapa tetangga setelah kebakaran. Rangga menitipkannya bertahun-tahun lalu, ketika mereka masih berusaha memahami berapa banyak yang hilang. Ia mengira ibunya tempat yang aman untuk menyimpan sesuatu yang menyakitkan.
Dalam foto, seorang tetangga berdiri di dekat sisa dinding. Lina tidak tampak. Ia ingat malam itu jauh lebih jelas daripada yang pernah dikatakannya kepada siapa pun. Ia ingat Mita dan Rangga tidak ada di rumah. Ia ingat keinginannya membuat mereka pindah ke rumahnya, supaya ia dapat terus mengatur kehidupan anak sulungnya.
Ia juga ingat sesuatu yang lebih buruk: kebenciannya pada kehamilan Mita. Ia pernah berharap anak yang dikandung menantunya itu tidak lahir. Api yang memusnahkan rumah mereka bukan peristiwa yang ditemukannya begitu saja ketika keluar. Ada perbuatannya di balik kerusakan yang kemudian ditangisi orang lain.
Selama bertahun-tahun, ia dapat mengingat stroke, rasa sakit dan masa ketika Mita merawatnya dengan sabar. Ia lebih suka berhenti pada bagian ketika dirinya meminta maaf dan keluarga menangis bersama. Di dalam cerita yang diceritakannya kepada diri sendiri itu, ada kejadian yang selalu dipotong sebelum disebut dengan nama sebenarnya.
Ia pernah melemparkan pakaian bekas ke wajah Mita, sesudah pakaian menantunya habis terbakar. Ia menyebut mereka menumpang dan memakai keadaan itu untuk memerintah, padahal ia sendiri yang menciptakan alasan mereka tidak mempunyai rumah. Ketika Mita mengeluhkan kehamilan yang membuatnya mual, ia lebih sering memikirkan bagaimana mempertahankan kekuasaannya daripada melihat orang yang sedang kesulitan berdiri.
Lina kini mengetahui betapa tidak nyamannya meminta bantuan untuk mengenakan pakaian atau berjalan ke kamar mandi. Tetapi rasa tidak nyaman yang dialaminya sekarang tidak membayar apa pun kepada Mita. Ia telah menerima perawatan tanpa mengungkap kebenaran yang akan membuat orang-orang di sekitarnya memahami luka lain. Menyebut penyakitnya sebagai balasan justru menjadi cara mudah untuk menganggap urusannya telah selesai, sementara kerugian orang yang disakitinya belum pernah ditanyakan.
'Selimutnya ketemu?' tanya Rusman dari pintu.
Lina menutup amplop terlalu cepat. Gerakan itu membuat beberapa lembar bantuan jatuh ke lantai. Rusman mengambilnya dan mengenali foto rumah putranya. Ia duduk di kursi sebelah, mengira istrinya sedang mengenang musibah yang pernah menimpa keluarga.
'Rangga dulu menyimpan semuanya. Katanya kalau suatu hari bisa membangun lagi, dia ingin ingat siapa yang pernah membantu.'
Lina memandang angka-angka kecil di kertas. Ada uang yang diberikan orang yang tidak sekaya mereka, ada bahan makanan, pakaian bekas dan tenaga untuk membersihkan puing. Ia pernah menghina orang miskin sambil menerima bantuan mereka untuk menutupi akibat dari perbuatannya sendiri.
'Aku harus bicara kepada Mita,' katanya.
'Tentang rumah?'
Lina mengangguk. Lidahnya terasa berat. Ia hampir mengatakan bahwa semua itu sudah terlalu lama dan Sinta sedang membutuhkan ketenangan. Alasan tersebut datang dengan mudah, seperti dahulu ia dapat memakai keadaan keluarga untuk membuat Mita menerima sesuatu yang tidak diinginkannya.
Rusman menunggu, tetapi Lina belum mengucapkan pengakuan lengkap. Ia berkata ada kebenaran yang disembunyikannya dan Mita harus mendengarnya langsung. Rusman memandang istrinya lebih lama. 'Kalau menyangkut kerugian mereka, jangan minta Mita datang hanya untuk menghibur kamu.'
Kalimat itu membuat Lina menunduk. 'Aku tahu.'
'Dan jangan menunggu sampai kamu yakin dia akan memaafkan. Kalau itu syaratnya, kamu bisa menunda selamanya.'
Lina meletakkan foto di atas meja, menghadap dirinya. Rusman tidak menebak-nebak dengan menyusun cerita dari potongan ucapan. Ia meminta Lina menentukan kapan akan bicara dan memastikan orang yang terkena akibatnya diberi kesempatan mendengar, bukan hanya menerima ringkasan dari keluarga.
Sesudah suaminya pergi ke dapur, Lina mengambil kertas kosong. Ia menulis kejadian yang selama ini selalu dihindarinya. Tulisan tangannya tidak serapi dahulu; beberapa kata harus ditulis kembali karena jarinya mudah lelah. Namun, kesulitan itu tidak mengurangi perbuatan yang sedang diakuinya.
Ia mencoret kalimat pertama yang dimulai dengan keinginannya menjaga anak. Kalimat itu membuat tindakannya terdengar seperti kesalahan kecil seorang ibu yang terlalu sayang. Ia menulis ulang: ia membakar rumah Rangga dan Mita. Ia ingin mereka tinggal bersamanya. Ia membenci Mita dan kandungannya. Tidak ada kata tentang nasib yang dapat menggantikan keputusan-keputusan itu.
Malam harinya, Mita menelepon untuk mengabari waktu kunjungan Sinta yang telah diatur bersama petugas. Lina mendengarkan, kemudian meminta waktu berbicara pada Sabtu malam. Ia mengatakan ada hal mengenai rumah yang harus disampaikan. Mita terdiam sejenak sebelum menanyakan apakah Rangga juga perlu hadir.
'Iya. Dimas juga, kalau kamu tidak keberatan. Tapi ini terutama tentang kerugianmu dan Rangga.'
'Ibu bisa mengatakan pokoknya sekarang?'
Lina menggenggam kertas yang baru ditulis. Ia ingin mundur, tetapi pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa meminta seseorang menunggu ketakutan tanpa penjelasan juga tidak adil. 'Ada perbuatanku dalam kebakaran rumah kalian. Aku harus menjelaskan semuanya langsung. Aku tidak akan meminta kamu datang untuk memaafkan.'
Di seberang, Mita tidak segera menjawab. Ketika akhirnya berbicara, suaranya lebih kaku. Ia mengatakan perlu membicarakannya dengan Rangga dan akan memberi kabar mengenai tempat pertemuan. Lina menerima bahwa ia tidak lagi berhak mengatur bahkan ruangan tempat pengakuannya akan didengar.
Sesudah telepon ditutup, foto rumah tetap berada di meja. Lina tidak memasukkannya kembali ke dasar lemari. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan akibat perbuatannya terlihat ketika ia duduk sendirian. Ketakutannya tidak membuat pengakuan menjadi keberanian yang patut dipuji. Itu hanya kewajiban yang sudah terlalu lama ditinggalkannya kepada orang lain untuk menanggung akibatnya.