Senin pagi, Sinta berdiri di depan lemari kamar tamu rumah orang tuanya. Ia mengambil blus yang pernah dipakai ketika membuka restoran, kemudian mengembalikannya karena saku kecil di dada mengingatkannya pada nota yang sering dibawa Aldo. Setelah beberapa saat, ia memilih pakaian lain. Ia belum akan bekerja. Hari itu ia hanya ingin melihat tempat yang sudah lama ditinggalkannya.
Keinginan tersebut telah dibicarakannya pada pertemuan perawatan sebelumnya. Mereka meninjau kegiatan yang hendak dicoba dan bantuan yang diperlukan jika ia merasa kewalahan. Tidak ada tanggal yang dipasang sebagai batas kapan seorang pengelola restoran seharusnya kembali. Sinta sendiri memilih datang sebelum layanan siang, ketika ruangan belum dipenuhi pelanggan.
Mita bersedia mengantar selama waktu yang dapat diberikannya. Butik tetap dibuka Wanda, dan ia akan kembali sebelum janji pelanggan berikutnya. Sinta mengetahui pengaturan itu sejak awal. Ia tidak ingin kakak iparnya mengatakan punya waktu tanpa batas lalu membawa pulang pekerjaan yang sebenarnya tidak dapat ditinggalkan.
'Kalau aku mau pulang sebelum satu jam?' tanyanya ketika Mita tiba.
'Kita pulang. Aku datang untuk menemanimu melihat, bukan menunggu sampai kamu membuktikan sanggup bekerja.'
Rusman membantu membawa tas sampai mobil, lalu kembali menemani Lina. Yuni akan datang sesuai jadwal. Tidak ada rombongan keluarga yang ikut memantau kunjungan tersebut. Sinta membawa telepon dan keperluannya sendiri, kemudian meminta Mita melewati jalan yang tidak menuju rumah Ati. Ia belum ingin menambah tempat lain dalam satu perjalanan.
Restoran belum membuka pintu untuk pelanggan ketika mereka sampai. Beni menyambut dari depan, melepas celemeknya sebentar sebelum menyalami Sinta. Ia tidak bertepuk tangan atau memanggil semua pekerja untuk berbaris. Ia hanya mengatakan senang melihatnya dan menunjukkan kursi yang dapat digunakan.
Sinta memandang meja-meja yang baru dibersihkan. Di sudut dekat jendela ada kursi tempat Aldo beberapa kali menunggu sampai urusan pembelian selesai. Kursi itu sekarang didorong ke bawah meja seperti kursi lain. Tidak ada barang yang menandai bahwa pemilik kenangannya tidak akan datang kembali.
'Aku kira tempatnya akan terasa berbeda sekali,' katanya kepada Mita.
'Ada yang berubah?'
'Rak di dekat kasir pindah. Dulu orang sering tersangkut ketika membawa baki.'
Beni menjelaskan pemindahan tersebut dilakukan setelah satu pelayan hampir terjatuh. Ia meminta Sinta melihat bila ada bagian lain yang perlu diperhatikan nanti, tanpa menyerahkan daftar keputusan untuk diselesaikan pagi itu. Perubahan kecil dapat dibicarakan dengan orang yang pernah mengurus tempat tersebut, tetapi bukan alasan memaksanya kembali mengambil semua beban.
Seorang pelayan keluar dari dapur dan tersenyum lebar. 'Mbak sudah sembuh? Besok masuk lagi?'
Sinta memegang tali tas. Ia sempat ingin menjawab iya supaya tidak mengecewakan orang yang menyambutnya. Namun, ia datang dengan tujuan yang telah dipilih sendiri. 'Aku masih menjalani perawatan. Hari ini melihat dulu. Kalau nanti mulai kerja, jadwalnya akan dibicarakan.'
Pelayan itu tampak malu dan mengatakan ia tidak bermaksud mendesak. Sinta mengangguk, lalu bertanya mengenai seorang rekan yang biasanya bertugas pagi. Percakapan kembali menjadi kabar pekerjaan, bukan pemeriksaan terhadap seberapa banyak ia sudah tersenyum.
Ketika Beni kembali ke dapur, Sinta meminta melihat papan jadwal. Ia menemukan namanya tidak lagi memenuhi kotak-kotak yang harus diisi. Dimas menempatkan orang lain untuk pekerjaan sementara. Ada rasa lega sekaligus sedih karena tempat itu ternyata dapat tetap bergerak tanpa dirinya.
'Aku ingin mereka bisa melanjutkan. Tapi melihatnya tetap aneh,' ujarnya.
Mita tidak mengatakan Sinta seharusnya senang saja. Ia mengingat rasanya meninggalkan butik dan berharap semuanya berjalan baik, sambil takut dirinya tidak lagi dibutuhkan. Ia mengatakan dua pikiran tersebut dapat dibicarakan tanpa menjadikan pekerja yang menggantikan sebagai musuh.
Sinta kemudian berjalan sampai pintu dapur. Aroma bawang dan saus hangat datang bersamaan. Ia melihat panci yang dahulu dibeli bersama Aldo ketika restoran mulai ramai, lalu mendadak sulit menelan. Beni berhenti menjelaskan dan bertanya apakah ia ingin duduk kembali.
Sinta mengangguk. Ia tidak memaksa masuk untuk menunjukkan kepada para pekerja bahwa ia tetap orang yang sama. Mita menemaninya kembali ke meja, sementara Beni meneruskan persiapan. Ada pekerjaan yang harus berjalan dan ada orang yang perlu beristirahat; keduanya tidak harus menunggu salah satu merasa bersalah.
Setelah minum, Sinta mengatakan ia masih ingin mengelola restoran suatu hari nanti. Bukan hanya mengambil bagian hasil yang selama ini dicatat Dimas. Ia merindukan pekerjaan yang telah dikuasainya, termasuk memeriksa bahan dan menerima pelanggan yang sulit. Tetapi ia belum tahu berapa lama dapat berada di sana tanpa kelelahan yang terlalu berat.
'Kalau begitu bicara dengan Dimas mengenai percobaan yang sungguh-sungguh bisa dihentikan atau diubah,' jawab Mita. 'Jangan membuat janji kepadaku. Aku bukan orang yang mengatur pekerjaanmu.'
Sinta mencatat satu pertanyaan untuk kakaknya: apa yang masih diperlukan restoran dan bagian mana yang dapat ditanganinya dalam waktu terbatas. Ia tidak menyalin seluruh papan jadwal. Setelah hampir satu jam, ia meminta pulang. Beni mengantarnya ke pintu tanpa menitipkan nota untuk diperiksa di rumah.
Di mobil, Sinta menangis sebentar. Ia senang melihat para pekerja, tetapi masih merindukan Aldo sampai dadanya terasa penuh. Mita membiarkan perjalanan berlangsung tenang. Ia tidak menafsirkan tangis itu sebagai bukti kunjungan gagal atau meminta Sinta menyebut hal baik yang harus disyukuri.
Sesampainya di rumah orang tua, Sinta mengabari Dimas bahwa ia ingin membicarakan kemungkinan mulai kembali secara terbatas. Ia meminta waktu sepekan untuk melihat bagaimana keadaan dirinya setelah kunjungan pertama. Setelah pesan terkirim, ia meletakkan telepon dan makan sedikit. Restoran masih ada, pekerjaannya masih dapat dipelajari kembali, dan tidak satu pun mengharuskannya melupakan siapa yang dulu menunggu di kursi dekat jendela.
Mita kembali ke butik sebelum pelanggan berikutnya datang. Wanda sudah menyiapkan contoh pakaian, tetapi menunggu persetujuan untuk perubahan ukuran yang belum dibicarakan. Mita meletakkan tas dan melanjutkan pekerjaan. Ia dapat menemani Sinta karena waktu dan tugasnya diatur, bukan karena hidupnya sendiri dianggap tidak mempunyai akibat ketika ditinggalkan. Mengetahui hal itu membuatnya lebih sanggup memberi bantuan yang memang dipilihnya.