Sepekan setelah Anisa mulai menjalani persiapan, Mita mempunyai janji mengantar Rival memeriksakan giginya pada sore hari. Persediaan kain yang dibelinya sudah dapat diambil, tetapi waktunya bertabrakan dengan janji tersebut. Ia menanyakan kepada Rangga apakah bersedia mengambil karena rutenya searah perjalanan dari kantor. Rangga mengatakan dapat membantu setelah pekerjaan selesai.
Mita mengirim rincian barang, nama pemasok dan nota pembelian. Ia tidak meminta mengambil keputusan mengenai bahan lain. Rangga hanya perlu memeriksa jumlah yang telah disepakati dan mengantarkannya ke butik. Wanda sudah diberi tahu akan menerima karena Mita mungkin belum kembali ketika barang tiba.
Sore itu Rangga datang melalui gang samping, tempat kendaraan dapat berhenti tanpa menghalangi pintu pelanggan. Wanda keluar setelah menyimpan uang kas dalam laci. Mereka menurunkan kain bersama, kemudian memeriksa pembungkus sebelum dibawa ke ruang penyimpanan. Ada seorang pelanggan yang baru selesai mengambil pakaian dan berjalan melewati mereka menuju kendaraannya.
'Nota sudah di tas depan,' kata Rangga. 'Tadi diberi kuitansi tambahan. Ini sekalian untuk Mita.'
Wanda menerima amplop kertas dan menuliskan barang yang diterima di buku toko. Ia tidak membukanya sebagai urusan pribadi. Rangga menunggu sampai jumlah kain cocok dengan catatan yang dikirim, lalu menutup bagasi. Ia menanyakan apakah Mita sudah kembali, dan Wanda menjawab belum. Mereka tidak membicarakan keadaan perkawinan atau menyampaikan keluhan mengenai pemilik butik.
Di mulut gang, Nur Laila melihat mereka berdiri dekat mobil. Ia mengenali suami Mita dan mengingat cerita yang pernah diperingatkannya mengenai Wanda. Untuk beberapa saat ia tidak melihat kain yang sudah dibawa masuk. Yang tampak dari tempatnya berdiri adalah amplop berpindah tangan, dua orang berbicara dan pemilik butik yang tidak ada di sana.
Nur mengangkat telepon dan mengambil foto. Ia tidak bertanya apa yang sedang diantar atau menunggu Mita menerima barang. Dalam pikirannya, sebuah gambar akan membuat tetangganya tidak dapat lagi mengatakan ia hanya mendengar cerita orang lain. Ia memang melihat dua orang itu. Ia belum menyadari betapa banyak kesimpulan yang ditambahkan sebelum menekan kirim.
Foto sampai kepada Mita ketika Rival sedang menunggu giliran. Di bawahnya ada tulisan bahwa ia sebaiknya jangan terlambat menyadari sesuatu dan jangan mengatakan tidak pernah diperingatkan. Mita melihat Rangga dan Wanda di dekat kendaraan, lalu membaca pesan tersebut sekali lagi.
Ada rasa tidak nyaman yang muncul sebelum ia selesai mengingat urutan pekerjaan. Namun, ia mengetahui siapa yang memesan kain, siapa yang dimintanya mengambil dan siapa yang menunggu di butik. Satu foto tidak menghapus informasi itu atau membuktikan ada hubungan yang disembunyikan.
Mita membalas bahwa pengantaran tersebut dilakukan atas permintaannya. Ia meminta Nur tidak menyebarkan gambar pegawai dan tamu butik dengan kesimpulan yang belum diperiksa. Kalau ada hal yang ingin disampaikan, jelaskan yang benar-benar dilihat tanpa mengubahnya menjadi pengulangan tuduhan lama.
Nur menjawab bahwa ia hanya mengingatkan. Ia menambahkan bahwa orang yang ingin menyembunyikan sesuatu juga dapat memakai pekerjaan sebagai alasan. Mita berhenti mengetik, memandang Rival yang mulai gelisah, lalu menemaninya ketika dipanggil. Ia tidak akan meninggalkan kebutuhan anak untuk berdebat melalui telepon tentang dugaan yang terus dapat diperluas tanpa batas.
Sesudah urusan Rival selesai, Mita menyimpan pesan beserta keterangannya. Ia tidak hanya memotong gambar untuk dikirim kembali dengan tulisan marah. Ia ingin tetap mengetahui apa yang dikatakan Nur sebelum dan sesudah menerima penjelasan. Bila nanti perlu membicarakan gangguan terhadap pekerjaannya, urutan tersebut tidak boleh berubah menjadi ingatan yang hanya memilih bagian paling menyakitkan. Ia juga tidak meneruskan foto kepada kelompok keluarga, karena membela diri tidak memerlukan perluasan gambar pegawai tanpa kebutuhan. Orang yang terkena akibatnya tidak otomatis kehilangan hak atas bagaimana urusannya dibagikan.
Di toko sebelah, Nur telah mengirim foto kepada dua pemilik usaha yang pernah diajaknya membicarakan Wanda. Salah satunya bertanya apakah Mita tahu. Nur menyatakan sudah memberitahu, tetapi tidak menyertakan penjelasan bahwa pemilik butik memang meminta pengantaran tersebut. Bagian itu membuat gambar kurang sesuai dengan kesimpulan yang ingin dipertahankannya.
Wanda baru mengetahui foto beredar ketika seseorang menanyakan secara tidak langsung mengapa suami pemilik sering datang ke belakang toko. Ia menatap buku penerimaan, melihat nama barang dan jam yang baru ditulisnya. Tidak ada yang dirahasiakan, tetapi ia tetap merasakan ketakutan ketika satu urusan kerja kembali ditarik ke dalam cerita tentang masa lalunya.
Ia mengirim kabar kepada Mita, menanyakan apakah perlu melakukan sesuatu. Mita membalas bahwa mereka akan membicarakan setelah ia kembali dan tidak perlu memberi penjelasan panjang kepada semua orang. Catatan pengantaran tetap disimpan seperti biasa. Ia tidak menyuruh Wanda menghapus percakapan atau meminta Rangga membuat pembelaan yang tidak berkaitan dengan fakta.
Ketika Mita tiba, seorang calon pembeli keluar dari butik dengan wajah canggung. Mita tidak tahu apakah kepergian itu berhubungan dengan foto atau hanya karena tidak menemukan pakaian yang dicari. Ia tidak akan menambahkan kerugian yang belum diketahuinya sebagai bukti baru melawan Nur. Yang sudah nyata adalah gambar telah dikirim dengan maksud yang membuat orang menanyakan pekerjaan Wanda sebagai sesuatu yang mencurigakan.
Rival duduk di ruang belakang dengan buku yang dibawa. Mita memeriksa kain, amplop nota dan catatan yang diserahkan Wanda. Ia mengatakan tidak ada kesalahan karena menerima barang yang memang dipesan. Besok ia akan menangani penyebaran gambar sebagai pemilik tempat kerja. Malam itu mereka perlu menyelesaikan pelanggan yang masih menunggu dan pulang sesuai waktunya.
Sebelum menutup toko, Mita mengirim pesan kepada Rangga bahwa foto pengantarannya telah beredar dengan kesimpulan yang berbeda. Ia ingin berbicara agar mengetahui apa yang dapat dijelaskan bila orang yang terkait diminta menyampaikan fakta. Tidak ada tuduhan dalam pesan itu. Namun, jawaban yang datang menunjukkan persoalan lain yang juga belum selesai: Rangga bertanya mengapa istrinya masih menganggap ia perlu membuktikan sesuatu. Mita membaca kalimat tersebut, lalu meminta mereka berbicara setelah urusan Rival selesai, ketika keduanya dapat mendengar tanpa menjadikan kemarahan sebagai jawaban pertama.