Sinta memeriksa tasnya sebelum berangkat bersama Rangga. Barang yang boleh dibawa sudah ditanyakan lebih dahulu, dokumen kunjungan disiapkan dan waktu tempuh diperhitungkan. Ia mengganti giliran restoran melalui pembagian yang disetujui, bukan meminta Beni datang mendadak karena urusan keluarga pemilik selalu dianggap lebih penting daripada jadwal staf.
Rusman akan datang pada kesempatan berbeda. Hari itu ia menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan mengingatkan Sinta membawa air untuk perjalanan. Sejak Yuni menyelesaikan pekerjaan, ia telah mengatur kebiasaan rumah yang dapat ditangani. Ada hal yang masih perlu ditanyakan kepada orang lain, tetapi pertanyaan tidak selalu berakhir dengan putrinya harus pulang lebih awal.
Di kendaraan, Rangga menanyakan apakah Sinta ingin berbicara tentang sesuatu sebelum bertemu Lina. Sinta mengatakan ingin melihat keadaan Ibu, dan belum tahu apakah dapat mendengar banyak nasihat. Ia takut pertemuan berubah menjadi permintaan mencari cara agar hukuman segera hilang. Rangga mengatakan mereka dapat menyampaikan batas serta mengakhiri sesuai waktu yang tersedia.
Mita mengetahui jadwal kunjungan karena berkaitan dengan pembagian urusan Rival. Ia tidak menitipkan pesan dan tidak diminta datang. Pagi itu ia mempunyai pelanggan yang mencoba pakaian, lalu mengantar anak ke kegiatan yang sudah direncanakan. Hubungan dengan Lina tidak diukur dari apakah ia bersedia meninggalkan pekerjaan untuk terlihat sebagai menantu yang masih peduli.
Proses masuk memerlukan pemeriksaan dan waktu menunggu. Sinta menyerahkan barang sesuai petunjuk serta menerima ketika satu benda harus tetap ditinggalkan. Rangga tidak meminta akses khusus. Mereka duduk di tempat yang ditunjukkan, mendengar nama dipanggil dan mengikuti arahan untuk memasuki ruang kunjungan.
Lina tampak lebih kurus daripada ketika masih duduk dekat jendela rumah. Ia bergerak dengan tongkat dan menerima bantuan yang diperlukan sebelum duduk. Tangan kirinya tetap lebih lemah. Perasaan Sinta langsung naik ke tenggorokan ketika melihatnya, dan ia perlu beberapa saat sebelum dapat bertanya bagaimana keadaan Ibu.
'Ada pemeriksaan untuk keluhan yang kusampaikan,' jawab Lina. 'Yang perlu dari rumah sudah diberitahukan kepada Bapak.'
Rangga menanyakan hal yang memang perlu dipastikan, lalu mencatat kebutuhan lanjutan untuk disampaikan melalui jalur yang diberikan. Ia tidak menjanjikan semuanya dapat dibawa pada kunjungan berikutnya sebelum mengetahui ketentuannya. Lina mendengarkan, mengangguk dan meminta ia menanyakan hal yang belum jelas kepada pihak yang berwenang di tempat tersebut.
Setelah urusan awal selesai, Sinta menceritakan restoran. Ia kini memegang tiga hari dengan jam lebih panjang, dan menu ayam baru masih ditawarkan sesuai persediaan. Lina bertanya apakah ia terlalu lelah. Sinta mengatakan kadang lelah, tetapi dapat menyesuaikan bersama orang yang bekerja di sana. Ia tidak ingin keputusan mengenai pekerjaannya kembali diambil Ibu dari jauh.
'Aku juga sedang mencari kemungkinan tempat tinggal sendiri nanti,' katanya. 'Masih menghitung dan melihat keadaan. Bukan pindah minggu ini.'
Lina menatapnya lama. Kalimat pertama yang hampir keluar ialah bagaimana dengan Bapak jika Sinta pergi. Ia mengingat rumah yang dahulu dibakar karena tidak mau kehilangan kendali atas tempat tinggal anak. Ia menelan pertanyaan itu dan meminta Sinta memastikan rumah yang dipilih dapat ditanggung serta terasa aman baginya.
'Bapak sudah mulai mengatur banyak hal,' kata Rangga. 'Kalau butuh bantuan lain, kita bicarakan sebagai kebutuhan Bapak. Sinta tidak harus tinggal selamanya agar semua terasa sama.'
Lina mengangguk, meskipun wajahnya menunjukkan sedih. Ia menanyakan kabar cucu-cucu secukupnya, tanpa meminta foto Rival dikirim lewat Mita. Rangga menyampaikan hal yang boleh diceritakan dari kegiatan sekolah anak. Aqila semakin lancar membaca dan Daniel sudah jauh lebih aktif bergerak daripada ketika pertama kali Sinta kembali dari rumah sakit.
Pada jeda yang panjang, Lina menyebut Mita. Sinta bersiap mendengar permintaan yang ditakutinya. Namun, ibunya mengatakan ia menerima bahwa Mita belum ingin menemui atau menerima kabar darinya. Hukuman serta jarak itu tidak disebabkan kutukan menantu. Ia sendiri yang memilih membakar rumah dan bertahun-tahun menyembunyikan perbuatan.
'Jangan kalian pulang lalu menyuruh dia merasa kasihan karena melihat aku begini,' katanya.
Sinta menangis, lalu mengusap wajah dengan tisu. Ia masih mencintai ibunya. Melihat Lina di tempat itu tetap berat, bahkan setelah mengetahui kebenaran yang tidak dapat dibela. Ia mengatakan perasaan tersebut tanpa menambahkan bahwa berarti Mita seharusnya mengalah. Lina mendengarkan dan tidak memakai tangis anak sebagai pesan yang perlu diperbesar kepada orang lain.
Waktu kunjungan mendekati akhir. Rangga mengulang hal yang perlu ditindaklanjuti dan memastikan tidak ada benda yang ditinggalkan di luar aturan. Sinta memberi tahu kapan mungkin dapat datang lagi setelah memeriksa jadwal kerja. Ia tidak menjanjikan setiap kesempatan akan diambil atau meminta maaf karena mempunyai kegiatan lain di luar kunjungan.
Saat meninggalkan ruangan, Sinta berjalan lebih lambat. Rangga menunggu sampai mereka berada di tempat yang diperbolehkan untuk berhenti. Ia tidak menghibur dengan ramalan bahwa Ibu pasti segera pulang. Mereka membeli makan pada perjalanan kembali dan duduk cukup lama agar keduanya dapat beristirahat sebelum melanjutkan.
Rangga mengatakan kunjungan membuatnya ingin menelepon ibunya seperti dahulu, padahal ia sudah mengetahui kabar harus diterima pada waktu serta cara yang tersedia. Sinta mengaku merasa bersalah karena telah membicarakan rencana pindah ketika Ibu sedang berada dalam keadaan itu. Mereka menyebut perasaan tersebut tanpa membuat keputusan baru di atas meja warung. Rencana tempat tinggal tetap akan diperiksa, dan kebutuhan Lina tetap ditindaklanjuti sebagaimana catatan. Sebelum berangkat lagi, Rangga memastikan sudah cukup tenang untuk mengemudi. Mereka menunggu beberapa menit tambahan, minum dan memeriksa waktu pulang. Tidak ada alasan mempercepat perjalanan demi membuat hari sulit segera terasa selesai. Sinta mengatakan nanti di rumah ia ingin beristirahat, bukan kembali menceritakan semuanya kepada setiap orang yang bertanya.
Sinta memandang pengunjung lain di warung yang membicarakan belanja serta perjalanan. Dunia di luar tetap ramai oleh hal biasa. Ia mengirim kabar kepada Rusman bahwa kunjungan selesai dan kebutuhan sudah dicatat. Sesudah itu ia menaruh telepon, mengambil sendok serta makan. Ia akan membawa kasih sayang kepada ibunya pulang, bersama pengetahuan bahwa kasih sayang itu kini harus hidup berdampingan dengan pertanggungjawaban yang benar-benar dijalani.