Atap dekat ruang belakang rumah Rusman bocor setelah hujan malam. Pagi harinya ia meletakkan ember dan menggeser barang yang basah, kemudian mengambil telepon untuk menghubungi Mita. Ia sudah menulis pertanyaan apakah menantunya dapat datang menyiapkan makan ketika pekerja memperbaiki. Sebelum dikirim, ia membaca kembali pesan itu dan terdiam.
Mita tidak tinggal di rumah tersebut. Ia mempunyai butik, anak serta jadwal yang tidak lebih longgar hanya karena dapat memasak. Rusman menghapus draf, lalu menghubungi orang yang biasa menangani perbaikan serta menanyakan waktu pemeriksaan. Untuk kebutuhan bantuan mengatur barang berat, ia menelepon Rangga dengan penjelasan yang nyata.
Rangga datang sore setelah pekerja memeriksa. Ada bagian yang perlu diganti dan beberapa barang harus dipindahkan dahulu. Mereka membicarakan biaya, waktu serta barang yang akan dikerjakan sebelum menyetujui. Rusman memakai dana rumah yang memang tersedia, sementara Rangga menawarkan mengurus pengadaan serta waktu mendampingi pada hari yang dapat dipenuhinya.
'Mita sibuk hari itu?' tanya Rusman ketika melihat tanggal.
'Dia ada pekerjaan. Tapi urusan ini bisa kita atur tanpa meminta jadwalnya dikosongkan,' jawab Rangga.
Rusman mengangguk dan mengaku tadi hampir mengirim permintaan makan kepadanya. Rangga tidak menjadikan pengakuan itu kesempatan menyebut ayahnya belum berubah sama sekali. Ia menanyakan jumlah orang serta waktu kerja. Mereka memesan makanan pada usaha yang memang bersedia menerima, dengan harga yang diketahui dan pembayaran dari kebutuhan perbaikan.
Sinta datang setelah giliran restoran selesai. Ia sudah menempati rumah sendiri dan tidak membawa pakaian untuk bermalam sebagai jawaban otomatis atas kebocoran. Ia membantu memindahkan satu rak ringan yang dapat ditangani bersama, lalu menyebut waktu ketika dapat kembali melihat keadaan Bapak. Bagian mengurus tukang pada hari kerja tetap dipegang orang yang sudah menyanggupi.
Di meja, mereka mencocokkan rencana agar tidak ada dua orang memesan barang yang sama. Dimas menelepon dan menanyakan apakah ada bagian yang belum tertangani. Rangga mengatakan kebutuhan utama sudah ada, sehingga kakaknya tidak perlu meninggalkan persiapan jadwal usaha. Jika kelak ada perubahan, mereka akan menanyakan bantuan tertentu dan kesediaannya lebih dahulu.
Pada hari perbaikan, Rangga datang sesuai jam. Ia mempunyai waktu yang telah diatur dari pekerjaannya sendiri, tidak menyuruh Mita menggantikannya karena merasa hadir di rumah orang tua semestinya tugas istri. Pekerja memeriksa bahan, mulai mengerjakan dan menanyakan satu perubahan yang memang diperlukan. Rusman menyetujui setelah biaya serta alasannya dijelaskan.
Makanan tiba menjelang siang. Rangga memeriksa jumlah, membayar dan memberi tempat pekerja beristirahat. Tidak ada keluhan bahwa akan lebih murah jika menantu memasak sendiri. Penghematan semacam itu dahulu selalu dibayar dengan waktu seseorang yang tidak ditanya apakah sanggup memberikannya.
Mita baru mengetahui rinciannya ketika Rangga pulang dan menyampaikan mengapa pakaiannya berdebu. Ia menanyakan keadaan rumah, mendengar bagian yang sudah selesai serta pemeriksaan berikutnya yang disepakati. Tidak ada daftar pekerjaan lanjutan yang diam-diam diberikan kepadanya di akhir cerita. Ia dapat merasa peduli kepada Rusman tanpa harus mengambil alih seluruh kebutuhan rumahnya.
Hujan berikutnya datang dua hari kemudian. Rusman memeriksa tempat yang sebelumnya basah dan tidak menemukan tetesan. Ia menghubungi pekerja untuk memberi kabar hasil, menyelesaikan sisa pembayaran sesuai kesepakatan dan menyimpan catatan perbaikan. Ember dicuci lalu dikembalikan ke tempatnya. Urusan itu benar-benar ditutup sebagai pekerjaan rumah yang selesai, bukan alasan berkepanjangan untuk memanggil anak-anak.
Pada pekan yang sama, restoran menerima permintaan tambahan rombongan ketika jadwal dapur hampir penuh. Sinta memeriksa bersama Beni, lalu menawarkan jumlah serta waktu yang dapat dipenuhi. Ia tidak mengatakan Mita dapat membantu menyiapkan karena dahulu pernah memasak banyak untuk keluarga. Pelanggan menerima pilihan yang ada, dan pekerjaan dibagi kepada staf dengan tambahan waktu yang dicatat.
Sinta menelepon Mita setelah urusan selesai. Ia ingin mengajak minum di rumahnya pada sore ketika keduanya mempunyai waktu. Mita menanyakan apakah ada pekerjaan yang perlu dibantu. Sinta berhenti sejenak, menyadari pertanyaan itu lahir dari pengalaman yang panjang, lalu mengatakan tidak ada. Ia hanya ingin bertemu kalau kakak iparnya juga ingin datang.
'Aku dulu terlalu sering datang dengan sesuatu yang harus kamu lakukan,' katanya. 'Kalau sekarang aku perlu bantuan, aku akan bilang keperluannya dan menerima kalau kamu tidak bisa.'
Mita mengatakan ada satu sore yang mungkin, tetapi perlu memeriksa janji pelanggan. Sinta menerima tanpa menanyakan apakah pekerjaannya lebih penting daripada keluarga. Mereka mengakhiri percakapan dengan rencana mengabari setelah tanggal pasti, sementara masing-masing tetap melanjutkan tugas hari itu.
Ketika waktu bertemu tiba, Sinta menyiapkan minum serta makanan yang dibeli secukupnya. Mita datang setelah butik tutup, duduk di teras dan menanyakan keadaan rumah. Mereka berbicara tentang jalan yang kadang tergenang, pelanggan yang salah membawa ukuran dan resep sederhana yang sempat dicoba. Tidak ada tumpukan cucian menunggu seseorang yang lebih terampil.
Sinta hampir lupa menaruh gula, kemudian tertawa saat melihat tamunya sudah meminum teh tanpa menanyakan. Ia mengambil wadah kecil, menaruh di meja dan duduk kembali. Mita memilih tidak menambah. Di dalam rumah, tirai yang dipesan pada waktu pindah bergeser tertiup angin. Sinta menyebut panjangnya pas setelah beberapa pekan dipakai, dan Mita menanyakan apakah jahitannya perlu diperiksa. Tidak ada masalah yang ditemukan. Mereka melanjutkan minum sambil mendengarkan suara anak tetangga pulang bermain. Percakapan tidak harus mempunyai alasan penting untuk tetap menyenangkan. Mita dapat menikmati waktu tersebut tanpa menunggu kapan sebuah permintaan akan dimasukkan di antara pujian, dan Sinta belajar tidak mengisi setiap kedekatan dengan sesuatu yang harus dikerjakan orang lain.
Saat Mita berpamitan, Sinta membawa gelas kotor ke dapur sendiri. Kakak iparnya berdiri di pintu, melihat sebentar lalu mengucapkan sampai bertemu lagi. Kunjungan itu selesai tanpa orang yang datang membawa pekerjaan pulang. Hubungan mereka tidak berubah karena satu pidato di meja keluarga, melainkan karena kebutuhan yang kini ditangani oleh pemiliknya dan undangan yang akhirnya dapat diterima sebagai keinginan bertemu.