Rasanya malu. Apalagi saat Tantri terus mengatainya ayam pedaging dan tak berguna. Di kursi lain Wira juga memperhatikannya. Wajah pria itu tak terbaca, namun tetap menarik sudut bibirnya. Matanya nampak tenang seperti tak terganggu dengan ocehan Tantri.
Aby turun, dan makanan di siapkan Tantri.
Sarapan di isi keheningan hingga Aby meletakkan sendoknya.
“Kamu jadi ikut kelas fitnes, Aira?” tanyanya.
“Jadi, Yah. Aku mau beli keperluanku dulu hari ini.”
“Kamu bisa langsung beli di tempat Wira. Di lantai bawah tempat fitnesnya ada toko peralatan olah raga yang bisa kamu beli.”
“Oh, baik kalau gitu, Yah.” Aira berkata pelan dan sopan.
“Kamu bisa minta pendapat Wira juga apa saja yang kamu butuhkan, sekalian beli untuk olah raga di rumah juga.”
“Ayah tenang aja, aku bantu Aira nanti.” kata Wira menambahkan.
“Kalau gitu Ayah jadi tenang. Kamu juga gak akan bosa selama tinggal disini. Sebenernya Ayah sama Ibu maunya kamu tinggal disini saja. Jadi kamu buat betah saja, ya!”
Aira menipiskan bibirnya. Kalau dia terus disana kapan bisa melakukannya dengan Heru. Semalam saja pria itu menghentikannya hanya karena malu terdengar oleh Wira.
“Asal jangan lupa aja sama kerjaan di rumah.” sindir Tantri.
“Olah raga gak akan seharian, Bu. Kalau Aira di rumah terus dia nanti bosan. Ibu mau rumah kita sepi lagi? Kemarin waktu Heru di rumahnya ibu ngomel sepi di rumah besar begini.”
Tantri diam.
“Sebenarnya ibu kalian ini mau rumah ramai, makanya minta kalian menginap, bukan cuma karena dirumah mau ada acara saja.”
“Ibu cuma gengsi mengakui, kan, Bu?” Wira menimpali.
Hati Aira sedikit menghangat mengira ada sedikit kepedulian dari Tantri untuknya, hingga suara dingin Tantri kembali terdengar meruntuhkan kehangatan itu.
“Ya, lebih bagus kalau yang meramaikan itu anak- anak.”
“Lagian, kamu nih Aira, bangun pagi males, ibu kira kamu juga males kerja rumah.”
…
“Jangan terlalu dipikirkan ucapan ibu.” Wira berucap saat mereka akan memasuki mobil pria itu dan hendak pergi ke tempat fitnes.
“Gak kok.” Mana mungkin tidak dipikirkan, ucapan pedas mertuanya memang menyakitinya. Namun yang lebih menyakitinya lagi adalah dia harus selalu diam meski di omeli seperti apapun.
Wira membuka pintu agar Aira masuk, namun bukannya masuk Aira justru terdiam.
“Mas aku naik taksi saja.” Bukan apa- apa aroma yang menguar dari mobil Wira mengganggunya. Belum lagi dia harus berdekatan dengan Wira dimana semalam pria itu baru saja menjadi fantasinya.
Aira mengerjapkan matanya lalu menelan ludahnya kasar. Dia baru saja melakukan dosa dengan membayangkan pria yang bukan suaminya.
“Lah, tujuan kita kan sama. Ngapain buang- buang uang buat bayar taksi?”
“Tapi—” Tapi punggung Aira di dorong masuk, hingga terpaksa Aira menurut lalu duduk.
Sialannya saat tangan besar Wira menyentuh punggungnya pelan Aira seolah bisa merasakan telapak tangan Wira yang kasar padahal jelas sekali sentuhan itu terhalang kaos yang dia kenakan, namun tetap saja punggungnya terasa panas.
Kenapa setiap bersentuhan dengan Wira Aira selalu merasa ada aliran listrik yang menyengat.
Aira masih diam dengan melamun memikirkan yang tak seharusnya, hingga dia merasakan tubuhnya kembali terasa panas saat Wira mendekat. Sangat dekat sampai Aira bisa mencium aroma maskulin pria itu.
Aira menelan ludahnya kasar saat tatapan matanya dan Wira bertemu. Jarak yang terlalu dekat membuat Aira merasa jantungnya terasa akan berhenti berdetak. Hingga bunyi klik terdengar dan Wira kembali menjauh.
“Melamun terus, kamu lupa harus pake sabuk pengaman?”
Wajah Aira memerah matanya berkedip pelan lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela. “Ma—af, Mas.”
…
Benar saja tempat fitnes itu memiliki dua lantai, dan di lantai satu dijadikan toko alat-alat olah raga yang sangat lengkap.
“Toko ini juga punya kamu, Mas?”
Wira mengangguk. “Kamu bisa pilih yang kamu mau. Biar aku kasih diskon.”
“Wah, beneran, Mas?”
“Ya, ambil saja. Aku gak bisa kasih gratis soalnya ini harus balik modal buat gaji karyawanku. Kecuali bimbingannya nanti aku kasih gratis.” Wajah Wira menyeringai tipis menatapnya dengan tatapan yang lagi- lagi tak terbaca.
Aira tersenyum canggung, “Gakpapa loh, Mas. Mas Heru juga udah kasih aku uang.”
Senyum Wira menyurut, entah kenapa Aira merasa suasana hati Wira sedikit berubah.
“Bagus kalau gitu. Aku ke atas dulu. Kamu bisa hubungi aku kalau sudah selesai.”
Aira mengangguk dan membiarkan Wira pergi. Sebenarnya itu lebih baik, karena jujur saja jika dia terus bersama Wira dia justru selalu merasa ada yang salah dengan hatinya.
Aira mengambil sepasang Sports Bra & High-Waist Leggings berwarna hitam lalu menyerahkannya pada kasir. “Apa boleh menggantinya disini?” tanyanya setelah pembayaran di lunasi. Dan seperti kata Wira pria itu memberi potongan harga. Meski tidak banyak tapi lumayan untuk beberapa barang yang dia beli. Selain sport bra Aira juga membeli beberapa pakaian lainnya untuk melakukan fitnes beberapa waktu kedepan, juga matras yoga, termasuk sepatu olahraga yang akan membuatnya nyaman. Jujur ini adalah pengalaman pertamanya memasuki tempat seperti ini. Dia tak pernah membayangkan akan masuk ke tempat fitnes lalu membayar lumayan besar untuk kartu keanggotaan. Dan Aira hanya membeli yang menurutnya bagus. Apalagi sebelumnya dia mencari beberapa rekomendasi baju olahraga yang nyaman untuk digunakan.
“Tentu, silakan. Sebenarnya di atas juga ada ruangan ganti khusus untuk perempuan.”
“Oh, ya?” Apa dia terlalu kampungan?
“Kalau begitu aku ganti di atas saja.” Aira mengambil pakaiannya lalu membawanya ke lantai dua.
Tiba di lantai dua Aira disuguhi pemandangan banyaknya alat- alat olahraga, dan yang menyita pemandangannya adalah banyak pria- pria yang berbadan atletis sama seperti Wira.
Aira menelan ludahnya kasar. “Wah Cici kalau kesini pasti bakalan gila.” Aira cekikikan, matanya terus memindai pria- pria bertubuh besar dan penuh keringat hingga tak menyadari Wira sudah berdiri di belakangnya.
“Hati- hati liurmu menetes, adik ipar,” bisiknya di telinga Aira.
Aira yang terkejut pun berjengit menoleh dan mundur menjauh, namun saat ini kakinya justru tersandung kaki yang lain hingga tubuhnya terjengkang ke belakang. Beruntung Wira dengan cepat meraih pinggangnya dan menahan tubuhnya agar tak terjengkang ke lantai.
Namun akibatnya Aira justru dibuat ketar- ketir saat tangan besar Wira melingkar di pinggangnya, juga tubuh mereka yang nyaris merapat membuat Aira merasakan sengatan itu lagi. Tubuhnya mendadak panas saat nafas Wira menerpa wajahnya, juga matanya yang seolah menyembunyikan sesuatu untuknya.
“Hati- hati!”
Aira mengerjapkan matanya lalu menegakkan tubuhnya.
“A—ku ganti baju dulu, Mas.” Aira pergi untuk mengganti pakaiannya, namun saat ini suara Wira kembali menghentikannya.
“Ruang ganti perempuan di sebelah sini, adik ipar,” tunjuknya pada arah berlawanan.
Aira tersenyum canggung lalu mengangguk. Berjalan cepat melewati Wira yang menyeringai kecil.