“Kenapa Ibu tidak bilang sebelumnya?” Dokter masih nampak terkejut, begitupun Wira.
“Sa— ya gak tahu begitu prosesnya.” Aira menunduk. Wajahnya merah bukan hanya karena menangis juga karena benar-benar malu. Belum lagi ada Wira yang kini mengetahui kenyataannya. Kenyataan jika dia tak pernah disentuh suaminya.
“Tapi kalau begini bagaimana saya nanti?” Dokter pun tak ingin disalahkan karena sudah merenggut kepera wanan Aira, lebih tepatnya dengan alat usg transva g i n al yang dia gunakan.
Dokter tersebut bahkan masih nampak pucat, sebab perasaan takutnya.
“Saya gak akan menuntut dokter.” Aira menelan ludahnya kasar. Tatapan bingung tak bisa dia hindari. Sekarang bagaimana dia menjelaskan pada Heru saat nanti mereka melakukannya dan tahu kalau dia sudah tak pera wan.
“Maaf, Bu Aira. Tapi saya ingin ini dilakukan tertulis. Saya gak mau kalau suatu saat Ibu salahin saya.”
“Baik.” Begitu juga bagus, setidaknya dia memiliki bukti jika ini terjadi karena kecelakaan. Kesalahannya karena tak tahu proses pemeriksaan kesuburan itu harus menggunakan jalan tersebut.
“Kalau saja Ibu menjelaskan sebelumnya kita bisa memeriksanya dengan cara lain, tapi saya pikir kalian sudah menikah—” Dokter kehilangan kata- kata, dan menatap Wira dengan tak percaya. “Bukankah anda suaminya?”
Wira yang sejak tadi hanya menatap Aira yang menunduk kini menatap dokter.
“Saya tidak tahu…”
“Apa?” Dokter semakin bingung.
“Dia bukan suami saya, Dokter. Dia kakak ipar saya.” jelas Aira.
Barulah Dokter mengerti dengan keadaan ini.
“Astaga!” Dokter menghela nafasnya. “Maaf, Bu Aira. Saya benar-benar harus melakukan perjanjian tertulis.”
Aira mengangguk mengerti.
….
Wira menyerahkan botol air mineral yang langsung diterima oleh Aira, mereka duduk di kursi taman rumah sakit setelah menyetujui perjanjian tertulis dengan dokter tentang kesepakatan jika Aira tidak akan menyalahkan dokter karena masalah ini.
“Jangan tatap aku seperti itu, Mas.” Aira tak menatap Wira, tapi dia tahu kakak iparnya itu tengah menatapnya dengan pandangan menelisik.
“Kenapa kamu gak bilang sama Ibu tentang ini, adik ipar? Kenapa harus melakukan pemeriksaan ini dan kamu justru—” Wira menghentikan ucapannya.
“Lalu kalian tahu kalau selama ini Mas Heru gak pernah menyentuhku?”
“Setidaknya kamu tidak akan kehilangan kepera wanan kamu hanya karena alat itu.”
Aira terkekeh, mengenal Wira beberapa hari dia tahu kalau mulut Wira sangat tak bisa di saring.
“Salahku karena gak cari tahu kalau prosesnya seperti ini.” Terlalu sibuk memikirkan kenapa Heru tak pernah membalas pesannya Aira lupa mencari tahu, padahal jika dia mencari tahu sebelumnya dia tidak akan seperti sekarang.
“Apa masih sakit?”
Aira menggeleng, lalu mengangguk. “Sedikit, mungkin karena ukurannya gak terlalu besar.”
Wira menyeringai, “Kenapa? Kecewa?”
Aira kembali terkekeh. “Mungkin karena aku juga belum pernah merasakannya jadi gak bisa bedakan yang besar dan yang kecil.” Dia hanya mencoba meringankan hatinya, sebab tak ingin terus terlarut dengan sakit hatinya.
Dia ingin sendiri memikirkan nasibnya, tapi dia juga tak tahu apakah dia akan sanggup atau tidak jika tak ada Wira yang bicara secara blak-blakan di dekatnya.
“Bisa- bisanya Heru melakukan itu.” Wira menghela nafasnya.
“Jangan salahkan Mas Heru. Dia sudah berusaha, tapi sepertinya dia memang gak bisa.”
Wira mengerutkan keningnya. “Maksud kamu adikku itu impoten?”
“Mas tahu. Mas juga bilang gak mencium aroma percintaan di tubuhku.”
“Lalu kenapa kamu cuma diam?”
Aira diam.
“Ayo, aku akan jelaskan sama Ibu.” Wira berdiri. Namun saat ini Aira memegang tangannya dan menghentikan Wira.
“Tolong jangan!”
Wira mengerutkan keningnya.
“Ini masalah aku sama Mas Heru, dan biar kami yang selesaikan.”
Tatapan Wira berubah dingin, pria itu memalingkan wajahnya. “Kamu yakin?”
Aira mengangguk.
“Terserah!”
Wira kembali duduk, dan tak lagi bicara. Membiarkan suasana hening di sekitar mereka. Meski nyatanya ramai orang disana, tapi karena terlarut dengan lamunan masing-masing dunia di sekitar mereka terasa sepi.
…
Roda mobil bergulir cepat mengikuti kecepatan mesin yang Wira kendalikan. Di dalam mobil masih dikuasai keheningan seperti sebelumnya hingga suara Wira terdengar. “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”
“Apalagi, bilang sama Ibu kalau aku baik- baik saja.”
“Selanjutnya?”
“Bisa Mas jangan tanya lagi?”
Wira meremas bundaran setir. “Ya, itu bukan urusanku.”
“Terimakasih karena Mas mau mengerti.”
Wira memalingkan wajahnya, berusaha acuh padahal dia merasa hatinya terganggu saat melihat bagaimana wajah Aira yang seperti terlihat baik- baik saja seolah tak terjadi apapun, padahal dia baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.
Tiba di rumah Tantri menunggu dengan tak sabar bahkan langsung bertanya. “Gimana hasilnya?”
Aira memberikan laporan pemeriksaannya. “Aku baik- baik saja, Bu.”
Tantri mengerutkan keningnya. “Baik- baik saja, tapi kenapa kamu gak hamil juga?” tanyanya dengan tak percaya.
“Kenapa Ibu gak tanya Heru?” Wira muncul dari luar setelah sebelumnya Aira yang memasuki rumah lebih dulu.
Tantri mengerutkan keningnya. “Apa maksud kamu?”
Tak ingin Wira kembali bicara Aira segera menyela. “Gak ada kok, Bu. Kalau gitu aku ke atas dulu.”
Wira menatap punggung Aira yang berjalan menjauh. Berusaha berjalan cepat padahal Wira tahu area intinya pasti terasa tak nyaman saat ini.
“Kamu ngomong apa sih tadi?” tanya Tantri menuntut Wira.
Wira menggeleng. “Gak.” katanya, lalu mengikuti langkah Aira menuju lantai dua.
Tantri menatap dengan ekspresi bingung lalu menatap kertas laporan pemeriksaan Aira.
“Gak kenapa- napa tapi kenapa gak hamil juga, ck!” Tantri berdecak, lalu pergi.
Di lantai dua, Wira yang hendak mengetuk pintu kamar Aira justru mematung di tempatnya saat mendengar suara isak tangis dari dalam.
Tangannya menggantung di udara memilih tak mengganggu dan membiarkan Aira menangis. Dan kini Wira tahu Aira hanya menutupi kesedihannya sejak tadi dan berusaha tegar di depannya. Padahal diam- diam dia ingin segera menangis.
Tangan Wira mengepal erat lalu mendengus pelan. “Bodoh kamu Heru,” katanya dengan memasuki kamarnya, mengurungkan niatnya untuk mengetuk kamar Aira. Membiarkan gadis itu mengeluarkan air matanya dengan puas.
….