Seo Jin meletakkan gelas air minumnya ke atas meja dengan sebuah pertanyaan terlintas di benaknya melihat Young Eun yang terburu-buru pergi tanpa menjelaskan apa pun padanya. Menatap raut wajah pucat dan cemas perempuan itu, Seo Jin yakin jika ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Seo Jin menggelengkan kepalanya pelan, menampik kekhawatiran yang sempat menghinggapi benaknya. Dia kembali berjalan menuju ruang tamu dan mendudukkan dirinya di sofa.
Seo Jin mencoba untuk tidak peduli dengan apa yang mungkin saja terjadi pada Young Eun kali ini, namun semakin dia berusaha untuk bersikap tak peduli, semakin dia merasakan suatu desakan aneh yang memenuhi . Terakhir kali saat mereka bertemu di depan rumah Young Eun, perempuan itu benar-benar terlihat sangat kacau.
“Aish! s**l! Kenapa aku jadi mengkhawatirkan dia?” Seo Jin mengacak rambutnya dengan kesal. Dia berjalan menuju kamarnya di lantai dua, tiga menit kemudian Seo Jin sedikit tergesa menuruni anak tangga.
Sepanjang jalan mengemudi menuju rumah Young Eun, Seo Jin tak hentinya merutuki dirinya sendiri karena tak bisa menahan diri dan tetap bersikap tak peduli, kenyataannya Seo Jin begitu peduli pada Young Eun meski lebih banyak dia menyembunyikannya. Ketika di lain sisi dia mencemaskan Young Eun, sisi lain dalam dirinya memaksanya untuk tidak peduli.
Seo Jin menghentikan mobilnya saat dia sampai di depan rumah Young Eun dan memarkirkan mobilnya di tepi jalan sedikit jauh dari rumah Young Eun. Pria itu menyipitkan kedua matanya saat melihat sebuah mobil Van hitam terparkir tepat di depan pagar rumah Young Eun.
Seo Jin menimbang sejenak untuk memutuskan turun dari mobilnya atau hanya mengamati apa yang terjadi di sana dari kejauhan. Ketika dia memutuskan untuk tetap berada di dalam mobilnya, dia melihat Young Eun di seret oleh dua pria dengan jas hitam menuju mobil Van tersebut. Kali ini, Seo Jin benar-benar tidak bisa tinggal diam, apalagi saat melihat salah satu pria itu menampar Young Eun hingga membuat perempuan itu jatuh tersungkur. Seo Jin mengepalkan kedua tangannya dengan gigi gemertak marah.
“Lepaskan dia!” desis Seo Jin dengan suaranya yang dingin dan membekukan. Tiga pria dengan jas hitam tersebut berpaling ke arahnya dengan tatapan bertanya. Sedangkan Young Eun terlihat terkejut dengan kedatangan Seo Jin yang tak pernah diduganya. Entah, Young Eun harus berterima kasih atau justru kesal karena Seo Jin yang tiba-tiba ikut campur dalam masalahnya.
Dong Ki tersenyum miring menatap Seo Jin, sorot mata pria itu seperti baru saja mendapatkan mangsa baru. “Kau pacarnya?” tanya Dong Ki seraya mengarahkan ekor matanya ke arah Young Eun. “Kau terlihat kaya,” gumam Dong Ki dengan senyum liciknya. “Kami akan melepaskan dia jika kau mau membayar hutangnya,” tambah Dong Ki, membuat Young Eun membulatkan matanya, marah.
“Apa yang kau katakan?! Dia sama sekali tidak ada hubungannya denganku!” seru Young Eun keras. Dia melempar tatapan ke arah Seo Jin, seakan memberikan isyarat pada pria itu untuk tidak ikut campur terhadap masalahnya.
Seo Jin terlihat mengabaikan isyarat Young Eun. Dia mengangguk dengan wajah tenang. “Baik. Aku akan membayarnya. Katakan berapa nomor rekeningmu dan jumlah hutangnya.” Seo Jin mengeluarkan ponsel dari dalam saku mantelnya. Kalimat dengan nada enteng itu membuat para rentenir tersebut tersenyum dengan senang, tapi berbanding terbalik dengan reaksi Young Eun.
“YA! APA YANG KAU LAKUKAN!” Young Eun berteriak marah, dia berusaha menghentikan Seo Jin.
Seo Jin menatap Young Eun sejenak. “Anggap saja aku memberi gajimu di awal.” Seo Jin terlihat begitu tenang, namun justru membuat Young Eun kian kesal dengan sikap Seo Jin yang terkesan seenaknya.
Setelah Dong Ki menyebutkan nomor rekening dan nominal uangnya, mereka pergi meninggalkan Young Eun dan Seo Jin. Kedua kini yang saling melempar tatapan berbeda. Sedangkan Hyun Joong yang sejak tadi berdiri memperhatikan, berjalan menghampiri Seo Jin dengan wajah senang, langkahnya sedikit terseok.
“Aku sangat berterima kasih padamu kau—“
“Apa kakak semakin tidak tahu malu?” Pertanyaan tiba-tiba itu menghentikan kalimat Hyun Joong. “Apa kakak senang membuatku berada dalam situasi seperti ini?! Kenapa kakak terus membuatku diperlakukan seperti ini?!” Young Eun berujar marah pada Hyun Joong. Ini kedua kalinya Seo Jin menemukan dirinya dalam situasi yang kacau dan Young Eun tidak menyukai itu.
“YA! SEHARUSNYA KAU BERTERIMA KASIH PADANYA!” balas Hyun Joong berteriak marah.
Young Eun tersenyum getir. Hyun Joong memang tidak pernah bisa mengerti posisinya. “Kakak bahkan tidak bertanya bagaimana keadaanku setelah apa yang mereka lakukan tadi! Kakak sama sekali tidak pernah peduli! Kakak hanya memedulikan diri kakak sendiri! Kakak selalu membuat kekacauan dan aku yang selalu memperbaikinya. Kakak pikir aku tidak pernah mengalami kesulitan?!” Young Eun tak bisa lagi menahan isi hatinya. Dia sudah terlalu lama memendam semuanya, hingga tumpukan luka itu sudah seperti bom waktu yang bisa meledak kapan pun dan menghancurkan semuanya.
Hyun Joong terenyak mendengar kalimat itu. “Young Eun-ah ..,”
Young Eun menghapus kasar air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi kedua pipinya. “Jika aku bisa kembali pada saat itu, akan lebih baik jika aku mati bersama ayah dan ibu!” seru Young Eun penuh emosi.
“SEO YOUNG EUN!” teriak Hyun Joong mulai marah. Dia menampar wajah Young Eun keras. Hyun Joong sangat benci setiap kali Young Eun mengungkit tentang masa lalu. Meski dia tidak pernah menjalani hidupnya dengan baik dan benar, Hyun Joong sangat marah jika Young Eun membicarakan kecelakaan lima belas tahun itu lagi di depannya.
Young Eun memegangi pipi kanannya yang memerah dan terasa panas akibat tamparan Hyun Joong, namun hatinya yang jauh lebih terluka. “KENAPA? KAKAK PIKIR AKU TIDAK TERSIKSA KARENA KEJADIAN LIMA BELAS TAHUN LALU?! APA KAKAK MENYALAHKAN AKU SEBAGAI PENYEBAB KECELAKAAN AYAH DAN IBU HANYA KARENA AKU SATU-SATUNYA YANG MASIH HIDUP?! APA KAKAK SEDIKIT PUN TAHU TENTANG MASA SULIT SEPERTI APA YANG HARUS AKU HADAPI SELAMA DI SEKOLAH?! KAKAK TIDAK PERNAH TAHU! KAKAK TIDAK SEDIKIT PUN MENGETAHUINYA!” Napas Young Eun menderu cepat. Sorot matanya menatap tajam dan penuh kekecewaan yang berbaur dengan kemarahan.
“SEO YOUNG EUN!!” Hyun Joong tentu merasa terluka mendengar semua kalimat itu. Apa yang dikatakan oleh Young Eun benar-benar menusuk tepat ke dalam hatinya.
Young Eun mengepalkan kedua tangannya dengan erat, berusaha menguatkan dirinya sendiri. “Kakak sama sekali tidak pernah peduli padaku, entah aku terluka atau sakit, kakak sama sekali tidak pernah ingin tahu!” Young Eun mengusap air matanya dengan kasar. Sorot matanya kali ini berpaling menatap Seo Jin. Ada kekecewaan yang begitu besar dalam dua bola mata cokelat terang itu.
“Apa kau juga menganggapku begitu menyedihkan? Apa kau meremehkanku hanya karena kau memiliki uang dan status sosial?” Seo Jin terbungkam dengan pertanyaan Young Eun. “Apa ini caramu untuk mempermalukan harga diri orang lain?”
Seo Jin terpaku di tempatnya dengan pertanyaan terakhir itu. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan hal itu, meski dia memang bukan termasuk orang yang bisa bersikap baik pada setiap orang yang dia temui. Tetapi, setidaknya Seo Jin bukan seseorang yang hanya diam melihat perempuan diperlakukan dengan kasar seperti yang dilakukan para rentenir itu pada Young Eun.
“Tidak.” Seo Jin menyahut dengan nada dingin. “Aku sama sekali tidak bermaksud, tapi jika kau berpikir demikian, silakan. Mungkin seharusnya aku membiarkanmu di bawa oleh para rentenir itu.” Young Eun membulatkan matanya mendengar jawaban sarkas itu.
“Benar. Seharusnya kau tidak perlu membantu sedikit pun, karena seperti itulah dirimu. Tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain.” Setelah mengatakan hal itu, Young Eun melangkah pergi meninggalkan dua orang yang menatapnya dengan raut wajah dan perasaan yang berbeda.
Hyun Joong yang berusaha untuk memperbaiki situasi, mendekati Seo Jin dan hendak mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya, tapi kalimat yang meluncur bebas dari pria itu membuat Hyun Joong terbungkan seketika.
“Seharusnya Anda lebih merasa malu dan bersalah karena menghancurkan hidupnya,” ujar Seo Jin dengan nada dan tatapan yang begitu dingin. “Aku mungkin akan memukul wajah Anda jika Anda kembali membuatnya seperti ini!” Setelah mengatakan kalimat yang membuat Hyun Joong membeku di tempatnya, Seo Jin berjalan cepat menuju mobilnya dan diam-diam mengikuti ke mana Young Eun pergi dengan bus yang dia tumpangi.
••••
Young Eun duduk seraya menekuk kedua lututnya. Tatapannya lurus menatap hamparan laut biru di hadapannya. Deburan ombak terdengar memenuhi telinganya, hembusan angin yang menerbangkan setiap helai rambutnya, tidak dia pedulikan. Young Eun hanya ingin duduk menikmati waktunya dengan melihat matahari yang perlahan tenggelam di kaki langit.
Young Eun mengulum bibirnya tipis. Dia merasa menyedihkan dalam kondisi seperti saat ini. Setiap kali dia tidak bisa mengendalikan dirinya, dia akan berakhir di tempat ini. Untuk sejenak, dia menyesal karena mengatakan kalimat kasar beberapa saat yang lalu pada kakaknya, terutama pada Seo Jin. Pria itu hanya datang pada waktu yang tidak tepat dan membuat dirinya merasa tersinggung. Padahal sebenarnya apa yang dilakukan Seo Jin adalah menyelamatkan dirinya dari para rentenir itu.
Young Eun seharusnya mengucapkan terima kasih, bukan malah memaki pria itu. Jika Seo Jin tidak ada di sana, Young Eun mungkin saat ini sudah berakhir di suatu tempat yang mengerikan. Mungkin dia sudah dijual sebagai wanita penghibur atau lebih parahnya lagi, dia mungkin akan dijual untuk p***************n ke luar negeri.
Young Eun menarik napas dalam-dalam. Setelah dia merasa lebih tenang, Young Eun perlahan beranjak dari tempat duduknya. Ketika dia melangkah untuk pergi menjauh dari bibir pantai, langkah seketika terhenti saat pandangannya menangkap sosok pria tinggi tegap sedang menatapnya dari jarak lima langkah di depannya. Tatapan pria itu terkesan dingin, namun sebuah senyum tipis tersungging di bibir pria itu.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Young Eun sedikit kebingungan saat melihat Seo Jin di hadapannya.
Seo Jin tak menjawab. Dia melangkah mendekati Young Eun. Rambut pria itu menjadi berantakan karena tertiup angin, namun justru membuat Seo Jin terlihat jauh lebih tampan dengan tampilnya saat ini. Helaian rambut yang biasanya menutup dahinya, kini tersibak dan memperlihatkan dahi putih sempurna miliknya. Young Eun merutuki dirinya dalam hati karena tetap terpesona dengan wajah tampan pria itu dalam situasi canggung seperti saat ini.
“Aku hanya mengikutimu.” Seo Jin menjawab dengan singkat. Dia berdiri di samping Young Eun, mengarahkan pandangannya pada laut yang terhampar di depannya. Young Eun mengikuti apa yang dilakukan oleh pria itu, namun tatapannya justru lebih tertuju dan fokus pada Seo Jin.
“Untuk apa kau mengikutiku?” tanya Young Eun dengan tatapan ingin tahu. “Ah ... maafkan, aku atas sikapku tadi. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih padamu, bukan malah marah padamu. Aku hanya ...”
“Aku mengerti,” sahut Seo Jin memotong kalimat Young Eun. “Aku tahu, jadi tidak perlu minta maaf. Aku hanya datang di waktu yang kurang tepat. Tapi, tetap saja. Seharusnya kau tidak mengatakan hal seperti itu pada orang yang menyelamatkan nyawamu.”
Young Eun mendelik. Seo Jin memang selalu pintar dalam membuat orang kesal. Sedetik sebelum dia mengatakan bahwa dia mengerti dengan sikap Young Eun, namun di detik selanjutnya, pria itu seperti mengatakan yang sebaliknya. Tapi, bagaimana pun juga, Young Eun memang harus berterima kasih sekaligus meminta maaf.
“Baiklah. Aku minta maaf dan terima kasih. Jadi, apa kau memaafkanku, Seo Jin-sshi?” Young Eun menunggu jawaban dari Seo Jin dengan gugup.
Seo Jin mengalihkan pandangannya ke arah Young Eun, untuk sejenak tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus, membuat Young Eun gugup sejenak.
“Kalau begitu, ikutlah makan malam denganku nanti. Maka, aku akan menerima permintaan maafmu, bagaimana?” Wajah datar itu seperti tidak menunjukkan emosi apa pun, membuat Young Eun tidak bisa memahami apa yang sebenarnya di inginkan oleh Seo Jin dengan memintanya makan malam bersama.
“Hanya makan malam saja, bukan? Baik, aku akan mentraktirmu makan malam.” Young Eun setuju dengan persyaratan itu, meskipun dia sedikit merasa agak bingung.
“Makan malam dengan keluargaku.” Kalimat itu membuat Young Eun yang tadinya menunduk, mengangkat wajahnya dengan terkejut.
“Apa? Makan malam dengan keluargamu? Apa ... maksudmu?”
Tepat setelah itu, ponsel Seo Jin berbunyi nyaring, sepertinya panggilan dari Tae San yang menanyakan keberadaan mereka saat ini.
“Kita harus kembali.” Seo Jin tanpa sadar meriah tangan Young Eun dan menarik perempuan itu untuk berjalan menuju mobil mereka yang terparkir tak jauh dari sana.
Young Eun hendak melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman Seo Jin, namun dia tidak bisa melakukannya. Pada akhirnya sampai di mobil, Seo Jin baru menyadari bahwa dia menggenggam tangan Young Eun, dengan canggung dia segera melepaskannya.
Kedua masuk ke dalam mobil dengan situasi yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Young Eun yang masih dengan perasaan canggungnya, sedangkan Seo Jin masih dengan sikap dingin dan datarnya seperti biasa.
*******