Setelah kedua pelayan itu pergi, Prisla menutup pintu kamar. Dan berjalan Menuju kamar mandi yang terlihat lebih bagus.
"Badan ku rasanya lengket sekali, lebih baik aku mandi saja" Prisla mengambil salah satu baju tidur dan membawanya kekamar mandi.
"Sebaiknya aku berendam" Prisla membuka pakaian, mengatur suhu airnya kemaren diapartemen bibi Ijah sudah mengajarinya. cukup lama dia berendam sambil memijat kepala nya.
"Ini benar-benar mengasikkan" Gumam Prisla mencoba beberapa jenis pembersih kulit dan shampo.
"Aaahhk, kenapa dengan tangan ku, kok mengkerut? apa tandanya aku mau berubah menjadi Putri Duyung ? karena kelemahan berendam.?"
Berbagai pertanyaan bermunculan di benak Prisla. dia teringat sinetron Mrmait In Love yang pernah ditontonnya waktu dikampung dulu. dia menyudahi acara mandinya dengan cepat.
Setelah mengering kan badan dan berpakaian kembali, Prisla merebahkan badannya di kasur empuk itu.
"Wah begini ya kalau jadi orang kaya" tidak perlu menunggu lama dia sudah tertidur pulas diranjang empuk itu.
Paginya Prisla terbangun, kamar yang mewah ini terasa sepi Karena ditempati Prisla sendirian, sementara Hardian tidak pulang kerumah semenjak semalam dia langsung menghilang setelah pernikahan sakral itu selesai.
Kruuugghh...,, perut Prisla berbunga nyaring.
"Aduh aku sangat lapar sekali, kebetulan semenjak semalam aku belum makan apa-apa," gumam Prisla bangkit dan membersihkan tubuhnya.
Prisla mengenakan salah satu pakaian yang sudah disiapkan untuk dirinya, yang sangat cocok dan sesuai bentuk tubuhnya yang mungil dan putih bersih.
Prisla mengayunkan langkah, menuju meja makan. seorang pelayan wanita langsung menyiapkan makanan dan segelas s**u hangat untuk nya.
Silahkan Nona muda,"
"Terimakasih," balas Prisla sambil mengedarkan pandangannya keseliling ruangan.
"Tuan dan Nyonya besar sudah sarapan, tinggal Nona muda saja yang belum sarapan," ucap pelayan tersebut.
Prisla menyuap sarapannya, mengingat dia sudah sangat lapar, Tiba-tiba Mama merlin muncul.
"Selamat pagi Mama"
Sapa Prisla yang mencoba menutupi kegugupannya dan rasa takut.
"Dasar gadis kampungngan, kamu disini jangan besar kepala ya. karena sudah berhasil menikah dengan putraku. dan menarik simpati suamiku...,, kamu itu harus tau diri dan sadar siapa kamu!" Ucap Merlin angkuh.
Prisla hanya menunduk mendengarnya.
"Dan persiapkan juga hatimu, jika menantu ku yang sesungguhnya datang. kerumah ini.., bersiaplah untuk pergi dan kembali pada kodrat mu yang sebenarnya"
Prisla menunduk sedih, hatinya hancur mendengar caci maki Mama mertuanya.
"Terimakasih atas perhatian Mama"
Jawab Prisla sambil menunduk berjalan pergi. meninggalkan merlin yang masih mengomel, Prisla berjalan menaiki tangga.
"Mungkin dengan mengurung diri dikamar aku aman dari omelan Mama "
Sementara diluar mobil Hardian berhenti dihalaman utama, dengan langkah panjang dia masuk kedalam diiringi oleh asisten nya dari belakang.
"Lihat sifat istri mu itu, membuat Mama pusing menghadapi nya," adu Merlin begitu melihat kedatangan Hardian.
Hardian tidak menanggapi Omelan mamanya, dia langsung Menaiki anak tangga satu persatu, sedangkan asisten Rey kembali keperusahaan.
"Ceklek,, pintu terbuka lebar.
"Kosong.? kemana perginya Kucing jalanan itu?" Gumam Hardian.
Terdengar suara langkah kaki mendekat...., dan pintu terbuka. Prisla langsung merebahkan tubuhnya disofa, pura-pura tidur dan menenggelamkan diri kedalam bantalan sofa yang empuk.
"Jam berapa sekarang, kenapa kamu masih tidur?" Teriak Hardian menarik bantalan sofa yang dijadikan Prisla untuk menutupi wajahnya.
"Sudah setengah sembilan pagi, Tuan " jawab Prisla sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat Hardian langsung ilfil melihat tingkah nya.
"Aa aaahhk, kenapa kamu masih tidur?"
"Habis aku bingung harus ngapain, dibawah takut sama Mama. Jadi aku pikir dikamar lebih baik, "
"Diam... jangan membantah ucapan ku.! apa kamu tidak membaca setiap poin kontrak itu"
Prisla terdiam, ya dia sudah terjebak pamanya. dengan iming-iming akan membantu biaya pengobatan ibu, melunasi hutang-hutang serta biaya pendidikan adiknya. dan tanpa Prisla ketahui, sang Paman telah meminta uang dengan jumlah banyak pada Hardian. dengan alasan mau melunasi hutang-hutang dan mengembangkan kembali usahanya, tentu Prisla yang polos itu lah yang akan jadi jaminannya.
"Kenapa melamun, cepat siapkan air mandi"
"Iya Tuan,"
Prisla berjalan masuk kekamar mandi. dan menyiapkan air di bak mandi dengan Aroma Mawar. saat hendak membalikan badan. Prisla terkaget karena posisi Hardian yang begitu dekat, dia hilang keseimbangan. refleks tangan kokoh Hardian menarik tubuh Prisla. hingga tidak ada jarak diantara mereka. Pandangan mata kedua nya bertemu.
"Kucing jalanan ada apa dengan mata mu itu ?" seperti magnet yang menarik ku... " gumam Hardian.
Perlahan Hardian mendekat kan bibir nya hendak menikmati bibir mungil itu. namun teriakan Prisla yang tiba-tiba mengacaukan segalanya.
" Kenapa berteriak?"
" Iii..it,.... itu... sambil menunjuk kebawah " xxxxx nongol" tunjuk Prisla sambil menutup mata.
Hardian menoleh ke bawah, dia baru sadar handuk nya melorot waktu menangkap tubuh Prisla barusan. dengan santai nya Hardian berjalan ke arah bak mandi.
"Mau kemana? siapa yang menyuruh mu keluar," teriak Hardian.
"Cepat gosok punggung ku"
Dengan tangan gemetar Prisla pun menurut, dia duduk ditepi bak dan mulai menggosok pelan punggung putih mulus Hardian.
"Ini orang urat malunya pasti sudah putus semua "
Prisla pun bergumam dalam hati, sambil mengepalkan tinjunya ke arah kepala Hardian.
"Lakukan saja tugas mu dengan baik, apa perlu kamu saya suruh memijid ini sekalian. sambil tersenyum licik Rama menunjuk kebawahnya yang telah berdiri ***"
Prisla tiba-tiba menundukkan mukanya, yang sudah memerah seperti kepiting. saat Hardian berdiri menuju Shower, dan membilas tubuhnya.
"Ambilkan handuk, dan keringkan rambut dan tubuhku." Perintah Hardian.
Mereka berjalan berbarengan dari kamar mandi, Hardian seperti bayi besar..,, Prisla sebagai Baby Sitternya. Yang harus siap dengan segala perintah Tuan mudanya itu.
Perlahan Prisla mengusap kepala Hardian, menyeka tiap tetesan air yang masih menetes di ujung rambut nya. Jauh dihatinya Prisla mulai tertarik melihat pesona dan ketampanan Hardian. Namun dia sadar diri siapa posisi dan status nya dirumah ini.
"Bagaimana kehidupan mu sebelum ini dikampung?" Hardian Melihat banyak sekali kepalan di telapak tangan Prisla, yang menunjukkan jika dia Bekerja keras selama ini.
"Dikampung aku hidup seperti orang biasanya Tuan. membantu semua pekerjaan rumah yang diberikan oleh ibu dan berjualan keripik dipasaran. kadang aku juga mencuci pakaian mereka semua diwaduk dekat rumah," ucap Prisla sedih.
"Apa kamu mengetahui jika pamanmu Aryo sudah memanfaatkan kamu?"