Flashback 1 Jam sebelumnya :
Di Mansion Aryawinata yang bersebelahan dengan Mansion Nawasena,
Olga Aryawinata berdiri di depan cermin kamarnya,
Ia mengenakan pakaian sederhana, celana jeans hitam, T-shirt polos, jaket kulit, dan sepatu sneakers.
Di atas tempat tidur tergeletak sebuah tas ransel, ponselnya bergetar
Pesan dari Sita muncul,
Sita : Olga, kau yakin mau melakukan ini?
Olga langsung membalas dengan mengetik cepat pesan tersebut,
Olga : Aku lebih baik hidup sebagai buronan daripada menikah dengan pria yang 10 tahun lebih tua dariku.
Sambil menghembuskan napas kasar, Olga langsung mematikan layar ponselnya, setelah menekan tombol send, lalu ia masukkan ponsel ke sakunya.
Olga membuka jendela,
Di bawah sana, sebuah balkon kecil yang menghubungkan kamarnya dengan sisi belakang Mansion.
Ia tersenyum tipis.
"Maaf Kek"
Olga memanjat keluar
Satu langkah
Dua langkah
Kemudian tubuhnya menghilang di balik kegelapan.
Ia tidak tahu bahwa beberapa menit kemudian, seluruh keluarganya akan mencari ke seluruh penjuru Mansion.
Dan ia tidak peduli.
Malam ini Olga hanya memiliki satu tujuan.
Kabur dari Pernikahan.
Flashback end.
Pukul Tujuh malam, Penghulu tiba
Keluarga besar Nawasena dan Aryawinata telah berkumpul.
Adrian berdiri di depan penghulu dengan wajah dingin, dihadapannya duduk Bagas Aryawinata selaku ayah kandung Olga, yang akan menjadi wali nikah Olga.
Prosesi akad nikah mengikuti tradisi pingitan yang dimana pengantin wanita disembunyikan atau tidak disandingkan di ruang akad nikah, dan baru akan dijemput setelah ijab kabul selesai. Tradisi tersebut tidak menyalahi hukum agama yang mereka anut, yaitu agama islam, bahwa kehadiran fisik calon pengantin wanita pada saat pengucapan ikrar ijab kabul tidak menjadi syarat sah pernikahan.
Penghulu mengucapkan kalimat demi kalimat, yang dilanjutkan oleh Bagas,
Adrian menarik napas, dengan tangan menggenggam tangan Bagas.
"Saya terima nikahnya Olga Aryawinata dengan Bagas Aryawinata dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai"
Kalimat itu terucap dengan mantap
Saksi menyatakan Sah
Kakek Jimmy dan Kakek Baskoro tersenyum lega.
Namun tanpa mereka tahu, di luar sana, di tengah hujan yang semakin deras, Olga sudah berada jauh dari Mansion.
Ia duduk di dalam mobil yang dipinjamnya dari seorang MUA dengan harga tiga kali lipat dari harga mobil itu.
Matanya menatap jalanan Sukabumi menuju Bandung yang mulai dipenuhi lampu kota.
Olga menghela napas lega.
"Selamat tinggal, pernikahan bodoh"
Ia tidak tahu bahwa satu keputusan malam ini akan mengubah seluruh hidupnya.
Dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa Pria yang baru saja dinikahinya akan menjadi satu-satunya Pria yang kelak mampu membuat jantungnya berdebar.
Sementara di Mansion Nawasena di Puncak, Adrian masih berdiri di hadapan penghulu dengan sebuah buku nikah yang sudah ditandatanganinya sambil menunggu sang pengantin wanita yang akan dijemput oleh mobil Rolls Royce Aryawinata.
Pintu Kayu Mahoni yang berat terbuka dengan suara berderit panjang, seolah menjadi pertanda berakhirnya sebuah rencana besar.
Teguh, Asisten Bagas Aryawinata yang bertugas menjemput Olga berbisik di telinga Bagas, membuat Bagas membeku dan segera memberitahukan hilangnya Olga kepada Ayahnya Baskoro Aryawinata.
Udara di dalam Ruang Keluarga Mansion Nawasena dipenuhi aroma bunga lili putih dan parfum mahal. namun di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang lebih kuat, kepanikan yang mulai menjalar antara para tamu.
Dengan wajah yang muram dan menanggung malu, Baskoro memberitahukan kepada Jimmy karena cucu nakalnya itu telah membuat ulah lagi.
Para tamu mulai berbisik, Raka dan Dimas saling pandang, lalu Dimas langsung mengambil ponselnya mengetikkan salah satu pengawal bayangan yang ia bayar untuk mengawasi adiknya, bukan untuk membawanya kembali ke Pernikahan yang tidak diinginkan, tetapi untuk menjaganya.
Kakek Jimmy Nawasena merapikan manset kemejanya, tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan ketenangan seorang Pria yang terbiasa mengendalikan keadaan.
Di sampingnya, Kakek Baskoro Aryawinata berdiri kaku seperti patung. rahangnya mengeras, seolah sedikit saja tekanan tambahan dapat membuatnya meledak.
Mereka telah mempersiapkan hari ini dengan sangat teliti.
Setiap detail
Setiap jadwal
Setiap keluarga dan beberapa kolega bisnis yang sudah seperti keluarga, mereka semua diundang untuk menyaksikan momen sakral aliansi Nawasena dan Aryawinata.
Mereka yakin kekuatan gabungan dua keluarga besar Nawasena dan Aryawinata akan cukup untuk mengalahkan segala bentuk penolakan dari dua anak muda yang akan mereka satukan.
Ternyata mereka salah.
Di dalam kamar pengantin wanita, suasananya jauh lebih sunyi,
Terlalu sunyi
Meja rias dipenuhi kuas makeup yang berserakan. beberapa botol parfum terbuka. sebuah kerudung pengantin tergeletak begitu saja di atas kursi, tampak seperti kulit pucat yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah menghilang.
Tidak ada pengantin wanita
Tidak ada Olga
Satu-satunya benda yang ditemukan okeh Teguh hanyalah selembar kertas putih yang diletakkan di samping gelas wine yang tinggal setengah
Tulisan tangan di atasnya singkat,
"Kalau yang kalian inginkan hanya untuk memperkuat aliansi perusahaan, lihat saja laporan kuartal jangan cari aku"
Walaupun begitu Pernikahan itu telah dimulai dan sah di mata hukum dan agama.
Dan perang antara Adrian Nawasena dan Olga Aryawinata pun resmi dimulai.
Kembali ke Mansion Nawasena,
Adrian beridiri di dekat jendela Ruang Keluarga Nawasena, tempat berlangsungnya Ijab kabul.
Jas tuxedonya telah ia lepaskan dan disampirkan di salah satu lengannya.
Anehnya, ia tidak terlihat marah.
Ia justru terlihat bosan
Selama dua jam terakhir, Adrian hanya menyaksikan persiapan pernikahan dengan ekspresi datar. seolah-olah semua kekacauan yang terjadi di sekelilingnya bukanlah sesuatu yang layak membuatnya kehilangan kendali.
Ia bahkan belum pernah bertemu dengan calon istrinya, yang ia tahu hanyalah informasi dari sebuah berkas yang selama ini tersimpan di laci mejanya, tanpa foto.
Olga Aryawinata, Usia Dua Puluh tahun, Memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata, menguasai beberapa bahasa, memiliki kegemaran terhadap balap motor berisiko tinggi, sering pergi ke club malam, dan pernah beberapa kali menerima sanksi akademik karena perilakunya.
Adrian mengambil surat tersebut, ia membacanya sekali lagi
Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis, ada sesuatu yang aneh,
Sebagian besar wanita yang berada di lingkungan Adrian selalu berusaha mendapatkan perhatiannya, mereka ingin terlihat olehnya, ingin dikenal olehnya, bahkan rela melakukan berbagai hal hanya untuk mendapatkan satu kesempatan berada di sampingnya.
Namun, wanita yang belum pernah benar-benar dikenalnya itu justru melakukan hal sebaliknya.
Olga memilih menghilang
Bukan hanya menolak, ia bahkan meninggalkan sebuah pesan yang secara terang-terangan menyuruh keluarganya untuk tidak mencarinya.
Sebuah sensasi yang cukup asing bagi Adrian.
Teguh ingin mencarinya, tetapi Kakek Jimmy melarangnya "Biarkan saja.."
Adrian terdiam, "Kakek?"
"Jika Olga belum siap menandatangani Buku nikah, tanda tangan bisa diselesaikan kemudian"
Adrian tidak mengatakan apa-apa.
"Kakek yakin kalian akan bertemu lagi suatu hari nanti" ucap Kakek Jimmy
Raka Aryawinata menghampiri Adrian sambil menepuk Pundak Adrian.
Raka duduk di sebelah Adrian,
Mereka memang sudah lama tidak bertemu secara langsung, persahabatan merek dimulai sejak kecil karena kedua keluarga sangat dekat, namun ketika Raka melanjutkan pendidikannya di jurusan Pertambangan Curtin University, Australia, sementara Adrian pergi ke Boston.
Jarak membuat mereka jarang bertemu
Mereka kembali dekat ketika Raka melanjutkan program Magister Manajemen di Harvard, mereka ada di kelas yang sama.
Sejak saat itu, hubungan mereka kembali seperti dahulu
Adrian selalu serius, sementara Raka lebih mudah bergaul, suka bercanda, dan hampir tidak pernah kehabisan bahan untuk menggoda orang.
Raka melirik tablet di tangan Adrian
"Kau masih bekerja?"
"Hmm"
"Wow, ini malam pernikahanmu, dan Kau masih bekerja?"
"Adikmu sudah kabur" Adrian tahu Raka pasti membantunya kabur
Raka menghela napas, mencoba mengalihkan pembicaraan "Kalau begitu, kapan terakhir kali kau melakukan sesuatu yang normal?"
Adrian akhirnya menoleh "Definisikan normal"
Raka terdiam beberapa detik "Kau tahu? kadang aku bingung apakah kau benar-benar manusia"
Adrian kembali menatap tabletnya "Aku juga sering bingung dengan tingkahmu"
Raka tertawa keras "Ini dia, aku merindukan sindiranmu"
"Kau terlalu sibuk, bahkan kau tidak pernah datang tiap kuundang untuk kumpul"
Dari sofa seberang, Dani Nawasena yang mendengar percakapan mereka ikut tersenyum
"Kalian berdua tidak berubah sejak dulu"
Bagas mengangguk "Kalau Raka tidak mengganggu Adrian selama lebih dari sepuluh menit, mungkin dia akan sakit"
"Betul" sahut Raka santai
Adrian hanya menggeleng, namun sudut bibirnya sedikit terangkat, hampir tidak terlihat.
Tapi Raka tetap menyadarinya, untuk sesaat mereka melupakan tentang kaburnya Olga.
"Selamat datang di keluarga, Adik Ipar" membuat Adrian menoleh tajam
"Raka"
"Ya?"
"Diam" membuat Raka tertawa semakin keras, namun Adrian tidak ikut tertawa
Pikirannya dipenuhi bayangan seorang gadis kecil yang terakhir kali dilihatnya bertahun-tahun lalu.
Baginya, Olga masih merupakan anak kecil yang suka berlari tanpa alas kaki, bermain lumpur, memanjat pohon, dan membuat orang-orang di sekitarnya kewalahan.
Ia bahkan tidak tahu seperti apa wajah olga sekarang
Tidak tahu bagaimana kepribadiannya
Tidak tahu apakah gadis kecil yang dulu ia kenal sudah berubah
Tapi satu hal yang Adrian tahu pasti, bahwa gadis kecil itu sudah sah menjadi Istrinya
Adrian menarik napas panjang