Bab 2 – Bayangan Luka Rema
Hujan semalam masih menyisakan aroma tanah basah di pagi hari Jakarta. Jalanan padat, suara klakson bersahutan, dan orang-orang berlarian mengejar waktu. Di tengah hiruk pikuk itu, Jaya menyalakan motornya yang sudah karatan, bersiap mencari rejeki hari ini.
Namun, pikirannya masih kembali pada pertemuan semalam—tatapan mata Rema, senyum kecilnya yang manis meski terlihat menyimpan beban, serta tawa polos Khafi.
“Kenapa aku merasa ada sesuatu di balik senyumnya?” gumam Jaya sambil menghela napas panjang.
---
Siang itu, Jaya kembali melewati gang kecil dekat warung tempat mereka bertemu. Tanpa disangka, ia melihat Rema sedang menjemur pakaian. Rambutnya digerai, wajahnya tanpa riasan, tapi kecantikannya tetap terpancar alami.
Jaya memberanikan diri mendekat. “Assalamualaikum, Mbak Rema,” sapa Jaya sambil tersenyum, matanya penuh keramahan.
Rema sedikit terkejut, namun segera membalas senyum. “Waalaikumsalam. Mas Jaya, ya? Wah, ternyata lewat sini juga.” Suaranya hangat, meski ada nada hati-hati di dalamnya.
Khafi berlari kecil dari dalam rumah, langsung memeluk kaki Rema. “Om Jaya!” serunya riang sambil menatap Jaya dengan mata bulat penuh antusias.
Jaya tertawa kecil, jongkok menyapa. “Halo, Khafi. Lagi main apa?” tanyanya sambil mengacak rambut bocah itu.
“Main mobil-mobilan. Tapi bannya copot,” jawab Khafi dengan wajah murung.
Jaya menepuk bahunya dengan penuh keyakinan. “Biar Om perbaiki. Laki-laki itu harus bisa memperbaiki sesuatu, setuju?” katanya sambil mengedipkan mata.
Khafi terkekeh, lalu mengangguk mantap.
Rema hanya bisa tersenyum melihat keakraban itu. Namun, dalam tatapannya ada bayangan masa lalu yang tiba-tiba menyelinap. Wajahnya menegang sejenak, lalu ia cepat-cepat memalingkan pandangan.
---
Mereka kemudian duduk di teras rumah sederhana itu. Rema menyuguhkan segelas teh hangat untuk Jaya.
“Maaf, cuma teh biasa,” ucapnya pelan sambil menunduk, kedua tangannya gemetar halus saat meletakkan gelas di meja kayu tua.
Jaya menangkap kegugupannya, lalu menatap lembut. “Nggak usah minta maaf, Mbak. Teh hangat di rumah begini jauh lebih berharga daripada kopi mahal di kafe.” Ia mengangkat gelas, lalu meneguk sedikit sambil tersenyum tulus.
Perkataan itu membuat Rema menoleh. Ada sesuatu di dalam tatapan Jaya yang membuatnya sedikit tenang.
“Aku jarang ngobrol dengan orang baru,” kata Rema akhirnya, suaranya rendah. “Tetangga di sini ramah, tapi kadang… aku memilih menutup diri.”
Jaya tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan. “Kadang menutup diri itu cara paling aman. Tapi… kalau terlalu lama, bisa bikin kita lupa rasanya bahagia.”
Rema terdiam. Kata-kata itu seperti mengetuk ruang dalam hatinya.
---
Matahari mulai condong ke barat ketika tiba-tiba sebuah suara keras memecah suasana.
“Rema!” teriak seorang pria dari ujung gang, langkahnya cepat dan kasar. Tubuhnya besar, wajahnya keras dengan sorot mata penuh kemarahan.
Rema seketika pucat. Gelas di tangannya hampir terjatuh. Khafi langsung berlari memeluk pinggang ibunya dengan wajah ketakutan.
Jaya bangkit berdiri, nalurinya langsung siaga. “Mbak, siapa dia?” tanyanya dengan suara rendah namun tegas.
Rema menelan ludah, bibirnya bergetar. “Itu… suamiku,” jawabnya lirih, hampir berbisik.
Jaya terdiam, dadanya sesak mendengar jawaban itu. Namun ia bisa membaca jelas dari wajah Rema—bukan kebahagiaan yang terpancar, melainkan luka yang dalam.
Pria itu semakin dekat, suaranya menggema di gang sempit. “Kenapa ada laki-laki di rumahmu, Rema?!” bentaknya dengan tatapan tajam ke arah Jaya.
Rema menunduk, tubuhnya gemetar. Khafi mulai menangis.
Jaya mengepalkan tangan, tapi ia menahan diri. Tatapannya tetap tenang meski dadanya bergemuruh. “Saya hanya bertamu, Pak. Nggak ada maksud lain,” ucapnya dengan suara datar namun mantap.
Pria itu mendengus, wajahnya semakin merah. “Jangan sok suci kau!” Ia melangkah lebih maju, seakan hendak mendorong Jaya.
Rema berusaha menahan. “Tolong jangan ribut di depan Khafi,” ucapnya dengan suara parau, matanya berkaca-kaca.
Jaya menoleh sekilas, melihat air mata Rema yang jatuh tanpa bisa ditahan. Saat itu juga, ia sadar—perempuan ini menyimpan luka yang jauh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan.
---
> Malam itu, hidup Jaya berubah. Ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri di kota keras ini, tapi juga menghadapi kenyataan bahwa di depan matanya ada seorang perempuan yang terjebak dalam bayangan masa lalu.
Dan tanpa disadari, hatinya mulai terseret masuk ke dalamnya.