_________
Tidak ada satu pun media yang berhasil mendapatkan foto pernikahan Eric Darendra—CEO muda dari Darendra Corp yang kini menjadi sorotan publik karena kejeniusannya membangun perusahaan teknologi multinasional. Dalam waktu lima tahun, pria berusia 32 tahun itu mengubah perusahaan warisan keluarganya menjadi raksasa industri yang disegani, sekaligus membentengi dirinya dari semua urusan pribadi.
Termasuk pernikahannya.
Yang publik tahu, Eric sudah menikah satu tahun lalu. Pernikahan itu diumumkan melalui siaran pers resmi tanpa pesta mewah, tanpa undangan terbuka, dan tanpa satupun foto sang pengantin wanita. Bahkan para karyawan perusahaan pun tidak pernah melihat sosok istri sang CEO.
Tidak ada foto. Tidak ada unggahan media sosial. Tidak ada nama. Tidak ada jejak.
Namun, di balik semua itu—di rumah megah yang dijaga ketat di kawasan elit Jakarta—hidup seorang wanita bernama Anna Lestari. Gadis berusia 24 tahun yang menikah dengan Eric dalam ikatan yang lebih terasa seperti kontrak dari pada cinta.
Anna tidak berasal dari keluarga terkenal. Ia adalah lulusan seni rupa dari universitas negeri, sederhana dan cerdas, namun tak punya koneksi atau kekuasaan. Mereka bertemu secara tidak sengaja—dan entah bagaimana, dalam waktu tiga bulan setelah pertemuan pertama mereka, Eric melamarnya.
“Kamu hanya perlu jadi istriku. Gak perlu mencampuri urusan luar. Aku akan menanggung semuanya.”
Itu kata-kata Eric di malam sebelum pernikahan mereka. Dingin. Rasional. Nyaris tanpa emosi.
Anna menerimanya—bukan karena cinta, tapi karena alasan yang hanya ia dan Eric ketahui.
Sejak itu, hidupnya menjadi bayang-bayang. Tak boleh keluar rumah sendirian. Tak boleh mengangkat telepon dari nomor asing. Tak boleh mengunggah apapun di media sosial. Ia bahkan tidak boleh menyebutkan nama Eric di luar rumah.
Namun, di balik ketegasan dan dinginnya sikap sang suami, Anna melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak pernah Eric izinkan untuk muncul di depan dunia: luka masa lalu… dan ketakutan akan kehilangan.
____________________
Suatu malam. Eric pulang dalam keadaan sedikit mabuk, ia masuk ke dalam rumah dengan sedikit sempoyongan, berjalan menaiki anak tangga perlahan.
Tanpa sengaja, Eric melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka.
Ia perlahan jalan mendekat, lalu.. ia melihat Anna yang sedang menari-nari dengan iringan musik jazz lembut. Gaya-nya ketika sedang menari, memperlihatkan jelas lekuk keindahan tubuhnya. Dengan dress satin ketat yang ia pakai, memang terlihat seksi.
BRUK!
Anna terkejut begitu mendengar suara pintu yang terbuka agak keras, karena dorongan tak sengaja dari Eric.
“Kamu udah pulang?”ucapnya pelan, menatap Eric.
Namun tidak ada jawaban, Eric hanya terdiam mematung, lalu.. saat ia hendak melangkah tiba-tiba tersandung oleh sepatunya sendiri dan menanrak tubuh Anna hingga terjatuh bersama ke sofa yang ada di belakang Anna.
“AKHH!”Anna merintih pelan.
Eric menindih tubuh Anna di bawah, wajah mereka sangat dekat hingga hidung mereka bisa bersentuhan.
“Kamu.. mabuk?”suaranya lembut.
“Hm.”sahut Eric, lalu bergegas bangun, berdiri.