Breaking News~
Sempat viral, Pelaku utama Penganiayaan terhadap seorang Karyawan Pria di sebuah Toserba akhirnya ditangkap. Senin, 16 Maret 2022 | 19:42 WIB. Pelaku berhasil ditangkap usai tertangkap kamera pengawas di sebuah Toserba yang menunjukkan aksi nekat itu. Penganiayaan terhadap seorang pacar yang begitu sadis ini begitu viral di media sosial. Pasalnya, korban diduga telah berselingkuh dibelakang sang pelaku selama tiga tahun lamanya. Pelaku mengaku menganiaya korban supaya ada efek jera. Kasus ini berhasil ditangani oleh Kapolda Metro Kota pada 16 Maret 2022 setelah melakukan pencarian selama hampir 5 jam. Kepolisian berhasil mengamankan lima orang yang diduga terlibat dalam tindak pidana penganiayaan tersebut, dan satu orang sudah ditetapkan sebagai tersangka.
DEG!
Anya segera mematikan televisinya. Gadis itu mendengkus kecil, kala mengingat hubungan yang dijalaninya dengan Devano juga sudah tiga tahun lamanya. Anya hanya berpikir, kenapa ada wanita sekejam itu? Kenapa harus sampai menganiaya-nya hingga tewas? Kenapa tidak dijelaskan, dan dibicarakan empat mata saja? Bukankah perihal perselingkuhan bukan masalah serius untuk dibesar-besarkan? Anya marah. Anya tak percaya. Gadis itu naik pitam hanya karena isi berita yang menurutnya sangat cringe itu.
Saat ini Anya berada di ruang tengah lantai satu, rumahnya. Gadis itu tampak sedang berduduk santai dengan diselimuti napas gusar.
Di sisi lain, pelayan Dara, atau asisten rumah tangga yang telah bertahun-tahun bekerja dirumahnya, juga terlihat panik karena putri majikannya tiba-tiba membentuk mimik raut wajah naik setum di ruang tengah. Dara, pelayan itu mencoba untuk menghampiri Anya, dan telah menyiapkan beberapa pertanyaan yang telah ia siapkan matang, sebelum menegur gadis itu.
"Nona, Anya ... Ibu lihat, Nona seperti sedang datang bulan. Ini sudah tanggalnya, ya, Non?" tanya Dara penasaran.
Anya menoleh menyamping—mencari asal suara tersebut.
"Non ... cerita ke, Ibu!" lirihnya sangat miris dengan kondisi Anya.
Tanpa menjawab, Anya segera berdiri dari sofa tempat ia duduk, kemudian pergi begitu saja menuju ke lantai atas, kamarnya. Gadis itu benar-benar tak menghiraukan Dara—pelayan yang telah dianggap sebagai ibu keduanya setelah Raniya, ibu kandungnya.
Tentu Dara juga was-was. Sikap gadis itu seakan-akan menjadi peringatan untuknya, supaya tidak mendekat dan terlibat lagi. Sebelumnya, Dara sudah pernah diabaikan oleh Anya sama halnya dengan gejala-gejala seperti ini tadi. Namun tentu ada penyebab dan alasan yang jelas. Dan dampaknya? Dara kemungkinan tidak akan diajak bicara satu bulan penuh oleh gadis itu. Dan kini terjadi lagi. Dara hanya takut jika diam-diam membuat kesalahan fatal tanpa disadari oleh dirinya sendiri. Setakut itu Dara dengan putri majikannya, Anya Ayudhisa.
***
Di dalam kamar>>>
Anya, gadis itu meraih ponselnya, kemudian dengan malas membaca ribuan riwayat pesan teks dirinya dengan Devano selama menjalin hubungan. Kebiasaan itu sering Anya lakukan jika merasa suntuk dan bosan saat di rumah.
Sungguh, Anya mendadak mempunyai perasaan aneh ke Devano. Entah mengapa perasaan Anya ke Devano sedikit berbeda sejak malam itu. Anya mulai bersikap biasa dengan Devano. Hatinya tiba-tiba kosong. Hambar, tak ada rasanya. Perasaan cinta yang teramat besar itu juga mendadak menjadi biasa-biasa saja. Anya tidak terima dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Gadis itu membenci perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya sejak malam pameran hingga kini.
Tok-tok-tok~
Seseorang terdengar tampak mengetuk pintu, dari balik tirai kamar Anya.
Anya meletakkan ponselnya, kemudian berjalan menuju ke arah pintu dengan tatapan predatornya. Anya dengan malas menarik gagang pintu kamarnya, kemudian menyelingkap tirainya.
JEGLEK.
"Nona Anya, di bawah ada Devano!" ujar pelayan Dara.
Anya melirik Dara sinis. "Devano kamu bilang?"
"Ma-maksud, Ibu, Tuan Devano. Maaf, Nona, Anya." Menundukkan kepalanya.
Dengan lirih, Anya berjalan keluar dari kamarnya. Gadis itu menuruni anak tangga dengan ekspresi wajah yang begitu datar, hambar, dan pucat. Dari atas, Anya melihat cowok tampan yang saat ini tengah duduk di sofa ruang tengah miliknya. Cowok itu tampak gugup menunggu kedatangan dirinya.
Di sisi lain, Dara pun berhati-hati menyusul Anya dari belakang. Wanita itu takut terjadi apa-apa kepada putri majikannya.
"Sayang, maaf, nggak ngabarin kamu dulu." Devano berdiri dari sofa untuk menyambut kedatangan sang pemilik rumah, Anya Ayudhisa.
Anya bingung mau berucap apa. Gadis itu hanya menatap aneh sengit ke arah Devano yang sebaliknya, malah menatapnya jengah. Tatapannya terlalu tajam juga dalam. Namun rasanya tak seperti hari-hari sebelumnya. Kenapa perasaan gila ini mendadak menghampirinya? Gadis itu membenci perasaan aneh yang melandanya saat ini. Ia ingin perasaan cinta besarnya kembali normal lagi ke Devano.
Devano mengecup kening Anya sebelum mendudukkan Anya di sofa, tepat bersebelahan dengannya. Entah kenapa Devano masih sama gugupnya sejak malam pameran itu. Devano bahkan takut—tak kuasa menatap mata gadis itu lama-lama.
"You okay?" tanyanya canggung.
Devano memberanikan diri, meski sebenarnya dirinya takut. Aneh. Begitu aneh. Seorang Devano tiba-tiba takut terhadap Anya? Perasaan macam apa ini? Mendadak sekali.
"Sayang, you okay?" bertanya sekali lagi, dan tak henti-hentinya menelan ludah.
"Kok di sini, sih?" ketus Anya angkat bicara.
"Maksud kamu apa, Anya? Apa yang kamu katakan barusan?" heran Devano mengernyit.
"Bukannya ngapelin yang lain. Kenapa harus gue coba? Kenapa, gue tanya? Pergi sana!" usir Anya bengis.
DEG!
Devano tahu ini akan terjadi. Cowok itu sontak terkejut kala Anya tiba-tiba 'lo gue' kemudian mengusirnya.
"Laah? Anya, maksud kamu apa ngomong kayak gitu ke aku? Kamu marah sama aku? Marah karena apa?" Devano sebenarnya tahu akan letak kesalahannya. Tentu, ia kerap bermain dengan para gadis selain Anya. Namun, menurutnya itu bukan penyebab utamanya.
Anya tak menyangka akan berucap seperti itu ke Devano. Anya, gadis itu reflek mengatakan semua itu, dan benar-benar mengalir sendiri dalam mulutnya. Bahkan tak terpikirkan sama sekali sebelumnya.
"E-enggak ..., aku ngantuk, Van. Cape, baru aja selesai workout. Kamu dari mana emangnya?" gagap Anya mencoba mendinginkan suasana, dengan sedikit mengeluarkan tipu muslihat.
Devano menyentuh kepala Anya lembut, kemudian menyenderkannya di pundaknya. "Anyaa ... Sayang ..., Kok manggil aku pake nama, sih? Baru kali ini loh kamu panggil nama aku. Eh, semalem juga," tegur Devano lembut.
"Ma-maaf, Vano, eh—Sa-sayang, i-iya, Sayang."
Devano meraih pergelangan tangan Anya, kemudian mengelus-elusnya dengan gemetar. "Sayang, gimana kalau kita putus?" usul Devano menatap nanap mata gadis itu.
Anya yang tadinya tak membalas tatapan Devano, kini mulai membalas tatapan cowok itu. Tentu gadis itu tak terkejut, karena rasa cintanya tiba-tiba menghilang begitu saja. Devano semakin merasakan keanehan kembali kepada kejiwaan gadis itu. Tentu, karena saat iseng minta mengakhiri hubungan, Anya tak menunjukkan reaksi apa pun, berbeda dengan sebelumnya.
"Anya, aku mau putus! Kok kamu diem? Aku mau kita putus!" seru Devano menegaskan sekali lagi.
Devano sengaja memancing Anya, dengan mengajaknya putus mungkin ia akan tahu jika Anya bermasalah dengannya, meski tidak jelas apa penyebabnya.
"Lah, tinggal putus aja. Kok lu ribet banget, sih? Udah? Gitu doang? Niat lo ke sini cuma gitu doang, kan? Yaudah sana pergi! Gue ngantuk, Van. Serius!" usir Anya bernada paksaan.
Devano berpikir, gadis itu benar-benar bukan Anya. Anya tidak akan bersedia putus, meskipun Devano hanya mengancamnya saja. Dan sore ini, Devano hanya berniat mengetesnya saja. Devano sangat percaya diri Anya akan menolak mentah-mentah untuk putus dengannya. Nahas, Anya dengan ringannya menyetujui ajakan putus darinya yang tadinya tak berunsur serius itu.
"Kok lo, nggak mau gerak? Pergi ... ayo pergi!" Mendorong-dorong paksa tubuh Devano supaya berdiri dari sofanya.
"It's okay, Anya! Sebelum aku pergi, aku minta kejelasan dari kamu terlebih dahulu. Oke, tenang. Aku akan pergi! Tapi setelah kamu kasih tau alasannya ke aku, gimana? Aku cuma mau tau, kenapa kamu bersedia aku putusin, yang kita aja nggak pernah putus selama menjalin hubungan tiga tahun lamanya, Anya! Coba kamu jelasin! M-maaf, aku tadi terlanjur iseng mutusin kamu. Anya ... aku bener-bener cinta mati sama kamu, dan kamu tahu itu!" Devano begitu ingin tahu alasan yang tersirat dalam pikiran gadis itu.
"Van, lo itu aneh! Kita bahkan nggak pernah pacaran! Kenapa lo tiba-tiba minta putus? Haha, mulai setres nih anak. Lo mabuk, ya? Udah, Vanooo ... lo pulang dulu sana! Nanti malem kalo bisa, gue mau kok nongkrong sama temen-temen lo," ringis Anya.
Anya mengantarkan Devano ke luar sampai pintu utama. Devano yang terbengong sedari tadi saat mendengar ucapan dari Anya, kini mendadak menjadi panik gemetar kembali. Entah kenapa cowok itu tiba-tiba gugup saat Anya mulai menyentuhnya. Menurutnya, Anya benar-benar tidak beres hari ini.
"Aku bisa jalan sendiri. T-tolong jangan sentuh a-aku." Menepiskan pelan tangan Anya.
Tepat di depan pintu utama rumah Anya. Devano dengan perasaan campur aduk yang tak biasa menghampirinya itu, memberanikan diri untuk mengucapkan kata terakhir sebelum angkat kaki. "Anya, aku pamit dulu!"
"Iya, Devanoo ..., hati-hati. Nanti malem kalo nggak sibuk, gue hubungin lagi, ya? Oke?" teriak Anya menyemangati temannya itu.