Bagian 5 — Kenapa Aku Dilahirkan Seperti Ini?
Leo terdiam cukup lama di depan kaca kecil di kamarnya. Ia menatap pantulan wajahnya—mata yang semakin kosong, pipi yang makin tirus, rambut berantakan, dan lingkar hitam di bawah matanya yang makin kentara. Kadang, ia ingin tahu: apa sebenarnya yang salah dari dirinya?
“Kenapa aku dilahirkan seperti ini?”
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Muncul berulang, seperti gema di lorong gelap yang tak berujung. Makin dipikir, makin tak ada jawaban. Bukannya benci diri, tapi karena tak kunjung tahu kenapa hidup terasa seperti kutukan tanpa penjelasan.
Leo tahu dirinya bukan orang bodoh. Ia suka belajar, meski cuma dari buku pinjaman atau warnet satu jam. Ia masih punya rasa ingin tahu, meski jarang didengar. Ia juga punya keinginan berubah, meski selalu kalah oleh keadaan.
Setiap kali ia mencoba bangkit, ada saja yang meruntuhkan. Omelan ibu yang menusuk, sindiran kakak, kabar hutang keluarga, kabar lowongan kerja yang tak kunjung cocok. Semua jadi pagar rapat yang menutup langkah.
“Aku pengen kuliah.” “Aku pengen punya laptop.” “Aku pengen bisa beli kado buat ulang tahun temen.” “Tapi ya itu… semua cuma pengen.”
Leo berbaring menatap langit-langit. Angin malam masuk lewat jendela, menusuk dingin. Suara kendaraan di jalan raya terdengar jauh—mengingatkannya bahwa hidup orang lain terus berjalan cepat, sementara ia masih di titik yang sama, terjebak di ruang sempit bernama ‘rumah’.
Ia ingat, di usia remaja dulu, ia pernah menjadi santri di pesantren salaf. Ayahnya kerap menerima kabar tak enak dari tetangga—katanya Leo jarang ikut pengajian pagi, sering tidur saat pelajaran kitab. Meski kadang benar, Leo merasa… sejak itu, kepercayaan ayahnya hilang. Seolah kesalahan kecil itu jadi cap yang menempel di jidatnya selamanya.
“Apa aku salah?” “Apa aku nggak cukup nekat?” “Atau… aku memang terlalu takut gagal?”
Tak ada jawaban. Yang Leo tahu, hidupnya terasa seperti jalan panjang tanpa peta. Ia masih berjalan—meski tak tahu ke mana kaki ini sebenarnya melangkah.
---
Bagian 6 — Suara yang Tak Diucapkan
Leo duduk di beranda rumah. Sore makin redup, suara motor lewat pelan, anak-anak menendang bola di ujung gang sambil tertawa—tapi di d**a Leo, tak ada suara yang sanggup membangkitkan hatinya. Semua seperti tembok, menahan apa pun di dalam.
Pulpen di tangannya sudah hampir habis tinta. Di pangkuannya, buku catatan terbuka lebar. Halaman putih menatapnya balik—kosong, sama seperti isi kepalanya yang makin buntu tiap hari.
Ia ingin bicara. Banyak yang ingin ia keluarkan. Ingin bilang betapa lelahnya, betapa iri ia pada orang-orang yang bisa tertawa lepas tanpa merasa bersalah.
“Aku lelah.” “Aku iri sama mereka.” “Aku cuma pengen dimengerti.”
Tapi suara-suara itu tak pernah benar-benar terucap. Ia takut mulutnya malah bikin orang makin jauh. Jadi, Leo memilih diam—lagi, lagi, lagi. Diam jadi tameng paling aman.
Ibunya sering bilang Leo terlalu pendiam. ‘Anak laki kok diem aja’. ‘Laki-laki harus banyak gerak’. Semua itu terekam di kepalanya, tapi tak ada yang tahu betapa telinganya sudah lelah mendengar tanpa didengar balik.
Ia merasa seperti teriak di ruang hampa. Suara pecah di dalam, tapi tak pernah keluar. Orang-orang tetap bicara, tetap menuntut, tetap menasihati, tapi tak pernah benar-benar mau mendengar balasannya.
Ia ingin sekali saja bilang:
“Aku bukan pemalas.” “Aku cuma bingung.” “Aku bukan nggak punya arah.” “Aku cuma belum nemu jalannya.” “Aku bukan nggak peduli.” “Aku cuma takut kalau semua kata-kata ini malah nyakitin siapa-siapa.”
Malam makin gelap. Angin makin dingin. Leo menutup bukunya, tetap kosong. Ia masuk ke kamar, rebah di kasur tipis, menatap langit-langit yang retak di beberapa sisi.
Di sana, hanya hatinya yang bicara. Dan lagi-lagi… tak ada yang mendengar.
---
Bagian 7 — Ketika Harapan Jadi Beban
“Leo, kamu tuh harus jadi contoh buat adik-adikmu!”
Kalimat itu bukan cuma kalimat. Ia sudah jadi alarm yang membangunkan Leo tiap pagi, jadi beban yang membungkus pundaknya kemana pun pergi. Setiap orang di rumah bicara hal yang sama: Leo anak sulung, harus bisa diandalkan.
Tapi Leo sendiri bingung. Bagaimana mau jadi contoh kalau dirinya sendiri masih ragu? Bagaimana mau memimpin kalau hatinya masih nyasar?
Ia sering merasa seperti berdiri di atas kapal bocor yang makin tenggelam, tapi disuruh mendayung lebih cepat. Semua orang cuma lihat kepalanya yang masih muncul di permukaan, tak tahu di dalamnya hampir habis nafas.
Ayahnya mendesak Leo kerja secepatnya. Ibunya ingin Leo jadi lelaki dewasa. Tetangganya bilang sayang anak pinter tapi nganggur di rumah.
Semua nempel di punggung Leo. Beratnya bikin pundak seperti mau patah.
Ia sering ingin marah. Ingin teriak.
“Aku bukan mesin penghasil uang.” “Aku belum siap jadi panutan.” “Tolong biarkan aku tumbuh dulu, jangan paksa matang.”
Tapi lagi-lagi, kata-kata itu hanya numpang lewat di kepala. Terkubur di tenggorokan. Tidak pernah benar-benar keluar.
Setiap malam, Leo menatap langit-langit kamarnya yang pecah di beberapa sudut, bertanya dalam hati:
“Salahku di mana?” “Kenapa aku nggak boleh milih jalan hidup sendiri?” “Kenapa aku harus merasa bersalah hanya karena pengen tenang?”
Ia merasa bersalah saat senyum sendirian. Ia merasa bersalah kalau istirahat. Ia merasa bersalah hanya karena ingin merdeka.
Dan di ujung kepalanya, bisik kecil pun terdengar:
“Aku tidak ingin selalu memikirkan apa kata mereka.”
---
Bagian 8 — Aku Bukan Mereka
Di sela jeda, Leo suka memperhatikan hidup orang lain. Teman SMA yang sekarang posting foto di kantor, saudara yang motornya baru, atau orang-orang random di sosmed yang seolah jalannya lurus, mulus, bebas hambatan.
Mereka tampak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka punya arah, tujuan, rencana. Mereka seperti berkendara di jalan tol, lampu hijau semua. Sedangkan Leo? Ia masih tersesat di gang buntu tanpa lampu jalan.
Kadang rasa iri muncul. Tapi bukan iri karena mau jadi mereka. Leo cuma pengen tau rasanya punya arah.
Tapi kenyataannya…
Dia bukan mereka. Dan mereka bukan dia.
Orang-orang sering bandingkan dia dengan orang lain. “Lihat tuh si A udah kerja.” “Si B udah nikah, kamu kapan?”
Leo cuma tersenyum kecut. Dalam hati ia mau jawab:
“Aku bukan A. Aku bukan B. Aku cuma Leo.”
Dia nggak nolak berubah. Dia cuma belum tau gimana caranya melangkah tanpa ditarik ke belakang sama suara-suara di luar sana.
Bukan dia nggak mau mimpi. Bukan dia nggak mau jalan. Dia cuma lagi belajar berdiri.
Suatu saat nanti, Leo percaya dia bakal sampai juga ke tujuannya. Entah di mana, entah kapan. Yang penting dia nggak nyerah.
Ia hanya ingin dunia diam sebentar. Biar ia tarik nafas, biar ia rasain jadi dirinya sendiri. Tanpa bayangan siapa pun.
Ia yakin...
“Kalau belum bisa hari ini, mungkin besok. Aku yakin hari-hari yang aku impikan akan tiba pada waktunya.”
---