Jumat. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci kopi Kamis. Sepatu datar. Nasi. Mama radar. “Balas?” “Belum ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Iya altar?” “Tidak.” “Bagus. File. Pulang wajar. Malam teh atau rumah. Jangan altar. Mama jaga mata. Kau jaga kolom. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun.” Papa, “Jumat. File bersih. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Papa dengar teh. Papa tidak dengar cincin.” Ojek. Lobby. Satpam. Lift. Rekan serial gagal. File. Kopi pahit. Setiap ingin search gedung, gue cek tanggal dua kali. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Pantry lima suap, enam. “Udah makan?” “Udah. File. Malam teh Ibu. Bukan pidato.” “Siap. Saya diem kalau mau pidato. Ina ancam. Saya nunggu di rumah, bukan di stasiun.” Papa angguk dari jauh. Lunas hampir. Sore pulang wajar. Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya teh. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing.” Inara: “Malam ke sini. Ibu masak. Bukan sidang. Mas gue disuruh diem. Lo jangan kabur. Aldo charger. Jangan injek. Jangan pidato.”
Gue, “Nasi dulu. Datang. Pelan. Bukan paket. Bukan pidato.” Papa, “Teh boleh. Pidato jangan. Kasur. Jangan ngebut jadi menantu di meja makan orang. Pulang. Jangan stasiun.” Ganti baju rumah rapi, muka foyer, tas kecil, kue tidak, izin Mama, izin Papa. Ojek. Panas. Pagar Inara yang hafal. Napas. Bel. Jantung, bukan tiket. Teh. Teh butuh kursi, bukan altar. Masuk. Duduk. Cukup. Nyata. Bukan lari.
***
Malam rumah Inara. Bukan sidang. Bukan altar. Foyer yang hafal, sepatu ditanggalkan, tas kecil di kursi. Ibu teh, masakan, senyum yang dulu di Yogya, tidak katalog, tidak list undangan. Bapak koran, lalu turun, kacamata, muka yang tidak CV. Aldo sofa, charger, hi pendek. Mas Rillo berdiri terlalu lama di dekat meja, duduk waktu Ibu ketuk meja dua kali. “Duduk. Jangan jadi patung. Egita. Jumat. Bagus. Rillo cerita macet kemarin. Dia omong. Kamu makan. Ibu seneng. Ibu nggak minta gedung. Ibu minta kalian jangan diem. Kantor jauh kadang. Jangan stasiun. Jangan IGD yang salah. Ibu capek orang yang nunggu dari jauh.”
Gue duduk. Teh panas. Nasi. Lauk yang tidak ditimbang seperti Mama, tapi ditimbang dengan cara lain: perut ada isi, muka utuh, tidak packing, tidak ngebut, tidak list. Jari diam. Kepala diam. Cukup. “Iya, Bu. Aturan. Omong. Tahun ini makan. Bukan cincin. Saya jawab di Osaka, bukan karena kesepian. Saya datang ke sini, bukan karena kosong. Saya pulang ke rumah Mama dulu. Aturan.”
Ibu mengangguk, menuang teh lagi. “Bagus. Ibu dengar Osaka. Ibu dengar warung. Ibu dengar satu jam. Ibu tidak dengar packing. Ibu tidak dengar gedung. Lanjutkan yang itu. Jangan ngebut jadi menantu di meja Ibu. Jadi orang yang makan. Jadi orang yang omong. Cukup. Nyata. Bukan altar. Bukan stasiun. Bukan packing. Bukan IGD. Bukan gedung.”
Bapak menurunkan koran. “Cabut telinga, jangan cabut orang. Rillo, kamu dengar. Ina, jangan jadi WO. Aldo, charger jangan di meja makan. Egita, kamu dengar juga: kalau dia diem, kamu makan dulu. Jangan jadi korban di warung. Bapak capek altar. Bapak tidak capek hidup.”
Mas Rillo, “Siap, Pak. Saya omong. Saya nggak nyuruh nunggu lapar. Kamis saya macet, saya chat. Saya ke pagar. Saya nggak stasiun.” Inara galak pelan, sendok di piring, “Gue capek paket Nat. Gue seneng lo berdua di sini. Jangan nikah bulan depan. Gelang jangan dikasih balik. Jangan injek. Jangan pidato. Makan.” Aldo, “Hi. Makan. Gue setuju Ina. Jangan pidato.” Teh. Nasi. Tasyi layar sebentar, Om Iyoo, Tante Git, jepit wortel, lagu salah tiga kali. Mbak Nares dari belakang, “Jangan ngebut.” Dhafin angguk. Ibu selipin kue ke tas gue, bukan katalog. Satu jam. Tidak list. Tidak foto prewed. Burung. Anjing tetangga. Hidup.
Gue nengok. Dua rumah. Satu aturan. Omong. Jangan stasiun. Jangan IGD. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan cincin. Bukan paket. Bukan list. Inara ngejek pelan, “Muka lo utuh. Bagus. Jangan kabur ke ojek sebelum kue. Jangan injek. Jangan pidato.” Gue makan kue. Manis. Bukan roti gosong. Bukan nasi goreng warung. Bukan yogurt rekan. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti.
Di pagar, ojek menunggu, cium punggung tangan, kikuk, izin Ibu, izin Bapak, izin Inara yang sudah di sofa. “Udah makan?” “Udah. Nasi Ibu. Kue. Rumah nanti sedikit. Mama nunggu perut.” “Saya pulang. Audit sisa. Selamat malam. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong.” Chat Mama: “Pulang. Udah nasi. Jangan khawatir stasiun. Ojek. Bukan packing.” “Bagus. Kasur. Jangan ngebut. Papa dengar teh. Papa tidak dengar altar.”
Kamar. Gaun tertutup. Tas kerja di kursi. Kue Ibu di meja, bukan di altar. Diary di kepala, bukan kertas: Jumat. Dua rumah. Teh. Nasi Ibu. Bukan pidato. Dua keluarga, satu aturan. Omong. Jangan stasiun. Jangan IGD. Tahun ini makan. Kavin tidak chat. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Chat malam. Udah makan. Kue Ibu. Bukan cincin. Bukan packing.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kantor Senin. Kasur. Mama puas kamu pulang, bukan packing. Mama dengar dua rumah. Mama tidak dengar gedung. Mama dengar perut.” Pintu. Gue miring. Ponsel terbalik. File ditutup. Ojek pulang. Ibu selipin kue. Bapak cabut telinga, jangan cabut orang. Inara cabut ancaman gelang. Aldo hi. Mas Rillo izin pagar. Papa kasur. Gue tidak packing. Gue tidak ngebut. Gue tidak minta jalan tol. Gue tidak buka katalog. Tidur sebelum teh jadi tunangan, sebelum kue Ibu jadi altar, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum Jumat jadi rundown. Cukup. Kasur. Aus. Bukan berhenti. Jumat lunas dua rumah. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Nyata. Cukup. Hidup. Pulang. Bukan lari.