Kamis. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci video. Sepatu datar. Nasi. Mama radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Stasiun?” “Tidak. Saya di sini.” “Bagus. Angka. Pulang wajar. Kalau dia pulang sore, pagar malam, kopi, bukan pidato. Mama cabut wifi kalau jari gatal cincin. Mama cabut katalog kalau jari gatal mall jadi altar.” Papa, “File. Muka boleh lelah. Angka jangan. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan muka ditinggal. Papa dengar kereta. Papa tidak dengar diam-diam.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap. Ojek. Lobby. File. Kopi pahit. Jam sepuluh: “Udah makan? File saya hampir. Sore kereta. Macet, saya omong. Jangan nunggu lapar.” Pantry lima suap, enam. “Udah. File. Saya nggak ke stasiun. Rumah. Nasi. Kalau Mas bisa, pagar, izin Mama, tiga puluh menit.” “Siap. Tangan kosong.” Papa angguk. Siang angka. Sore pulang wajar. Rumah, Mama perut. “Makan. Baru orangnya. Mama tidak tanya kereta. Mama tanya perut.” Nasi. Chat: “Sampai. Macet kecil. Omong. Jam delapan pagar.” “Siap. Kopi. Bukan pidato. Saya udah makan.”
Jam delapan bel. Ia basah keringat, muka lelah, tangan kosong, bukan bunga, bukan roti, bukan cincin. “Maaf. Kereta. Saya omong. Saya nggak turun diam-diam. Saya nggak nyuruh kamu nunggu di stasiun. Terima kasih udah makan dulu. Siapa di mobil ojek: saya.” Papa persilakan duduk tiga puluh menit. Kopi, gula terpisah, bukan sidang. Tidak CV. Mama dari dapur, telinga nyala, tidak menyerbu.
“Besok angka. Jangan ngebut file sampai lupa orang di kereta,” kata Papa pelan. “Nengok yang telat lebih baik daripada nunggu yang diem. Papa capek altar. Papa tidak capek hidup. Sabtu boleh jalan. Mall boleh. Cincin jangan. Papa dengar gelang dulu. Papa tidak dengar upgrade.”
“Siap, Pak. Saya dengar. Saya omong. Tahun ini makan, bukan gedung. Mall jalan. Bukan toko cincin.”
Mama tupperware. “Malam. Dua-duanya. Jangan telat makan.” Di pagar, angin, anjing, kelingking konyol. “Ini jarak kecil. Kita omong. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan blokir.” “Bukan IGD. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Sabtu, mall. Jalan. Bukan cincin.” Gue tutup pagar. Dada penuh. Bukan sesak. Lulus satu malam. Bukan lulus kawin.
***
Jumat file, pantry, pulang wajar, nasi Mama, tidak ada serial yang lolos. Rekan gagal amplop. Inara: “Besok mall. Jalan. Jangan toko. Nat tidur. Saka pendek. Lo berdua jangan injek. Gue ngejek dari jauh.” Malam chat: “Udah makan. Selamat malam. Sabtu jalan. Bukan altar.” “Siap. Janji, bukan tagihan.” Tidur.
Sabtu subuh Mama sudah di dapur. Nasi. Teh. Radar. “Hari ini kamu tidak packing. Tidak gedung. Tidak blokir karena Rabu. Nasi. Jalan. Bukan cincin. Mama cabut wifi kalau jari gatal toko. Mama cabut katalog kalau jari gatal altar.” Gue duduk, nasi, hampir tertawa, lalu tidak. “Ma, saya hidup. Talenan. Rabu video. Kamis pagar. Saya nggak stasiun. Saya nggak packing. Mall jalan. Bukan toko.”
“Bagus. Mama dengar dulu, Mama percaya belakangan. Makan. Mama tidak tanya Kavin. Mama tanya perut.” Papa koran, “Sabtu. Rumah. Jalan boleh. Kantor jangan. Kasur. Hidup. Jangan kabur. Jangan ngebut jadi orang yang upgrade gelang jadi cincin di depan etalase.” Gue bantu talenan, wortel, bawang, plester tidak terpakai. Chat: “Udah makan. Siang mall. Jalan. Tangan kosong. Bukan toko.” “Siap. Saya izin. Udah makan juga. Macet, saya omong.”
Siang mall yang hafal, AC berlebih, lampu, orang, etalase yang dulu pernah jadi gelang. Bau parfum toko. Musik yang sama. Gue berdiri sebentar di depan etalase yang bukan toko cincin, lalu jalan. Ia tidak menarik tangan ke arah emas. Gue tidak masuk. Aturan Papa: mall boleh, cincin jangan. Aturan gue: jalan, bukan tiket.
Mereka beli es teh, duduk di kursi yang bukan altar, tas di pangkuan, bukan katalog. Omong file, Saka yang pulang, Tasyi yang salah lirik, Rabu yang lulus, amplop orang yang bukan milik mereka, kereta yang sudah pulang. Tidak list. Tidak foto prewed. Tidak pidato. Orang lewat. Hidup orang lain. Bukan rundown gue.
“Takut jenuh versi etalase?” tanya gue, es teh basah di jari.
“Takut. Makanya saya nggak masuk. Maaf chat gampang. Jalan lebih susah. Saya pilih yang susah. Saya bukan Kavin versi mall. Saya nengok. Saya omong. Saya nggak upgrade. Gelang dulu cukup. Tahun ini makan. Bukan gedung. Kalau suatu hari saya mau masuk, saya nanya dulu. Bukan diam-diam. Bukan kejutan di meja.”
“Siap. Kalau saya gatal, saya omong. Jangan Osaka diam-diam. Jangan packing. Saya nanya udah makan. Mas nanya saya masih di mobil atau nggak. Mall ini jalan. Bukan tiket. Bukan toko. Bukan altar.” Gue nengok. Muka lelah yang kemarin di kereta, hari ini di kursi mall, nyata. Cukup. Aus. Bukan berhenti.
Kelingking konyol di antara orang yang tidak peduli. Ia menyambut. Bukan cincin. Bukan paket. Pulang masing-masing, aturan. Sore rumah Nat sebentar, Saka, buah, bukan pesta. Kavin kirim ke grup besar, bukan ke gue: foto Saka yang sama, Mayang di pinggir. Gue menunggu denyut. Tidak ada. “Selamat. Makan.” Nengok: jeruk, nyata. Inara tepuk bahu. “Nyariin siapa?” “Nggak ada. Udah di sini.” Tidak bohong.
Malam rumah, nasi, Papa ajak duduk, bukan sidang. “Rabu kamu di rumah. Kamis pagar. Sabtu jalan. Papa dengar muka. Bagus. Kantor Senin. Jangan ngebut jadi istri. Jadi orang yang nengok. Papa capek altar. Papa tidak capek hidup. Papa dengar etalase. Papa tidak dengar cincin. Lanjutkan yang itu.” Mama kue, teh. “Gaun di lemari. Nanti. Jangan dijual marah. Jangan dipakai ngebut. Mama senang kamu pulang ke sini. Mama senang perut ada isi. Makan kue.” Gue suap. Manis. Hidup. Bukan altar. Bukan tol.
Bel pagar. Tiga puluh menit, teh, tangan kosong. “Udah makan?” “Udah. Nasi. Mall. Jeruk. Grup. Nggak berdenyut.” “Bagus. Ina ngejek. Saya kalahin pelan.” Papa angguk. Mama isi teh. Saka disebut pelan, bukan alasan kawin. Mall disebut pelan, bukan toko.
Di pagar, angin, anjing. “Kalau macet minggu depan, omong. Jangan IGD. Jangan stasiun. Jangan mall diam-diam jadi toko. Jangan chat maaf doang. Makan dulu. Nyusul belakangan. Aturan.”
“Siap. Kalau kamu jenuh, omong. Jangan Osaka diam-diam. Jangan packing. Saya nanya udah makan. Kamu nanya saya masih di mobil atau nggak. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan cincin. Bukan list. Mall jalan. Bukan tiket.”
“Siap. Minggu nasi. Senin angka. Jangan ngebut. Termasuk Sabtu ini. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong.” Kelingking. Konyol. Aturan. Tidak cium lama. Izin. Ia pergi.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Tas kerja. Pesan: “Selamat malam, Git. Besok saya nanya lagi. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, saya omong. Tidur. Jangan ngebut. Minggu nasi.” Gue miring ke dinding. Tidak bersembunyi. Tidak ngebut. Tidak minta jalan tol. Tidak buka katalog. Gue tidur sebelum tahun depan jadi altar, sebelum Saka jadi alasan, sebelum mall jadi toko, sebelum satu malam jadi luka ditutup paksa, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Siapa di mobil sudah ditanya. Masih. Sabtu lunas jalan dan nasi. Dada belum sombong. Gue ulang: tahun ini makan, omong kalau macet, nengok, bukan nunggu dari jauh, mall bukan cincin. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Hidup. Pulang. Kasur. Bukan lari. Bukan tol. Bukan packing. Besok nasi. Besok nanya sudah makan. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil masih.