Sabtu. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci teh Jumat. Sepatu rumah. Mama sudah di dapur sebelum gue turun, seolah Jumat belum cukup. Nasi. Teh. Radar. “Hari ini kamu tidak packing. Tidak gedung. Tidak blokir karena layar. Tidak skip karena file. Nasi. Bayi. Jalan kalau perlu, bukan toko. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun. Mama cabut katalog kalau jari gatal altar. Mama tanya perut, bukan grup, bukan etalase.”
Gue duduk, nasi, hampir tertawa, lalu tidak. “Ma, saya hidup. Talenan. Jumat teh. Selasa hampir, tidak. Senin hampir skip, tidak. Saya nggak stasiun. Saya nggak packing. Saya nggak buka katalog.”
“Bagus. Mama dengar dulu, Mama percaya belakangan. Makan. Mama tidak tanya Kavin. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke rumah Nat sampai malam, atau ke mall cari yang kemarin tidak dibeli.” Papa koran, tanpa menoleh, “Sabtu. Rumah. Sakit boleh. Kantor jangan. Kasur. Hidup. Jangan kabur. Jangan ngebut jadi bibi bayi sampai lupa anak yang pulang. Papa dengar dua meja. Papa tidak dengar cincin. Papa dengar hampir. Papa tidak dengar buka. Lanjutkan yang itu.” Gue bantu talenan, wortel, bawang, plester cadangan tidak terpakai, air mata sah. Mama tidak tertipu, tidak mengungkit gaun, tidak mengungkit Saka sebagai altar. Chat: “Udah makan. Siang rumah Nat. Buah. Bukan pidato. Jangan jemput pagi.” “Siap. Saya izin. Saya datang. Udah makan juga. Macet, saya omong.” Cukup. Nyata. Bukan lari. Bukan tol.
Siang rumah Nat, kecil, Saka, Nat lebih manusia, Fikar lebih bodoh bahagia, kursi sama, TV kecil, bukan pesta. Bergiliran. Gue ganti kain, buang sampah, dengar makian sayang, isi botol, cuci tangan, bukan packing. Orangtua Nat angguk dari kursi, tidak sidang, tidak list. Mas Rillo datang siang, izin, buah, duduk di ambang, hormat, hadir, tidak menyerbu. Bagas, “Plot gue dibuang.” “Nasi.” Khalil lempar tisu. Alan rekam tiga detik, dihentikan Windy. Marsya plastik. Inara, “Nyariin siapa?” “Udah di sini.” “Bagus. Jangan bohong. Jangan ngebut jadi bibi sampai lupa perut. Jangan bawa muka search.” Gue tertawa dari perut. Tidak mencari parkiran. Tidak mencari lobi apotek. Tidak mencari denyut di grup. Orang itu sudah di ambang, jeruk, jari basah, nyata. “Udah makan?” bisiknya. “Udah. Nasi Mama. Roti tas nanti.” Nat, “Lo makan. Gue yang di rumah. Saka pendek. Fikar bodoh. Hidup. Jangan WO.” Gue makan roti tas. Fikar, “Saka. Pendek. Gue bahagia. Jangan pidato. Jangan WO.” Hidup orang. Lebih baik daripada gedung gue. Lebih baik daripada stasiun.
Sore Kavin kirim ke grup besar, bukan ke gue: foto Saka yang sama, dua gelas di meja jauh, Mayang di pinggir bingkai, senyum yang tidak gue cari. Gue menunggu denyut, mencari sakit, mencari cemburu, mencari alasan buka laci marah, mencari alasan search yang Selasa tidak gue izinkan. Tidak ada. Jari diam. Kepala diam. “Selamat. Makan.” Satu kata cukup. Nengok samping: Mas Rillo mengupas jeruk, jari basah, nyata. Berdenyut di situ. Mayang bukan musuh. Kavin bukan hantu. Hafalan punya tempat. Bukan laci marah. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan search. Inara tepuk bahu. “Nyariin siapa?” “Nggak ada. Udah di sini. Jeruk. Bukan parkiran. Bukan layar.” Gue tidak bohong. Cukup. Nyata. Bukan tol. Bukan packing. Bukan altar.
***
Malam rumah, nasi, Papa ajak duduk di ruang tamu, bukan sidang, koran sudah turun, kacamata di meja. “Senin kamu hampir skip. Selasa hampir search. Jumat teh. Sabtu bayi. Papa dengar muka. Bagus. Kantor Senin. Jangan ngebut jadi istri. Jadi orang yang nengok. Papa capek altar. Papa tidak capek hidup. Papa dengar jeruk. Papa dengar grup. Papa tidak dengar perang. Papa dengar hampir. Papa tidak dengar buka. Lanjutkan yang itu. Mall jalan. Bukan toko. Tahun ini makan.”
Mama kue, teh, piring kedua. “Gaun di lemari. Nanti. Jangan dijual marah. Jangan dipakai ngebut. Mama senang kamu pulang ke sini, bukan ke apartemen lama yang sepi. Mama senang perut ada isi. Mama dengar warung. Mama dengar dua meja. Mama dengar hampir. Bagus. Makan kue. Mama cabut katalog kalau jari gatal. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun.” Gue suap. Manis. Bukan roti gosong. Papa angguk. Hidup. Bukan altar. Bukan tol. Bukan packing.
Bel pagar. Jantung naik, bukan tiket. Tiga puluh menit, teh, bukan pidato, tangan kosong, bukan bunga, bukan roti, bukan kotak. “Udah makan?” “Udah. Nasi. Jeruk. Grup. Nggak berdenyut. Satu kata: makan. Layar kemarin tidak saya buka. Hari ini juga tidak.” “Bagus. Ina ngejek. Saya kalahin pelan. Saya nggak pidato. Saya nengok.” Papa angguk dari kursi, tidak pidato. Mama isi teh, gula terpisah. Saka disebut pelan, bukan sebagai alasan kawin, bukan sebagai altar. Tasyi disebut pelan, jepit wortel, bukan paket. Mall disebut pelan, bukan toko. Cukup. Nyata.
Di pagar, angin, anjing tetangga, lampu rumah. “Kalau macet minggu depan, omong. Jangan IGD. Jangan stasiun. Jangan Yogya diam-diam. Jangan mall diam-diam jadi toko. Jangan chat maaf doang. Jangan skip. Jangan search. Makan dulu. Nyusul belakangan. Aturan.”
“Siap. Kalau kamu jenuh, omong. Jangan Osaka diam-diam. Jangan packing. Saya nanya udah makan. Kamu nanya saya masih di mobil atau nggak. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan cincin. Bukan list. Mall jalan. Bukan tiket.”
“Siap. Minggu nasi. Senin angka. Jangan ngebut. Termasuk Sabtu ini. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong.” Kelingking. Konyol. Aturan. Tidak cium lama. Izin Mama lewat gue. Ia pergi sebelum ngebut.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Tas kerja di sudut. Kue Ibu sudah habis. Pesan: “Selamat malam, Git. Besok saya nanya lagi. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, saya omong. Tidur. Jangan ngebut. Minggu nasi. Jangan search. Jangan skip.” Gue miring ke dinding. Tidak bersembunyi. Tidak ngebut. Tidak minta jalan tol. Tidak buka katalog. Gue tidur sebelum tahun depan jadi altar, sebelum Saka jadi alasan, sebelum mall jadi toko, sebelum hampir jadi luka ditutup paksa, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum jeruk jadi tiket. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Siapa di mobil sudah ditanya. Masih. Sabtu lunas bayi dan nasi. Dada belum sombong. Gue ulang: tahun ini makan, omong kalau macet, nengok, bukan nunggu dari jauh, jangan skip, jangan search, mall bukan cincin. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Hidup. Pulang. Kasur. Bukan lari. Bukan tol. Bukan packing. Besok nasi. Besok nanya sudah makan. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil masih.