Aseng memanggilnya bukan di pool, melainkan di kantor belakang bengkel, ruangan sempit berbau oli dan rokok kretek yang asapnya menggantung di bawah lampu neon yang separuh mati. Bayu sudah belajar membaca tempat seperti membaca jalan. Dipanggil ke ruang tertutup berarti satu dari dua hal: kau akan dipromosikan, atau kau tidak akan keluar dengan kedua kaki. Ia masuk dengan langkah sopir lelah yang sudah selesai sift, lap minyak masih terselip di saku, dan duduk di kursi plastik di depan meja tanpa diminta dua kali.
Aseng tidak basa-basi lama. Ia mendorong segelas kopi yang sudah dingin ke arah Bayu, lalu bicara sambil menatap kuku-kukunya sendiri, kebiasaan orang yang tidak suka menatap mata saat menyampaikan hal penting. Pool kekurangan orang yang bisa berpikir, katanya. Sopir banyak, tapi yang bisa mengatur sopir tidak ada. Pak Tan minta orang yang tahu jalan, tahu pos mana yang bisa diatur jam berapa, tahu truk mana cocok lewat jalur mana tanpa nyangkut di lumpur dan tanpa nyangkut di mata yang salah. Aseng menyebut nama itu, Pak Tan, dengan nada yang sedikit menurun, seperti orang menyebut atasan yang tak pernah ia lihat tapi selalu ia takuti.
Koordinator rute, kata Aseng akhirnya. Kau yang atur truk mana bawa apa, lewat mana, jam berapa. Upah naik tiga kali. Tapi tanggung jawab juga naik. Kalau ada yang nyangkut, kau yang jelaskan ke atas.
Bayu tahu persis apa artinya. Ini bukan kenaikan pangkat sopir biasa. Ini lompatan yang Mira gambarkan berbulan-bulan lalu di rumah aman, lompatan ke dalam dispatch, ke ruang tempat keputusan dibuat, tempat ia akhirnya bisa melihat pola dari atas alih-alih dari kursi kemudi paling bawah. Inilah pintu yang sejak awal mereka incar. Dan inilah pintu yang, begitu ia lewati, membuatnya berhenti sekadar mengangkut. Sebab koordinator rute tidak hanya mengatur truk berisi kayu dan solar. Ia juga mengatur truk berisi orang.
Ia membiarkan jeda yang wajar, jeda sopir yang sedang menghitung untung dan capek, bukan jeda mata-mata yang sedang menimbang dosa. Lalu ia mengangguk pelan dan bertanya soal hal-hal kecil, soal apakah upah dipotong di muka, soal apakah ia masih harus ikut nyetir kalau kurang orang. Pertanyaan-pertanyaan orang yang menerima karena butuh uang, bukan karena haus naik. Aseng menjawab seadanya, lega karena tak perlu memaksa. Mereka berjabat tangan, tangan Aseng dingin dan agak gemetar, dan Bayu keluar dari ruangan itu sebagai orang yang baru saja menyetujui untuk ikut menggerakkan nyawa.
Malam itu di kamar kontrakannya yang sempit, di bawah lampu lima watt dan suara hujan yang menderu di seng, ia menyusun daftar muatan pertamanya sebagai koordinator. Aseng memberinya buku catatan lusuh, kolom-kolom dengan kode-kode yang harus ia pelajari. Sebagian kode untuk barang. Solar dalam jeriken yang dilaporkan sebagai air. Rokok tanpa cukai. Suku cadang gelap. Tapi ada satu kolom dengan kode yang berbeda, kode yang Aseng jelaskan dengan setengah berbisik tadi sore, dan Bayu menatap kolom itu lama-lama. Angka di kolom itu bukan ton, bukan liter. Angka di kolom itu adalah kepala. Berapa orang. Dari mana. Lewat dermaga mana. Diserahkan ke siapa.
Ia duduk dengan pena di tangan, dan untuk waktu yang lama ia tidak menulis apa-apa. Di luar, hujan turun seperti selalu, dan jalan lintas yang basah berkilat di bawah satu lampu jalan yang menyala lemah di kejauhan. Ia memikirkan aset yang masih ditahan di gudang tepi sungai itu, sosok dengan luka kering di pelipis yang mengangkat kepala saat truknya lewat. Ia memikirkan deretan orang duduk di lantai gudang dalam kegelapan. Dan kini ia memegang pena yang akan menentukan truk mana mengangkut deretan seperti itu, lewat jalan mana, agar tiba dengan selamat di tangan yang menyimpan mereka.
Mira pernah memperingatkannya tentang ini. Akan ada hari, kata Mira, ketika kau harus melakukan hal yang membuatmu mual, dan satu-satunya cara membenarkannya adalah dengan mengingat kenapa kau di sana. Tapi Mira tidak pernah bilang betapa mudahnya. Itulah yang membuat Bayu mual, bukan kesulitannya, melainkan kemudahannya. Ia mulai menulis. Kolom demi kolom terisi dengan tulisan tangan sopir yang rapi dan cepat. Ia mengatur truk berkode itu ke jalur yang paling kering malam itu, ke pos yang jaganya paling bisa diatur, ke jam ketika lalu lintas paling sepi. Ia melakukannya dengan tepat, dengan efisien, dengan kecakapan seseorang yang memang lahir untuk membaca jalan. Dan ia membencinya, karena daftar itu rapi, dan rapi berarti orang-orang di kolom kepala itu akan sampai dengan selamat ke tempat mereka ditahan.
Ia menyelesaikan daftar menjelang pukul tiga, menutup buku catatan, dan duduk diam mendengar hujan. Ia berpikir tentang Reno di parit, tentang nama yang ia serahkan untuk bertahan hidup. Ia berpikir bahwa setiap langkah lebih dalam ke jaringan ini selalu menuntut harga yang sama: sepotong dari dirinya yang ditukar dengan sepotong informasi. Malam ini ia menukar tangannya. Besok ia akan mengirim Mira kabar bahwa ia sudah masuk dispatch, bahwa pintu sudah terbuka, bahwa ia kini bisa melihat ke mana semua truk itu pergi. Ia akan menulis kabar itu dengan kebanggaan dingin seorang aset yang sukses. Dan ia tidak akan menulis bahwa, untuk mendapatkannya, ia baru saja menjadi orang yang mengirim manusia ke tepi sungai cokelat dengan tangannya sendiri, dan melakukannya dengan baik.