Di tengah perbincangan kami tentang bayi yang menangis, aku melihat seseorang masuk ke dapur Nyai. Sosoknya tampak tidak asing. Aku cukup mengenal bagaimana tubuh itu meskipun tidak terlihat dengan jelas karena sosok itu berlalu begitu aku melihat ke arahnya. Sementara itu, mereka berempat masih asyik mempeributkan masalah kaleng Kong Guan yang berisi rempeyek milik Teh Kinar. Tiba-tiba, Nia menepuk pundak. Aku menoleh begitu merasakan tangannya menyentuh pundakku.
“Kunaon ari kamu teh, Gis?”
Begitu yang Nia ucapkan begitu aku menengok ke arahnya. Sementara itu, aku hanya menggeleng. Semua mata tertuju padaku. Kemudian, aku bertanya pada Nia, “Abah udah pulang ya?”
Aku ingat bahwa tadi malam, selepas bayi itu dibawa pulang kembali ke rumahnya, Abah berpamitan pada Nyai untuk pergi ke