Satu pekan sudah. Apa yang kulihat hari itu kenyataannya bukan Abah. Entah aku yang terlalu banyak halusinasi, atau memang aku ada ‘orang lain' yang meminjam sosok Abah untuk menampakkan diri. Malam itu, Nyai membuat mereka berhenti membayang bayangiku. Terhitung sudah kedua kalinya, darah keluar dari hidung. Setiap kali aku melihat sesuatu yang janggal, darah segar itu keluar, lalu aku tak sadarkan diri.
Tadi malam, aku melihat seorang anak kecil. Anak laki-laki. Mengenakan kaus berwarna merah hati, dengan sesuatu di tangannya. Aku tidak tahu apa itu. Untuk kali pertamanya, aku baru tahu kalau ada anak kecil seumuran dia di kampung ini. Atau mungkin, sama seperti bayi itu, dia adalah anak kecil yang baru saja datang dari luar kota. Kami berpapasan. Dia tersenyum dan melambaikan tanganny