Dengan senyuman yang kini terhias di wajahnya, Enjang melangkah keluar rumah dengan sebuah kresek hitam di tangan. Tanpa ba bi bu lagi, setelah ia banyak adu argumen dengan wanita yang telah melahirkannya dan ia mendapatkan apa yang ia ingini, akhirnya ia bisa pulang dengan tenang. Benar, pulang dengan tenang.
“Ngendong weh atuh, Jang. Geus peuting, jalanan pararoek.”
“Menginap saja, Jang. Sudah malam, jalanannya sudah gelap.”
Mau bagaimana pun, mau sedewasa apapun, anak hanyalah anak di mata ibunya. Yang terlihat bukanlah seorang lelaki bertubuh besar. Di mata seorang Ibu, tetaplah terlihat seperti anak lelaki kecil yang sering ia suapin sambil berlari-lari. Begitu pun Enjang. Meskipun sakit hati sudah tertanam di d**a Nyai karena perkataan perkataan lelaki itu beberapa waktu lalu, Ny