Wanita itu terbilang terlihat lebih muda dibanding usianya sekarang. Tidak banyak bicara, tapi banyak ditakuti. Bukan takut sebenarnya, hanya bentuk hormat dari semua orang di kampung ini. Seperti seseorang yang dituakan. Namanya Euis Kinanti, Nyai Euis Kinanti. Tidak banyak yang tahu nama asli perempuan itu. Yang mereka tahu hanyalah Nyai. Termasuk gadis remaja yang ikut tinggal bersama nya di kampung tersebut.
Katanya, jangan sekali sekali membuatnya sakit hati. Apalagi sampai ia meneteskan air mata. Ia sudah banyak melewati pahitnya hidup. Perjalanan hidupnya begitu panjang.
Nyai, saat itu adalah gadis berusia enam tahun. Gemar membaca dan di bilang lebih pintar dibanding anak seusianya. Jika matahari sudah terbit, Nyai akan mengelap bangku bangku di rumahnya agar tidak berdebu. Ia