“Kamu serius, Gis, mau ngelakuin ini?”
Malam ini kami tidur lagi di ranjang yang sama seperti malam malam sebelumnya. Kembali menatapi lampu bohlam berwarna merah yang redup dan bergoyang goyang seolah ada yang sedang memainkannya di atas sana. Sementara itu, kelambu yang berwarna putih ke abuan, menutupi lampu sehingga tidak langsung menirpa wajah wajah lelah kami seharian. Setelah membicarakan hal itu pada Nia, aku bermaksud untuk menerima tawaran Abah. Sebenarnya bukan sebuah tawaran, tapi sebuah permintaan tolong yang bisa saja kutolak jika memang aku tidak punya hati sebagai teman.
“Engga ada pilihan lain, Nia. Cuma aku yang dijadikan harapan sama orang tuanya Dita.”
Aku telah memutuskan bahwa apapun yang terjadi nantinya, aku percaya masih ada Tuhan yang akan melindungiku.
“Tap