Agis?
Aku mengerjapkan mata setelah silau menerpa wajahku. Kepalaku terasa berputar, tepat setelah adegan demi adegan berebutan mengambil tempat melintas di benakku seperti film yang diputar ulang. Aku ingat bagaimana bendera kuning berkibar di depan rumah, tangisan-tangisan mereka yang sebenarnya tidak sebanding dengan luka dan kehilangan yang aku rasakan, bayanganku begitu Nyai datang dan memelukku, mengelus rambut, dan berkata agar aku mengikutinya saja ke Kampung, lalu tentang bagaimana akhirnya aku mengikutinya untuk masuk ke dalam lingkaran tak berujung ini. Aku ingat bagaimana anak di stasiun kereta api itu meloncat ketika kereta api lewat di perlintasan, aku juga ingat perempuan bergaun merah yang tergantung di atas pepohonan saat kami mulai memasuki Hutan Penelitian dengan mobil