Karin menatap sendu tangannya yang sudah berlumuran darah, dia tidak sengaja tertusuk pecahan kaca saat sedang membersihkannya.
Itu semua karena Adam, pria itu membanting piring hingga pecah untuk melampiaskan kekesalannya saat kalah bermain game. Adam memang sudah meminta maaf padanya, tapi seperti biasa.
Pria itu langsung melengos pergi dari rumah, tanpa berniat membantunya membersihkan pecahan kaca itu.
Bukan sekali dua kali seperti ini, tapi tidak apa-apa, toh membersihkan rumah juga tugasnya. Suaminya sudah lelah dan bersusah payah mencari nafkah untuknya juga.
"Akh." Karin meringis karena merasakan perih di jarinya. Dia baru selesai membasuh lukanya dengan air, sekarang dia sedang mengoleskan obat dan membungkus jarinya dengan plester untuk menghentikan pendarahan.
Matanya melirik ke arah baju kotor yang menumpuk di pojok kamarnya.
"Hah, ternyata menjadi ibu rumah tangga sangat sulit, ada saja yang harus dikerjakan." Keluh wanita itu, dia segera berdiri kemudian mengambil baju-baju kotor itu dan membawanya ke belakang.
Karin baru saja selesai mencuci baju, tugas selanjutnya adalah menjemur baju di luar.
Saat dia selesai menjemur.
"Karin." Terdengar suara seseorang yang memanggilnya. Karin kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari keberadaan orang yang memanggilnya.
"Hoi." Diana menyentuh pundak sahabatnya.
"Astaga, jangan mengagetkanku." Omel Karin yang kemudian berbalik arah dan menatap tajam sahabatnya.
"Ini untuk mu." Ucap Diana kemudian menyerahkan sebuah box yang entahlah isinya apa.
Sebelum menerima kotak itu, Karin mengelapkan tangannya yang basah pada dasternya
"Terimakasih, ini apa?" Tanya Karin penasaran kemudian menciumi box itu.
Diana tanpa berbicara apapun langsung menyeret wanita itu masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu yang bisa di katakan sempit, Diana mengeluarkan sebuah plastik dari dalam tasnya.
"Seperti biasa." Ucapnya kemudian menyerahkan kantong plastik itu kepada Karin, yang di terima baik oleh wanita itu.
"Aku buka ya." Ujar Karin tidak sabar, dia segera meraih penutup box itu, dan ternyata itu kue.
Matanya membulat seketika. Dia langsung melirik ke arah Diana.
Sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka 27 di atasnya. Karin bahkan tidak menyadari bahwa hari ini adalah ulang tahunnya.
"Selamat menua sahabatku." Ujar Diana memeluk sebentar tubuh Karin, dia kemudian menyalakan lilin yang berada di atas kue. Menyuruh sang sahabat untuk berdoa.
Karin mulai memejamkan matanya, seperti biasa, dia berdoa untuk kebahagiaan dan keberkahan dalam rumah tangganya.
Setelah selesai berdoa, Karin membuka matanya dan langsung meniup lilin di depannya.
"Terimakasih." Ucap Karin dengan mata yang sudah berlinang air mata. Dia mengusap air matanya dengan tangan, hingga Diana menyadari sesuatu.
"Tanganmu kenapa?" Tanya Diana penasaran.
Belum sempat Karin menyembunyikan tangan nya, Diana dengan cepat meraihnya. Melihat dengan seksama tangan itu. Selama dia menjadi sahabat Karin, belum pernah dia melihat sahabatnya itu terluka.
"Itu, emm."
"Apa ini ulah Adam?" tuduh Diana dengan wajah yang sudah mengeras, emosinya mulai terpancing, bukan sekali ini dia melihat sahabatnya terluka.
Bukannya berlebihan, tapi Karin terlihat tidak terurus setelah menikah dengan Adam. Tapi wanita itu selalu menyangkal tuduhan nya dan selalu mengatakan suaminya adalah pria yang baik.
"Jangan mengelak lagi Rin, jawab, ini ulah Adam kan." Sentak Diana, wanita itu menatap tajam ke arah Karin.
Karin yang tadinya ingin membela Adam kini kembali bungkam, wanita itu memilih untuk menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap langsung ke arah Diana. Entah kenapa wanita itu terlihat begitu mengerikan saat ini.
Diana hanya bisa menghela nafasnya sejenak. Dia kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ini.
Dia sedikit meringis melihat keadaan rumah sang sahabat. Seorang Karin, tinggal di rumah kecil yang bisa di katakan sangat kecil baginya karena jujur saja kamarnya lebih besar jika di bandingkan ruang tamu dan dapur milik sahabatnya.
Krukk...
Di tengah keheningan, terdengar suara khas dari perut yang tengah lapar.
Karin segera meremas perutnya. Berharap suara itu tidak lagi keluar. Dia hanya malu kepada sahabatnya.
"Kamu lapar?" Tanya Diana yang seharusnya tidak di tanyakan. Jelas saja Karin kelaparan, wanita itu bahkan belum makan dari sore kemarin. Alasannya, makanan mereka habis karena di makan oleh Adam.
Pria itu terkadang masih egois dan tidak memikirkan keadaan istrinya. Karin yang ingin protes hanya bisa diam karena Adam selalu saja mengatakan jika dia bekerja terlalu keras dan membutuhkan banyak makanan.
"Sudah ku duga." Diana langsung berdiri dari duduknya, dia segera keluar dari rumah Karin menuju mobilnya, membukanya dan membawa beberapa kantong yang berisi makanan.
"Cobalah, ini menu baru." Ucap Diana yang meletakkan beberapa kantong plastik di hadapan sang sahabat.
"Siapa yang memasaknya?" Tanya Karin yang kini sibuk mengeluarkan makanan itu dari kantongnya dan menuangkannya ke dalam mangkok.
"Kepala koki lah, siapa lagi!" Sewot Diana, wanita itu tanpa ragu pergi ke dalam dapur Karin, dia ingin mengambil dua piring, untuknya dan untuk Karin, kebetulan dia juga belum makan.
Namun matanya memincing ketika melihat sesuatu. Sebuah kantong plastik yang berisikan skincare murah yang bahkan dirinya saja enggan untuk menyentuhnya. Dia segera mengambilnya.
Bruk...
Karin menatap Diana dengan tanda tanya? Wanita itu membanting sebuah plastik di hadapannya, apa itu makanan lagi, pikir Karin.
"Jelaskan apa itu?" Pinta Diana yang kini menatap tajam ke arah Karin.
Karin yang tidak mengerti kemudian meraih kantong plastik itu dan membukanya, ternyata belanjaannya kemarin.
"Oh skincare ku." Ucap Karin dengan santai, dia segera menyingkirkan kantong itu ke sampingnya dan melanjutkan acara makannya yang tertunda.
Diana menatap tidak percaya, seorang Karin memakai produk murah.
Wanita itu menatap lekat pada tubuh sahabatnya. Entah kenapa dia merasa bahwa Karin seperti tidak terurus, wanita itu terlihat begitu kusam bahkan kini sudah terlihat seperti orang miskin.
Bukan bermaksud menghina, tapi dia merasa tidak terima saat ini.
"Hari ini ikut aku treatment." Ujar Diana yang sudah duduk di samping Karin, ikut makan karena dia juga belum makan.
"Pekerjaanku masih banyak." Tolak wanita itu.
"Memangnya apa pekerjaan mu?" Tanya Diana penasaran.
Karin segera menghentikan aktivitas makannya. Dia meletakan kembali piringnya di atas meja.
"Menyapu, membereskan kamar tidur, cuci piring, cuci motor."
"Kamu terdengar seperti pembantu, kenapa tidak mencari pembantu untuk mengurusi rumahmu?" Tanya Diana yang tidak mengerti kenapa sahabatnya itu mau di perlakukan seperti itu.
"Adam tidak suka ada orang lain yang tinggal di sini." Jawab Karin kemudian mengambil kembali lauk di hadapannya, dia masih lapar omong-omong.
Diana tidak lagi bertanya, dia juga lelah menghadapi pemikiran bodoh sahabatnya itu. Bisa dikatakan sepertinya Karin diperbudak oleh Adam dan didoktrin untuk menjadi istri yang penurut.
Bodoh sekali bukan.
Setelah Diana pulang. Karin kembali kepada rutinitasnya sehari-hari. Membersihkan rumah. Saat dia selesai mencuci piring, luka yang tadinya tertutup kini kembali terbuka, mungkin karena terlalu lama terkena air.
"Akh perih sekali." Keluhnya sendiri. Dia menatap lekat pada jam di dinding. Sudah sore, sebentar lagi suaminya akan pulang.
Dia menatap meja makan yang kini sudah penuh dengan makanan, dia hanya memanaskan masakan yang di bawa Diana, lumayan untuk menghemat uang belanja yang selalu di potong oleh suaminya.
Klek...