“Ini kopinya!” Damar datang membawa kopi pesananku.
“Makasih,” jawabku singkat.
“Eh, ngapain duduk di sini?” Laki-laki itu tanpa permisi duduk di kursi samping kiri.
“Temenin lo lah.” Kedua bola mata Damar menatapku intens. Aku salah tingkah. Membenarkan posisi duduk.
“Gak perlu. Aku pengen sendiri,” tolakku ketus. Lagian jadi orang sok akrab banget. Kenal juga baru tadi siang. Udah sok peduli. Aku melirik ke arahnya. Damar masih saja menatapku.
“Eh! Jangan liatin aku kayak gitu!” Aku melotot Jengah! Tapi Damar bergeming. Pandangannya tak beralih.
“Lo lagi ada masalah?” tanyanya. Aku memalingkan muka.
Kali ini aku pilih diam. Meniup uap kopi, lalu menyesapnya perlahan. Damar masih menunggu jawaban.
“Ya elah, ditanya diam aja.” Aku tak peduli. Memainkan ponsel, membuka sosial media.
“Oh iya, gue udah baca WA dari Rano. Makasih ya. Gue janji gak bakal ngecewain lo!” Wajahnya semringah. Aku tetap cuek.
“Sorry, Aku gak bisa terima karyawan yang kerja double. Kamu lanjut kerja di sini aja,” kataku apa adanya. Aku gak mau punya karyawan yang tidak fokus dalam bekerja.
“Maksud lo?” Dari suaranya, Damar meminta penjelasan lebih. Aku mendongak. Alis tebal Damar bertaut.
“Intinya kamu gak aku terima!”
“Kok gitu?” Aku mencondongkan muka. Berbicara pelan namun bocah songong ini harus dengar dengan baik.
“Ya karena kamu kerja di sini. Kalau kamu kerja di sini, jangan kerja di tempat aku. Kalau kamu mau kerja di tempat aku, jangan kerja di sini.” Aku menarik diri.
Sedangkan Damar menyandarkan punggung di kursi. “Ooh ... tenang aja, kalau gue udah kerja di tempat lo, gue gak bakal kerja di sini. Capek juga kali. Kerja di dua tempat,” seloroh laki-laki berkemeja lengan pendek itu.
“Segampang itu berhenti di tempat ini?”
“Iya. Tadi kan gue bilang, yang punya temen. Jadi bisa dilobi.”
Aku mangut-mangut. “Oke!” Kembali menyesap kopi yang mulai tidak terlalu panas. Meneguknya sampai habis.
“Aku mau pulang. Ini uang kopinya.” Memberikan selembar uang seratus ribu pada Damar.
“Tunggu, gue ambil kembaliannya,” ucapnya beranjak. Aku tak menunggunya, memilih pulang tanpa sepengetahuan Damar.
***
Dari luar terdengar keributan di dalam rumah.
“Jujur! Siapa lagi kalau bukan kalian?”
Ibu mertua memarahi Bi Inah dan Mang Karman. Pasangan renta itu duduk bersimpuh. Kepalanya merunduk dalam.
“Ada apa ini?” Ibu menoleh. “Ini! Pembantu kamu berani ambil uang Ibu!”
Jangan-jangan Ibu sudah tahu kalau uangnya hilang. Aku menarik napas. Mencoba untuk tenang.
“Kamar mereka udah digeledah belum?”
“Sudah!”
“Terus? Ada uang Ibu?”
“Gak ada. Tapi ibu yakin, mereka yang ambil!”
“Ibu ini gimana sih? Tadi katanya kamar Bi Inah udah digeledah, gak ada uang Ibu. Sekarang malah nyangka mereka yang ambil.”
“Ya habis, kalau bukan mereka terus siapa?” Ibu mulai nyolot. Aku tetap tenang. Tiba-tiba satu jawaban melintas.
“Mana aku tau.” Aku mengedikkan bahu. “Diambil tuyul kali,” sambungku. Seketika Ibu mendelik. Menatapku lekat. Tampaknya Ibu mulai terpengaruh dengan terkaanku.
“Emang uang Ibu yang hilang ada berapa?” tanyaku menghalau tatapan Ibu.
“Banyak. Ratusan juta. Tapi ... kalau tuyul kayaknya gak mungkin. Apa jangan-jangan Babi ngepet ya?”
“Nah itu! Bisa jadi kan, Bu?” Dalam hati aku geli melihat mimik wajah Ibu. Kelihatan frustrasi sekali. Ibu membalikkan badan, duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian tangisnya pecah. Meraung-raung seperti bocah yang menginginkan mainan.
“Bi Inah sama Mang Karman masuk kamar aja. Biar Ibu jadi urusan Laila.” Bi Inah dan Mang Karman mengangguk.
“Makasih, Non.” Mereka berdiri, menuju kamarnya yang terletak dekat dapur.
Kuhampiri Ibu, duduk di sebelahnya. Bahu Ibu berguncang, suara tangisnya memekakkan telinga.
“Laila, kamu hubungi Haris. Suruh dia pulang!” Titah Ibu disela isak tangis.
Sebenarnya malas menghubungi Bang Haris, tapi kalau dia gak ada. Sampai pagi pasti Ibu nangis kayak gini. Aku bakal gak bisa tidur dibuatnya. Uh, bikin pusing aja.
Lagian Ibu ini aneh, kehilangan uang hasil nodong kok sampe segitu histerisnya. Gimana kalau hasil keringatnya sendiri? Kayaknya bakal bunuh diri.
Kutekan nomor kontak Bang Haris. Meneleponnya.
Tiga kali menghubungi, teleponnya gak diangkat-diangkat.
“Bang Haris lagi di mana sih, Bu? Biar aku datengin aja sekalian.”
“I-ibu gak tau. Hariiisss ....” Aduh mulai lagi.
“Bu, teleponnya gak diangkat-angkat. Udah tidur kali. Udah deh mending Ibu berhenti aja nangisnya.”
“Gak mungkin udah tidur. Telepon terus! Ibu mau Haris pulang! Hariiiiissss ....”
Ya Allah, Ya Kariim ....
“Udah dong, Bu ... jangan nangis terus. Takut ganggu tetangga.” Aku mulai pusing mendengar suara tangis Ibu. Bukannya diam, tangisannya malah semakin kencang.
“Ka-kalau gitu, kamu harus gantiin uang Ibu, Laila!”
“Hah? Enak aja! Ogah!”
“Makanya telepon terus!”
“Iya, iya, aku telepon lagi. Ibunya tolong diam dulu! Jangan nangis terus. Nanti suara Bang Haris gak kedengaran.”
Aku coba menelepon Bang Haris lagi. Beberapa detik menunggu, akhirnya sambungan telepon diangkat.
“Hallo? Mas, aaah ...." Suara perempuan terdengar. Mataku membelalak.
Kenapa telepon Bang Haris diangkat perempuan? Aku loudspeaker, sekaligus menekan rekaman telepon. Baru saja mau menjawab sapaan wanita itu,
“Mas ah ... gelii ... aku angkat teleponnya dulu, Sayang ....” Aku dan Ibu saling pandang. Kedua bola mata ibu membulat, mulutnya menganga lebar. Bang Haris sangat Menjijikkan!
Mereka pasti sedang ....
Oh, Ya Allah! Aku menutup mulut dengan sebelah tangan.
Aku biarkan telepon itu tetap tersambung. Biar, biar Ibu tahu kelakuan b***t anak semata wayangnya.
Tanganku mulai gemetar. Mendengar desahan wanita di seberang sana. Aku benar-benar sakit hati dikhianati Bang Haris. Meski sebelumnya sudah memiliki firasat Bang Haris selingkuh tapi mengetahuinya langsung, ternyata sangat menyakitkan. Bagaimana pun Bang Haris itu masih suamiku walau saat ini perasaan cinta sudah hilang.
“Aduh, Mas ... sabar dong aah ....”
Kupejamkan mata. Menahan amarah yang semakin membuncah. Ingin kumaki-maki Bang Haris dan selingkuhannya, namun akal sehatku mengatakan tidak perlu. Toh memang sebentar lagi kami akan bercerai. Dan rekaman telepon ini akan menjadi bukti lancarnya jalan persidangan kami nanti.
“Matikan saja teleponnya, Sayaaang ....” Giliran Bang Haris yang bicara. Ibu merebut ponsel dari tanganku.
“Haris! Pulaangg!”