Author Pov
"Bunda. Ini kita mau kemana?" Tanya Letta kepada bundanya yang sejak tadi tidak menjawab pertanyaan darinya.
"Bunda" panggilnya lagi dengan tanpa menyerah karena dia begitu penasaran akan kemanakah dia dan bundanya pergi.
Bagaimana Letta tidak penasaran jika kini bundanya pergi sambil membawa barang-barang banyak yang dimasukkan di koper besar dan beberapa tas lainnya seperti orang yang hendak berpindah rumah.
"Sebentar sayang, kita akan sampai. Kalau sudah sampai nanti bunda akan jelaskan semuanya ya. Ini kita sudah sampai ayo kita keluar, tas kamu jangan sampai lupa ya sayang" jawab Lita sambil kesusahan membawa koper dan juga satu tas besar lainnya keluar dari sebuah Taksi.
Kini mereka sudah keluar dari Taksi yang mereka tumpangi tadi, kemudian Lita melangkahkan kakinya masuk ke gedung yang menjulang tinggi ini. Sedangkan Letta yang berada di belakang sang bunda hanya mengikuti langkah kaki bundanya yang kini sudah masuk didalam lift.
"Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga sayang" ucap Lita dengan lega ketika kini mereka telah sampai ditempat tujuan.
Lita segera meletakkan tas berat bawaannya di samping pintu dan dia langsung membuka tas kecil yang dipakainya untuk mengambil sebuah kartu didalamnya.
Disaat Lita sibuk membuka pintu itu, Letta terdiam di tempatnya dengan memandang pintu yang ada didepannya.
"Alhamdulillah ayo masuk sayang" Lita sudah masuk terlebih dahulu sambil membawa tas-tasnya, namun ajakannya itu tidak ditanggapi oleh putrinya karena putrinya tengah melamun didepan pintu.
"Sayang, Leta. Kenapa nak?"
Lita berjalan menghampiri putrinya, kemudian dia berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan putrinya.
"Ini apartemen siapa bunda? Kita mau pindah kesini? Bunda sudah punya uang buat beli apartemen?" tanya Letta kepada sang bunda dengan bertubi-tubi.
"Masuk dulu sayang, nanti akan bunda jelaskan semuanya didalam" dengan terpaksa Letta berjalan memasuki ruangan yang sudah dimasuki oleh bundanya.
Letta masih bingung dengan semua ini, tetapi dia menuruti perkataan bundanya. Dan kini dia sudah masuk didalam sebuah ruang apartemen ini.
"Alhamdulillah, mulai sekarang kita akan tinggal disini sayang"
"Tinggal disini bunda? Bunda beli apartemen ini?"
Lita yang sejak tadi di tanyai putrinya dengan pertanyaan yang sama, membuatnya merasa kasian sehingga dia harus segera menjawabnya.
"Sini duduk sama bunda" Lita mengajak putrinya duduk di sofa yang ada disana. Dan itu langsung diikuti oleh Leta.
"Sekarang Alhamdulillah nya kita bisa tinggal disini sayang. Letta senang kan sama apartemen ini? Tidak besar tapi cukup buat kita berdua disini.
"Senang, tapi bunda harga apartemen itu kan mahal apa bunda yang membeli apartemen ini?"
Lita tersenyum mendengar pertanyaan pintar dari putrinya ini. "Bukan bunda yang membelinya sayang, tapi ini apartemen milik om baik. Kita di pinjami apartemen ini untuk tinggal disini dan alhamdulillahnya bunda sekarang punya usaha kecil-kecilan dan itu dipinjami modal juga sama om baik" jelasnya kepada sang putri.
"Om baik?"
"Iya sayang om Dain"
"Om baik memang baik ya bunda sama kita, sampai kita dipinjami apartemen ini dan kasihkan bunda usaha kecil-kecilan juga jadi hidup kita gak kayak dulu lagi. Alhamdulillah, mulai sekarang Letta akan doain om Dain juga, biar rejekinya lancar terus"
"Iya sayang, amin"
"Tapi ada sesuatu yang harus bunda korbankan demi ini nak, tapi tidak apa karena ini semua demi kamu sayang"
"Nanti kalau ketemu om baik, aku mau bilang makasih ya bunda"
"Iya harus sayang, kamu harus segera bilang makasih dengan apa yang om baik kasihkan ke kita ini"
"Iya bunda" Lita kemudian memeluk putrinya dengan sangat erat.
Hari ini memang adalah hari yang spesial dalam hidup mereka, dimana mereka telah pindah dari rumah kontrakan kecil yang selama dua tahunan ini ditempati dan berpindah ke apartemen ini.
Mereka bisa pindah ke apartemen ini adalah karena Dain. Dain adalah orang dibalik perubahan yang terjadi dalam hidup Lita dan Letta. Dimana apartemen yang ditempati keduanya ini adalah apartemen yang dibelikan Dain khusus untuk tempat tinggal Lita dan juga Leta.
Dain benar-benar menempati janjinya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik ke mereka dan itu dibuktikan setelah beberapa Minggu perjanjian antara Lita dan juga Dain di buat. Dan seperti yang terlihat sekarang ini, semua fasilitas itu mulai didapatkan mereka termasuk apartemen ini.
"Bunda punya kejutan buat kamu, ayo ikut bunda" Lita menuntun putrinya ke salah ruangan dan itu merupakan sebuah kamar.
Ceklek
Lita membuka pintunya. Dan saat pintu itu terbuka, Letta yang sejak tadi terdiam langsung memekik histeris.
"Bunda ini kamar Letta" pekiknya tak percaya saat dia melihat sebuah kamar yang di dekor serba merah muda dengan banyak boneka. Kemudian diatas ranjang terdapat tulisan nama Edrea Arletta Letisha.
"Iya ini akan menjadi kamarmu sayang"
"Hey bagus bunda. Ya ampun ini kasurnya empuk terus ini banyak boneka bunda" Letta kini sudah berlonjak-lonjak di ranjang kasur barunya.
Letta sangat bahagia mendapatkan kamar impian yang selama ini hanya bisa di bayangkannya saja, tetapi hari ini semuanya terwujud menjadi kenyataan.
"Letta senang sayang?" Lita menghampiri putrinya dan duduk tepat di tepian ranjang.
"Senang sekali bunda. Terima kasih ya" Letta langsung menghentikan aktifitasnya, kemudian dia memeluk bundanya dengan sangat erat.
"Iya sama-sama sayang, tapi kita harus berterima kasih juga sama om Dain"
"Iya bunda. Kapan Om Dain kesini?"
"Sepertinya nanti malam. Om Dain katanya mau main kesini, bagimana kalau kita buatkan om baik makanan buat rasa terima kasih"
"Iya bunda ayo-ayo. Kita masakkan apa ya?"
"Bunda juga bingung sayang, tapi habis ini kita belanja saja gimana sayang? Kita akan masak makanan yang banyak buat Om Dain"
"Iya bunda ayo kita belanja sekarang. Ke pasar kan ya?"
"Ehmm jangan ke pasar sayang, Om Dain tidak level sama bahan makanan dari pasar"
"Trus kita belanja dimana bunda?"
"Di sebelah kan ada mall nya, kita belanja disana sama belanja kebutuhan lainnya, dan nanti bisa sekalian jalan-jalan kamu mau?"
"Ke mall bunda? Berarti disini deket mall juga"
"Iya sayang"
"Hore. Ayo bunda berangkat ke mall nya sekarang" Letta sudah bersiap menarik tangan bundanya untuk segera berangkat ke mall tapi tarikannya itu ditahan oleh bundanya.
"Eits ini masih jam 8 sayang, mallnya belum buka. Sekarang kita bersih-bersih apartemen ini dan menata barang-barang dulu ya"
"Oh iya ya bunda. Okey siap laksanakan"
Setelahnya, Letta dan juga Lita berbagi tugas untuk membersihkan dan menata barang-barang bawaan mereka. Lita bertugas untuk membersihkan apartemen ini dan menata barang pribadinya dikamarnya, sedangkan Letta sibuk menata barang-barangnya di kamarnya yang baru.
Mereka melakukan pekerjaan itu sampai jam 12 siang, dan setelah itu mereka memutuskan untuk segera bersiap-siap pergi ke mall sebelah gedung apartemen ini. Mereka akan berbelanja kebutuhan sehari-hari sekaligus untuk mencari makan siang.
⚫⚪⚫⚪⚫⚪
Ting-Tong
Suara bel berbunyi dengan sangat nyaring hingga ke seluruh penjuru unit apartemen ini.
"Ada tamu mungkin itu om Dain, segeralah mandi Letta sayang. Jangan bermain air terus kamu bisa masuk angin" Dan wanita yang tengah mengingatkan putrinya untuk segera mandi itu adalah Lita.
Sejak tadi dia sudah mengingatkan putrinya agar segera selesai mandi tetapi putrinya itu sedang asik bermain. "Loh itu memang om baik bunda?" Letta keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang penuh dengan busa.
"Astaga, ayo cepat mandi. Nanti pakai baju ini ya, sudah bunda siapkan. Sekarang bunda mau membuka pintunya"
"Iya siap bunda habis ini Letta selesai kok"
"Ya sudah bunda kedepan dulu"
"Iya bunda"
Lita berjalan keluar dari kamar putrinya. Dia tidak langsung berjalan untuk membuka pintunya terlebih dahulu tetapi dia terlebih dahulu melihat penampilannya di depan cermin besar yang ada di ruang tamu.
Dia melihat pantulan dirinya yang ada di cermin, dimana disana terlihat dirinya terlihat lebih cantik dari biasanya karena memakai dress selutut berwarna merah pemberian dari Dain.
Lita tak hanya melihat penampilannya, tetapi dia juga membenarkan riasan tipis yang telah dipakainya tadi. Lita tersenyum puas melihat penampilannya hari ini, dia berfikir Dain pasti akan menyukai penampilannya.
"Semoga Dain akan menyukai ini" gumamnya sendirian.
Setelah beberap saat melihat penampilannya di kaca dan dia merasa puas, barulah dia langsung berjalan membukakan pintunya.
Ceklek
Pintu terbuka, namun saat pintu itu terbuka dia tidak melihat ada seseorang disana membuatnya bingung sendiri.
"Si...siapa?" ucapnya dengan takut. Namun saat Lita yang sudah ketakutan itu, hendak menutup pintu tiba-tiba sebuket bunga mawar putih ada dihadapannya. Dan tak lama ada seseorang yang muncul dibelakang bunga itu.
"Selamat malam wanita seksi" ucap seseorang dengan tersenyum lebar ke arahnya.
"Astaga Dain" pekiknya tak percaya karena ternyata orang yang sejak tadi membunyikan bel dan juga membawa bunga ini adalah Dain.
"Yuhuu Dain ganteng come back. Wow" Dain yang tadinya tidak menyadari akan penampilan dari Lita, kini dia baru menyadarinya dan langsung melihat penampilan Lita dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Makasih ya" ucapnya dengan tersenyum lebar menerima bunga pemberian Dain ini.
"Ka...kamu sangat cantik Lit...dan...seksi" Dain dengan cepat langsung masuk ke dalam apartemen itu dan menutup pintunya dengan kasar. Kemudian dia mendorong tubuh Lita hingga menempel di dinding. Dain langsung menyerbu bibir yang sangat menggoda sejak tadi, membuatnya tanpa aba-aba langsung melakukannya.
"Ehmm" Lita mencoba untuk melepaskan ciuman itu dengan paksa namun sulit. Tetapi Dain yang merasa ada yang aneh dengan Lita membuatnya langsung menghentikan aktifitasnya.
"Ke...kenapa Lit. Aku masih belum puas"
"Ada Letta, dia ada di kamarnya. Nanti malam saja"
"Astaga iyaa, maaf-maaf. Aku khilaf lihat kamu dandan cantik gini. Jadinya aku lepas kontrol"
"Ak..." Belum sempat Lita melanjutkan ucapannya, karena sudah terdengar teriakan dari putrinya.
"Om baik" teriak Letta yang baru saja keluar dari kamarnya.
Letta langsung berlari menghampiri Dain dan langsung memeluknya dengan sangat erat. "Hello adik Barbie. Aduh-aduh cantik gini, ehmm harum lagi"
Dain membalas pelukan dari Letta bahkan dia menciumi puncak kepala Leta yang masih basah.
"Habis mandi soalnya om"
"Oh pantas harum begini. Ah iya... Om punya sesuatu untuk kamu" Dain menyerahkan satu paper bag berwarna merah muda kepada Letta dan itu disambut dengan bahagia oleh Leta.
"Apa ini om?"
"Di buka dong"
Dengan tidak sabar Letta segera membuka paper bag itu untuk bisa melihat isinya dan ternyata isinya adalah seragam sekolah lengkap beserta dengan sepatu juga buku-bukunya.
"Om ini seragam sekolah?"
"Iya om sudah daftarkan kamu di sekolah yang sama dengan anak yang pernah om bawa si Fafa genit kayak bapak keduanya itu, Letta ingat kan sama Si Dhaffa?"
Letta langsung tersenyum malu-malu kemudian dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengingat anak kecil yang beberapa waktu yang lalu berkenalan dengannya.
"Kamu sudah mendaftarkannya di sekolah Taman Kanak-Kanak Dain?"
"Iya, kasian Letta sudah saatnya sekolah walaupun dia masih Pendidikan Usia Dini"
"Makasih ya, kamu begitu perduli akan masa depan Lietta" ucap Lita dengan tulus, bahkan kini dia sudah berkaca-kaca melihat sendiri bagaimana tulusnya Dain kepada putrinya.
Dia tau Dain adalah laki-laki yang baik dan tulus kepada putrinya. Dan itu jauh sebelum perjanjian mereka buat, Dain memang benar-benar menyayangi putrinya. "Kamu memang laki-laki yang baik Dain. Kamu begitu tulus menyayangi Letta"
"Rasa terima kasihnya disimpan nanti malam ya" sebuah bisikan terdengar jelas terdengar di telinga Lita membuatnya langsung tersadar dari lamunannya dan menatap Dain orang yang baru saja membisikinya.
Sebuah cubitan kecil hinggap di bagian perut Dain, walaupun Lita kesusahan mencubit perut sixpack Dain tapi itu bisa dirasakan oleh Dain. "Nakal ya kamu, awas nanti malam aku habisin kamu" bisik Dain lagi.
Sedangkan Lita hanya tersenyum, kemudian dia berbicara kepada putrinya yang masih asik dengan barang-barang pemberian Dain. "Letta sayang, barang-barangnya di letakkan di kamar dulu, terus habis itu langsung ke meja makan, kita makan malam disana sama-sama.
"Iya bunda" Letta segera membereskan barang-barangnya dan di masukkan barang-barang itu kembali ke dalam tempatnya.
"Om baik, makasih ya atas kebaikan om selama ini. Semoga om baik selalu dilancarkan rejekinya sama Allah, Letta selalu doakan om juga sehabis shalat"
"Amin-amin makasih ya anak cantik"
"Iya om sama-sama. Kalau gitu Letta pergi ke kamar dulu ya om. Oh iya om aku sama bunda sudah masak banyak, semoga om suka dengan makanannya"
"Iya makasih ya sayang" setelah itu Letta pergi ke kamarnya dengan membawa barang-barang Dain.
"Kamu mau aku buatkan kopi?"
"Mau dong, kopi buatan kamu enak sekali"
"Kopi hitam biasa apa kopi s**u?" Lita berdiri dari tempatnya kemudian diikuti oleh Dain.
Mereka berjalan bersama-sama menuju ke area dapur mini yang ada disana.
"Ehmm kopi biasa saja, kalau s**u nya nanti malam saja ya kan"
"Dain, jaga ucapanmu kalau ada Letta bagimana?"
"Dan beruntungnya Letta tidak ada disini kan" Dain langsung memeluk tubuh Lita dari belakang dengan manja. Bahkan dia meletakkan kepalanya di bahu Lita.
Lita hanya bisa tersenyum miris melihat tingkah Dain yang seperti ini kepadanya. Hal itu karena mereka ini seperti sepasang kekasih bahkan sepasang suami istri, melihat hubungan mereka sudah lebih seperti suami istri saja. Tetapi semua itu hanyalah terjadi jika mereka berada di apartemen ini, karena selebihnya mereka bukanlah siapa-siapa bahkan mereka bisa menjadi orang yang tidak saling mengenal di lingkungan luar.
Miris memang, tapi inilah kenyataan yang harus di terima oleh Lita. Dia bukanlah siapa-siapa dalam hidup Dain. Bahkan dia bukan menjadi milik Dain, tetapi dia hanyalah boneka pemuas nafsu Dain saja.
"Assh panas" Lita yang sejak tadi melamun itu sampai tidak menyadari bahwa dia tengah menuangkan air panas ke dalam gelas membuat tangannya tersiram air panas.
"Astaga, kamu kenapa bisa tersiram seperti ini. Kamu melamun ya? Apa karena aku? Maaf ya Lit" dengan sigap Dain mengambil tangan Lita dan meniupkan tangan yang kini sudah merah.
"Kamu ada obat untuk luka bakar?"
"Tidak ada, aku tadi belum sempat membeli obat-obatan"
"Kalau gitu bentar tunggu disini. Eh tapi kamu sudah memiliki pasta gigi kan?"
"Sudah. Buat apa Dain?"
"Mengobati lukamu itu. Kamu tunggu disini biar aku yang mencarinya" Dain langsung berlari masuk ke kamar pribadi Lita untuk mencari barang yang di perlukannya, dan setelah dia mendapatkannya Dain kembali ke Lita yang ternyata sudah ada Letta disana.
"Bunda kenapa om?"
"Kesiram air panas tadi, sini biar om obatin dulu ya sayang"
"Iya om"
"Sementara kita obatin ini dulu, orang suruhanku masih membelikan obat untukmu sabar ya" setelahnya Dain mulai mengobati luka di tangan Lita dengan perlahan bahkan dia beberapa kali meniupkan luka itu.
"Perih ya?" Dain memandang kasian ke wajah Lita yang terlihat sudah menangis.
"Tidak" jawab Lita, kemudian Dain segera menghapus air mata itu hingga tidak ada air mata disana.
"Sakit ya bunda kita ke rumah sakit ya? Letta gak bisa lihat bunda kesakitan gini" Letta sudah ikut menangis karena dia tidak tega melihat bundanya seperti kesakitan seperti ini.
"Hey sayang bunda tidak apa kok disini"Lita memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat untuk menenangkannya bahwa dia tidak apa. Dia menangis hanya karena perhatian yang ditunjukkan Dain kepadanya.
"Luka ini tidak begitu sakit. Andaikan perhatian itu benar-benar kamu tunjukkan tulus kepadaku Dain sebagai orang yang spesial di hidupmu, pasti aku akan senang"
Sedangkan Dain yang melihat interaksi ibu dan anak itu membuatnya ikut terharu, entah mengapa setiap dia melihat kasih sayang dan juga perjuangan kedua wanita hebat ini selalu membuatnya terharu. "Kalian adalah dua wanita hebat"
"Eh ya sudah ayo kita makan, keburu makanannya dingin" ajak Lita mengakhiri hal ini, karena dia teringat akan masakannya tadi yang belum mereka nikmati.
"Iya sudah ayo" Dain berdiri dan menuntun Lita menuju ke meja makan yang tak jauh dari tempat mereka.
"Apakah masih sakit?"
"Sudah tidak, ya sudah ayo makan. Semoga kamu suka karena aku gak tau makanan kesukaanmu"
"Iya tidak papa"
Setelahnya mereka menikmati makan malam bersama dengan dipenuhi canda tawa bahagia.