Author POV
Freya tidak tinggal diam di apartemen.
Setelah mengirim pesan ke Dain, dia mandi lebih lama dari biasanya, menggosok lengan yang dipukul Letta seolah bisa menghapus bukti anak kecil itu lebih berani darinya. Air panas membuat wangi parfum baru yang sempat ditanya Dain jadi lebih kuat. Freya memandang cermin. Pipinya tidak memar. Lita yang memar. Itu, baginya, masih kemenangan.
Dia berganti baju yang lebih sopan, memakai masker, dan turun. Bukan ke rumah sakit dulu. Ke cafe di seberang laundry Lita. Tempat itu masih ada dua orang yang kelihatan seperti kru, kamera sudah masuk tas, tapi mereka belum pergi. Papan laundry sudah ditutup setengah. Ada satpam yang bukan satpam biasa berdiri di depan kaca.
Freya duduk membelakangi toko, pesan es, lalu menelpon nomor yang disimpan sebagai "Redaksi".
"Saya Freya. Tadi yang live. Saya mau klarifikasi tambahan. Kekasih saya tidak membela saya. Keluarganya memihak wanita itu. Saya korban. Kalau perlu, saya datang ke studio."
Dia mengaduk es yang tidak diminum. Di kepalanya Dain selalu pulang. Dain selalu beli. Dain selalu bilang semua wanita tidak secantik Freya. Hari ini rumus itu macet, dan Freya tidak terima macet.
Di seberang ada yang janji akan menelpon balik. Freya tersenyum di balik masker. Luka di lengannya, bekas pukulan Letta, dia foto dengan cahaya jendela. Caption di catatan: anak pelakor diajari kekerasan.
Lalu Freya ke rumah sakit.
Dia tidak langsung ke IGD. Dia ke informasi, menyebut nama Lita, tersenyum pada petugas. Petugas ragu. Freya menunjukkan foto dirinya bersama Dain berseragam.
"Saya kekasih keluarganya. Saya antar keperluan."
Nama Rocarlton masih bekerja di sebagian orang. Freya dapat nomor kamar observasi. Dia naik. Di depan lift, dia melepas masker, merapikan rambut pirang. Di cermin lift dia berlatih wajah sedih, lalu wajah marah, lalu kembali ke senyum. Dia memilih senyum. Senyum lebih laku di kamera, dan Freya belum yakin lorong ini sepi.
Di lantai observasi dia sempat berhenti di mesin minum, bukan karena haus, karena ingin kelihatan santai kalau ada yang merekam. Dain melihatnya lebih dulu dari ujung lorong.
"Frey. Jangan."
Freya berhenti. Senyumnya manis, seperti di cafe dulu ketika Dain terlambat.
"Hon. Kamu di sini. Berarti berita itu benar. Kamu lari ke dia, bukan ke saya."
Letta di belakang Dain meraih celana seragam. "Om, tante jahat."
"Masuk," kata Dain pada Letta, menunjuk ruang keluarga kecil. Letta tidak mau. Jesika keluar dari observasi tepat waktu, menutup pintu di belakangnya.
"Freya. Pulang."
"Tante Jesika. Tante lebih sayang janda itu daripada saya yang tujuh tahun di rumah tante."
"Delapan, katamu di kamera. Angkanya saja sudah kamu perbesar. Pulang. Kalau kamu paksa masuk, satpam yang saya panggil, bukan Dain."
Freya menatap Dain, mencari celah. Dain berdiri di antara ibunya dan Freya. Tubuhnya masih seragam, masih bau bandara, masih belum mandi.
"Frey. Kamu tampar dia. Kamu dorong anaknya. Kamu undang wartawan. Aku belum bicara putus. Aku bicara kamu tidak masuk."
"Aku hamil, hon." Freya mengucapkannya cukup keras untuk lorong. Seorang perawat yang lewat menoleh, lalu pura-pura tidak dengar.
Jesika tidak berkedip. "Di mana hasilnya. Laboratorium mana. Tanggal berapa."
"Tante tidak percaya saya? Dain percaya saya. Dain selalu percaya saya."
Dain teringat parfum baru. Terlambat pulang kuliah. Jadwal yang berubah. Ciuman yang terasa asing. Lalu chat Orlando. Lalu kalimat Letta.
"Aku tidak bicara percaya atau tidak di lorong rumah sakit. Aku minta kamu pulang. Kalau kamu hamil, kita ke dokter. Bukan ke kamera. Bukan ke kamar Lita."
"Lita hamil juga?" Freya tertawa, pendek, jelek. "Pantas. Dia cepat sekali. Janda memang pintar pasang perangkap. Tante ikut, kan? Tante bawa dia ke rumah sakit beberapa hari lalu. Saya punya orang. Saya lihat."
Dain menoleh pada ibunya. Jesika tidak membantah. Itu lebih jujur daripada pembelaan.
"Ibu dan Lita ke dokter. Itu urusan ibu. Freya, kalau kamu mengintai orang, itu bukan cinta. Pulang."
Freya melangkah maju. Dain merentangkan tangan, tidak menyentuh dadanya, hanya menghalangi.
"Jangan sentuh aku. Kamu kotor. Kamu tidur dengan dia. Kamu bohong tujuh tahun jaga diri. Kamu sama saja."
"Aku salah," kata Dain, dan suaranya pecah untuk pertama kali sore itu. "Aku salah ke kamu karena perjanjian itu. Aku salah ke Lita karena aku tidak mengakui di depan. Tapi kamu salah karena kamu pukul orang di berita. Kita sama-sama kotor. Kamu tidak dapat kamar ini."
"Tujuh tahun, hon. SMA. Kuliah. Kamu dinas, aku nunggu. Kamu beliin tas, aku cium. Sekarang mama kamu lebih pilih perempuan yang kamu sewa. Kamu kira itu adil?"
"Tidak adil. Aku tidak bilang adil. Aku bilang kamu tidak masuk. Adil kita urus nanti, tanpa Letta dengar."
Freya menatap anak itu dari jauh, di balik kaca ruang keluarga. Letta menonjok udara, meniru pukulan kemarin, lalu disuruh berhenti oleh perawat. Freya memalingkan wajah.
"Anak itu liar. Kayak ibunya."
"Anak itu bela ibunya. Kamu dorong dia. Kalau ada yang liar, jangan ditunjuk ke arah situ."
Freya menampar udara di dekat wajah Dain, tidak kena, karena Dain menghindar. Satpam sudah datang, dipanggil Jesika dengan anggukan.
"Antarkan nenek ini keluar," kata Freya sinis pada satpam, lalu menyadari satpam justru berdiri di sisi Jesika.
"Silakan, Mbak. Keluar."
Freya mundur. Di depan lift dia berbalik.
"Aku tidak selesai. Besok semua orang tahu Dain Rocarlton main janda. Tunangan kita batal bukan karena aku, karena mama kamu pilih pelakor. Dan hon, kalau anak di perut saya hilang karena stres, kamu yang tanggung."
Lift menutup. Angka lantai turun. Dain masih menatap pintu sampai bunyi mesin hilang. Seorang keluarga pasien lewat, menunduk, pura-pura tidak mendengar kata-kata Freya yang baru saja memantul di lorong.
Lorong kembali berbunyi roda brankar. Dain bersandar ke dinding. Jesika tidak memeluknya. Beliau hanya menyodorkan tisu.
"Cuci muka. Lalu masuk. Jangan bawa amarah itu ke Lita. Lita kira kamu akan memilih Freya begitu Freya bilang hamil."
"Mom. Freya... bisa jadi bohong. Bisa jadi benar. Aku tidak tahu lagi mana yang drama."
"Makanya jangan putuskan dari mulut. Putuskan dari kertas. Ibu sudah suruh orang ibu. Bukan untuk menyakiti Freya. Untuk tidak dibohongi. Kamu juga. Tes. Sekarang bukan waktunya jadi anak yang tinggal percaya."
Dain masuk. Lita sudah mendengar suara Freya, meski tidak semua kata. Wajahnya lebih pucat.
"Dia datang. Aku dengar. Dia hamil."
"Dia bilang." Dain duduk. "Aku tidak tahu benar tidak. Kamu jangan bandingkan perut. Kamu jangan pikir kamu harus cabut karena dia mengaku."
"Kalau dia benar, kamu punya dua. Kalau aku benar, aku janda yang membawa aib. Kalau keduanya benar, kamu akan benci kami berdua."
Dain mengusap muka. "Aku tidak benci Letta. Aku tidak benci kamu. Aku benci saya yang kira saya bisa punya semuanya tanpa pecah."
Lita memegang ujung sprei. "Aku tidak minta kamu pilih malam ini. Aku minta kamu jangan bawa Freya masuk lagi. Letta takut. Aku takut. Kalau kamu masih sayang dia, sayang di luar kamar ini."
"Tidak masuk. Itu sudah."
"Dan jangan cium aku untuk menenangkan dirimu. Itu perjanjian. Itu yang bikin perut ini. Malam ini aku mau tenang, bukan dipakai."
Dain mengangguk, pipinya panas. "Aku duduk. Tidak lebih."
Letta masuk, ditarik pelan oleh Jesika, lalu naik ke tangga ranjang.
"Tante sudah pergi. Om jangan sedih. Bunda jangan sedih. Letta jaga. Nanti om masak lagi di balkon, ada bintang."
Lita mencium rambut anaknya. Dain menatap mereka dan untuk pertama kali sejak bandara, dia tidak ingin ke cockpit. Dia ingin kursi plastik ini, bau obat ini, dan perut yang masih harus dicek malam ini.
USG malam dilakukan di ruang gelap. Gel di perut Lita dingin. Dain berdiri di sisi kepala, bukan di sisi layar, karena Lita minta. Jesika yang melihat. Teknisi menggeser alat pelan-pelan, diam terlalu lama, sampai Dain hampir bertanya, lalu terdengar ketukan kecil dari speaker.
"Detak ada. Ibu masih muda usianya, trauma kemarin membuat kami khawatir, tapi malam ini masih aman. Istirahat mutlak. Jangan naik tangga banyak. Jangan angkat. Kontrol dua hari. Kalau keluar darah, langsung IGD."
Lita menangis tanpa suara. Dain memegang bahunya. Dia tidak melihat layar, tapi dia mendengar ketukan itu dan tiba-tiba teringat anak laki-laki di taman dulu, yang matanya membuatnya terpaku, yang sempat dia kira sebaya dengan anaknya yang belum ditemukan. Dain menggeleng. Kenangan itu tidak boleh dicampur dengan malam ini. Dia belum berhak mengarang wajah.
Jesika mengangguk pada teknisi, meminta salinan ditahan atas nama pasien, bukan keluarga selebriti. "Jangan masukkan ke folder yang bisa dibawa magang. Ini medis, bukan hiburan."
Teknisi mengangguk. Dain menyeka gel dari perut Lita dengan tisu, pelan, seperti orang yang baru belajar bahwa perut itu bukan milik perjanjian.
Keluar dari ruang itu, Dain menelpon Gavin.
"Dad. Lita di rumah sakit. Freya live. Ada kehamilan. Dua versi. Saya belum pulang."
Gavin lama menjawab. "Daddy ke sana setelah rapat. Jangan statement. Jangan ke media. Freya jangan dibiarkan masuk rumah. Kunci dipegang mommy. Kamu tidur di rumah sakit. Besok kita bicara di ruang daddy, bukan di portal."
"Iya dad."
Malam itu Dain membeli baju ganti Letta di minimarket rumah sakit, susu kotak, dan sabun wajah untuk Lita. Dia membantu Letta sikat gigi di wastafel pengunjung. Dia tidak pulang ke Rocarlton Apartment. Dia tidak pulang ke Freya.
Di kursi yang bisa dibuka menjadi tidur setengah, Dain membuka galeri. Foto lama Freya di SMA. Foto baru Lita tertawa di laundry, diambil diam-diam ketika Dain antar paket. Foto Letta memegang barbie baru.
Dia menutup galeri.
Di pesan, Freya mengirim foto tes kehamilan. Dua garis. Tanpa nama lab. Tanpa tanggal tercetak. Hanya foto di wastafel apartemen yang Dain hafal.
Dain meneruskan ke Orlando tanpa komentar.
Orlando membalas: gue cek. foto bisa dibeli. jangan telan.
Dain menoleh ke ranjang. Lita tidur dengan mulut sedikit terbuka, pipi memar, tangan di perut. Letta sudah tidur melintang di kaki ranjang, dilarang naik tapi lolos.
Dain berbisik, bukan untuk didengar.
"Aku tidak tahu siapa yang jujur. Tapi yang kelihatan darahnya di IGD, itu kamu."
Ponsel bergetar sekali lagi. Nomor tidak dikenal.
Bapak Jourdain, kami dari acara pagi. Mohon konfirmasi hubungan Anda dengan Ibu Lita dan rencana tunangan dengan Mbak Freya.
Dain mematikan ponsel. Bukan selamanya. Sampai pagi. Sampai USG tidak lagi menjadi hal yang harus dia pelajari dari lorong.
Sebelum benar-benar tidur, dia keluar sebentar ke mesin kopi. Orlando sudah duduk di kursi lain, membuka laptop, headphone di leher.
"Loe harusnya pulang."
"Gue jaga unggahan. Ada yang mau doxx alamat laundry. Sudah gue lempar ke pengacara. Dain, loe jangan baca kolom. Kolom itu selokan."
"Gue sudah baca. Mau muntah."
"Bagus. Muntah di toilet, bukan di mikrofon." Orlando menatap seragam yang kusut. "Loe masih sayang Freya. Gue tidak suruh loe bohong. Gue suruh loe jangan bayar sayang itu dengan perut orang."
Dain mengangguk, membeli dua kopi, satu tidak diminum, kembali ke kamar. Lita bergeser, meringis, lalu menatapnya.
"Tidak tidur?"
"Nanti. Kamu dulu."
"Kalau Freya hamil sungguhan, jangan benci anaknya. Benci aku boleh."
"Aku tidak latihan benci anak. Aku latihan tidak kabur. Tidur."
Lita memejam. Dain menjaga sampai napasnya rata, baru memiringkan tubuh di kursi yang tidak pernah dibuat untuk pilot yang baru mendarat.