Author POV
Dain terbangun karena batuk Lita, bukan karena alarm.
Sofa masih pendek. Kakinya kesemutan. Bantal Letta sudah geser ke lantai. Plafon retak di pojok yang sama. Sebentar dia kira masih malam, lalu melihat garis terang di sela gorden. Ada suara motor jauh, bukan plat yang dicatat Jon. Ponsel di lantai menunjukkan jam enam lewat. Ada tiga pesan dari pengacara, satu dari Orlando, tidak ada dari Freya. Dain tidak membuka dulu. Dia duduk, memegang leher yang pegal, mendengar batuk itu lagi dari kamar.
Semalam dia hampir tidur. Sekarang tubuhnya seperti baru mendarat di cuaca buruk: pegal, kering, masih mendengar daftar di notes meski layar mati. Dia menginjak lantai pelan, takut membangunkan Letta, takut Lita kira dia pergi.
Dia ke ambang. "Air? Atau mual?"
Lita duduk di tepi ranjang, memegang dada, bukan perut. "Hanya tenggorokan. AC semalam. Jangan panik. Letta masih tidur."
Dain tuang air hangat. Lita minum. Pipinya masih kebiruan, lebih kuning di tepi, seperti memar yang mulai malu sendiri.
"Besok katamu aku dengar Nana," kata Lita, suaranya serak. "Hari ini. Jangan tunda. Sofa tidak boleh jadi kuburan kerja."
"Sekarang masih pagi."
"Pagi justru sepi. Karyawan belum ribut. Aku mau angka, bukan belas kasihan."
Dain mengangguk. Itu nada bos. Dia lebih suka nada itu daripada nada minta maaf.
Letta keluar sambil menyeret barbie patah. "Om bangun jelek. Bunda batuk. Letta bikinin teh?"
"Om yang bikin. Kamu cuci muka. Jangan buka gorden depan."
"Selalu jangan. Letta hafal. Om hafal belum masak tidak asin?"
"Belum dicoba. Hari ini dicoba."
Di dapur Dain mengocok telur pelan-pelan, hampir komikal, menakar garam dengan ujung sendok. Letta mengawasi seperti pengawas bandara. Lita di sofa, membuka laptop kecil yang biasanya untuk nota laundry, menunggu jam yang pantas untuk menelpon Nana.
Pukul tujuh, Dain mengetuk video. Nana muncul dengan hijab terburu, latar belakang mesin.
"Pagi Mbak Lit. Mas Dain. Buku kemarin saya foto. Hari ini sepi, tapi Bu Sari tetap antar. Ada yang tanya Mbak kapan masuk, saya bilang sakit, jangan ditanya di depan."
Lita memakai kacamata yang jarang dipakainya. "Baca kiloan. Jangan baca gosip."
Nana membaca. Angka mundur dari minggu biasa, bukan mati. Ada tiga pelanggan lama, dua baru yang titip tanpa nama, satu order dibatalkan lewat chat kasar. Lita mencatat di kertas, bukan di kepala. Dain diam di belakang sofa, tidak menyela, seperti orang belajar bahwa perempuan ini punya kerajaan kecil yang berbau sabun.
"Yang chat kasar, blok. Jangan balas. Uang muka kembalikan kalau sudah masuk, biar tidak ada alasan ribut," kata Lita. "Len jangan lembur sendirian. Satpam sampai tutup. Kalau plat motor kemarin muncul, foto, kirim Jon, jangan kejar."
"Siap Mbak. Mbak, pipi Mbak... kami doain."
"Doa boleh. Komentar di depan toko tidak. Tutup."
Nana sempat menunjukkan layar ke mesin yang sedang berputar, lalu ke pintu samping yang terkunci. Lita menyuruhnya turunkan kamera, bukan karena malu toko, karena kebiasaan rekam sudah menjadi racun seminggu ini.
Setelah video mati, Lita menutup laptop, napasnya agak pendek, lalu tersenyum kecil pada Dain.
"Aku masih hidup. Toko juga."
"Kamu bos yang lebih tenang dari kapten yang saya kenal."
"Kapten tidak dihina di portal. Jangan puji. Puji bikin aku kendor. Hitung saja. Kalau aku salah potong harga Bu Sari, itu lebih memalukan daripada judul."
Dain menyeka meja dari remah telur. "Kamu tidak salah. Nana yang salah ketik. Kamu yang betulkan. Saya cuma berdiri."
"Berdiri juga kerja. Dulu kamu hanya duduk di perjanjian. Beda."
Letta menyodorkan telur. "Tidak asin. Om lulus. Bunda makan dua."
Lita makan dua. Dain makan berdiri. Orlando menelepon.
"Pengacara jam sepuluh ke portal yang kemarin terbit. Loe tidak usah ikut. Caption sudah diubah, mereka masih bisa diminta turunkan crop memar. Freya diam semalam. Mama Freya juga. Diam itu bukan tobat. Diam itu nyusun. Loe jaga rumah. Jon ganti shift. Plat motor belum muncul."
"Gue di sini. Lita kerja dari sofa. Kabari kalau ada folder baru."
Dain menutup. Lita menatapnya.
"Diamnya Freya membuat aku lebih takut daripada live."
"Aku juga. Makanya pintu tetap rantai. Aku tidak ke bandara dulu. Ada chat dari kantor, saya belum buka."
"Buka. Kerja kamu jangan ikut saya kubur."
Dain membuka. Pesan dari manajemen: mohon datang ke kantor hari ini, urusan pemberitaan, tidak ada flying dulu sampai briefing. Dain menunjukkan ke Lita.
"Mereka tidak pecat. Mereka panggil. Itu masih lebih baik daripada diusir dari cockpit tanpa bicara."
"Pergi. Aku bukan anak. Nana sudah di garis. Letta dengan saya. Sopir Tante masih di bawah?"
"Sampai Jon datang. Aku telpon Mom, minta orang tambahan siang, bukan karena kamu lemah, karena folder kemarin nyata."
Lita mengangguk. "Jangan statement di kantor. Kamu pilot, bukan juru bicara keluarga."
Dain mandi cepat di kamar mandi tamu, ganti kemeja, mencium ubun-ubun Letta, berdiri di ambang Lita.
"Kalau batuk jadi sesak, telpon. Kalau Freya di lobby, jangan turun. Aku pulang setelah briefing."
"Pulang. Jangan belok ke cafe tujuh tahun."
Dain hampir tersenyum. Kalimat itu sudah menjadi semacam doa rumah.
Di basement, sopir Jesika mengangguk. Dain menyetir sendiri ke kantor maskapai, pelan, radio mati. Di lampu merah dia hampir membalas Freya yang masih kosong, lalu ingat pengacara: jangan telepon, itu yang dia mau. Dain menaruh ponsel menghadap ke bawah.
Kantor berbau kopi dan karpet. Ada poster keselamatan di dinding yang Dain hafal sejak sekolah terbang. Orang-orang menoleh, lalu pura-pura sibuk. Seseorang menarik kursi terlalu keras. Dain tidak menyapa panjang. Dia masuk ruang briefing dengan punggung lurus, bukan karena berani, karena Lita bilang jangan jadi kecil.
Sebelum pintu tertutup, dia sempat melihat layar televisi di lobby karyawan, channel berita pagi, bukan wajahnya. Itu keberuntungan kecil. Dia duduk. Map di meja sudah terbuka sebelum dia bicara.