Author POV
Dain bangun karena alarm, bukan karena batuk, bukan karena ketuk.
Sofa masih pendek, tapi punggungnya tidak sebesar kemarin. Barbie Letta sudah pindah ke lantai, satu tangan patah mengarah ke gorden. Plafon retak di pojok yang sama. Dain mematikan alarm sebelum berbunyi kedua kali, takut Lita kira ada berita. Sebentar dia hanya duduk, menghitung napas, memastikan tidak ada sirine di kepala.
Ponsel bersih dari Freya. Ada chat Jon: sepi semalam. Ada chat Nana: toko buka, belakang sudah siap, jangan lama. Ada chat pengacara: jangan etalase, jangan lama, jangan foto. Dain membalas Nana satu kata: siap. Lalu dia ke ambang, pelan, seperti orang yang tidak mau merusak rumah yang baru saja bisa tidur.
Lita sudah duduk di tepi ranjang ketika Dain ke ambang, memegang dinding, rambut diikat, kemeja kerja yang sempat dia setrika.
"Lima menit," kata Lita dulu, seperti takut Dain yang lupa. "Belakang. Tidak ke etalase. Letta?"
"Ikut. Lebih aman daripada ditinggal. Mom tidak bisa pagi. Daddy ada rapat."
Letta muncul dengan tas sekolah yang tidak dipakai ke sekolah, isinya barbie dan buku tugas. "Letta jaga pintu belakang. Tidak foto. Hafal."
Dain masak telur, garam sedikit, Letta luluskan setelah mencicipi dengan wajah hakim. Lita makan empat suap, lebih dari kemarin, lalu berhenti karena mobil, atau karena perut, atau karena takut lima menit jadi lima berita. Dain tidak memaksa. Dia siapkan jaket untuk menutup pipi Lita jika perlu, bukan karena malu, karena janji tidak jadi konten.
"Kalau saya minta lebih dari lima, kamu boleh tarik," kata Lita. "Saya keras kepala soal mesin. Kamu jangan ikut keras di tempat yang salah."
"Saya tarik di menit kelima. Tidak di menit pertama. Anda bos toko, bukan bos risiko."
Letta memasukkan botol minum ke tas. "Letta hitung. Om jangan curang tambah menit."
Di basement, Jon sudah di mobil kedua. "Saya jalan di belakang, Bos. Plat belum kelihatan. Satpam toko siap. Masuk gang, bukan jalan utama."
Dain menyetir pelan. Lita di samping, sabuk longgar, tangan di perut tanpa sadar. Letta di belakang menghitung lampu merah. Radio mati. Kota pagi berbunyi motor dan pedagang, biasa, seolah portal tidak pernah menulis nama mereka.
"Kalau ada kamera, kita putar," kata Dain.
"Kalau hanya pelanggan, saya turun. Saya rindu mesin, bukan rindu perang."
Gang belakang laundry sempit, bau sabun dan knalpot. Pintu besi kecil terbuka dari dalam. Nana menarik Lita masuk, hampir menangis, lalu menahan diri karena Lita sudah menggeleng: jangan adegan.
Dalam, mesin berputar. Uap menempel di rambut. Lantai agak basah di dekat pembuangan. Len mengangguk, tangan masih berbusa. Karyawan ketiga menunduk, lalu menyodorkan pena untuk nota, seperti Lita tidak pernah pergi. Lita berjalan pelan, menyentuh tutup mesin seperti orang pulang ke rumah yang sempat dirampok, lalu ke meja nota, membaca angka yang sudah dia koreksi dari sofa. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut kamera, karena rindu yang ditahan.
"Yang batal kemarin, sudah dikembalikan?"
"Sudah, Mbak. Bu Sari minta ditambahkan pewangi. Saya catat. Ada titipan tanpa nama, kami tolak. Ada juga yang minta diskon karena 'berita', saya tidak kasih. Mbak jangan marah."
"Tidak marah. Tolak yang tanpa nama. Jangan terima karung aneh. Diskon berita tidak ada. Kita jual bersih, bukan jual kasihan." Lita menatap Dain, lalu jam di dinding yang miring. "Dua menit lagi. Saya ke gudang pewangi, bukan ke depan. Nana, jangan ikuti saya beramai-ramai. Kelihatan seperti iring-iringan."
Nana tertawa kecil, basah. "Siap, Mbak. Dua menit."
Dain berdiri di dekat pintu belakang, bukan mengikuti ke gorden etalase. Letta duduk di kursi plastik, kaki menggantung, memegang barbie. Jon di gang, ponsel siap.
Di gudang, Lita menarik napas dalam. Bau yang dia rindu. Dain melihat dari ambang gudang, tidak masuk penuh, memberi ruang.
"Cukup?" tanyanya.
"Cukup. Saya masih hidup di sini. Bukan hanya di berita." Lita berbalik, lalu berhenti. Dari celah gorden depan, ada suara ketuk kaca. Bukan keras. Cukup untuk membuat Nana memucat.
"Jangan buka," kata Dain.
Nana mengintip. "Bukan wartawan, Mas. Pelanggan lama. Pak RT. Bawa karung. Kelihatan tidak bawa kamera."
Lita menimbang. "Saya tidak ke depan. Nana terima, catat, jangan sebut saya di dalam. Lima menit habis. Kita pulang."
Mereka keluar dari belakang saat Pak RT masih di etalase. Lita tidak menoleh. Dain menuntun siku, tidak menarik. Letta naik dulu. Jon menutup pintu besi.
Di mobil, Lita tersenyum kecil, lalu meringis karena sabuk. Jemarinya masih berbau pewangi gudang. Dia menghirupnya sekali, seperti orang yang mencuri rumahnya sendiri.
"Mesin masih kenal saya. Saya tidak menangis di depan karyawan. Itu kemenangan saya hari ini. Bukan portal. Dain, terima kasih tidak menarik saya di menit pertama."
"Pulang. Duduk. Dokter tidak marah kalau lima menit. Enam saya yang marah."
Letta mengangkat barbie. "Toko wangi. Tidak ada Tante Frey. Om lulus jaga. Letta hitung empat menit. Om curang kurang, bukan lebih. Lulus."
Dain hampir tertawa. "Om menerima nilai. Sabukmu, dik."
Mereka lewat jalan yang tidak biasa, lebih panjang, lebih sepi. Lita tidak protes. Dia memegang jaket di pangkuan, tidak jadi dipakai menutup muka, karena belakang tidak ada lensa yang mereka lihat. Yang tidak mereka lihat, belakangan, tetap ada.
Di spion, Dain melihat motor di ujung gang, hoodie, terlalu jauh untuk plat. Dia tidak ngegas. Dia chat Jon. Jon putar, motor sudah hilang. Mungkin ojek. Mungkin bukan. Dain tidak menceritakan ke Lita di jalan. Di unit, setelah rantai terpasang, baru dia bilang.
"Ada motor jauh. Tidak dekat. Tidak foto yang kami lihat. Kamu tetap sofa. Lima menit tidak diulang besok. Lusa, kalau sepi."
Lita mengangguk, tidak memaksa. Pipinya lebih tenang. Dain merebus air. Letta mengerjakan tugas. Pagi itu, untuk pertama kali sejak tamparan, Lita berbau sabun toko, bukan hanya obat rumah sakit. Dain menghirup itu di dapur, tidak mengucapkan, takut terdengar seperti pesta.