Author Pov
"Astaga a...adik Barbie"
"Om tadi" pekik kedua orang yang berbeda generasi ini secara bergantian.
"Iya adik berbie, I...ini mama kamu"?
"I...iya" jawabnya dengan bibir bergetar.
"Seperti perkiraannya tadi mamanya juga cantik bahkan sangat cantik"
"Asta...ga kalian tidak papa" tanyanya dengan berjongkok. Kini air hujan turun semakin deras.
"Tidak papa mas, ayo sayang kita pulang"
"Mo...motornya bunda" tunjuk anak kecil itu kepada motor tergeletak tak jauh dari tempat mereka berada.
"Motor kalian pasti rusak dan tidak bisa dipakai. Ayo naik ke mobil saya biar kalian saya antar"
"Tidak perlu mas biar kami naik Taksi saja"
"Di malam seperti ini ditambah hujan pasti akan sulit mencari Taksi Dan purna kawannya. Ayo ikut dengan saya, saya insyaallah orang baik mbak gak akan nyulik kalian kok su...suer nih" Dain mengusap mukanya yang terguyur air hujan, kini dirinya sudah merasa kedinginan sehingga dia membekap tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Kalau kamu tidak mau saya bantu ya sudah saya pergi, saya niatnya baik kok mau menolong kalian terlebih anak kamu kasian dia sudah kedinginan seperti itu"
Seorang wanita yang sejak tadi terus membekap putrinya itu langsung terdiam. Kemudian dia menatap putri yang ada didekapannya yang sudah sangat kedinginan.
Sedangkan Dain bersiap berdiri dan pergi dari sana, namun saat tubuhnya sudah berbalik sebuah suara keluar menahannya.
"Saya minta tolong" suara itu begitu lirih, bahkan seperti suara yang menahan sesuatu.
"Bagus. Okey, kalau gitu sini biar aku gendong anak kamu"
"Motorku?"
"Biar motormu nanti diurus sama orang suruhanku"
"Te..terima kasih. Astaga baju-bajuku" pekiknya sambil melihat beberapa kantong plastik terjatuh dan berantakan di jalanan.
"Bentar aku bawa anak kamu ke mobil nanti akan aku bantu" setelahnya dengan cepat Dain membawa tubuh kecil yang tengah kedinginan itu kedalam mobilnya karena dia harus menyelamatkan anak kecil ini, barulah dia akan menyelamatkan ibunya.
Setelah menaruh tubuh kecil itu didalam mobilnya, dia segera kembali berlari keluar membantu seseorang yang mengambil beberapa kantong plastik yang terjatuh di jalan itu.
"Sini, biar aku yang bantu" entah ucapannya yang tiba-tiba membuat orang yang tengah mengambil beberapa kantong plastik terkejut itu atau bagaimana karena membuatnya mundur hingga hampir terjatuh. Beruntungnya dengan sigap Dain menahan tubuh itu hingga tubuh kecil itu berada didalam pelukannya.
Deg Deg Deg
Degupan jantung keduanya berdetak seirama dengan suara turunnya hujan dari langit. Dan dibawa guyuran hujan ini keduanya saling mendekap tubuh itu hingga kehangatan menjalar ke seluruh tubuh masing-masing.
Lama keduanya dalam posisi seperti itu hingga keduanya sama-sama saling melepaskan pelukan itu.
"Ma...af, sini biar saya yang bawa" dengan cepat Dain mengambil beberapa kantong yang terjatuh lagi langsung diambilnya dan dibawahnya.
"Ayo kita masuk" ajaknya. Kemudian keduanya berjalan bersama-sama menuju ke mobil dan memasukkan barang-barang itu ke bagian belakang mobil.
"Maaf ya berantakan gini kamu taruh sini saja" Dain menata secara acak-acakan barang-barangnya yang ditaruh dibagian belakang mobilnya. Dia memang bukanlah anak yang rapih sehingga seperti inilah bisa dilihat di mobilnya sangat berantakan akan barang-barang miliknya yang memang malas dibersihkannya, terlebih baju-bajunya yang ada di koper dia berantakkan karena tadi dia mengambil bajunya untuk ganti di apartemen kekasihnya dan setelahnya dia malas membersihkannya lagi jadilah seperti ini semuanya begitu berantakkan.
Setelah selesai memasukkan barang-barang itu mereka menuju ke kursi penumpang bagian paling depan yang sudah ada anak kecil yang tengah bergelung didalam selimut kesayangan Dain yang memang selalu dibawanya kemanapun itu bahkan saat dia bekerja sekalipun.
Dain langsung menjalankan mobilnya menembus jalanan malam yang hujan masih turun dengan begitu deras ini.
"Masih dingin sayang?"
"E...enggak bunda su...sudah lebih hangat" jawabnya dengan masih berada di pelukan bundanya.
"Syukurlah kalau sudah tidak kedinginan sayang. Kamu tidur ya"
"I...iya bunda"
Interaksi antar ibu dan anak itu tidak luput dari perhatian Dain. Walaupun Dain tengah fokus dengan kemudinya, tetapi seringkali dia melirik arah di samping kirinya. Dari mulai bagaimana seorang ibu yang begitu perhatian kepada putrinya hingga perjuangan ibu menidurkan putrinya itu tidak luput dari perhatiannya.
“Sungguh luar biasa wanita ini mencintai anaknya, dan itu terlihat dari mata dan tindakannya. Dia membuatku mengingat akan Momma yang juga menyayangi anak-anaknya, walaupun anaknya banyak sekalipun”
"Selamat malam sayangnya bunda"
"Kamu pasti kedinginan juga, bahkan bibirmu sudah pucat seperti itu. Bentar saya masih punya jaket" dan tepat saat itu didepan mereka ada lampu merah membuat Dain menghentikan mobilnya, kemudian dia berdiri dan mengambil sesuatu dari belakang.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia menariknya secara paksa kedepan hingga barang-barang yang lainnya juga ikut tertarik kedepan bahkan terlempar ke depan.
"Nah in..."
"I...itu ka...mu" Dain yang ditunjukkan sesuatu membuatnya langsung melihat kearah yang di tunjuk, hingga dia tau dan langsung membuatnya malu setengah mati dengan barang yang kini terpampang dengan jelas di bagian dashboard.
"Haduh ma...af yah" dengan cepat dia mengambil barang itu sambi. menggerutu merutuki kecerobohannya. "Pak-sempak ngapain ikut-ikutan gini sih malu-maluin aja"
Ditengah Dain melemparkan barangnya kebelakang tiba-tiba dia mendengar suara tawa dari sampingnya, membuatnya langsung melihat ke arah sampingnya Dan ternyata tawa itu berasal dari orang yang di sebelahnya.
"Ma...maaf sa...saya tidak bermaksud mengejek"
"Tawamu begitu menetramkan hati"
"Iya aku paham. Pakailah jaket itu biar kamu bisa lebih hangat lagi"
"Apa ka...kamu saja yang memakainya, kamu pasti akan membutuhkannya"
"Tidak aku tidak apa pakailah, kamu lebih membutuhkannya" Dain terus memandangi orang yang ada disebelahnya itu yang kini ternyata tengah kesusahan memakai jaket miliknya karena ada putrinya di pangkuannya yang sudah terlelap itu.
Dain yang mengetahui hal itu segera membantunya. Tanpa meminta ijin dia langsung melakukan hal itu. Dain terus melakukannya tanpa memperdulikan bahwa tindakannya itu membuat sang pemilik terus menatapnya.
"Sudah sel..." Dain belum selesai mengucapkannya karena kini tatapan matanya kembali dibuat terpaku pada sang pemilik mata hitam pekat yang ada didepannya ini.
"Hijau" gumam wanita yang ada didepan Dain, karena dia baru menyadari bahwa orang yang telah membantunya ini memiliki mata yang berwarna hijau.
"Hah apanya yang hijau?"
"Lampunya"
"Hah" Dan seketika Dain langsung memutar tubuhnya dan menghadap ke depan. Benar bahwa lampu yang tadinya merah kini sudah berganti menjadi hijau.
Dengan cepat Dain kembali menjalankan mobilnya. Dan setelahnya hanya ada keheningan dari keduanya hingga Dain lah membuka suara untuk memecahkan keheningan yang sangat membosankan baginya ini.
"Nama kamu siapa?" Tanyanya dengan melihat ke samping kiri sebentar kemudian dia fokus kembali dengan jalanan didepannya. Dimana sekarang hujan mulai sedikit reda.
"Nama saya?"
"Iya neng, masa nama aku. Kalau nama aku mah sudah tau dari bayi yaitu Dain. Ingat yah namaku Dain karena aku gak suka kalau seseorang tidak memanggilnya dengan baik misalnya memanggil Dan Din Dein itulah apalah. Pokoknya aku gak suka kalau gitu..."
"Iya" potong wanita itu langsung.
"Lalu nama kamu siapa?"
"Lita"
"Lita?"
"Kenapa?"
"Enggak nama kalian mirip saja, kamu Lita dan anak kamu itu Letta kan yah" Dain tertawa kecil.
Disini Dain lah yang mencoba mengakrabkan diri kepada orang yang baru saja dikenalnya ini. Dan terlihat dia berbicara seperti sudah kenal lama dengan wanita yang bernama Lita ini.
Sementara itu, Lita masih sedikit canggung karena mereka baru pertama kalinya bertemu tetapi laki-laki yang menolongnya dan juga putrinya tadi ini terlihat begitu akrab kepadanya seperti sudah kenal lama, sehingga dia bingung akan menanggapinya seperti apa jadi dia lebih memilih untuk diam saja.
"Ini rumah kamu dimana ya?"
"Dari perempatan depan nanti belok kanan" tunjuknya untuk memberitahukan jalan menuju ke rumahnya.
Dain mengangguk mengerti, kemudian dia menjalankan mobilnya ke arah sesuai dengan apa yang ditunjuk oleh wanita yang ada disampingnya ini. Hingga kini mereka sudah tiba ditempat tujuan.
Sebuah rumah petak kecil ada didepan mereka. Dan rumah itu adalah rumah kontrakan Lita beserta putrinya.
Dain dibuat tak percaya dengan rumah kecil yang ada didepannya ini, dia tidak menyangka bahwa kedua orang yang ditolongnya ini tinggal dirumahnya yang begitu kecil dan kumuh.
"Kamu sama anak kamu ti...tinggal dirumahnya ini?" Dia yang penasaran itu tanpa pikir panjang menanyakan hal yang bisa dibilang sedikit sensitif untuk Lita.
"Iya mas, ini rumah kontrakan. Saya hanya bisa menyewa rumah petak kecil seperti ini untuk kami. Kalau gitu makasih atas bantuannya sampai mengantar kami kesini. Kalau gitu saya turun dulu Ass..."
"Biar saya bantu, apakah begitu cara berterima kasihmu sama orang yang telah menolongmu. Hanya ucapan terima kasih tanpa ditawari untuk masuk dulu dan sekedar minum teh"
"Maaf tapi...baiklah ayo mari ke rumah kami. Tapi maaf rumah kami jelek dan kumuh"
"Tidak masalah bagiku yang penting aku bisa mencari kehangatan dulu karena aku sudah kedinginan"
"Iya ayo"
"Kamu tunggu dulu biar aku saja yang menggendongnya" setelah mengucapkan itu, Dain langsung turun dari mobilnya dan berjalan ke pintu penumpang seberangnya dan menggendong anak kecil yang sudah terlelap dalam tidurnya.
"Ayo mari masuk" Lita mempersilahkan tamu yang sedang menggendong putrinya itu untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
"Ini ditaruh dimana?"
"Dikamarnya saja" Dain hanya bisa menurut dan mengikuti langkah kaki Lita ke sebuah kamar yang penuh dengan boneka.
"Saya ijin ke kamar mandi dulu mau ganti pakaian ya. Bolehkan?"
"Iya kamar mandi dibelakang kamu lurus saja. Kamar mandi ada di sebelah dapur"
"Okey" Dain segera keluar dari kamar itu. Sementara itu Lita segera mengambil baju untuk putrinya dan menggantinya karena putrinya pasti sudah kedinginan dengan baju yang basah ini.
⚪⚫⚪⚫⚪⚫
"Ini teh nya. Mari diminum" Lita meletakkan secangkir teh hangat buatannya dihadapan Dain, setelahnya dia meletakkan satu cangkir lagi didepannya.
"Makasih ya" tanpa membuang waktunya Dain segera meminum teh itu, karena tubuhnya kini begitu kedinginan dan membutuhkan kehangatan.
Beberapa tegukan diminumnya untuk menghangatkan tubuhnya dan benar teh itu kini membuat tubuhnya jauh lebih enak dari sebelumnya.
"Minumlah biar tubuhmu juga hangat" ucap Dain ketika dia menyadari bahwa Lita belum meminum tehnya.
"Oh iya itu barang-barang kamu ya" Dain menunjukkan beberapa kantong plastik yang ada di dekatnya.
"Ah i...iya. Ma...makasih" Lita yang baru tersadar dari lamunannya itu langsung meminum tehnya.
"Ma..." Lita hendak mengucapkan sesuatu kepada tamunya ini agar segera pulang agar tidak menimbulkan fitnah dari tetangga karena dia tidak mau terus menerus di fitnah yang tidak-tidak oleh tetangganya sehingga dia hendak menyuruh tamunya ini untuk segera pulang tapi sebelum dia mengucapkan maksudnya, terdengar suara anaknya dari kamar yang memanggil namanya.
"Bunda"
"Letta" tanpa pikir panjang Lita segera berlari menuju ke kamar putrinya dan di belakangnya disusul oleh Dain.
"Bunda" panggil Letta didalam tidurnya. Dia mengigau karena badannya tengah demam akibat hujan-hujanan tadi.
"Ya ampun nak, badanmu demam. Bentar bunda ambilkan kompres" Lita segera berlari ke dapur meninggalkan putrinya bersama dengan orang yang menolong mereka.
Tak lama Lita kembali dengan membawa air di baskom. "Apa sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja" tawar Dain karena dia tidak tega melihat Letta tengah mengigau dengan tubuh yang sangat demam.
"Tidak perlu, biar dia dikompres sama minum obatnya saja" namun disaat itu, tiba-tiba Letta mengigau dan memanngil ayahnya.
"Ayah...ayah Leta kangen ayah. A...ayah kapan pulang jenguk bunda sama Letta" perkataan Letta itu, membuat Lita sang bunda terkejut.
"Sayang. Bunda disini nak" jawab Lita dengan kembali mengobati putrinya.
Dan ternyata hal itu sejak tadi diperhatikan oleh Dain. Bahkan dia dibuat terkejut dan bertanya-tanya dalam hati. "Suami dan ayah Letta kemana?Apa benar ayahnya meninggalkan mereka. Sungguh malang nasib mereka. Kalian wanita yang hebat, kalian hidup dengan saling menyayangi"
"Cepat sembuh ya sayangnya bunda" Lita mengucapkan itu tidak sadar jika sejak tadi dia diperhatikan.
"Ke...kenapa?" Dan kini dia baru tersadar bahwa sejak tadi dia tengah di amati oleh Dain.
"Ti...tidak... apa"
Lita hendak membawa baskom kembali ke dapur namun entah mengapa lantai menjadi licin membuatnya hampir terjatuh tetapi jatuhnya di...
Bug
"Ahh" ringisnya sambil menutup matanya karena dia pikir dirinya akan terjatuh ke lantai dan akan membentur sesuatu tapi ternyata perkiraannya salah. Dia terjatuh di sesuatu yang keras tapi tak sekeras lantai karena ada beberapa bagian yang tidak keras.
Tapi ada yang sedikit aneh, karena dia merasa bibirnya seperti menempel di sesuatu yang kenyal. Dengan memberanikan diri dia membuka matanya dan ternyata...
Bibirnya menempel di bibir seseorang yang ada dibawahnya. Bukannya dia menarik tubuhnya tetapi tubuhnya seperti tersihir dan tidak bisa bergerak sehingga dia masih berdiam di posisinya saat ini bahkan untuk nafas saja dia menahannya.
Kedua insan yang sudah sangat dewasa ini, terlebih dengan posisi yang seperti itu membuat keduanya melanjutkan ke hal yang seharusnya tidak mereka lanjutkan. Dan tidak tau siapa yang memulainya, tapi kini bibir keduanya saling terkait. Kedua bibir itu saling mencari kepuasan masing-masing.
Mereka terus melakukannya, hingga tiba-tiba Lita tersadar atas perbuatannya yang salah ini dan langsung mengakhiri semuanya.
"Pergilah. Nanti bisa ada fitnah buat saya"
"Ma...af saya ta..."
"Iya pergilah, sekali lagi terima kasih"
Dian sudah tidak bisa berkata-kata lagi membuatnya langsung pergi dari sana dan pulang.