Author POV
Pagi setelah tiga pendek batch ini, Dain bangun karena Letta mengetuk jam, bukan karena piala, bukan karena Freya, bukan karena roster berikutnya.
Kaki pegal, bukan kesemutan saja. Kaos kusut. Ember kosong. Plafon retak. Gorden turun. Portal mati. Ponsel di mangkuk. Roster batch ini sudah lewat, kertas tidak dicoret, magnet longgar. Pagi itu rumah berbunyi hakim yang memeriksa om yang sudah pulang tiga kali dan tidak beli selesai.
"Om, jam masih. Om tidak cabut. Lulus. Bunda angka. Om masak. Tiga sudah, hidup belum, hari ini rumah. Kaos. Hakim lapar. Jangan kerah. Jangan lagu. Jangan buka mangkuk. Titik. Diam gratis. Hakim larang pesta tiga. Hidup belum."
Dain duduk, punggung sofa menuliskan garis, cek ponsel dengan takut kebiasaan, lalu kembali ke mangkuk. Tidak ada Freya. Tidak ada judul hamil. Tidak ada roster baru. Ada Nana: aman. Ada Jon: sepi. Ada Orl: nanti telpon, jangan buka story, kalimat hampir di pengacara, Freya lagu. Dia tidak buka. Lita sudah di sofa, kacamata, pipi kuning, tidak pucat, ember tidak dipakai.
"Tidak mual. Jangan IGD muka. Air sudah. Telur, garam sedikit. Jangan buka story. Tiga terbatas selesai, jangan hero tambah. Jangan minta rute jauh. Jangan beli selesai karena kamu sudah pulang tiga. Pulang tiga bukan izin cincin. Sofa. Titik. Kunci di mangkuk. Hidup belum."
Dain ke dapur, api kecil, tidak ngegas. Letta hakim, kaki menggantung, mencicipi, luluskan. "Tidak asin. Tidak gosong. Om tinggal. Bunda enam suap. Titik. Kalau om buka portal, hakim ambil piring. Kalau om pesta tiga, hakim cabut permen." Lita makan enam, damai, buah, damai. Dain berdiri makan. Mereka tidak TV. Dain hampir portal, Lita tepuk tangan. "Diam. Beli diam rumah. Tiga bukan izin judul."
Siang, Lita telpon Nana, tidak turun, tidak lima menit. Dain bantu PR, salah bagi, dibetulkan, pelan. Letta ulang titik. Dain di kamar saat layar, keluar setelah mati, cuci piring. Lalu Orl telpon, suara rendah, bukan pesta, Lita minta speaker.
"HRD belum roster berikutnya. Freya chat ke gue, bukan ke loe: tiga sector tidak mencuci perut, saya tetap bisa judul kapan saja, Dain mau damai atau tidak. Pemerasan lama, kemasan baru. Jangan balas. Pengacara. Jangan hon. Jangan gerbang. Loe sofa. Rumah sapu. Gue simpan chat. Tante Jesika tahu. Jangan loe yang ngegas. Kalau loe ngegas, itu yang dia mau. Damainya dijual. Loe jangan beli."
Dain duduk, kunci tetap di mangkuk. Lita dengar, pipi panas, bukan IGD, tangan di kusen, bukan di perut.
"Dia jual damai. Damai tidak dijual. Kita tidak beli. Teruskan. Tidak hon. Tidak balik. Sofa. Roster berikutnya belum, tetap pelan. Kalau dia sebar, pengacara. Kalau tidak, tidur. Saya belum nama. Saya belum adik. Saya tidak lahirkan nama karena takut mulut. Titik. Kamu jangan ke kampus. Jangan ke gerbang. Jangan cafe. Cuci piring. Tekan magnet. Tidur. Tiga bukan piala. Tiga adalah kamu pulang. Hidup belum."
Sore, pengacara somasi atas tawaran damai, bahasa pelan, bukan pesta media, bukan portal. Jesika marah dingin, datang sebentar, cuci gelas, pegang tangan Lita, tidak pegang perut. "Tawaran damai adalah ancaman. Kita tidak beli. Nama nanti. Sekarang titik. Dain, kunci tetap di mangkuk. Jangan kamu yang balas. Jangan hon. Jangan gerbang. Jangan pesta tiga." Gavin chat: pelan. Dain titik. Letta PR, titik, tidak tumbuh. Dain tidak ke kampus, tidak ke gerbang, tidak ke cafe. Koridor tiga, bukan lima, Lita di kusen, tetangga menunduk, satu hampir tanya perut, Dain sudah menunduk lebih dulu. Masuk, rantai, gorden, portal mati. Dain menyapu remah, Lita mengkritik sudut, Letta meniru sapu. Kerja kecil, bukan judul, bukan beli damai.
Mereka makan. Telur lulus. Lita enam suap. Dain tidak buka lagu. Letta mengunyah, tanya, serius. "Om dekat, kan? Bukan jauh. Bunda tidak sendirian. Nenek bisa. Ember ada. Kalau tante jual damai, Letta tidak beli. Diam gratis di rumah. Hakim larang beli damai. Hakim larang pukul. Hakim larang hon. Tiga sudah. Hidup belum. Om tidak pesta."
"Dekat. Pulang. Tidak beli damai. Titik, bukan pukul." Dain berjongkok, sejajar. Jesika pergi sebelum magrib, cukup. Gavin tidak datang, cukup. Orl tidak mampir kedua, cukup. Cukup itu tema. Bukan selesai. Bukan judul. Cukup.
Malam Lita di ambang, lebih kuat, lebih capek, hampir bilang sesuatu yang lebih dari titik, lalu menahan.
"Dain. Kamu sudah pulang tiga. Kamu tidak ngegas. Sekarang dia jual damai. Kita tidak beli. Roster berikutnya belum. Saya belum nama, belum adik. Nama itu ada di kepala saya, tidak di mulut, tidak di grup, tidak di damai Freya. Saya bilang: tidak beli diam, tidak beli selesai, tidak beli tas, tidak beli prihatin, tidak beli tinggal waktu, tidak beli damai. Beli pulang. Beli titik. Kalau judul muncul, Mom, bukan kamu ngegas dari sofa ke gerbang. Kalau mulut sekolah, titik. Kalau ember, pakai. Kalau tidak, menganggur. Sofa. Kaos. Jam jelek. Magnet tekan. Titik. Jangan senang sampai jadi pesta. Senang kecil: kunci di mangkuk, somasi pelan, hakim yang tahu diam gratis. Tiga selesai. Hidup belum. Jangan beli selesai. Nama nanti. Bukan malam ini."
"Tidak beli damai. Tidak ngegas. Pulang. Sofa. Nama nanti. Titik." Dain menatap plafon. Letta titip barbie sebentar. "Hakim larang beli damai. Diam gratis di rumah. Om kaos. Tante jangan judul. Om sudah pulang. Jam masih. Hidup belum. Hakim jaga. Nama nanti. Hakim belum dengar nama." Dain memejam, tiga pendek sudah, tawaran damai, perut jadi tanya, belum judul, nama ada di kepala Lita, bukan di mulut, kertas kulkas lebih jujur daripada perjanjian pertama, muka ember, bukan cafe, bukan hon, bukan balik.
Dia hampir tidur, lalu bangun sebentar, cek ember, cek rantai, cek gorden, cek Lita yang sudah tutup pintu, tidak kunci. Ponsel di mangkuk. Somasi sudah jalan. Damai Freya ada di pengacara, bukan di rumah. Nama belum. Jam jelek tetap. Magnet longgar, Dain tekan. Tidak beli selesai. Beli tekan magnet. Beli tidur. Beli tidak kabur. Beli tidak buka grup. Beli hidup yang belum, bukan piala yang sudah. Beli Mom, bukan hero. Beli titik di mulut Letta, bukan tumbuh di grup. Beli nama nanti, bukan nama malam ini. Kaki menggantung. Ember di lantai. Portal mati. Rumah tidak pecah. Itu yang mereka beli malam itu, sebelum roster berikutnya, sebelum judul yang belum, sebelum nama yang belum, sebelum Freya yang jual damai dan tidak mereka beli. Letta di kamar berbisik ke barbie, Dain dengar samar, tidak masuk. "Damai tidak dijual. Om tidak beli. Bunda titik. Jam masih. Om pulang. Hakim jaga. Tiga sudah. Hidup belum. Nama nanti." Dain tersenyum kecil di gelap, tidak pesta, tidak lagu, cek rantai sekali lagi, gerakan bodoh, tekan magnet sekali, lalu memaksa dirinya tidur sebelum kepala jadi toko.