"Cinta, menikahlah denganku! Aku mohon!" Kata-kata Rey meluncur dengan lancar sambil kedua tangannya menangkup kedua tanganku. Aku terpana dengan kalimat yang diucapkan Rey, sehingga hanya bisa mematung. Antara terkejut, bingung, bahkan tidak tahu mengapa Rey mengucapkan kata sakral itu.
"Cinta," panggil Rey sekali lagi.
"Kamu sakit, Rey?"
"Sakit?" tanya Rey balik. "Enggak Cinta, aku sehat, baik-baik aja. Kamu lihat sendiri kan aku bugar gini."
Mataku memicing untuk mengamati wajah Rey, mencari keanehan dari raut mukanya.
"Kok malah melamun. Jawab, Ta. Kamu setuju kan kita menikah?"
"Rey, udah deh bercandanya, nggak lucu." Kukibaskan tanganku agar terlepas dari genggaman Rey.
"Aku serius, Ta. Aku nggak bercanda. Aku ingin menikah denganmu." Rey berkata sambil berusaha menggenggam kedua tanganku lagi.
Aku menghela napas dan menghembuskan dengan kasar agar Rey tahu kesabaranku sudah mulai terkikis. "Okey, dengar ya Rey, kalau kamu ingin simulasi melamar cewek, kayaknya cara kamu ini kurang berhasil. Cewek kamu pasti bakalan terkejut, tapi nggak akan jadi kenangan indah kalau kamu melamarnya di pinggir jalan seperti ini, di samping pedangang kaki lima pula. Nggak nyangka seorang Rey seremeh ini memilih tempat lamaran."
Rey melepaskan genggamannya pada tanganku. Mengusap wajahnya dengan frustasi, kemudian sekilas mengacak rambutnya. Aku sangat hafal gestur ini. Rey bersikap seperti ini kalau dia sudah mulai putus asa. Selama sembilan tahun aku mengenalnya, membuatku tahu semua kebiasaannya bahkan yang terburuk sekalipun. Namun gerakan selanjutnya yang dilakukan Rey semakin membuatku takut. Bukan takut akan sikapnya, tapi takut kalau temanku ini memang benar-benar kesambet. Rey menangkup kedua pipiku, mengarahkan pandanganku tepat ke matanya. Tatapannya sarat dengan permohonan.
"Cinta, please menikah sama aku ya. Hanya kamu yang bisa membantuku. Okey, kalau kamu mau aku melakukan lamaran yang romantis, akan kulakukan apapun yang kamu mau. Apa aku perlu berlutut seperti ini?" Dengan gerakan secepat kilat Rey berlutut. "Tapi aku belum ada cincin, Ta. Lupa nggak menyiapkan. Dapat ide melamar kamu saja juga baru terlintas. Waktu tadi di jalan mau jemput kamu," lanjutnya.
"Kayaknya jiwa kamu deh Rey yang sakit, kita ke rumah sakit sekarang, yuk."
Kami sudah menjadi tontonan orang-orang yang lewat. Ini memang jam orang pulang kantor. Kalau Rey saat ini sedang membuat prank untukku, dia sudah berhasil. Skenario prank yang sempurna dengan menjemput temannya pulang kerja, dilamar di depan gedung kantor dengan dilihat orang-orang yang pulang kerja. Untung aku tadi pulang belakangan, sehingga teman-teman kerjaku tidak ada yang melihat kejadian ini. Hanya saja, gedung tempatku bekerja memang kawasan perkantoran. Banyak karyawan kantor lain yang memang baru pulang kerja bisa menyaksikan adegan reality show konyol yang diperankan Rey.
Rey berdiri, menarik tanganku untuk mengikutinya menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan.
"Kita bicara di tempat lain, Ta." Sadar sudah menjadi konsumsi publik, Rey membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk.
"Jadi ada apa sebenarnya, Rey?" Setelah hening beberapa waktu, aku mulai mengajukan pertanyaan padanya. Aku harus tahu alasan dia melakukan hal konyol ini. Rey diam, masih konsentrasi menyetir.
"Kita cari tempat dulu, Ta. Ngobrol sambil makan lebih enak, lapar banget nih."
"Aku nggak bisa lama-lama Rey, Vano mau ujian besok." Aku harus mengajari adikku belajar malam ini. Remaja tanggung seperti Vano kalau tidak diawasi akan bersikap seenaknya. Kudengar Rey berdecak.
"Kamu jangan terlalu overprotective sama Vano, Ta. Biarkan dia menikmati masa remajanya."
"Menikmati masa remaja kayak gimana yang kamu maksud, Rey? Kayak kamu dulu? Big no!" kataku sedikit emosi. Rey anak sultan. Kehidupannya dari kecil bergelimang harta dan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Segala yang diinginkannya dapat terpenuhi dengan hanya menjentikkan jari. Vano beda. Sejak umur enam tahun dia hanya mendapat kasih sayang dariku. Orang tua kami meninggal dalam kecelakaan.
Rey hanya menatapku sekilas. Mungkin dia malas mendebatku, karena memang pasti tidak akan menang.
Akhirnya mobil SUV milik Rey memasuki parkiran restoran seafood yang cukup terkenal.
"Kita makan di tempat lain saja Rey, jangan di sini. Penampilanku lagi nggak banget," kataku ketika Rey akan membuka pintu mobil.
"Sudah terlanjur sampai sini, Ta. Memangnya kenapa dengan penampilan kamu? Biasanya juga begini kan? Insecure seperti itu bukan gaya kamu." Rey berkata dengan santai, kemudian turun dari mobil sambil memberiku isyarat untuk turun juga. Aku bukannya insecure, tapi dengan pakaian seragam office girl seperti ini, jomplang sekali dibandingkan dengan penampilan Rey. Meskipun dia sudah melepas jasnya dan menyisakan kemeja slim fit warna putih, namun dandanannya tetap rapi seperti saat berangkat kerja. Kemejanya yang sudah digulung sampai siku itu juga tidak kusut. Rey juga masih sangat wangi. Penampilannya sudah menandakan kalau dia memang eksekutif muda. Aku takut mempermalukan Rey kalau makan bersamanya dengan baju seperti ini. Aku mengekor di belakang Rey memasuki restoran.
"Bukannya harus reservasi dulu kalau mau makan di sini, Rey?"
"Seharusnya sih iya, tapi apa sih yang nggak bisa buat seorang Rey."
Oke. Aku lupa yang bersamaku saat ini sultannya sultan. Hal yang bagiku mustahil, semudah menjentikkan jari baginya. Sambil menunggu Rey berbicara dengan pelayan, aku mengamati sekeliling. Restoran ini bergaya Jepang. Yang aku pernah baca di artikel pemiliknya memang orang keturunan Jepang. Kemudian pelayan mengarahkan kami ke privat room untuk menunggu penyajian makanan.
"Jadi ada apa sebenarnya, Rey? Ceritakan sekarang." Aku mengulang pertanyaan karena rasa penasaran.
Rey diam sesaat seperti menimbang sesuatu. "Papa sama mama ingin aku segera menikahi Clarissa."
Aku diam menunggunya melanjutkan cerita. Aku tahu siapa Clarissa. Rey pernah cerita akan dijodohkan dengannya.
"Lalu?" tanyaku ketika dia tak kunjung melanjutkan bicara.
"Demi Tuhan, Ta. Aku masih 27 tahun. Belum siap kalau harus menjalani komitmen dengan siapa pun."
"Kamu tinggal bilang sama papa mama kamu."
"Mereka punya berjuta argumen waktu kusampaikan ribuan alasanku menolak. Maka dari itu, Ta. Cuma kamu yang bisa bantu. Kalau aku bilang sama mama mau nikahin kamu, pasti mereka bakal berhenti jodoh-jodohin aku kayak gini."
Aku tidak bisa untuk tidak berdecak. "Lalu kamu mau kita menikah bohongan? Pernikahan itu sakral Rey. Nggak bisa buat main-main." Tidak terasa suaraku sudah mulai meninggi.
"Kita nikah beneran, Ta. Kita ikuti semua prosesinya. Lamaran, ijab qobul, resepsi, semuanya kita lakukan. Kita hanya nggak menyertakan komitmen saja, Ta."
"Lalu apa bedanya kalau kamu menikah dengan Clarissa? Sama saja kan, kamu juga bisa buat kesepakatan seperti itu dengan dia."
Obrolan kami yang sudah mulai memanas terinterupsi dengan kehadiran pelayan yang akan menyajikan makanan.
"Pasti beda, Cinta. Clarissa nggak akan mau seperti itu. Belum ada kejelasan hubungan saja dia seperti ingin merampas kebebasanku. Mau tahu ini itu. Jangan begini jangan begitu." Rey melanjutkan setelah pramusaji selesai menata makanan di meja.
"Terus kamu pikir aku mau?" Aku tahu kebebasan seperti apa yang dimaksud Rey. Pernah menjalani pendidikan di luar negeri, dia tidak hanya pulang membawa ilmu dan pengalaman tapi juga membawa serta kulturnya. Kehidupan malam yang bebas sudah menjadi tabiatnya. Berganti-ganti teman wanita juga hobinya.
Rey meringis lalu berkata dengan sombongnya, "aku kenal kamu, Cinta. Kita hanya tinggal buat kesepakatan seperti biasanya. Kali ini aku nggak akan negosiasi berapapun yang kamu minta."
Rey benar-benar tahu kelemahanku. Ya, ini memang soal materi. Hubunganku dengan dia juga bermula dari hubungan bisnis. Saat SMA dia yang menciptakan peluang itu. Aku hanya memanfaatkan kepandaianku dalam pelajaran saja. Menjadi joki untuk beberapa tugas sekolahnya. Ya, mana mungkin aku bisa masuk dalam lingkaran pergaulan Rey yang didominasi anak para sultan kalau bukan sejenis simbiosis mutualisme seperti ini. Tapi baru kali ini "bisnis" yang ditawarkan Rey susah untuk kulakukan. Sebelumnya yang paling susah hanya harus pura-pura jadi pacar Rey, saat dia akan memutuskan hubungan dengan wanita-wanitanya.
"Bagaimana?" kata Rey membuatku terkejut. "Yaudah pikirin dulu sambil makan. Kamu nggak bisa berpikir realistis kan kalau lagi lapar," lanjutnya sambil menyodorkan piring berisi udang yang sudah dikupas kulitnya.
"Sausnya kesukaan kamu banget ini." Rey berkata sambil menjilat sisa-sisa saus di tangannya.
Lelehan saus yang menggoda, membuat perutku keroncongan. Sambil melahap makanan kesukaanku ini, aku menjawab pertanyaan Rey. "Okey, akan aku pikirkan."
Rey tersenyum penuh kemenangan.