Aku mendengar suara tangisan dari arah ruang rapat direksi saat aku baru saja meletakkan peralatan kebersihanku. Ini masih terlalu pagi untuk para staf kantor datang. Namun ini juga sudah terlalu terang jika para hantu ingin menampakkan wujudnya. Aku mendekati pintu ruangan yang terbuka sedikit untuk mengintip siapa yang pagi-pagi sudah melankolis seperti ini.
"Ya Tuhan, Rania, gue kira Mbak Kunti. Kenapa lo nangis kayak gitu?" tanyaku ketika menemukan Rania berurai air mata.
Sambil sesenggukan dia menjawab. "Ternyata gosip yang beredar selama ini benar, Ta. Perusahaan ini bangkrut. Kita beneran akan di-PHK."
Sudah lama kami mendengar desas-desus pailitnya perusahaan tempatku bekerja ini. Aku pikir itu hanya sekedar gosip. Pun jika benar, aku punya keyakinan para petinggi perusahaan bisa mengatasinya.
"Terus gimana nasib kita, Ta. Meskipun kita cuma OG, tapi gaji di sini lumayan kan? Sering dapat tip juga. Apa kata teman-teman kos gue nanti kalau tahu gue dipecat. Padahal biasanya mereka cuma bisa iri lihat gue kerja di sini," lanjut Rania masih dengan sisa-sisa tangisannya.
"Ya, kita cari pekerjaan lain, Ran. Mau bagaimana lagi? Sebenarnya gue juga berharap banyak di sini." Aku memang menggantungkan harapanku di perusahaan ini. Harapan punya pekerjaan yang lebih baik lagi. Waktu perusahaan mengadakan tes untuk memberikan beasiswa kuliah pada para karyawan, aku ikut serta. Aku satu-satunya dari bagian kebersihan yang lolos seleksi. Kalau yang lain mendapat beasiswa untuk kuliah pasca sarjana, hanya aku yang masih menempuh S1.
"Setidaknya lo bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik pakai ijazah lo, Ta." Kata-kata Rania menyadarkanku kalau sebentar lagi aku wisuda dan bisa menggenggam ijazah.
"Kenapa masih pada di sini? Buruan kumpul di ruang koordinasi, mau ada briefing dari Bu Indah." Kedatangan Beni mengejutkanku dan Rania. Dia office boy yang bertugas satu area denganku.
"Tumben, mendadak banget, Ben?" tanyaku penasaran. Tidak biasanya Bu Indah, kepala bagian kebersihan, mengadakan koordinasi di pagi hari.
"Katanya pemilik perusahaan yang baru mau datang, kayaknya kita mau dibagi tugas tambahan."
"Apa? Jadi perusahaannya nggak jadi gulung tikar? Alhamdulillah, masih bisa kerja di sini dong ya?" Rania tiba-tiba saja melupakan rasa sedihnya.
"Jangan senang dulu, belum tentu mereka mau pakai kita," kata Beni.
"Jangan patahin semangat anak gadis orang dong Ben. Nggak salah kan berharap yang baik-baik." Aku harus berpikir positif.
"Iya nih, Ayang Beben mah sukanya gitu," kata Rania.
"Perasaan semua cowok di gedung ini lo panggil Ayang," kata Beni pada Rania.
"Yang cakep doang yang dipanggil Ayang, Ben." Aku menjawab mewakili Rania.
"Katanya nih, pemilik perusahaan yang baru cakepnya udah kayak artis-artis Korea. Bu Indah aja yang perawan tua bilang gitu. Berarti udah level paling mentok dah cakepnya." Mulut Si Beni sudah seperti perempuan saja. "Coba aja, berani nggak lo panggil Ayang?" lanjutnya.
"Gue masih mau awet kerja di sini Ayang Beben. Masih mau sama-sama Ayang Beben terus. Mulut somplak gue bisa otomatis terkunci kok kalau udah ngadepi level sultan. Mulut gue udah auto insecure." Aku tertawa mendengar penjelasan Rania.
* * *
Kami para tenaga kebersihan menjalani pengarahan dari kepala bagian. Kami mendapat tugas tambahan untuk membersihkan setiap inci dan sudut ruangan kantor. Kami juga harus gotong royong menata satu ruangan yang di-request sang pemilik baru.
"Dia yang mau pakai ruangan, kita yang harus repot. Mana mintanya macam-macam lagi. Sudah ada sofa bagus, kalau dipakai tidur aja bisa nggak bangun sampai tiga hari, eh minta diganti." Agus, salah satu teman seprofesiku ini tiba-tiba berkomentar saat kami sibuk-sibuknya menata ruangan si bos.
"Kita dibayar memang untuk ini, Gus," kataku mengingatkan posisi kami di kantor ini.
"Belum lagi minta disiapin kamar juga tuh di samping. Mau buat apa coba. Iih jangan-jangan dia CEO m***m kayak di novel-novel gitu." Kali ini Fitri menyuarakan pendapatnya.
"Terus-terus, kita dijebak di dalam kamar itu lalu dibayar 2 milyar, eh tiba-tiba aja CEOnya jatuh cinta. Akhirnya menikah, happy ending deh." Rania menyambung perkataan Fitri. Kedua temanku ini memang penyuka novel genre romantis.
"Itu mah karangan kalian sendiri ingin kayak gitu. Nggak usah halu deh." Beni yang dari tadi diam saja terlihat sudah mulai risih dengan tema obrolan Fitri dan Rania.
Kami bekerja hingga melewatkan jam makan siang. Bu Indah mengatakan sore nanti si bos akan inspeksi ruangan ini. Mau tidak mau kami harus menyelesaikan pekerjaan sesuai permintaan dan harus tepat waktu.
Setelah makan siang yang sangat terlambat, kami duduk di pantry sambil minum dan menyelonjorkan kaki. Lelah sekali rasanya.
"Subhanallah, guys ternyata bos kita yang baru emang benar-benar cakep. Auranya bisa terpancar sampai radius 2 km." Rania baru saja dari ruangan Bu Indah. Dia mungkin saja sudah bertemu dengan bos baru itu.
"Yang benar Ran? Lo udah ketemu? Punya fotonya nggak?" tanya Fitri.
"Ya enggak, lihat dari jauh doang. Siapa gue berani dekat orang sepenting itu. Gue heran semuda itu sudah bisa sukses begini. Kayaknya masih seumuran gue deh, atau kalau nggak beda setahun dua tahun doang." Aku heran Rania masih dengan semangat menceritakan bos baru itu.
"Ya pasti karena privilege Ran." Apalagi kalau bukan karena kekayaan orang tua?
"Makanan apaan tu pilet-pilet?" Kudengar Fitri bertanya dengan polosnya.
"Itu balungan gajah kalau orang kampungku bilang." Agus memberikan istilah yang semakin membuat Fitri kebingungan.
"Apalagi dah gajah dibawa-bawa?"
"Udah jelas dia kaya dari orok," kata Beni.
Obrolan kami terhenti saat Bu Indah memintaku dan Beni untuk membantu memfoto kopi berkas yang akan dipakai para staf untuk rapat sore ini. Ketika kami sibuk mengeset hasil foto kopi yang jumlahnya lumayan banyak, seseorang datang untuk meminta bantuan.
"Mbak, Mas, boleh minta tolong buatkan kopi untuk Pak Revan." Saat aku menoleh, kulihat Arkan sekretaris Rey menatapku. Kami sama-sama terkejut. Mengapa Arkan ada di kantor ini? Kalau dia ada di sini berarti Rey juga ada di sini? Saat Arkan akan menyapa, aku segera berbicara. "Iya, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
Semoga dia paham akan kodeku ini. Aku tidak ingin orang sepenting Rey dan Arkan kelihatan mengenal orang rendahan sepertiku. Tidak di kantor ini. Rasanya tidak enak saja.
"Tolong buatkan kopi untuk Pak Revan. Lalu antar ke ruangannya." Arkan berkata sambil menunjuk ke ruangan bos baru. Astaga, jadi bos baruku itu Rey. Revandra Atmawijaya. Kenapa Rey tidak mengatakan apapun saat bertemu kemarin?
Aku membuat kopi dari mesin kopi yang tersedia di pantry. Karena jika memang Rey yang betul-betul jadi bos besarku sekarang, dia tidak suka kopi kemasan. Setelah selesai aku bermaksud menyerahkan kopi pada Arkan, tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya dengan hati-hati kuketuk pintu ruangan CEO. Biasanya office girl sepertiku ini jarang masuk ke ruangan bos bila tidak diminta. Benar saja yang sedang ada di kursi kebesaran itu adalah Rey. Terlihat konsentrasi membaca berkas.
"Permisi, Pak. Ini kopinya."
"Iya taruh situ saja." Pandangannya tidak lepas dari berkas di meja.
"Situ di mana?"
Rey langsung mengangkat kepala. Mungkin tidak menyangka ada bawahan yang bertanya ketus padanya. "Cinta? Ngapain kamu di sini? Maksudku kamu udah tahu aku kerja di sini?"
"Baru tahu satu menit yang lalu."
"Sori nggak cerita. Sebenarnya udah dari tiga bulan lalu pembahasan akuisisinya. Cuma deal-nya baru beberapa hari yang lalu. Then, see. Aku jadi bos kamu sekarang."
Sombong sekali gayanya. "Tapi kita nggak usah terlihat saling mengenal, Rey. Kasih tahu sekretaris kamu juga. Aku nggak mau jadi bahan omongan orang."
"Nggak usah khawatir, Ta. Aku juga nggak mau image ku di kantor turun gara-gara seleranya mbak-mbak OG. Tenang aja, apalagi radarku udah nemu barang bagus di sini."
Aku tahu barang bagus yang dimaksud Rey. Seharusnya aku nggak perlu mengingatkannya. Aku lupa si b******k Rey pasti sudah punya perhitungan sendiri. Lagi pula kemungkinan aku bertemu dengannya saat di kantor juga sedikit sekali.
"Kalau sudah tidak ada yang diperlukan saya permisi dulu, Pak." Aku sengaja menggunakan bahasa formal agar terbiasa menciptakan batasan dengan Rey saat di kantor.
Rey hanya berdecak. "Tunggu, Ta. Sekalian bawa berkas ini ke Arkan biar dia pelajari juga. Kacau banget keuangan di sini. Dikit lagi beres, duduk situ bentar." Rey menunjuk ke arah sofa sementara dia berkutat pada berkasnya lagi.
Aku jadi teringat perkataan Agus, kalau sofa lama di ruangan ini menurutnya bisa membuat orang tidak bangun selama tiga hari karena empuknya. Kalau sofa yang ini bahkan bisa membuat orang langsung mengantuk saat baru saja duduk. Agus harus mencoba sofa ini. Lihat saja mataku mulai berat. Semakin berat, sampai aku tidak kuat membukanya lagi.
Entah berapa lama aku tertidur, ketika bangun posisiku sudah tidak lagi bersandar. Aku sudah meringkuk dengan bantal di kepala, selimut di badan pula. Aku langsung bangkit dan mendapati Rey masih duduk di kursinya.
"Rey, kamu kok biarin aku tertidur di sini sih? Kenapa nggak bangunin aja? Kalau ada yang lihat gimana? Berapa lama aku ketiduran? Aku udah ninggalin pekerjaan, kalau aku dipecat gimana?"
Rey bersidekap sambil memandangku. "Banyak banget pertanyaan kamu. Jawaban cuma satu, nggak usah khawatir. Kamu lupa aku bosnya di sini, Ta."
Aku mencebikkan bibirku. Rey memang bos di sini, tapi mana mungkin dia mengurusi masalah remeh seperti pemecatan seorang office girl. "Kamu nggak tahu, Bu Indah itu disiplin banget orangnya. Dia yang atasan aku, bukan kamu."
"Ya udah dong, kenapa marah-marahnya ke aku?"
"Aku nggak marah. Yaudah aku balik. Mana berkas yang harus aku bawa."
"Nggak jadi, udah di ambil sama Arkan. Rapatnya juga udah selesai."
Jadi Arkan masuk ke ruangan ini. Berarti dia melihat aku tertidur. Astaga, siapa lagi yang sudah masuk ke ruangan ini. Aku segera mencari keberadaan jam dinding. Sialnya mengapa di ruangan semegah ini tidak ada penunjuk waktu. Aku mendekat ke meja Rey, mendapati ponselnya dan segera kuambil untuk melihat jam. Aku hanya bisa menutup mulutku yang otomatis menganga, demi melihat waktu yang menunjukkan pukul 20.00.