Suara ombak pelan-pelan menepi ke pasir pantai, seperti bisikan lembut yang mencoba menenangkan hati yang lelah. Malam itu, langit bersih tanpa awan, seolah sengaja memberi ruang bagi bintang-bintang untuk bercerita. Angin laut menyapu wajah Nayla, membuat rambut panjangnya sedikit berantakan. Tapi ia tidak peduli. Malam ini bukan tentang penampilan — ini tentang sunyi.
Ia menurunkan ransel kecil dari bahunya, lalu mengeluarkan kamera kesayangannya. Lensa mengarah ke langit. Klik. Klik. Suara shutter terdengar pelan, seperti jarum jam yang tak terburu-buru. Setiap jepretan menjadi pelarian dari hari-hari berat yang baru saja ia tinggalkan.
Tiga hari lalu, Nayla memutuskan pergi dari kota besar tempatnya tinggal. Pekerjaannya sebagai fotografer lepas memberinya kebebasan berpindah-pindah tempat, dan kali ini, ia memilih kota kecil di pesisir — tempat yang ia temukan secara acak dari peta digital. Ia hanya butuh tempat yang tenang. Tanpa ingar-bingar. Tanpa kenangan yang menyakitkan.
“Bagus juga view-nya malam ini.”
Sebuah suara pria terdengar pelan di belakangnya. Nayla menoleh cepat, sedikit terkejut. Seorang pria berdiri sekitar dua meter darinya, membawa secangkir kopi kertas di tangan kanan. Jaket rajut abu-abu, rambut hitam agak berantakan, dan mata yang tenang. Bukan tatapan orang asing yang mencurigakan — lebih seperti seseorang yang sudah terbiasa menikmati malam sendirian.
“Maaf kalau bikin kaget,” katanya sambil mengangkat tangannya sedikit, seolah menandakan bahwa ia tidak bermaksud mengganggu.
“Enggak apa-apa,” jawab Nayla datar, sedikit gugup. Ia jarang berbicara dengan orang asing, apalagi malam-malam begini. Tapi entah kenapa, kehadiran pria itu tidak terasa mengancam. Malah… tenang.
Pria itu melangkah mendekat, tapi tetap menjaga jarak sopan. “Kamu turis, ya? Kelihatannya bukan orang sini.”
Nayla mengangguk pelan. “Iya. Baru tiga hari di sini.”
“Pantesan. Kalau orang sini biasanya udah bosen liat langit,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Nayla nyaris ikut tersenyum. “Mereka bosen liat bintang?”
“Bukan bosen, sih. Lebih ke… terbiasa. Kalau tiap malam bisa lihat bintang, lama-lama jadi enggak terlalu diperhatiin.” Ia mengangkat wajahnya ke langit. “Padahal, langit malam di sini enggak pernah sama.”
Jawabannya terdengar ringan tapi jujur. Nayla kembali mengangkat kameranya, mengarahkan ke hamparan bintang. “Mungkin itu sebabnya saya suka motret. Supaya bisa ngeliat lagi saat orang lain udah lupa.”
Pria itu tertawa kecil, pelan — bukan tawa lebar, tapi cukup untuk membuat suasana di antara mereka mencair. “Bagus juga alasannya. Saya Raka, by the way.”
“Nayla.”
“Senang kenal kamu, Nayla.”
Hening sesaat. Tapi bukan hening yang canggung. Suara ombak mengisi ruang di antara mereka, seperti musik latar alami. Raka duduk di atas pasir, menaruh cangkir kopinya di samping. Nayla sempat ragu, tapi kemudian ikut duduk — menjaga jarak, namun cukup dekat untuk mendengar napas malam.
“Kamu tinggal di sini?” Nayla bertanya.
“Yap. Lahir dan besar di kota kecil ini. Sekarang punya toko buku kecil di ujung jalan sana.” Ia menunjuk ke arah jalan setapak yang remang. “Bukan tempat keren, tapi cukup buat hidup.”
“Toko buku?” Nayla sedikit tertarik.
Raka mengangguk. “Nama tokonya ‘Lembar Senja’. Karena kebanyakan orang mampir sore-sore. Pas langit berubah warna.”
“Lucu juga namanya,” ujar Nayla sambil menatap ke arah yang ia tunjuk. Ia bisa membayangkan tempat kecil dengan rak-rak kayu dan aroma buku bekas. Tempat yang sunyi tapi hangat.
“Kalau kamu?” Raka bertanya balik. “Turis random atau lagi kabur dari sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat Nayla terdiam sesaat. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma laut. Ia menarik napas panjang.
“Mungkin dua-duanya.”
Raka tidak bertanya lebih lanjut. Tidak ada “kenapa” atau “dari siapa”. Hanya anggukan kecil. Nayla lega — ia tidak siap menceritakan luka lamanya. Belum sekarang.
“Malam ini cerah banget,” Raka berkata, mengalihkan topik. “Bintang di sebelah sana — yang paling terang itu — namanya Altair. Banyak orang sini percaya, kalau kamu bikin janji sambil ngeliat bintang itu, maka janji itu bakal dijaga.”
“Janji dijaga?” Nayla mengulang pelan, agak skeptis tapi penasaran.
Raka mengangguk. “Legenda lokal. Katanya, bintang itu simbol janji yang enggak akan pudar.”
Nayla mendongak. Bintang itu bersinar paling terang di antara gugusan langit hitam. Indah. Tenang. Sedikit menenangkan hati yang sedang kusut.
“Mungkin saya bakal coba bikin janji ke situ,” katanya pelan, lebih ke diri sendiri.
“Janji yang serius atau yang main-main?” Raka menggoda.
Nayla tersenyum samar. “Janji biar besok pagi saya bisa bangun tanpa nangis lagi.”
Raka tidak tertawa. Tatapannya tetap tenang — seperti seseorang yang paham betul beratnya kalimat sederhana itu. “Kalau begitu, bintang itu bakal denger.”
Suasana menjadi sunyi lagi. Tapi sunyi itu tidak membuat Nayla gelisah. Justru nyaman. Rasanya seperti ia dan orang asing ini sama-sama tidak butuh banyak kata untuk mengerti.
“Besok pagi kamu masih di sini?” tanya Raka kemudian.
“Harusnya, iya. Saya sewa kamar sebulan di penginapan dekat alun-alun.”
“Kalau kamu butuh tempat tenang buat nongkrong, toko bukuku terbuka buat siapa aja. Enggak ramai, sih. Tapi wangi bukunya enak.”
Nayla menoleh padanya, sedikit terkejut dengan tawaran santai itu. Tidak ada paksaan, tidak ada niat lain. Hanya… keramahan yang tulus.
“Terima kasih,” jawabnya singkat.
“Ya. Kadang tempat tenang lebih menyembuhkan daripada seribu kata.”
Malam semakin larut. Raka akhirnya berdiri, menepuk-nepuk celana panjangnya yang terkena pasir. “Aku balik dulu. Tokoku buka pagi-pagi. Kamu hati-hati ya di sini. Ombaknya tenang, tapi pasirnya suka licin.”
Nayla ikut berdiri. “Makasih udah temani motret.”
“Bukan masalah. Lagipula, bintang lebih indah kalau dilihat bareng orang lain.”
Raka melangkah pergi, siluetnya perlahan menjauh di antara lampu jalan yang redup. Nayla menatapnya sampai menghilang dari pandangan, lalu mengalihkan lagi kameranya ke langit.
Bintang Altair masih bersinar terang.
Ia menatap bintang itu lama, lalu menutup mata sejenak. “Besok, aku akan baik-baik saja.” Itu janjinya.
Klik. Kamera mengambil satu jepretan terakhir malam itu.