Jalanan sore yang sangat padat, bersamaan dengan para manusia yang baru saja kembali dari bekerja.
Cika dan Maudy dibuat sebal karena kepadatan kendaraan yang tak juga berangsur hingga malam gelap akhirnya mereka sampai di rumah masing-masing.
Cika menaiki Lift untuk sampai ke unitnya, saat sampai di lantai tiga pintu Lift terbuka dan seseorang masuk kesana.
Cika nampak cuek karena ia merasa tak mengenal Aaron. Sedangkan Aaron curi-curi pandang ke arah Cika.
Pintu lift terbuka dan Cika segera keluar dari sana. Sedangkan Aaron menuju ke rooftop untuk menikmati malam dengan sebotol minuman kesukaannya.
Aaron duduk di pembatas sambil menyalakan rokoknya, dunianya terasa sangat sunyi meskipun ia berada dalam keramaian.
Hampir delapan tahun ia hidup tanpa bertemu dengan keluarganya. Ayahnya seorang CEO ternama dengan banyaknya perusahaan yang ia kelola.
"Honey, kau dimana? " Tanya Luna dari sambungan telvon.
Mereka sering menghabiskan waktu berdua saat Luna tak sedang ada pekerjaan.
"Ada apa?" Tanya Aaron.
"Aku ada pekerjaan ke puncak, ada shooting disana. Mungkin selama empat sampai lima hari. " Ucap Luna.
Panggilan berakhir setelah Luna meminta uang dari Aaron.
Meskipun Aaron jauh dari keluarganya tapi ia mempunyai bisnis yang sangat maju pesat.
Ia membuka bengkel motor dan juga Club.
Uangnya tak akan pernah habis meskipun ia berfoya-foya.
Aaron memilih pergi ke clubnya dengan motor Harley Davidson pemberian dari kakeknya.
Membelah jalanan malam yang sangat sunyi sesunyi hatinya.
Angin malam menyibak rambut gondrongnya yang tak pernah ia potong.
"Tuan. Ada barang masuk. " Ucap penjaga Club.
Aaron menatap beberapa krat minuman yang baru saja sampai. Ia periksa semuanya memastikan jika semuanya aman.
Aaron masuk ke dalam club dan mengamati keadaan didalam sana. Banyak anak manusia yang datang kesana untuk melepas masalah mereka dan menikmati musik yang berdentum.
Tiba-tiba Aaron melihat gelagat dua orang yang mencurigakan.
Brak
Aaron tiba-tiba menendang meja hingga mengenai salah satunya.
Mereka ternyata sedang transaksi barang haram dan Aaron tak suka itu. Meskipun ia membuka Club tapi ia tak mau ada barang haram yang masuk kesana.
"Urus dia! Jika ada lagi yang membawa benda laknat itu kemari, aku pastikan nyawanya tak akan selamat. " Ucap Aaron.
Musik yang tadinya berhenti kembali menyala dan mereka kembali menari sambil memegang gelas.
Aaron adalah seorang pecandu alkohol, tak ada hari tanpa menikmati minuman yang memabokkan itu.
Saat ia duduk di balkon yang ada di ruangannya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Beberapa foto masuk dan saat ia buka ia sangat terkejut.
Seseorang kepercayaannya telah mengirim foto yang membuat Aaron sangat marah. Ia membanting ponselnya, beruntung ponselnya mahal dan tahan banting hingga ia tak rugi untuk merusaknya.
"Harus saya apakan tuan? " Tanya Bimo.
"Biarkan saja. " ucap Aaron.
Bimo segera pergi dan meninggalkan Aaron.
Aaron kembali menenggak minumannya dari botolnya langsung. Semakin ia marah maka semakin banyak ia membuka botol dan membuatnya berserakan.
....
Malam ini Putra datang mengapeli Icha ke apartemen Cika. Putra yang juga datang dari desa sengaja datang ke kota karena sangat merindukan Icha.
Rumah Putra tak jauh dengan rumah Andre di desa, keluarga mereka sudah saling mengenal dan setuju dengan hubungan Putra dengan Icha.
"Dimana paman dan bibi? Aku datang bersama Riswan, teman kerjaku. Dia pernah kuliah di UI dan meraih gelar D3 jurusan hukum. " Jelas Putra.
Wajah Icha ikut senang tapi bukan karena akhirnya Cika akan berkenalan dan menikah. Jika Cika setuju menikah maka dia juga akan segera menikah.
Mereka janjian di lobi apartemen, Riswan datang dengan mobil Alpard keluaran terbaru.
"Hai bro, apa kabar? " Putra dan Riswan saling menanyakan kabar dan berpelukan ala laki-laki.
"Kenalkan dia Icha kekasihku. Dan kau akan kami kenalkan dengan kakaknya Icha, namanya Cika. "
Ketiganya naik ke lantai dua puluh , ke unit milik Icha. Andre dan Ratih sudah menunggu dan menyambut Riswan.
"Ini paman Andre, beliau ini kepala desa di desa kami dan ini bibi Ratih. " Ucap Putra.
"Kepala desa? " Tatapan Riswan menunjukkan sikap yang merendahkan. Apalagi saat ia melihat Cika keluar dari kamarnya dengan penampilan yang bisa saja dan kacamata cupunya.
"Maaf om tante, lebih baik saya sampaikan sekarang saja. Orang tua saya dua-duanya sebagai pengacara, keluarga saja memiliki jabatan dan lebih tinggi dari jabatan kepala desa. Mereka meminta saya mencari calon menantu yang berpendidikan tinggi, jangankan untuk bertemu. Melihat fotonya saja mereka akan langsung mengatakan tidak. " Ucap Riswan.
Andre tak terima dengan mulut Riswan yang jelas merendahkan keluarganya terutama sang putri. Ia hendak maju untuk membalas tapi tangannya ditahan oleh Cika.
"Yasudah ya, saya permisi. Put saya duluan. " Tanpa merasa bersalah Riswan langsung pergi.
"Ini sudah pria kesepuluh dan lagi-lagi menolakmu. Kau tahu kesalahanmu apa? Penampilanmu. Kau tak pernah sadar pria itu melihat bukan dari otak tapi dari kecantikan. " Ucap Icha.
"Icha cukup Icha. Jaga perasaan Cika, bagaimanapun dia adalah kakakmu. " Ucap Ratih.
"Ini juga salah ayah, harusnya ayah menyekolahkannya ke sekolah model biar dia bisa dandan dan mengerti fashion. " Icha sangat kesal karena lagi-lagi ia tak bisa menikah dengan Putra.
Keluarga Andre yang sangat menjunjung tinggi tradisi membuatnya tak bisa menikahkan anak kedua jika anak pertama belum menikah.
"Em Putra. " Ratih merasa tak enak dengan Putra yang datang dan disuguhi dengan keadaan yang tak menyenangkan.
"Tak apa bi, saya mengerti. Lagi pula saya sudah mengatakan pada Icha, kita menikah jika saya sudah diangkat menjadi PNS. Saat ini saya sedang berjuang dan minggu depan saya akan ujian. " Jelas Putra.
Andre merangkul Cika, ia sangat menyayangkan ucapan Icha yang sangat membuatnya kecewa.
Ponsel Putra tiba-tiba berbunyi.
"Iya bu? Apa? Iya tadi paman dan Bibi sedang ada tamu jadi mereka tak memegang ponsel. Akan aku sampaikan. " Ucap Putra.
Putra menyampaikan kabar yang mengharuskan Andre dan Ratih untuk pulang ke kampung malam ini juga.
Karena keadaan sangat darurat dan mereka tak bisa mengulur waktu.
"Paman dan bibi titip Icha dan juga Cika ya Put. Lusa kami akan kembali. " Ucap Ratih.
"Ayah akan kembali lusa, jangan fikirkan apapun. Jaga diri baik-baik. " Ucap Andre.
Cika menyalami keduanya sebelum keduanya berangkat ke terminal.
Setelah ayah dan ibunya pergi tiba-tiba Icha keluar dari kamarnya. Ia masih marah dengan Cika dan seakan hatinya masih belum lega.
"Sampai kapan kau akan menyiksa kami? Kami saling mencintai, dan hanya karenamu aku dan Putra belum bisa menikah. Kami harus menunggumu menikah lebih dulu. Mungkin akan lebih baik jika kau mati saja. " Ucap Icha.
"Icha." Tegur Putra.
"Kau tidak boleh begitu, dia adalah kakakmu seharusnya kau menghormatinya. " Ucap Putra.
"Aku lelah Putra aku lelah. Sampai kapan kita harus menunggu hal yang tak ada jelas. Aku lelah Putra. " Ucap Icha.
Cika pun hanya bisa menangis, ia merasa sakit sekali hatinya atas perkataan Icha.