"Carlita, " panggil Jacklin sahabatnya yang sangat disayanginya, dan panggilan ini bukan untuk pertama kalinya.
"taksinya sudah datang."
"Aku sudah siap, " seru Carlita, tidak sepenuhnya benar.
Ia baru saja akan siap begitu selesai memberi riasan pada wajah dan sedikit polesan pada bibirnya. Sudah menjadi kebiasaan dan prinsipnya bahwa ia tidak akan bepergian tanpa berpenampilan terbaik, meskipun sebentar lagi waktunya, sudah habis.
Sudah lima belas menit taksi menunggunya dibawah guyuran hujan didepan sebuah rumah khas
Betawi yang ditinggali oleh dua wanita cantik dan muda ini.
Sopir taksi telah menarik koper terakhir menuruni undakan tangga, meninggalkan Jacklin di depan pintu, yang kemudian dengan panik sekali lagi berteriak memanggil ke dalam rumah.
"Carlita, taksinya! "
"Ya, ya aku sudah tahu," sahut Carlita.
"Kau tadi sudah bilang dan aku pun sudah dengar. "
"Aku tahu aku sudah memberitahumu. Aku sudah memberitahumu berabad-abad yang lalu dan kau sama sekali belum turun."
"Oke, sekarang aku sudah siap," gumam Carlita pada dirinya sendiri.
"Apa aku sudah membawa semuanya? tetapi, kalau belum aku tak bisa, berbuat apa-apa.
sebentar lagi, dia akan membunuhku."
Ia lalu meninggikan suaranya dan berteriak mengatakan kepada Jacklin.
"Tolong bilang sopirnya untuk mengangkat koper-koper itu."
Jacklin terdengar benar-benar frustasi memikirkan tingkah sahabatnya itu.
"Sudah beres. Carlita, aku akan ke Bali untuk menikah, dan kalau kau tak keberatan aku lebih suka sampai di sana sebelum acara pernikahan."
"Tapi itu masih seminggu lagi, bukan ?" tanya Carlita yang muncul pada saat itu juga dengan penampilan yang begitu elegan.
"Tetapi, aku lebih suka datang tidak terlalu memet, dan itu termasuk tidak ingin ketinggalan pesawat,".
Hari itu saat yang sempurna untuk meninggalkan kota Jakarta dan dengan segala kebisingannya.
Hujan turun sangat deras seolah tercurah dari langit, sehingga mereka harus berlari-lari menuju ke tempat taksinya yang letaknya lumayan jauh dari pintu rumah utama. Akhirnya mereka berhasil menembus derasnya hujan, tertawa riang karena meninggalkan semua itu, dan dalam perjalanan menuju tempat bermandikan matahari.
Mereka tertawa gembira merasa bahagia karena salah satu dari mereka akan menikah melepaskan masa lajangnya.
"Lihat itu!" seru Carlita begitu pintu taksi tertutup dibelakang mereka.
"Apakah kau pernah melihat hujan seperti itu? Oh, senangnya kita bisa pergi. " Lalu Carlita melihat temannya yang tengah memandang protes pada dirinya, dan kemudian ia buru-buru menambahkan dengan nada menyesal, " Maaf telah membuatmu menunggu."
"Aku tak paham bagaimana kamu bisa jadi dokter spesialis anak," sahut Carlita. " Kau orang paling berantakan yang pernah kukenal."
"Ah, tapi aku kan bukan dokter anak yang berantakan." Balas Carlita, yang benar adanya.
"Hanya saja dalam kehidupanku pribadiku aku cenderung begitulah."
" Seenaknya sendiri, berantakan, dan mengesalkan, " sahut Jacklin.
Carlita menggeliat senang.
"Aku memang benar-benar perlu berlibur. Aku benar-benar letih."
"Menurutku memang benar. Pasti melelahkan selalu berusaha menghindar dari semua
para pemujamu, Steven, Jaka dan banyak lagi. " sindir Jacklin karena begitulah sahabatnya tidak pernah serius dalam berpacaran.
"Steven dan Jaka?" sela Carlita terkejut.
"Kau pasti ingat mereka, bukan? "
"Oh ya. Bulan lalu sudah tamat."
"Apa mereka tahu kalau riwayat mereka sudah tamat?" tanya Jacklin penasaran akan perjalanan cinta sahabatnya.
"Aku berusaha memberitahu mereka dengan hati-hati." jelas Carlita. Lalu menambahkan, dengan nada tak bersalah dan terluka, "Selalu"
" Jadi siapa pria yang datang semalam memohon padamu untuk kembali secepatnya?"
"Itu Bima, aku kira."
Jacklin tertawa terkekeh.
"Sejujurnya saja Carlita, kau orang
yang tak bisa diperbaiki lagi."
"Tidak begitu. Aku orang yang sangat mudah diperbaiki apapun artinya itu. Omong-omong aku memang perlu berlibur karena aku telah bekerja keras. Bekerja di rumah sakit dan instalasi Gawat Darurat cukup melelahkan, juga saat tugas jaga malam. "
Ia menyeka alis dan wajahnya tampak sedih.
Kedua wanita lajang itu sudah lima tahun tinggal bersama disebuah rumah kontrakan di Jakarta.
Jacklin seorang wanita yang cantik, pendiam, dan rendah hati.
Sementara seluruh perhatian lawan jenis justru tersedot ke sahabat Jacklin yaitu Carlita.
Sedangkan Carlita itu seorang wanita yang cantik dan mudah bergaul yang sepertinya menganggap keberadaan kaum pria sebagai hiburan waktu senggangnya.
Seperti saat ini, Carlita sedang membayangkan kesenangan-kesenangan yang sebentar lagi akan ia alami.
"Sinar matahari, laut biru berkilau, pasir keemasan sejauh mata memandang, dan banyak pemuda Bali yang keren yang semua beruntung baik itu yang mudah didapat ataupun yang tidak mudah didapat.
Carlita memang membagi daya tarik pria kedalam dua golongan.
golongan pertama, pria yang menampakkan pesonanya secara terang- terangan dan mudah didapat, dan golongan kedua adalah pria yang mempunyai pesona tersembunyi dan tidak mudah untuk mendapatkannya.
Itulah sepanjang yang dipahami Jacklin tentang sistem penilaian sahabatnya itu dan karena menurut Carlita, dia cocok dengan pria golongan pertama karena ia tidak punya waktu dan lebih cocok untuk jangka pendek.
"well, jaga kelakuanmu."
"Tidak akan," sergah Carlita segera.
"Aku tidak pergi berlibur untuk menjaga kelakuanku. Aku kesana untuk berjemur, jatuh cinta, mencicipi hidangan lokal, dan aku melakukan hal gila-gilaan. Kalau tidak, apa gunanya berlibur?"
Sangat mudah untuk percaya bahwa wanita itu serius dengan ucapannya. Carlita bertubuh molek dan mungil, drngan tinggi tak lebih dari 160 sentimeter, berambut hitam panjang, dan bermata coklat.
Pada dasarnya ia mempunyai sifat romantis dan bar-bar.
Carlita sangat mudah tergila-gila pada seseorang, dan karena penampilannya pun, menurut salah seorang pria saat ini tengah memujanya dia bagaikan
"Bidadari dan taman surga".
ia pun tak mengalami kesulitan mendapatkan pemujaan gila-gilaan. Hasilnya adalah serentetan bubungan cinta kilat yang berumur pendek sehingga Jacklin menjuluki sahabatnya itu adalah sang penakluk kaum pria.
Tetapi penampilan bisa menyesatkan. Kisah percintaan
Dr. Carlita Syafira memang selalu singkat dan tidak lebih dari enam bulan karena cinta sejatinya adalah pekerjaannya.
Wajah lembutnya menyembunyikan kecerdasannya yang membuatnya menamatkan pendidikan di Fakultas Kedokteran dengan berbagai penghargaan dan salah satunya adalah lulusan terbaik. Ia lalu melanjutkan pendidikan pasca sarjana selama empat tahun yang melelahkan dan penuh dengan kesabaran menghadapi pasien anak-anaknya, dan juga termasuk tugas tugas di instalasi Gawat Darurat, dan ia terlatih menghadapi kedua situasi berbahaya itu.
Tetapi sekarang ia hanya berencana untuk bersenang-senang. Jacklin akan menikah dengan Pratama, seorang pemuda Bali dan pesta pernikahan itu akan digelar satu minggu lagi di Bali karena keadaan ibunda dari Pratama tidak memungkinkan untuk perjalan jauh sedang Jacklin sudah tidak mempunyai keluarga.
makanya Jacklin mengalah untuk mengadakan acara pernikahannya di Bali. Sedangkan Carlita akan menjadi pengiring mempelai wanita, dan karena sekarang merupakan liburan sesungguhnya yang pertama sejak ia tak ingat lagi kapan, ia benar- benar akan memanfaatkan kesempatan ini.
Saat ini hujan masih turun ketika mereka tiba di bandara.
Mereka buru-buru memasuki lobi utama, sembari mendorong troli yang memuat setumpuk koper dan tas, yang sebagian besar milik Carlita. Sosoknya yang mungil dan kecantikannya yang alami patut ditunjang dengan penampilan sempurna, yang dengan sukacita dirawat oleh Carlita.
Ketika mereka sedang menunggu untuk check-in terdengar jeritan tertahan,
"Carlita! "
Diantara kerumunan orang, seorang pemuda muncul disamping mereka. Dia menggenggam setangkai mawar yang sangat indah.
"Aku tak bisa melepas mu pergi tanpa mengucap salam perpisahan." katanya sepenuh hati, sambil menyerahkan bunga kepada Carlita.
"Kau takkan melupakan aku, bukan? "
"Tentu saja tidak," sahut Carlita, tampak sangat tersentuh.
"Oh, Dr. Bim....
" Bima," sela pemuda itu yang ternyata orang yang semalam menemui Carlita. Dia salah penggemar Carlita yang kerjaannya seprofesi dengannya di rumah sakit.
"Bima, aku akan selalu memikirkan kamu setiap kali kita berjauhan."
Bima meraih dan mencium tangan Carlita.
Untung saja mereka telah sampai diujung antrean dan karena mereka sibuk mengurus prosedur check-in pemuda itu terpaksa mundur. Carlita tak sanggup menatap mata temannya.
"Lebih cepat aku membawamu ke luar dari kota ini dengan selamat, itu lebih baik," ujar Jacklin sepenuh hati.
Hujan turun semakin deras saat pesawat yang membawa mereka lepas landas, terbang tinggi menuju sekumpulan awan. Tetapi mereka kemudian menembus sekumpulan awan cerah, membuat kedua wanita itu dengan bersemangat menempelkan wajah mereka ke jendela sampai seorang pramugari memberikan snack makanan ringan.
"Aku masih belum bisa mengerti tentangmu yang dengan mudahnya memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan,"
komentar Carlita kepada sahabatnya itu.
"Sepertinya itu lebih cocok untuk gayaku yang urakan dibanding cara hidupmu."
"Ya, memang tidak seperti diriku yang teguh dan bisa diandalkan, bukan? " sahut Jacklin keheranan.
"Pergi dengan terburu-buru untuk menetap di kota lain, yang boleh dibilang terletak di bagian pulau lain."
Carlita bersikap diplomatis dengan tidak menanggapi pernyataan itu, meskipun tetap bertanya-tanya tentang Nicolas, pria yang pernah menjadi tunangan Jacklin selama setahun sebelum meninggalkan Jacklin hanya seminggu sebelum hari pernikahannya."
"Aku bukan mau membalas dendam," ujar Jacklin, seolah bisa membaca jalan pikiran temannya, yang tak terucap."
"Aku mencintai Pratama, dan kami berdua akan menciptakan kehidupan special bersama-sama di Bali."
"Kau benar. Dan itu akan menambah wawasan baru. Benar-benar indah."
Wajah Carlita memancarkan ekspresi julid sekaligus tak berdosa."
"Kau pernah bilang Pratama punya dua saudara laki-laki, bukan?"
"Aku hanya pernah ketemu dengan salah satu dari mereka, Pradipta.
" Ya, kau sudah pernah menceritakan hal itu. Aku tidak percaya seorang pria bisa berperilaku seperti itu, benar-benar mendatangi butik tempatmu bekerja di cempaka putih, berpura-pura menjadi pelanggan, hanya agar dia bisa mengawasi mu.
Butik yang ada dijalan Cempaka Putih ada butik terbesar di Jakarta pusat dan Jacklin pernah bekerja di sana sebelum peristiwa besar yang disebabkan oleh Pradipta yang dengan sewenang-wenang hingga menyebabkan malam itu juga Jacklin keluar dari butik itu.
Dan drama menghebohkan itu mencapai puncaknya saat Pratama melamar Jacklin, dan hati Jacklin melunak.
Sekarang tepat satu bulan setelah kejadian malam itu Jacklin sedang dalam perjalanan menuju Bali untuk menikah. Acara pernikahan mereka dilakukan di Bali karena ibunda dari Pratama tidak dapat melakukan perjalanan jauh sedangkan Jacklin di Jakarta sudah tidak mempunyai sanak saudara.
Seperti kata Carlita tadi, isma memang telah terseret ke dalam jenjang pernikahan.
"Ceritakan tentang saudara mereka yang lain, " pinta Carlita yang penasaran dengan keluarga calon suami sahabatnya itu.
"Namanya Praditya, dia saudara tiri Pratama dan Pradipta.
Ayah mereka menikah lagi tanpa sepengetahuan ibu mereka namun sayang kemudian pasangan itu kemudian meninggal karena kecelakaan. Ibu Pratama lalu mengambil Praditya dan mengasuhnya seperti putra kandungnya sendiri.. "
"Ya Tuhan, benar-benar wanita luar biasa! "
Pesawat itu membelok, memperlihatkan Pulau Dewata yang sangat indah tampak keemasan dikelilingi laut biru.
Tak berapa lama kemudian, mereka telah mendarat di Bandara Ngurah Rai.
Begitu mereka keluar dari bagian Bea dan Cukai, Jacklin tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah dua pria yang berdiri agak berjauhan.
Dari yang diceritakan Jacklin Carlita tahu pria yang bertubuh besar yang tampak menawan dengan potongan rambut cepak kayak TNI itu adalah Pratama, tunangan sahabatnya. Ia lalu memandang sekilas ke pria yang satunya lagi, dan merasakan senyuman mengembang dari dirinya sendiri.
Pria itu tidak terlalu jangkung, ukuran tubuh yang sesuai selera Carlita yang bertubuh mungil.
Tinggi pria itu berkisaran 175cm.
Bentuk tubuhnya pun memperoleh nilai tinggi, sepuluh, sempurna batin Carlita, dilihat dari tubuh maskulin yang padat, kokoh, serta pinggul ramping, yang cukup mengirimkan sinyal sensual bagi wanita yang memahami itu.
Sejauh ini sangat mempesona.
Tetapi begitu Carlita mendekat dan menatap sorot mata kelam dan serius itu, senyuman dalam dirinya sedikit memudar.
Ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya tidak bisa tersenyum, sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya meremang penuh antisipasi.
Saat Jacklin dan Pratama saling memeluk dengan sepenuh hati, pria muda itu mendekati Carlita sambil tersenyum tipis.
"Aku Praditya Angkasa,"
sapa pria itu dengan suaranya yang dalam.
Angkasa, batin Carlita bukan Dirgantara.
Carlita menyambut uluran tangan Praditya, dan merasakan kekuatannya yang tak tergoyahkan pria itu, meskipun dia menggenggam dengan lembut.
"Aku Carlita Syafira," balas Carlita.
"Sangat senang bertemu denganmu nona syafira."
Rasanya Carlita bersedia mendengar suara itu selamanya.
Suara itu terkesan misterius, berirama, dan indah.
"Carlita saja," sahut Carlita seraya tersenyum.
Carlita merasa pria itu mengamati dirinya, persis seperti yang dilakukannya tadi terhadap pria itu. Dan itu sah-sah saja.
Carlita tahu dia tak perlu khawatir diamati, meskipun ia baru saja turun dari pesawat.