Kring.. kring.. kring..
Alarm berbunyi tepat pukul 6 pagi, membuat Anna terbangun dari tidurnya. Suasana pagi yang cerah dan begitu sejuk. Tubuhnya masih diselimuti bed cover putih yang begitu tebal. Dengan semangkuk kopi s**u dengan sedikit gula kesukaan Anna buatan ibunya, mungkin bisa membangkitkan suasana yang hangat untuk pagi hari.
Kedua matanya tertuju pada jam dinding yang tepatnya ada di depan tempat tidurnya. Waktu bekerja sebentar lagi. Dia harus bersiap-siap. Anna bangkit dari kasurnya dengan sprey yang bermotif doraemon. Segera ia menyambar handuk mandi berwarna putih ke abu-abuan. Tepat di jemuran handuk mini dekat kamar mandi agak sempit di dalam kamarnya itu.
Selepas mandi, Anna mengenakan pakaian yang belum lama ia beli di salah satu toko fashion favoritnya. Dengan kameja formal berwarna hitam, yang memiliki ukuran sedikit pas di badannya. Memiliki rok selutut yang ramping di bagian bawah sana. Membuatnya tampil modis dan rapi. Tak lupa dengan make up tipis namun tetap menawan dipandang.
Setelah selesai Anna keluar kamar dan sang ibu mengajaknya untuk sarapan pagi sebentar. Ayahnya yang sudah sarapan lebih dulu telah pergi bekerja.
"Anna, nggak sarapan dulu?" Kata ibunya. Anna menggeleng tanpa suara.
Dia buru-buru karena takut telat, sampai tak mengindahkan ajakan ibunya. Masih banyak laporan yang harus dia siapkan untuk diserahkan kepada sang direktur. Sepetinya Anna sedang mencari sesuatu yang entah apa itu.
"Oke, ini dia." Kata Anna sambil meraih sepatu heels miliknya. Anna memang lucu, ibu yang memperhatikan sedari tadi terkekeh dibuatnya.
"Aku berangkat ya, Maa."
"Sarapannya?" Tanya ibu mengunyah.
"Aku udah telat, Ma. Nanti aku nitip apel ya kalo mama ke Supermarket." Kata Anna yang masih sibuk.
"Anna, kopimu minum dulu." Anna meraih mangkuk itu dan meminum sedikit.
"Aku berangkat ya, Ma. Udah telah nih." Sambil menyalami tangan ibunya.
"Iyah, hati-hati sayang." Balas ibu yang masih menikmati sarapannya.
Annastasya Dalbert sebut saja Anna. Wanita muda berparas cantik nan manis pekerja keras, pintar dan mandiri. Dengan bela dagu tepat di bawah bibir manisnya membuatnya lebih unik, berbeda dan menarik. Wanita 22 tahun itu bekerja disalah satu perusahaan industri pakaian terbesar di Asia. Dia sangat beruntung setelah lulus kuliah dia langsung diterima di perusahaan besar. Dengan kejujuran dan kepintarannya saat magang di perusahaan itu, dia langsung dipercayakan sebagai Manager muda bagian keuangan di dalam perusahaan. Tugasnya melakukan pengaturan keuangan baik secara internal maupun eksternal, terkait dengan aktivitas perusahaan.
Dengan gaji yang cukup Anna membeli mobil bekas untuk berkendara ke kantor. Baginya itu lebih dari cukup, dia tak perlu naik angkot lagi dan hemat biaya. Dalam perjalanan Anna hanya fokus pada kemudinya, namun sesekali mengerutkan dahi dan mengulum bibir kecil miliknya. Sepertinya dia lagi memikirkan sesuatu. Getar notifikasi tidak penting di ponsel membuatnya tak fokus. Dia sedang menunggu pesan dari seseorang.
Hanya butuh waktu 10 menit ia tiba di kantor.
Di sana terlihat jelas beberapa orang karyawan yang sibuk dengan layar di depannya masing-masing. Semua terlihat begitu sibuk. Anna yang sudah tiba tak sengaja mendengar percakapan karyawan-karyawan staffnya. Seseorang akan menikah. Tak tau pasti siapa itu, Anna pun tak ingin tahu.
"Pagi, Bu." Sapa beberapa orang.
"Ya, Pagi." Anna berjalan menuju ruangannya, tiba-tiba.
"Anna! Anna! Anna!" Itu Clara sahabatnya, selain gendut dia juga sangat akrab dengan Anna. Dia berlari dan mendekat.
"Clar, udah gue kasih tau ini Kantor bukan Pasaar! Gimana sih?". Oceh Anna dengan dahi mengerut. "Maaf, Anna. Gue punya gosip baru!" Dengan nafas memburu.
"Gosip apaan sih! Jam makan siang ajah!" Anna bergegas.
"Tapi, Bebz. Ini penting!" Paksanya.
"Gue masih banyak kerjaan. Claraa, plis mengertilah!"
Anna yang berjalan cepat dengan diikuti Clara yang masih meloloskan gosipnya ke Anna. "Jangan ikuti gue!" Ucap Anna sedikit membentak. Clara yang agak takut langsung balik badan menuju mejanya. "Dasar, Annatasya. Sibuk aja kerjaannya." Ciut Clara
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Pada jam makan siang Anna masih sibuk dengan laporannya yang tak kunjung selesai. Di tengah kesibukan itu, Ia tak sengaja mendapati sebuah surat undangan tepat di selipan map-map yang tak sengaja dia buka.
'undangan siapa ini.' Bantinnya.
Penasaran Anna dibuatnya, ia membuka sampul merah cantik itu, yang terikat pita hitam kecil namun indah. Ada nama pria yang sangat ia kenal sedari 5 yang tahun lalu. Kekasihnya sedari SMA hingga sekarang. Kekasih yang pernah berjanji akan menikahinya. Matanya terbelalak berulang melihat dengan jelas nama itu. Bak di sambar petir di siang hari Anna yang berdiri mulai merosot ke lantai, ia berlinang air mata. Terasa Sesak di d**a hatinya penuh pertanyaan dan tak karuan. Cinta yang telah lama ia jaga, kini memilih wanita lain. Surat undangan itu digenggam erat hingga remuk, seremuk hatinya. Tak pernah dia bayangkan bahwa pria yang berjanji untuk tua bersamanya, telah memilih orang lain. Pantas saja sudah seminggu Darren tak ada kabar. Menghilang bak ditelan bumi. Beberapa minggu terakhir ini Darren mulai mengajak Anna ribut. Entah itu masalah kecil harus dibesar-besarkan. Bahkan yang lebih parah mereka ribut karena Anna yang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan Darren mempermasalahkan itu. Ia sengaja memblokir kontak Anna baik itu telepon maupun sosial media. Jahat kan! Hanya karena masalah kerjaan, Darren tega meninggalkannya.
Anna yang masih dengan seribu pertanyaannya menyumpah serapah pada pria itu dan berjanji akan melupakan semuanya yang telah berlalu. Pikiran yang kalang kabut, menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya.
'Apa kesalahan ku padamu? Mengapa tak pernah kau bahas soal ini? Kamu tiba-tiba memberi ini. Aku yang menunggumu 5 tahun lamanya, berhadiahkan undangan ini, undangan pernikahanmu yang bukan denganku tapi dengan orang lain. Bagaimana setelah ini? Mengapa cintaku berubah menjadi benci? Bahkan betapa jijiknya aku padamu Darren. Bagaimana dengan keluargamu yang telah akrab denganku? Mengapa seminggu sudah kau tak ada kabar? Kemana kamu selama ini? Secepat itu kau menyingkirkan aku dan tak pernah ku tahu, bahwa engkau ada yang lain, aku ikhlas. Aku yakin Tuhan punya rencana lain untukku.' Batin Anna sibuk dengan ribuan pertanyaannya. Untuk apa air mata itu. Pantaskah air mata itu untuk seorang pengkhianat?
Deringan telpon membuatnya tersadar dari lamunan pria b******k itu. Lalu apa selama 5 tahunnya bersama Darren? Apakah itu janji manis yang nantinya berubah menjadi luka, yang dihadiahkan untuk Anna? Sungguh tega pria itu.
Telpon terus berdering. Kini dia benar-benar sadar dari lamunan.
"Halo, dengan Annastasya." Jawab Anna sambil mengusap air mata.
"Ya, laporannya saya tunggu di ruangan". Ucap pak Robert Wilson di balik telpon. Yang ini Direktur utama perusahan tempat Anna bekerja. Ia boss yang sangat bijaksana, rendah hati dan sangat ramah. Dia memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan.
"Oh iya, Pak. Segera." Suara agak sedikit serak akibat tangis Anna tadi. Dia bergegas ke ruangan pak Willson.
Tibanya Anna di ruangan pak Wilson, tepatnya di depan pintu. Dia terhenti sejenak, pak Wilson sedang menerima telpon entah dari siapa hanya terdengar setengah-setengah.
"Pokoknya papa sudah bilang Stevan. Papa angkat tangan jika kamu berulah lagi."
Terdengar sedikit dari dalam. 'Mungkin orang penting.' Batin Anna.
Tok tok tok. Anna mengetuk pintunya. Perutnya mulai keroncongan mengingat dia belum makan sedari pagi tadi. Belum lagi pikirannya yang kacau membuatnya semakin lapar.
"Masuk." Teriak sesorang dari dalam. Anna masuk dengan hidung dan mata sedikit lembab.
"Maaf, Pak. Ini laporannya. Tapi sebelumnya, Bapak harus membacanya terlebih dahulu." Pak Wilson melirik sedikit wajah Anna. "Apa kamu punya masalah? Kenapa matamu sembab?"
"Hah? Mmm.. Tidak, Pak. Mata saya kelilipan. Waktu mau ke ruangan, Bapak." Anna yang malu pipinya segera memerah.
"Ok, Anna. Ini tak perlu di baca lagi karena saya percaya kinerjamu". Belum sempat menanda tangani ponsel pak Wilson berdering kembali, sepertinya penting. Dia segera menerima panggilan itu dan memutar kursi hidroliknya.
"Tidak, Steve. Apapun yang terjadi kamu harus ikut." Ucapnya sambil mematikan telpon. "Baiklah, Anna. Saya harus pergi, masih ada urusan mendadak yang harus saya bereskan. Oh iya, laporannya akan saya tanda tangani lain waktu." Dan bergegas pergi.