Semburat merah di ufuk timur dan kokok ayam bersahutan menjadi penanda hari sudah pagi. Senja yang sudah berjibaku dengan aktivitas pagi bersama penghuni kost lainnya tampak menyita waktu para mahasiswa baru yang siap mengikuti masa orientasi mahasiswa hari pertama.
Berbalut blouse putih dan celana hitam menjadi penanda sebagai mahasiswa orientasi. Tampak semburat senyum yang mengembang di depan cermin yang terpasang di dinding memantulkan semarak sukacita dan antusias untuk mengawali hari dengan optimis dan raga yang prima.
Senja menggendong tas punggungnya. Setelah memastikan semua siap, ia segera mengunci pintu dan keluar dari gerbang kost. Jalan kaki menjadi langkah awal menapaki jalan menuju ke kampus fakultas ekonomi yang berjarak kurang dari 1 km. Banyak juga mahasiswa yang jalan kaki menuju ke kampus meski tidak sedikit pula yang mengendari sepeda motor maupun mobil.
Suasana di persimpangan jalan menuju ke sejumlah fakultas yang macet dan padat dengan kendaraan juga dirasakan di area kampus. Hari pertama orientasi mahasiswa baru dipenuhi hiruk-pikuk layaknya lautan manusia dari berbagai suku, agama, dan ras yang membaur menjadi satu. Aula besar kampus sudah ramai sejak pagi, dipenuhi wajah-wajah muda yang tampak bersemangat sekaligus gugup. Spanduk bertuliskan “Selamat Datang Mahasiswa Baru” tergantung megah di depan gedung, dihiasi balon warna-warni dan bunga plastik yang memberi kesan meriah.
Senja berdiri di antara lautan mahasiswa itu. Ia menggenggam erat tas ransel lusuhnya, satu-satunya yang ia bawa dari kampung. Pandangannya menyapu ke segala arah: ada kelompok mahasiswa yang tertawa lepas, ada yang sibuk memotret suasana, ada pula yang tampak kebingungan sama seperti dirinya.
Senja sangat menikmati untuk sekedar mengedarkan pandangan dan menganalisis setiap moment tersebut menjadi sebuah kenangan pertama yang akan menjadi pengingat tujuan utama ia menginjakkan kaki di tempat ini. Menjadi saksi bagaimana ke depannya nanti tempat ini akan terus menjadi tujuanya untuk mengukir prestasi demi sukses cita-cita di masa depan yang menantiya.
“Wah, ternyata begini rasanya jadi mahasiswa,” gumam Senja pelan, seakan masih sulit percaya ia bisa berdiri di sini. Semua perjuangan—ujian beasiswa, kerja keras belajar, hingga meninggalkan kampung halaman—terbayar dengan momen ini.
Suasana semakin riuh ketika panitia orientasi mulai memandu acara. Lagu-lagu mars kampus menggema, suara teriakan yel-yel bercampur dengan tepuk tangan. Senja ikut tersenyum, meski dalam hatinya ada sedikit rasa canggung. Ia tidak mengenal siapa pun di sini. Namun, justru itulah yang membuatnya bertekad: ia harus berani membuka diri, harus berani membangun cerita baru.
Matahari pagi menyorot masuk dari kaca jendela besar, memantul di lantai aula yang mengilap. Di detik itu, Senja merasa seolah dunia sedang memberinya lembaran baru—putih, kosong, siap diisi dengan tinta perjuangan.
Dalam hatinya, ia berbisik lirih, “Ibu, lihatlah… Senja sudah sampai di sini. Doakan agar langkah pertama ini menjadi awal yang indah.”
Senja sedang duduk sendirian di sudut aula, menatap buku catatannya sambil pura-pura sibuk. Suasana riuh, semua orang tampak sibuk berkenalan dan bercanda. Di tengah rasa kikuknya, tiba-tiba seorang gadis berkerudung cerah menghampiri dengan senyum ramah.
“Eh, boleh duduk di sini? Kayaknya kamu sendirian,” sapa gadis itu sambil menarik kursi.
Senja sedikit terkejut, lalu tersenyum kikuk. “Iya, silakan. Aku memang belum kenal siapa-siapa di sini.”
Gadis itu mengulurkan tangan. “Aku Sasya, dari jurusan Ilmu Komunikasi. Kamu?”
“Senja,” jawabnya pelan, lalu menambahkan, “Aku di jurusan Ekonomi. Mahasiswa baru juga… jelas ya?” Ia tertawa kecil menutupi rasa canggung.
Sasya ikut tertawa. “Iya jelas banget. Semua wajah di sini sama—antara deg-degan sama sok tenang. Hehe.”
Senja tersenyum, merasa hangat. Baru beberapa menit berkenalan, tapi entah kenapa ia merasa nyaman.
“Ngomong-ngomong, kamu nge-kost juga?” tanya Salsa penasaran.
“Iya, di daerah belakang kampus. Masih sederhana banget kost-nya, tapi lumayan dekat,” jawab Senja.
Sasya mengangguk semangat. “Wah, sama dong! Aku juga nge-kost. Kalau gitu, kita bisa barengan nanti. Nggak enak kan kalau sendirian.”
Hati Senja yang tadinya canggung mulai lega. Ia mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Iya, makasih ya Sasya. Aku pikir aku bakal sendirian terus. Tapi ternyata aku nggak sendirian banget.”
Mereka tertawa bersama. Dan dari obrolan kecil itu, Senja merasakan bahwa orientasi hari pertama ini bukan hanya tentang menyambut dunia kampus—tapi juga tentang menemukan teman yang mungkin akan jadi bagian penting dalam perjalanannya nanti.
Malam hari, setelah lelah menghadiri acara pengenalan kampus, Senja menyalakan lampu belajar kecil di mejanya. Suasana kost sunyi, hanya suara hujan sisa sore yang masih menetes di luar jendela. Ia membuka buku catatan baru, menulis dengan huruf besar:
“MISI: Sarjana dalam 4 Tahun.”
Di bawahnya ia menambahkan:
Nilai harus bagus.
Ikut organisasi untuk pengalaman.
Cari kerja sampingan buat biaya hidup.
Jangan mudah putus asa.
Tidak pacaran dulu
Senja menambahkan note terakhir untuk mengingatkan pada dirinya agar lebih fokus memikirkan hidupnya terlebih. Beradaptasi dengan kuliah dan pekerjaan tambahan yang nantinya harus ia dapatkan untuk dapat menyambung nyawa untuk makan selama hidup di kota yang perlu ekstra keuangan tidak seperti di desa, untuk makan tidak harus mengeluarkan uang, bisa memetik daun singkong di kebun untuk dimasak sesuai selera, mau dibuat sayur atau dibuat gorengan.
Dalam mood fokus, tiba-tiba perutnya berbunyi. Seharian tadi ia hanya makan roti isi dan air putih, menahan diri agar uang bulanan tak habis di awal hidup rantaunya. Dengan sisa mie instan di lemari kecil, ia memasak menggunakan penanak nasi pinjaman dari tetangga kost. Aromanya sederhana, tapi bagi Senja, itu lebih dari cukup.
Sambil meniup mie panas, ia berbisik pada dirinya sendiri, “Selamat datang di perjuangan, Senja. Mulai sekarang, hidupmu bukan sekadar bertahan, tapi juga membuktikan bahwa doa ibu tidak pernah sia-sia.”
Dan malam itu, di kamar kost kecil yang pengap, dengan perut kenyang oleh semangkuk mie kuah, Senja merasa lebih kaya dari siapa pun, karena ia punya harapan yang tak bisa dibeli. Dalam sujud doa yang dipanjatkannya, dia berharap untuk bisa bertahan walau apapun keadaannya karena doa dari ibu di kampung senantiasa mengalir setiap hari untuk penyemangat hidupnya sehingga kuat menjalani hari-harinya ke depan.
Senja yakin bahwa Allah Maha Murah senantiasa memberikan kemurahan kepada hamba-Nya yang sujud menyembah dan berharap atas kuasa-Nya yang tak terbatas atas nikmat kehidupan yang diberikan. Senja merupakan gadis yang tidak pernah meninggalkan sembahyang karena hal inilah yang menjadi pegangan hidupnya selain doa dan harapan yang dipanjatkan ibu dan adiknya dari desa. Setiap hembusan nafasnya dalam tidur menjadi irama yang akan mengayun langkahnya.