Matahari telah kembali ke peraduannya, menyambut heningnya malam dengan hamparan bintang yang menghiasi langit. Mita masih berdiri di tepi pantai dengan tangan membentuk buttterfly hug, matanya terpejam sejenak, berharap hati dan pikirannya akan tenang. Namun nihil, bayangan masa lalunya dan fachry selalu saja memenuhi pikirannya.
“Fachry, ini tahun kedua kita putus, kenapa aku masih terus mikirin kamu bahkan saat aku gak tau sama sekali kabar kamu,” gumam Mita. Butiran bening perlahan menghiasi wajah Mita. Air mata kesedihannya merupakan bukti atas hatinya yang terluka. Mita mengusap air mata yang mengalir di wajahnya, kemudian beranjak meninggalkan tepi pantai ketika angin malam semakin dingin menembus kulit halusnya.
* * *
Usai melakukan apel pagi, Fachry kembali ke kantornya, matanya melirik ke arah figura yang terletak di meja kerjanya. Pikirannya menerawang jauh ke masa dimana ia dan Mita masih menjadi sepasang kekasih.
“Mita, tidak ada yang bisa menggantikan tempat kamu di hati saya,” lirih fachry.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Fachry tersadar dari kenangan masa lalunya, “Masuk,” ucap Fachry sembari memperbaiki posisi duduknya.
“Woi, Bro, masih pagi kenapa muka kau sudah mendung seperti itu,” gurau Wildan.
Fachry mendengus, “Matamu mendung.”
“Kamu macam perempuan yang lagi halangan aja, Bro, bawaanya sensi terus,” celetuk Wildan sembari duduk di kursi kosong yang ada di depan meja Fachry.
“Siapa yang persilakan kamu duduk?” Fachry menatap tajam Wildan. Sedangkan yang di tatap malah acuh.
Wildan menepuk jidatnya, “Mbok yah temanku lagi galau masa tak liatin begitu saja. Ono opo toh leh? Coba cerita,” ujar Wildan menirukan bahasa Bu Retno, penjaga kantin di belakang Polres tempat mereka berdinas.
“Masa lalu lagi?” Tebak Wildan. Fachry diam tak menjawab pertanyaan Wildan dan sudah di pastikan tebakan Wildan tepat.
“Gue masih cinta sama dia, Wil, dia perempuan yang terbaik buat gue,” ujar Fachry.
“Terus kenapa kau duakan dia?”
Fachry menghela napas dalam, “Itu adalah penyesalan terbesar gue.”
“Lo udah minta maaf ke dia?”
Fachry menggeleng seraya memejamkan matanya, “Beribukali pun gue minta maaf mungkin dia gak akan pernah maafin gue, Wil, Gue sadar kesalahan gue terlalu fatal buat di maafkan begitu aja,” lirih fachry.
“Belum lo lakuin tapi kenapa lo bisa seyakin ini kalo dia gak bakal maafin lo? Mika itu bukan tipe perempuan emosian, yah walaupun gue baru kenal Mika,” Willy mendekat ke arah Fachry kemudian menepuk beberapakali bahu kawannya, Semangat, Bro, sehebat apapun masalah yang kalian hadapi kalo kalian memang berjodoh gak akan ada yang bisa memisahkan kalian. Sekarang ambil Hp lo dan telfon Mika, tanyain kabarnya dan jangan lupa minta maaf,” ucap Willy memberi semangat pada Fachry.
Fachry mengangguk, ia kemudian merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel yang sedari tadi berada di dalam saku celana dinasnya. Cukup lama ia memperhatikan layar ponselnya hingga suara Willy menyadarkannya.
“Ayo telepon sekarang!”
“Dia mungkin udah ganti nomor, Wil, ini udah 2 tahun sejak kami putus,” jelas Fachry.
Willy pun merebut ponsel Fachry, kemudian mendial kontak Meika.
Tut Tut Tut Tut
“Halo, Assalamu’alaikum,” ucap Mika di seberang telepon.
“Waalaikumsalam,” jawab Willy.
“Maaf saya sedang berbicara dengan siapa, yah?” Tanya Mika.
“Apa betul ini dengan Dokter Mika?”
“Iya betul, ada yang bisa saya bantu?”
“Ada, Dokter, kebetulan teman saya belum move on dari masa lalunya,” jawab Willy yang sukses membuat mata Fachry melotot. Willy meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar Fachry tak bersuara.
“Maaf, saya dokter kandungan bukan dokter cinta. Kalo tidak ada keperluan penting saya ijin tutup telponnya, sebentar lagi saya ada operasi, Assalamu’alaikum.”
“Tunggu sebentar, Mika! Ini saya Willy.”
Mika mengerutkan dahinya, “Willy siapa, yah?” Ingatannya merujuk pada sahabat karib orang di masa lalunya. Namun ia segera menepis pikirannya. Baginya tak mungkin Willy teman Fachry memiliki nomor ponselnya.
“Iptu Willyan Afriadi, ingat ‘kan?” Tanya Willy.
Seketika dunia Mika terhenti pada satu titik, titik dimana masa lalunya perlahan berputar di memori ingatannya bak sebuah rekaman.
“Mika, kamu masih dengar saya kan?” Ucap Willy menyadarkan Meika dari lamunannya.
“Ah, Iya, Maaf, ada apa, Bang? tanya Mika.
“Assalamualaikum Mika, apa kabar?” ucap Fachry.
Langkah kaki Mika terhenti, seketika tulang- tulangnya tak bertenaga. Tangannya memegang dinding koridor berharap ia kembali mendapatkan kekuatan. Sosok yang selama dua tahun ini menganggu pikirannya kembali menyapanya, suaranya terdengar nyata di telinga Mika, membuatnya kembali mengingat masa dimana bahagia dan luka menyelimutinya. Bukan hal yang mudah untuk kembali membuka ingatannya tentang Fachry, sosok yang menorehkan luka dihatinya.