"Woi berhenti lo!" Teriakan dari beberapa pria bertubuh besar menggema di jalanan yang sudah mulai sepi.
Seorang pria yang berlari paling depan semakin mempercepat gerakan kakinya. Sebenarnya bukanlah hal sulit untuk melawan, tapi untuk kali ini ia memilih melarikan diri.
"Wooiiiii!" Pria itu mulai kalut saat orang-orang yang mengejarnya semakin dekat dan ia mulai merasa lelah karena sudah berlari dengan jarak yang sangat jauh.
Pria itu menghentikan langkahnya tiba-tiba, kepalanya berputar ke segala arah, berharap ada yang bisa ia raih atau ia lewati untuk masuk ke gedung yang ada di sampingnya. Senyum miring muncul saat ia melihat sebuah jendela terbuka satu meter dari tempatnya berdiri.
Tanpa pikir panjang ia segera berlari dan melompat masuk ke sana. Dengan kilat menutup jendela itu agar tidak ada yang melihat dirinya. Begitu ia memutar tubuhnya, matanya mengerjap bingung, sejenak pria itu terdiam melihat ruangan yang ia tempati. Bukan gudang atau pun ruangan umum lainnya, melainkan sebuah kamar yang ia yakini milik seorang gadis, dilihat dari pernak pernik yang ada di ruangan tersebut.
Suara pintu terbuka membuatnya waspada. Ia berniat keluar dari kamar itu, namun urung saat langkah kaki dan suara dari luar terdengar berisik, pertanda orang-orang yang mengejarnya tadi ada di dekat kamar itu.
Tidak ada pilihan lain, dengan secepat kilat ia meluncurkan tubuhnya memasuki kolong ranjang. Tepat saat tubuhnya sudah masuk sempurna, ia melihat kaki seseorang keluar dari pintu yang ia yakini sebagai kamar mandi. Kaki itu perlahan mendekat, lalu terangkat menaiki ranjang. Sejenak pria itu memejamkan matanya, berusaha menajamkan pendengaran dan penglihatannya. Ia harus menunggu sang pemilik kamar tidur lebih dulu baru bisa keluar dari tempat persembunyiannya.
Hampir lima menit pria itu menunggu sampai akhirnya hening, tidak ada suara sama sekali, ranjang pun tidak lagi bergerak, menandakan orang itu sudah bertahan diposisinya. Dengan gerakan sangat hati-hati pria itu mengeluarkan kepalanya, berusaha mengintip sedikit untuk memastikan sang pemilik kamar sudah terlelap damai, untungnya wajah orang itu terlihat jelas.
Pria itu menghembuskan napas lega, perlahan ia mengeluarkan semua tubuhnya. Setelah berdiri tegak, tak lagi berniat melihat gadis itu. Ia segera mendekat ke jendela, saat itulah ia mendengar langkah kaki mendekat ke arah pintu dan suara ketukan.
"Rissa.....” Panggilan dari luar terdengar pelan.
Mendengar itu pria yang sudah berniat membuka jendela kamar sontak mengarahkan kepalanya ke arah ranjang, dimana terdapat seorang gadis yang terlelap dengan tubuh terbungkus selimut, pergerakan terlihat sedikit membuatnya semakin waspada, takut gadis yang tidak ia kenal itu melihat keberadaannya.
Ketukan kembali terdengar dan semakin keras, diikuti dengan panggilan yang mulai tidak sepelan tadi. Tangan pria itu dengan segera membuka jendela, namun dengan cepat menutupnya kembali saat melihat salah satu pria yang mengejarnya tadi masih ada di sana. Tak bisa berpikir panjang, ia berniat kembali memasuki kolong ranjang, namun suara teriakan seorang perempuan terdengar memekakan telinga. Dengan cepat ia memutar tubuhnya, saat itulah ia melihat sang pemilik kamar yang tadinya tertidur damai, kini sudah duduk di atas ranjang dengan tubuh dan kepala yang ditutupi selimut, hanya wajahnya yang terlihat.
"Si.... Siapa lo?" Cicit gadis itu, menatap pria di depannya takut. Bahkan tubuhnya terlihat bergetar.
"Rissa kamu kenapa? Buka pintunya!" Panggilan pelan tadi kini berganti teriakan panik, semakin membuat gadis yang dipanggil Rissa itu ketakutan. Tak jauh berbeda dengan pria yang masih berdiri kaku di dekat jendela.
"Sembunyiiii.....," bisiknya lirih, tidak ada pilihan lain selain meminta pria asing itu bersembunyi.
"Rissa!!! Om dobrak pintunya..." Rissa kalut, ia segera beranjak dari duduknya namun sayang gerakannya yang cepat dan tubuhnya yang dibalut selimut membuat keseimbangannya goyang.
Tubuh Rissa hampir saja terjatuh ke lantai jika tidak dengan segera ditangkap oleh tangan kokoh pria asing tersebut. Rissa yang sadar tubuhnya berada dalam pelukan pria itu dengan cepat melepaskan diri. Baru saja tubuh mereka terpisah suara pintu di dobrak terdengar mengagetkan keduanya. Seorang pria paruh baya menatap keduanya tak percaya, begitu pun dengan beberapa orang yang berada di belakangnya.
Rissa, terkenal sebagai gadis sholehah di kost tersebut, bahkan gadis itu sangat anti berdekatan dengan laki-laki. Dan kini, pemandangan di depan mereka sangat pengejutkan, ada pria asing di kamar kost Rissa.
"Rissa apa-apaan ini!" Suara pria yang mendobrak pintu terdengar menyeramkan ditelinga Rissa.
"Om... Ini gak kayak yang Om bayangin, eee....." Rissa menunduk dalam, suaranya sudah bergetar menahan tangis.
Untuk menjelaskan pun rasanya Rissa tidak sanggup, karena ia tidak mengenal pria di sampingnya dan tidak tahu harus menjawab apa, semuanya sangat tiba-tiba. Rissa pun rasanya belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya bisa menggenggam erat selimut yang membungkus tubuhnya.
"Apa maksud kamu membawa laki-laki masuk ke kamar!" Bentakan bapak itu membuat Rissa tanpa sadar memundurkan langkahnya. Susah payah ia menahan air matanya agar tidak menetes.
"Saya suaminya!"
Dua kata yang keluar dengan nada tegas itu membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah pria asing yang berdiri kaku di tempatnya, tak terkecuali Rissa yang matanya sudah hampir keluar, terlalu kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ha?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rissa, mulutnya terbuka sedikit.
Pria asing itu menoleh ke arah Rissa, sejurus kemudian senyum miring muncul di wajahnya. Lalu ia kembali menatap orang-orang yang masih memandangnya curiga.
"Mohon maaf kalau kehadiran saya membuat semuanya tidak nyaman. Tapi saya benar suami Rissa dan saya ke sini karena khawatir dengan Rissa yang sakit," jawaban itu meluncur dengan begitu santainya. Wajah pria itu pun sama sekali tidak terbaca.
Rissa hanya mampu terdiam bingung, otaknya berusaha mencerna semua kejadian yang terjadi.
"Benar Ris?" Pertanyaan dari bapak pemilik kost semakin membuat kepala Rissa terasa ingin meledak saat itu juga.
"Ha?" Rissa mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia menoleh pria di sampingnya yang menatapnya dengan pandangan kelewat tajam. Wajahnya datar, menakutkan.
"I... Iya Pak. Dia suami Rissa," jawab Rissa tersenyum aneh. Tidak ada alasan lain yang bisa ia gunakan selain mengikuti sandiwara yang diciptakan pria itu. Jika ia mengatakan bukan dan membuat alibi lain belum tentu ia bisa selamat dari situasi menegangkan ini.
Orang-orang di sana masih menatap keduanya curiga. Namun baik Rissa maupun pria asing di sampingnya tidak lagi bersuara, seolah apa yang mereka ucapkan sudah benar adanya dan tidak perlu menjelaskan apapun lagi.
“Mana buku nikah kalian? Saya perlu bukti.”
Sontak Rissa langsung menatap pria di sampingnya, sedangkan yang ditatap hanya diam, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.
“Saya datang hanya untuk melihat keadaan istri saya, tentu tidak membawa buku nikah.” Pria itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu, “saya rasa cukup sebagai jaminan.”
Bapak pemilik kost menatap sosok tinggi di depan, cukup lama terdiam sebelum akhirnya berpamitan keluar. Meninggalkan Rissa yang terdiam bingung, otak buntunya berusaha mencerna keadaan. Setelah semuanya keluar Rissa memandang horor pria di sampingnya yang kini sudah memutar tubuh menghadap ke arah jendela. Ia memundurkan tubuhnya beberapa langkah menjauhi pria itu, takut hal yang tidak diinginkan terjadi pada dirinya.
"Maaf sudah membuatmu dalam masalah," ucap pria itu tanpa memandang Rissa. Ia malah sibuk membuka jendela dan bersiap keluar namun baru saja kepalanya keluar sedikit, dengan gerakan yang sangat cepat jendela itu kembali tertutup rapat membuat Rissa memekik tertahan.
"Sssttttt...." Pria itu menatap Rissa tajam, seolah memperingati Rissa agar tidak membuat suara sedikit pun. Ia berdecak kesal, pria yang mengejarnya tampak sangat berniat untuk menghajarnya.
Rissa yang melihat itu meneguk ludahnya susah payah. Tanpa sadar ia semakin merapatkan selimut di tubuhnya dan menyembunyikan kepalanya. Tatapan, gerakan, dan penampilan pria itu membuat Rissa langsung berpikir buruk. Ia punya keyakinan bahwa pria yang ada di kamarnya ini bukanlah orang baik.
Suasana hening sejenak hingga sebuah lagu terdengar membuat Rissa dengan cepat bergerak menghampiri handphone-nya. Namun karena tangannya berada di dalam selimut membuatnya bingung memikirkan cara untuk mengambil benda itu.
Pria asing yang masih terus memperhatikan pergerakan Rissa berdecak, heran dengan apa yang gadis aneh itu pikirkan. Apa susahnya melepas selimut itu lalu mengangkat telpon.
"Lepas selimut kamu," ujarnya datar, Rissa langsung memandang ke arah pria itu horor.
"Apa?" tanya Rissa polos, pikiran buruk berkeliaran diotaknya.
"Ck." pria itu berdecak untuk yang kesekian kali, tanpa mengatakan apapun ia mengalihkan pandangannya pada handphone Rissa yang masih terus berbunyi.
Rissa yang menyadari maksud pria itu menutup matanya rapat, merutuki dirinya sendiri yang begitu percaya diri bahwa pria asing itu akan melakukan hal buruk terhadapnya.
"Em, bisa lo putar badan?" Tanya Rissa ragu, ia menunduk takut. "Gue gak pakek hijab," lanjutnya.
Tanpa kata pria itu langsung memutar tubuhnya, Rissa dengan segera mengambil handphone-nya. Saat itulah jantung Rissa terasa berhenti.